...🍁🍁🍁...
"Savana, dia pulang dad...dia bahkan tidak menungguku bangun dulu dan hanya mengirimkan pesan. Huh! Anak itu, bukankah dia ingin menginap disini lebih lama?" gerutu Elena sebal.
Javier terkejut mendengar penjelasan Elena tentang sahabatnya itu. "Dia pasti marah." gumam Javier pelan.
"Daddy bilang apa?" tanya Elena yang kurang mendengar jelas ucapan Javier.
"Ah...tidak apa-apa. Ayo kita turun untuk sarapan, sayang." ajak Javier pada putrinya.
"Iya Dad," jawab Elena pada daddynya.
Elena maupun Javier masih terlihat cemas memikirkan Savana. Elena rasa Savana sedang butuh teman bicara sekarang. Dia baru saja putus dari tunangannya dan dilecehkan oleh seorang pria di hotel. Sungguh Elena kasihan seorang gadis polos seperti Savana itu bersedih.
"Dad, aku harap daddy menemukan orang yang melecehkan Savana. Aku tidak bisa membiarkan ini Dad, dia harus dapat balasannya." kata Elena pada Javier. "Dasar manusia brengsek! BAJINGAN! Beraninya dia memanfaatkan Savana-ku...sialan akan ku bunuh dia!" Elena mengumpat sambil menusuk-nusukan garpu ke daging yang ada didalam nasi goreng.
Javier menelan saliva melihat kemarahan anaknya itu, ya orang yang di maksud Elena adalah dirinya.
"Eunghh--i-iya sayang."
Daddy yang melakukannya Elena. Apakah kau akan membunuh daddy bila kau tau Daddy yang jahat?
"Oh ya, Daddy mau tanya dong..."
"Yes dad? What?"
"Apakah Savana memang suka ke club malam sebelumnya? Lalu apa dia suka minum-minuman keras? Ah...Daddy menanyakan ini karena Daddy khawatir kalau ketika patah hati, dia akan melakukan hal yang tidak-tidak." ucap Javier beralibi. Padahal ia ingin tau tentang Savana.
"Tidak Dad, kalaupun ke club malam itu pasti perginya denganku. Walaupun dia cerewet dan juga agak barbar, tapi dia gadis yang polos Dad. Dia bahkan punya prinsip bahwa pria yang pertama kali menjamah tubuhnya atau melihat tubuh polosnya, maka harus menjadi suaminya!"
Prruuuutttt...
"Ohok ohok..." Javier langsung tersedak dan menyemburkan makanan yang tengah ia kunyah karena kaget dengan ucapan Elena.
"Kenapa Dad? Minum dulu!" Elena menyodorkan segelas air minum pada Javier, pria bermata coklat muda itu langsung mengambil gelas dari tangan Elena dan meneguk airnya.
Javier jadi teringat dengan perkataan Savana semalam. Ia jadi merasa bersalah, sangat merasa bersalah.
...Tapi aku memiliki prinsip om, lelaki pertama yang menjamah tubuhku dan melihat tubuhku...dia harus jadi suamiku....
"A-apa kau yakin bahwa Savana tidak pernah melakukan hal itu bersama tunangannya? Bukankah kau bilang dia sudah bertunangan cukup lama? Dua atau tiga tahun ya?" tanya Javier lagi penasaran agar ia tak merasa bersalah.
Ia masih mengira Savana berbohong, mungkin saja Savana pernah dijamah oleh pria lain dan mengaku pertama kali dijamah oleh Javier. Javier merasa dia paham dengan anak-anak zaman sekarang. Apalagi Savana pernah tinggal di Inggris?
"Dad jangan bicara sembarangan! Savana tidak pernah melakukan itu dad. Bahkan si Jonas itu pernah hampir mencium bibirnya, Savana menolak karena mereka belum menikah." jelas Elena menepis semua ucapan Javier yang seperti tuduhan itu. Ia tau Savana dan Savana tau tentangnya.
"Be-benarkah? Ciuman pun tak pernah? Mana mungkin kalian sekolot itu." kata Javier tak percaya.
"Tidak pernah Dad! Malah si Jonas yang selalu memaksanya. Lagipula kenapa Daddy terus mengatakan hal yang memojokkan Savana? Daddy ada masalah sama Savana?" Kini Elena menatap Javier dengan lekat, ia merasa ada maksud dibalik pertanyaan Javier padanya tentang Savana.
"Ti-tidak ada!" sanggah Javier cepat sambil meneguk air minumnya.
"Kemarin aku melihat Daddy membekap mulut Savana," beo Elena dengan nada mengintrogasi.
"Tidak ada apa-apa, Daddy hanya minta diam karena dia menjerit-jerit saat ada kecoa." ucap Javier pada putrinya, lalu dia berlalu pergi meninggalkan meja makan.
Astaga... berarti aku telah salah mengatakan hal itu padanya. Aku sudah berpikiran buruk. Aku harus minta maaf dan aku harus bertanggungjawab...tapi menikah? Mana mungkin? Apa aku coba pacaran saja dengannya? Ah tidak! Jangan gila kau Javier! Dia seumuran dengan Putrimu. Usianya 2 kali lipat jauh lebih muda darimu.
Elena menatap papanya dengan bingung. "Hah? Savana menjerit karena kecoa? Dia kan tidak takut kecoa! Bukannya Daddy yang takut kecoa? Hem...aneh..." gumam Elena bingung.
"Oh ya El. Kau mau kemana hari ini sayang?" tanya Javier seraya menoleh pada putrinya yang masih duduk di meja makan.
"Aku mau pergi pemotretan Dad," jawab Elena. Ya, pekerjaan Elena adalah seorang modelling. Tak heran dia memang cantik dan seksi.
"Pemotretan? Oh..lalu setelah itu?" tanya Javier penasaran.
"Aku akan pergi ke apartemen Savana dad, tidak apa kan aku menginap disana?" tanya Elena pada papanya itu. Sebenarnya Elena heran kenapa Javier jadi banyak bertanya. Tapi dalam hati Elena senang karena Javier akan menunjukkan perubahannya.
"Boleh sayang."
Ya, nanti aku bisa pergi ke apartemennya itu dengan alasan mengantar makanan atau apa. Aku harus bicara padanya.
Javier tidak bisa tersiksa dengan rasa bersalah ini, dia harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab walau ia tidak membobol milik Savana.
Di kantor pun, ia sibuk bekerja, pikiran Javier masih bergelut dengan rasa bersalahnya. Ya, selama bekerja ia tidak fokus karena memikirkan Savana.
"Pak? Apa ada yang menganggu pikiran bapak?" tanya Leo pada bosnya itu.
"Tidak! Tidak apa-apa." jawab Javier cepat dengan raut wajah gusar.
Aku harus cepat bertemu dengannya.
"Leo, undur jadwal makan makan dengan nyonya Griselda malam ini." ucap Javier pada sekretarisnya itu.
"Ba-baiklah pak." sahut Leo patuh. Ia yakin ada yang menganggu pikiran Javier saat ini.
Sore itu...
Pria bertubuh tinggi dan memiliki tubuh kekar, dengan wajah tampan itu pun pergi dari kantornya seorang diri.
Ia langsung menelpon Elena dan menanyakan keberadaan anaknya dimana. Elena ternyata baru selesai pemotretan dan baru akan pergi ke apartemen Savana. Javier memutuskan untuk menjemput anaknya lebih dulu ditempat pemotretan lalu berangkat bersama ke apartemen Savana.
****
Apartemen Savana.
Gadis itu terlihat tengah duduk sendirian di kursi apartemennya sambil menikmati seteguk soda. Matanya masih terlihat sembab seperti habis menangis, ya dia menangis karena memiliki ucapan Javier semalam yang telah melukai hatinya.
"Sialan! Apa dia pikir aku adalah wanita malam yang biasa menjajakan tubuhku? SIALAN! Aku benci kau om! Aku benci! Kalau kalau kau bukan papa Elena...aku pasti sudah...arggggh..." Savana mengumpat Javier, ia mengacak-acak rambutnya yang terurai panjang itu.
Ting, tong!
Tiba-tiba saja terdengar suara bel apartemen tersebut berbunyi. Savana segera beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Mama?" Savana terkejut melihat kedatangan mamanya itu. Mama yang tidak pernah menemuinya setelah sekian lama, terakhir kali Savana melihatnya saat pesta pertunangan.
"Savana, buka pintunya! Mama mau bicara!" seru wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu. Dia terlihat marah.
Savana membuka pintunya, lalu menatap si wanita paruh baya dengan tajam. "Mau apa mama ke--"
Plakk!!
Sebuah tamparan melayang di pipi kanan Savana. "Ma! Kenapa mama menamparku?" tanya Savana tak terima.
"Beraninya kau membatalkan pertunanganmu dan JONAS!" teriak wanita paruh baya itu dengan suara menggelegar.
Tanpa mereka sadari, disana ada Javier dan Elena yang baru saja sampai didepan lift dan melihat itu semua.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Lily Miu
hahahha🤣
2023-02-24
1
Ramadhani Kania
ibu durhakim itu....
2023-01-02
0
vie❤️
nunggu reaksi javier🤧🤧sabar...sabar..tunggu next up🤭
2022-12-08
1