12. Pria misterius!

Wajah Celia terlihat gugup. Ia tidak menyangka gadis yang dimaksud Ryan adalah dirinya sendiri.

Ryan melirik Celia yang terlihat tercenung merasa tidak nyaman mengungkapkan perasaannya. Ia sangat takut Celia akan menjauhinya seperti Cyra yang menjauhi Sean setelah acara kencan itu.

"Celia!"

"Hmm!"

"Maaf kalau aku terlalu jujur mengungkapkan perasaanku kepadamu. Aku tidak memaksamu untuk menyukai ku. Aku hanya ingin....!"

"Tidak usah merasa bersalah seperti itu Ryan! Aku bukannya tidak ingin mengenal cinta, tapi aku tidak mau terjebak dengan hubungan itu.

Dalam keyakinan ku, tidak ada istilah pacaran, jadi aku mohon maaf tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan." Ujar Celia terdengar abu di pendengaran Ryan.

"Maksudmu kamu menolakku?"'

"Bukan penolakan tapi lebih kepada prinsip yang diterapkan oleh kedua orangtuaku yang tidak mengenal pacaran.

Mereka saling mencintai tapi memendam perasaan itu beberapa tahun kemudian baru berani melamar ibuku dan menikah. Jadi mereka pacarannya setelah menikah."

"Bagaimana kalau dalam perjalanan hidup pernikahan mereka tidak langgeng, bukankah akan memicu perceraian?"

"Jika pernikahan itu berdasarkan ibadah karena Tuhan, konflik sebesar apapun saat datang menerpa, tidak akan tergoyahkan." Ujar Celia memaparkan arti cinta itu sendiri.

"Kenapa keyakinan kalian itu terlihat rumit dan membosankan sementara hidup itu penuh kebebasan berekspresi tapi harus terikat dalam suatu komitmen dengan landasan keyakinan." Balas Ryan.

"Karena kamu menganggap pernikahan itu hanya suatu kebutuhan ranjang bukan membuat mu menjadi tenang.

Jika tubuh wanita sebagai alat pemuas, maka sampai kapan pun kamu akan terus merasakan haus akan se*s. Dan itu tidak akan memuaskan mu, akibatnya batin mu tidak akan pernah menemukan kedamaian."

Tanpa terasa mereka sudah tiba di apartemennya Celia. Tanpa mengajak Ryan mampir, Celia langsung pamit dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.

"Sampai jumpa Ryan! Bye..bye!"

Celia melambaikan tangannya. Dan Ryan pun hanya menarik kedua sudut bibirnya sebelum meninggalkan Celia di depan lobby apartemen itu.

"Sampai kapanpun, pemikiran liberal tidak akan pernah berkesinambungan dengan keyakinan kami berdasarkan sunah nabi.

Dan aku tidak akan meninggalkan sunah nabi ku hanya untuk menyenangkan kepentingan orang lain, termasuk kamu Ryan!" Gumam Celia seraya memencet tombol lift.

Saat kaki jenjangnya melangkah ke dalam kotak berjalan itu, seorang lelaki dengan memakai topi, kaca mata dan masker berdiri di sampingnya.

Celia merasakan ada kejanggalan dari tampilan lelaki itu yang terlihat sangat misterius. Perasaannya mulai gelisah.

Feeling-nya mengatakan kalau orang di sampingnya ini bukan penghuni apartemen ini. Celia mengambil ponselnya dengan tenang untuk menghubungi Cyra yang mungkin sudah berada di apartemen.

"Hallo Cyra! Bisa kamu menjemput aku di pintu lift. Sepertinya ada orang yang sangat mencurigakan berada di dalam lift bersamaku."

Ucap Celia dalam bahasa Indonesia.

"Kamu sudah di lantai berapa?"

"Baru sampai lantai lima belas."

"Berarti lima lantai lagi kamu baru tiba di lantai dua puluh. Tetap tenang dan jangan memperlihatkan rasa takutmu pada orang itu.

Tetap berdoa memohon perlindungan Allah. Jangan menutup telepon mu karena aku sedang menuju ke arah lift untuk menjemputmu."

"Cepatlah Cyra atau aku akan pingsan di depan orang ini. Sepertinya satu tangannya sedang berada di dalam jaketnya.

Dan aku tidak bisa melihat tatapan matanya karena menggunakan kacamata hitam dan masker hitam. Wajahnya sulit untuk dikenali."

Ujar Celia sambil menelan salivanya yang sudah tercekat di kerongkongannya.

"Aku sudah berada di depan pintu lift. Begitu pintu lift terbuka langsung melangkah keluar. Sekarang melangkah perlahan dengan tenang mendekati pintu lift dan jangan memalingkan wajahmu ke belakang!"

"Baik Cyra!"

Pintu lift itu terbuka, Celia melihat Cyra yang sudah ada di depan pintu lift langsung melompat memeluk Cyra. Lelaki itu keluar di lantai yang sama dengan Celia.

Merasa curiga, Cyra menegur pria misterius itu untuk menanyakan tujuannya.

"Hai bung, tunggu!"

Lelaki itu menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah siap mengambil sesuatu dari balik jaketnya.

"Celia, cepat lari menuju kamar Celia!"

Ucap Cyra yang juga mengeluarkan pistol miliknya yang ada di balik punggungnya.

Benar saja. Pria misterius itu mengeluarkan pistolnya dan mulai melepaskan tembakan ke arah Cyra. Secepat kilat Cyra melompat ke sana ke mari seperti bajing menghindari tembakan itu.

Ia mulai memusatkan pikirannya untuk mengeluarkan kekuatannya membalas serangan pria misterius itu.

Dorongan angin kencang berhembus melemparkan tubuh pria misterius begitu jauh hingga pistolnya terlepas dari tangannya.

Cyra maju perlahan mendekati pria itu yang ingin menggapai pistolnya namun sudah di ambil oleh Cyra.

Paha pria itu di injak oleh Cyra sambil mengacungkan moncong pistol itu ke wajahnya."

"Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk membunuh kami?"

Tanya Cyra dengan wajah kelam.

"Tembak aku, cepat!" Teriak pria tampan itu.

Ia tidak bisa bangkit duduk karena tubuhnya seakan melekat di karpet merah koridor apartemen itu.

"Aku akan melepaskanmu jika kamu mengatakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh kami." Bujuk Cyra.

"Aku tidak akan memberi tahukan kamu nona. Sekarang tembak aku dan masalah kita selesai."

Ucap pria tampan itu yang tetap tidak bisa bergerak dari tempat ia terbaring kini.

Tubuhnya benar-benar dibuat kaku oleh Cyra. Gadis ini dengan tenang menarik masker hitam itu dengan kasar dan meraih kaca matanya.

Dalam sekejap wajah tampan pria misterius itu tersingkap.

"Apa yang kamu lakukan pada tubuhku nona? Mengapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?"

Wajah panik itu seperti robot hidup yang hanya diperintahkan Cyra untuk bicara.

"Aku akan membuat kakimu lumpuh tanpa harus membunuhmu."

Cyra berjongkok di samping pria itu dan mencopot topinya.

Ia dengan santai memotret wajah pria itu dari setiap sisi untuk mendeteksi identitas pria itu. Foto wajah itu segera di kirim ke Celia agar gadis itu mencari tahu data pribadi orang itu.

Kiriman foto itu yang masuk ke email Celia sudah terekam langsung oleh Calista.

"Astaga putri kita dalam bahaya."

Ucap Calista saat mendeteksi data pribadi pria tampan itu yang merupakan seorang pembunuh bayaran yang sangat ditakuti oleh mafia manapun.

Calista segera menghubungi putrinya Celia namun, ponsel Celia sedang sibuk saat ini.

Sementara di dalam kamar sana, Celia menghubungi sekuriti apartemen dengan melaporkan pria asing yang sedang menyerang mereka.

"Tu..tuan!"

"Iya nona Celia!"

"Tolong segera naik ke lantai dua puluh karena saat ini kami berdua di serang oleh pria tak di kenal."

Ujar Celia dengan suara terbata-bata.

"Nona Celia! Apakah kamu bisa mengulangi lagi perkataanmu karena suaramu tidak jelas terdengar olehku."

Ujar sekuriti apartemen itu kalut.

Saat Celia mengulangi lagi perkataannya, ponsel sekuriti itu sudah berpindah ke tangan penjahat.

"Hallo Tuan! Apakah anda sudah mendengar ucapan ku?" Tanya Celia gugup.

"Hmm!"

Mata Celia melebar." Ini bukan suara sekuriti tadi. Oh, bagaimana nasib Cyra di luar sana?" Ia buru-buru menutup ponselnya.

Celia segera menghubungi Cyra untuk tetap waspada karena saat ini ada penjahat lain yang sudah naik ke lantai kamar mereka.

Terpopuler

Comments

Rizky Sandy

Rizky Sandy

keren thor,,,,

2022-12-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!