20. Kerinduan Khalid

Manajer restoran yaitu tuan Hakimi melaporkan berapa barang yang rusak akibat penyerangan terhadap dua gadis itu beberapa hari yang lalu pada Khalid yang duduk tenang mendengarkan laporan manajernya.

"Jumlah kerusakan itu telah di ganti oleh raja Hassan melebihi kerugian yang kita alami, prince." Ujar Hakimi.

"Mengapa kamu menerimanya Hakim?"

"Bukankah itu sudah sewajarnya prince!

"Tapi, aku tidak enak dengan nona Celia. Mereka pikir kita ini selalu memanfaatkan kesulitan orang lain untuk mendapatkan keuntungan."

"Tapi pembayarannya sudah masuk ke rekening restoran, prince!"

"Lain kali, tanyakan dulu pendapatku, jangan bertindak semaumu. Yang harus kita terima itu adalah penjahat yang benar-benar penduduk warga lokal yang menyerang kita dan melukai pengunjung restoran." Kilah Khalid.

"Bukankah motif penyerangan mereka hampir sama? Di mana bedanya, prince?"

"Kamu tidak akan mengerti apa maksud ku. Sudahlah! Aku ingin bekerja."

Khalid mengakhiri percakapannya dengan manajer Hakimi yang menatap bingung Khalid.

"Apa yang salah dengan perkataanku?"

Gumam tuan Hakimi lirih.

"Tunggu Hakimi!"

Tuan Hakimi mengurungkan niatnya untuk membuka pintu lalu membalikkan tubuhnya.

"Ada apa prince?"

"Jika di depan orang, siapapun dia. Jangan pernah memanggil aku prince. Apa lagi di depan kedua princess Maroko itu."

Ucap Khalid yang mengira Cyra adalah orang Maroko.

"Baik prince. Saya permisi."

Tuan Hakimi mulai mengerti kalau prince Khalid sedang jatuh cinta pada Celia.

"Cinta memang aneh. Bisa merubah sikap seseorang lebih dermawan."

Gumamnya kembali lagi ke ruang restoran yang sudah penuh dengan para pengunjung.

Beruntunglah restoran itu tidak diliput oleh wartawan karena tidak terendus oleh media sama sekali pasca terjadi tembak menembak dari gangster dan para pengawal istana Maroko.

"Ini sudah lebih dari lima hari dan Celia berjanji untuk mengembalikan buku milikku, kenapa sampai saat ini dia belum datang juga. Apakah bukunya belum selesai di baca?"

Tanya Khalid yang sedang merindukan gadis itu.

Sementara Celia yang masih asyik membaca buku milik Khalid, menemukan kertas kecil yang tertulis kata-kata indah yang di tuliskan oleh pemuda tampan itu.

"BELAJAR TANPA BERPIKIR SIA-SIA DAN BERPIKIR TANPA BELAJAR BERBAHAYA."

Celia tersenyum membaca kalimat itu dan ia menyelipkan lagi kertas itu di dalam buku itu.

Celia merebahkan tubuhnya dan mengambil ponsel miliknya. Ia pun melihat tanggal hari itu.

"Astaga! Aku sudah melewati perjanjian dengan pemilik restoran itu. Sebaiknya aku mengajak Cyra untuk mengantar aku ke restoran itu."

Celia segera mengganti baju dan memanggil Cyra yang sedang memasak makan malam untuk mereka.

"Cyra!"

"Hmm!"

Ujar Cyra sembari menyajikan makan malam untuk mereka berdua.

"Apakah kamu bisa mengantar aku ke restoran milik tuan Khalid?"

"Makan malam dulu Celia, baru kita ke sana. Kamu mau memulangkan bukunya kan?"

"Hmm!"

Ting..tong..

Cyra dan Celia saling bertatapan.

Sejak kejadian penyerangan itu mereka menjadi paranoid untuk membuka pintu kamar utama sekalipun ada pengawal yang menjaga apartemen mereka.

"Kamu saja yang buka Cyra!"

Pinta Celia.

"Lihat dulu di layar pintu itu, siapa yang datang, Celia?"

"Kamu saja, aku tidak berani."

Ting ...tong..

"Kenapa ini orang tidak sabar banget."

Gerutu Cyra sambil melepaskan celemek yang masih menggantung di lehernya.

Saat melihat wajah tamu yang ada di dalam layar itu, Cyra tersenyum pada Celia yang menatapnya heran.

"Siapa Cyra?"

"Pangeran kamu."

"Siapa?"

"Pemilik buku itu."

Ucap Cyra sambil cekikikan.

"Cih! Orang itu tidak sabar banget, baru lewat sehari perjanjiannya dia sampai nyamperin aku ke apartemenku." Sungut Celia.

"Bukan karena bukunya Celia, tapi karena kangennya dia sama peminjamnya." Goda Cyra.

Celia membukakan pintu itu perlahan dan tersenyum malu-malu pada Khalid.

Khalid memberikan salam dan meminta ijin untuk bertamu. Celia memberikan ijin pada Khalid tapi tidak boleh lama berada di apartemennya. Khalid pun sepakat.

"Silahkan masuk Tuan!" Ujar Celia.

Tuan Khalid memindai semua yang ada di ruangan itu sebelum ia duduk.

"Apartemen yang nyaman. Apakah kalian hanya tinggal berdua saja?"

"Iya tuan Khalid. Itulah sebabnya kami tidak bisa menerima tamu yang bukan muhrim dalam waktu yang lama. Dan ini buku anda."

Ujar Celia tanpa basa-basi.

"Maaf nona Celia! Saya datang bukan untuk buku, tapi saya ingin mengembalikan uang ayah anda."

Ucap Tuan Khalid seraya menyerahkan cek senilai uang ganti rugi yang dikirim raja Fatih untuknya.

"Ayahku akan murka jika anda tidak menerima uang ganti rugi darinya. Tolong ambilkan kembali uang ini tuan Khalid atau anda bisa menghubungi ayah saya langsung." Ujar Celia tegas.

Khalid memegang tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa pegal melihat penolakan Celia.

"Jika aku menemui ayahmu langsung ke Maroko, apakah itu boleh?"

"Saya tidak bisa menjamin boleh dan tidaknya tuan Khalid. Silahkan anda sendiri menanyakan langsung kepada beliau."

"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar Khalid segera bangkit dari duduknya.

"Sebaiknya anda makan dulu bersama kami tuan Khalid karena kami baru mau makan malam." Ucap Cyra.

"Tapi saya...!"

"Ayolah tuan Khalid! Jangan sungkan!"

Bujuk Cyra yang sudah menarik kursi untuk Khalid.

Khalid melihat wajah cantik Celia untuk meminta ijin pada gadis itu. Celia pun terpaksa mengangguk karena punggungnya sudah di cubit Cyra.

"Silahkan tuan!"

Ketiganya menikmati nasi goreng omlet buatan Cyra tanpa ada pembicaraan di dalamnya.

Usai makan malam tuan Khalid segera pamit dan Celia mengembalikan buku yang dipinjamnya itu pada Khalid yang menerimanya sambil menatap wajah cantik Cyra yang sangat ia rindukan.

"Celia! Andai saja kamu tahu, kalau kedatangan aku ke sini karena sangat merindukanmu, apakah kamu akan menolakku juga?"

Batin Khalid yang merasa masih belum puas menatap wajah Celia.

Cyra memperhatikan dua manusia yang saling merindukan ini, tapi tidak berani menyatakan sikap. Ia hanya menatap jengah dengan merotasi mata malas.

Pintu utama apartemen itu di tutup kembali dan Celia langsung masuk ke ke kamarnya.

"Celia!"

"Hmm!"

"Kenapa kamu begitu tega pada Khalid sementara dia datang karena merindukanmu dan cek itu hanya sebuah alasan baginya agar bisa menemuimu. Apakah kamu tidak merindukannya?"

"Berhentilah menggodaku Cyra! Kita sudah sepakat untuk tidak menerima tamu laki-laki dalam jangka waktu yang lama. Aku tidak mau melanggar janjiku pada Abi."

Ujar Celia lalu masuk ke kamar mandi bersama dengan Cyra untuk menggosok gigi.

"Ada aku bersama kalian, Celia. Yang tidak boleh itu berduaan saja. Itu namanya berhalwat dan orang ketiganya adalah setan. Aku ikut menemani kamu walaupun aku jadi nyamuk diantara kalian. Setidaknya kalian aman bersamaku."

Ujar Cyra memberi pengertian kepada Celia.

Keduanya sudah membersihkan diri mereka dengan berwudhu sebelum berangkat tidur.

"Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat tentang hal yang tidak penting, Cyra."

Ujar Celia masih dengan prinsipnya.

"Dia sangat menyukai kamu Celia. Aku melihat kerinduan itu di matanya."

"Jangan sok tahu!" Ujar Celia lalu meneruskan bacaannya.

"Bagaimana kalau suatu saat nanti kalian berjodoh? Apakah kamu mau menerimanya sebagai suamimu, Celia?"

Degggg...

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

begh kodoh celia. seorang pangeran juga toh..kasihan ryan.tapi khalid lebih cocok sm celia. oh ia thor anaknya reza kan yg oertama kembar 4. trs yv kedua juga kembar 4. nah cerita anak yg kedua apa ada ya thor. knagen juga sm ceritanya. soalnya ceritamu bagus banget thor

2023-03-30

1

Osie

Osie

celia jenius sm spti calista sang umi kan...pasti celia bs tebal siapa khalid sebnrnya

2022-12-12

2

Ria Nasution

Ria Nasution

semoga jodoh Celia

2022-12-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!