...🍀🍀🍀...
Tak peduli dengan penampilannya yang berantakan dan pandangan orang-orang padanya. Javier berlari masuk ke ruang UGD rumah sakit yang dimaksud oleh salah satu petugas kepolisian itu.
Pria itu berjalan ngos-ngosan, hingga ia sampai di tempat informasi. "Permisi suster!"
"Ya, tuan?" suster itu terlihat mengerutkan keningnya, mungkin ia merasa aneh dengan penampakan Javier kala itu. Tapi Javier bodoh amat dengan tatapan si suster karena yang ia pedulikan saat ini adalah Savana.
"Pasien...pasien yang baru saja mengalami kecelakaan mobil, seorang wanita...dia-dia ada dimana suster?" tanya Javier dengan terbata-bata. Sumpah, sekarang jantungnya seperti maraton saja. Jika terjadi sesuatu pada Savana, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Begitu bodohnya dia yang sudah melukai hati Savana dengan dalam. Padahal gadis itu adalah gadis yang polos yang telah ia jamah tubuhnya.
Suster itu terlihat berpikir sejenak. "Oh...beliau ada di ruang UGD sebelah sana tuan, tapi--"
Belum sempat suster itu menyelesaikan ucapannya, Javier sudah lari terbirit-birit menuju ke ruang UGD yang dimaksud. "Tapi pasiennya ada dua pak, yang satunya sudah meninggal." gumam suster itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pria itu pun sampai didepan ruang UGD, dimana tak hanya ada satu pasien sana disana. Mereka yang dibawa kesana, rata-rata pasien yang mengalami kecelakaan. Kecelakaan ringan ataupun berat, kalau yang berat pasti akan langsung masuk ruang operasi.
Wajahnya berkeringat, ia seperti habis jogging. Ya, jantungnya juga ikut maraton karena melihat mobil Savana yang ringsek tadi.
"Tidak! Tidak boleh terjadi sesuatu padamu Savana," gumam Javier ketar-ketir dengan langkah dan mata yang mencari kesana kemari. Mencari sosok yang ia cemaskan.
"Dimana kau Savana?"
Javier membuka tirai demi tirai disana, hingga saat dia akan menyingkap tirai terakhir. Terdengar suara suster di ujung ruang UGD itu.
"Dokter, ini barang-barang milik nona Savana Mavericks...pasien yang meninggal ini." suster itu menyerahkan dompet dan barang-barang di plastik itu. Suster itu melirik pada seseorang yang sudah ditutupi kain putih diatas ranjang itu.
"Hubungi keluarganya saja sus, mereka harus segera mengurus pemakaman. Lalu sekarang segera pindahkan jasadnya ke kamar mayat." jelas sang dokter sambil menghela nafas, melihat pasien yang ditangani tidak selamat.
Javier kaget bukan main saat mendengar nama Savana disebut sebagai pasien yang meninggal itu. Jantung Javier seperti berhenti disana saat itu juga.
"Baik dok, saya akan membawa jenazah ke kamar--"
"Siapa yang meninggal dokter? Siapa?!" sentak Javier pada dokter itu dengan raut wajah tegangnya. Berharap bahwa jasad itu bukan Savana yang dimaksud olehnya.
"Apa tuan adalah keluarga nona Savana Mavericks?" tanya dokter itu pada Javier tapi ia mengabaikan pertanyaan dari dokter dan melihat dompet juga ponsel Savana yang berada ditangan suster.
Javier mengambil kantong kresek itu dan melihat ponsel, dompetnya dari dekat. Ia tau ponsel dengan gantungan boneka dan casing berwarna ungu itu adalah milik Savana.
"TIDAK! Ini tidak mungkin, Savana tidak mungkin..."
Javier mendekati jasad yang terbaring di atas ranjang dan ditutupi kain putih itu. Tanpa Javier sadari, ada seseorang yang membuka tirai disebelah itu. Dia adalah Savana, terlihat perban di kepalanya dan juga kakinya di gips.
Om Javier?
Savana melihat Javier memeluk jenazah itu, Javier bahkan menangisinya. Ia mengira jasad itu adalah Savana. Gadis itu terperangah melihat Javier menangis, pria berdarah dingin menangis karena dirinya? Rasanya mustahil.
"Savana...maafkan aku Savana! Aku tidak bermaksud melukai hatimu! Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya, aku tidak bermaksud berkata begitu. Tadi aku emosi, maafkan aku...hiks...apa yang akan aku katakan pada Elena bila sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri tiada karena daddynya? Savana...aku minta maaf, maafkan aku...kumohon jangan pergi sebelum aku minta maaf padamu...aku menyesal dan kau harus dengar kata maafku. Kalau kau kembali, aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku janji, apapun itu akan aku turuti! Aku minta maaf!"
Javier terus meminta maaf, tapi Savana merasa tidak nyaman dengan permintaan maaf itu. Tidak nyaman, karena Javier kesannya meminta maaf bukan karena tulus menyesal tapi hanya rasa bersalah sama seperti saat Javier memintanya berpacaran.
Disisi lain Savana juga menahan tawa melihat Javier, bukan karena sikap dan kata-katanya. Tapi penampilannya yang hanya memakai kaos, boxer dan alas kaki yang bersilangan.
Ah... sudahlah, daripada aku memikirkan dia. Lebih baik aku pergi dari sini.
Saat Savana akan melangkahkan kakinya, ia terjatuh ke lantai. "Aduh!"
Savana lupa bahwa kakinya terluka saat ini. Suara Savana yang merintih itu membuat Javier menghentikan tangisnya dan menoleh ke belakang.
Deg!
"Sa... Savana?" Javier menatap gadis itu dengan lekat. Jika Savana tidak meninggal lalu jasad siapa yang ia tangisi ini?
Ternyata si suster dan dokter salah server, barang-barang korban yang diambil dari lokasi kejadian itu tertukar identitasnya dengan Savana.
Javier lega karena melihat Savana didepannya. Nafasnya berhembus dengan lega, sangat lega. Ia segera menyeka air matanya, lalu menghampiri Savana yang terduduk di lantai.
"Syukurlah kau baik-baik saja, syukurlah." gumam Javier sambil memegang tangan Savana, tapi gadis itu menepisnya.
"Savana?"
"Jangan sentuh aku! Jangan pedulikan aku lagi!" serka Savana dengan sorot mata tajam pada Javier.
Dasar Savana bodoh, bisa-bisanya kau kecelakaan karena si om kulkas ini. Sesal dan malu Savana dalam hatinya, sebab ia kecelakaan karena kemarahan pada Javier.
"Suster, tolong bantu saya!" seru Savana pada suster yang ada disana. Lebih baik meminta bantuan suster daripada orang yang berpura-pura baik seperti Javier, batin Savana.
"Baik nona,"
Suster itu membantu Savana untuk kembali naik ke atas ranjang. Setelah Savana berhasil naik ke atas ranjang, Savana kembali berbaring. Dokter lalu memeriksa kondisi Savana lagi, sebab Savana baru siuman. Jika keadaan Savana kurang baik mungkin gadis itu akan dirawat di rumah sakit.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Javier seraya melirik ke arah Savana dan dokter bergantian. Tapi Savana memalingkan wajahnya dari Javier
"Dari hasil lab, putri bapak mengalami cedera otak ringan dan patah tulang kaki. Mungkin butuh waktu 2 Minggu untuk memulihkan kondisinya. Sebaiknya putri bapak di rawat lebih dulu di rumah sakit, sampai kondisinya benar-benar pulih." tutur dokter itu menjelaskan.
Kata putri bapak itu sebenarnya membuat Javier tidak nyaman, tapi Javier tidak mengindahkan itu karena mengingat keadaan Savana.
"Apa? Dua Minggu? Dokter, saya memiliki pameran seni 3 hari lagi! Saya tidak bisa berada di rumah sakit lama-lama." Savana tidak mau dirawat di rumah sakit, dia memiliki pekerjaan di galerinya.
"Ya dok, dia akan tetap berada di rumah sakit sampai dia benar-benar sehat." jawab Javier.
Savana melotot, ia tak suka Javier mengaturnya.
"Baiklah pak, kalau begitu putri bapak akan dipindahkan ke ruang perawatan." Dokter itu tersenyum pada Javier. "Kalau begitu silahkan bapak urus administrasinya,"
"Baik. Saya akan urus administrasinya dan saya ingin ruang VVIP untuknya." ucap Javier lagi.
Dokter dan suster pun meninggalkan ruang UGD itu, mereka mempersiapkan ruang perawatan VVIP untuk Savana.
Apa-apaan dia? Dia pikir dia siapa mengaturku? No...Savana...kau tidak boleh terjerat olehnya lagi.
"Kau mau kemana?" tanya Javier saat melihat Savana hendak beranjak dari tempat tidurnya.
"Pergi." jawab Savana singkat.
"Kau tidak boleh pergi, apa kau tidak dengar apa kata dokter?" sentak Javier.
"Jangan peduli padaku, memangnya kau siapa? Huh!" seru Savana marah.
Savana yang bandel tetap beranjak dari sana dengan susah payah dan alhasil ia hampir jatuh. Dengan sigap Javier menangkap tubuhnya, hingga Savana berakhir didalam dekapan pria itu.
Deg!
Savana masih berdebar saat bersentuhan dengan Javier. Namun ia ingat perlakukan Javier padanya. "Lepaskan saya, om!"
Javier malah semakin mengeratkan pelukannya pada Savana. "Aku minta maaf Savana."
...*****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
gerakan tambahan🤸🍋🌶️🥒🥕
gillaaaa..malah memikirkan apa yg dikatakan elena nanti, ..dan minta maaf sebelum savana pergi?
jadi kalo Savana sdh memaafkannya, savan boleh pergi?
2024-02-05
0
Ramadhani Kania
bersikap dingin dan cuek aj dlu ma Jafier Savana....
2023-01-02
2
Shara
ngoahahaha🤣
2022-12-13
0