...🍀🍀🍀...
Savana langsung mendorong Javier yang memeluknya dan mengatakan maaf padanya. Sungguh ia tak mau luluh lagi karena sikap lembut pria itu yang menipunya.
Selama satu minggu ini, Javier selalu mengabaikannya dan berpura-pura pacaran dengannya. Sungguh, hatinya sangat sakit tapi lebih sakit lagi saat Javier menyebutnya sebagai wanita MURAHAN.
"LEPAS om, saya sakit!" Savana mendorong lagi Javier yang memeluknya makin erat dan kali ini Javier menurut. Ia melepaskan pelukannya dari Savana.
"Savana, aku minta maaf...."
"Tidak usah minta maaf kalau om tidak tulus," ketus Savana dengan memutar bola matanya dengan malas. "Bukankah saya sudah bilang, jangan pedulikan saya lagi? Kenapa tuan Sanderix ada disini?"
Cepatlah pergi old man! Aku benci padamu, benci. Batin Savana memaki pria yang berusia hampir kepala empat itu.
Ya Tuhan karenaku Savana jadi begini. Aku harus tanggungjawab. Batin Javier.
"Kau mau makan? Atau kau mau minum? Kau pasti belum sarapan kan?" tanya Javier berusaha mengalihkan perhatian.
"....."
Hening dan tak ada suara dari Savana, bahkan sampai Savana di pindahkan ke ruang perawatan VVIP dengan fasilitas termewah disana, Savana tidak bergeming. Namun Javier tak semudah itu menyerah, ia akan mendapatkan maaf dari Savana.
"Savana, kau makan dulu ya? Ini ada bubur dari suster. Kau harus makan agar bisa minum obat," kata Javier yang masih berusaha membujuk Savana untuk makan.
Javier sudah mengenakan pakaian bekerjanya, itu karena Leo yang mengantarkan pakaiannya ke rumah sakit. Tapi Javier mengatakan bahwa ia akan tetap disana dan mengalihkan pekerjaan pada Leo dulu karena ia akan menjaga Savana sampai keluarganya datang.
Tentang keluarga Savana, ibu dan neneknya sudah dihubungi. Hanya neneknya yang menjawab, sementara ibunya tidak bisa dihubungi.
"Hey...kau harus makan," bujuk Javier dengan sabar.
"Pergilah dari sini! Saya muak melihat wajah anda, saya malah semakin sakit kalau ada anda disini." usir Savana yang akhirnya kesal dengan sikap Javier padanya.
"Aku akan tetap disini sampai kau mau makan dan minum." ucap Javier sambil mengaduk bubur itu dan mencoba menyuapkannya lagi pada Savana. "Cepat! Bukalah mulutmu, Savana!"
"Saya tidak mau! Lagipula untuk apa anda menyuapi wanita murahan seperti saya?" sindir Savana pedas.
Sabar Javier sabar. Javier mengelus dada dengan sikap dan perkataan Savana. Apa yang dikatakan Savana saat ini padanya belum seberapa dengan apa yang dia katakan pada Savana sebelumnya.
"Kau bukan wanita murahan, aku minta maaf karena tadi pagi aku terbawa emosi."
"Aku bilang jangan katakan maaf lagi bila kau tidak tulus!" sentak Savana tidak suka. Akhirnya ia kembali bicara tidak formal pada Javier.
"Aku tulus." jawab Javier tanpa ragu.
"Tulus darimana? Aku mendengar semuanya saat kau menangisi jenazah itu, kau bilang maaf padaku karena kau takut pada Elena." cerca Savana kesal.
"Ti-tidak begitu! Kau salah paham Savana!" wajah Javier memucat saat mendengar cercaan dari Savana.
"Sayang sekali aku tidak percaya ketulusanmu itu. Dan kau jangan percaya diri ataupun merasa bersalah kalau aku kecelakaan karena dirimu. Sama sekali bukan...ini semua terjadi karena aku yang kurang berhati-hati! CAMKAN itu!" teriak Savana marah-marah.
"Kau benar-benar salah--"
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka tanpa diketuk dan menghentikan perdebatan Javier dan Savana. Disana terlihat seorang wanita dengan rambut putih tengah berjalan dengan menggunakan tongkatnya. Dibelakang wanita tua itu adalah seorang wanita paruh baya menuntunnya.
Kontan atensi Javier dan Savana tertuju pada mertua berdua. Savana terkejut karena neneknya datang ke rumah sakit, pasalnya ia tak tahu menahu bahwa Javier telah menghubungi neneknya yang tinggal di sekitar Chicago river.
"Nyonya, hati-hati." ucap wanita paruh baya itu pada si nenek tua.
Namun si nenek tetap berjalan cepat menghampiri Savana. Wanita tua itu langsung menghambur memeluk Savana sambil menangis.
Javier dan wanita paruh baya itu hanya melihat mereka berdua tanpa bicara.
"Nenek, kenapa nenek bisa ada disini?"
"Apa itu pertanyaanmu saat bertemu pertama kali dengan nenekmu setelah 2 tahun tak bertemu?" tanya Martha sambil menatap cucunya itu dengan mata berkaca-kaca. Martha adalah nenek Savana dari pihak ibu yang masih memperhatikan Savana, ya walaupun kedua orang tua gadis itu sudah tak peduli lagi pada Savana dan sibuk dengan keluarga mereka masing-masing.
"Dasar anak nakal! Kenapa kau bisa kecelakaan? Apa kau terluka?" tanya Martha seraya melihat kaki dan tangan Savana yang di balut perban. "Apa itu sakit nak?"
Walaupun Martha bicaranya selalu terdengar marah-marah, tapi ia sayang pada Savana.
"Tidak nek, aku baik-baik saja! Besok juga sudah boleh pulang nek." sahut Savana seraya tersenyum pada neneknya seolah tak terjadi apa-apa.
"Tidak Bu, Savana masih harus dirawat kurang lebih selama 2 Minggu di rumah sakit untuk memulihkan kondisi kakinya." kata Javier pada Martha dan membuat wanita tua itu terkejut bukan main.
"Astaga...Vana, apakah separah itu?" Martha melihat cucunya dengan panik.
"Ti-tidak nek! A-aku tidak apa-apa, sungguh." sangkal Savana karena tak mau membuat neneknya cemas.
Ish apa-apaan si pria tua ini! Kenapa dia memberitahukan pada nenek? Savana melirik Javier dengan sinis dan kesal.
"Kau harus tetap di rumah sakit! Jangan berbohong pada orang tua, ingatlah aku ini nenekmu!" cetus Martha pada cucunya yang selalu mengatakan baik-baik saja padahal tidak.
Savana tidak bicara, dia tidak tau harus bicara apa dan bagaimana para neneknya.Disatu sisi ia senang di perhatikan begini, disisi lain ia tak mau membuat neneknya cemas. Jika ada orang di dunia ini yang paling Savana sayang, itu adalah Martha orangnya.
"Tapi Savana, siapa pria ini?" lirik Martha pada Javier dengan penuh kekaguman karena pria itu tampan juga berwibawa di matanya.
Javier tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Martha. "Perkenalkan nama saya Javier, saya adalah kekas--"
"Dia ayah Sahabatku nek, ayah Elena." jawab Savana memotong ucapan Javier padahal pria itu ingin mengaku sebagai kekasihnya. Savana jadi kesal karena sikap Javier yang semaunya.
Sebentar-sebentar baik lalu cuek dan bebal. Savana memutuskan untuk menjauh dari pria ini saja.
...******...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ramadhani Kania
jauhi Jafier Savana....biarkan dia yg mengejarmu....
2023-01-02
2
Zila Aziz
terjebak menghayati karyamu Thor...maaf baru komen
2022-12-14
1
Tiahsutiah
good shavana,👌👌👌
2022-12-12
1