17. Tidak Tersentuh

Sean mempertahankan prinsipnya untuk tidak membuka mulut pada Cyra dan Celia yang pintar memancing suasana.

Ia merasa kedua gadis ini sedang menjebaknya dan berpura-pura memfitnah keluarganya hanya untuk mendapatkan alamat email milik informannya.

Sean juga kuatir dengan keselamatannya. Jika ia memberitahu informan itu maka nyawanya yang akan menjadi taruhannya.

Tapi, mendengar ucapan Celia dan Cyra tentang keluarganya, iapun tidak bisa diam begitu saja.

"Baiklah! Aku akan memberi tahukan kalian alamat email orang itu, tapi aku ingin mengetahui apa yang kalian tahu tentang keluargaku?"

Tanya Sean serius.

Cyra merengkuh pundak Celia untuk memberi isyarat pada gadis itu agar tidak buka mulut tentang tuan Mickael. Sambil cekikikan ia pun berkata balik pada Sean.

"Maaf Sean! Sepertinya kami tidak tertarik dengan informan mu itu. Dan kami juga tidak berminat untuk menceritakan siapa kedua orangtuamu terutama ayahmu. Mungkin kamu bisa telusuri sendiri tentang beliau."

Ujar Cyra sambil mengulum senyumnya menyeringai licik.

Keduanya kompak meninggalkan Sean di cafe tersebut.

"Hei tunggu!"

Sean mengejar keduanya, namun Cyra dan Celia sudah masuk ke mobil mereka tanpa pedulikan panggilan Sean.

"Lebih baik jangan memberi tahu Sean tentang sepak terjang ayahnya karena Sean sebentar lagi akan menghadapi sidang skripsi." Ujar Cyra tidak tega pada pria tampan itu.

"Tapi, aku masih penasaran dengan informan itu Cyra!"

Ujar Celia sambil menyetir mobil.

"Apakah kamu lupa kamu ahlinya meretas akun orang lain?"

Cyra mengingatkan kemahiran Celia yang mengusai dunia IT.

"Astaga! Aku sampai lupa akan hal itu. Pantas saja kamu minta aku cabut secepatnya dari tempat itu." Keduanya terkekeh.

"Tapi, bagaimana dengan nasib Sean jika dia menanyakan pekerjaan kotor ayahnya?"

"Itu urusannya Celia! Itu di luar dari kapasitas kita sebagai temannya. Cukup memancingnya dengan memberi tahukan dunia hitam yang ayahnya geluti sampai saat ini, sudah cukup membuatnya syok."

"Tapi kau tahu sendiri kan Cyra, saat kita wisuda, justru pemilihan para petinggi negara ini sedang berlangsung, itu berarti menteri siapa saja yang akan membantu pemimpin negeri ini yang akan duduk di gedung putih.

Apakah ayah Sean masuk di dalamnya juga sebagai pemain atau sebagai eksekutor untuk menghalangi pejabat lain yang cukup pantas duduk di tempat bergensi itu." Ujar Celia.

"Kenapa kamu repot sekali Celia. Ketika mereka menjadi calon kandidat yang cukup kuat memperebutkan kursi jabatan hebat itu, kita bisa menjatuhkan mereka dengan bukti kejahatan yang mereka simpan dengan rapi selama ini." Ujar Cyra.

"Tapi Cyra, itu sangat berbahaya dan ini bukan negara kita untuk bisa menggulingkan mereka begitu saja. Apa lagi hanya untuk mendengarkan suara kita." Ujar Celia ragu.

"Celia! Ingat, kita ini princess yang punya bekingan kuat untuk bisa masuk ke gedung putih itu dengan menggagalkan penobatan yang diberikan penguasa negeri ini saat mengangkat mereka menjadi menteri untuk membantu urusan negara ini." Ucap Cyra.

"Jadi kita akan melibatkan dua kerajaan kita sekaligus untuk menumpas kejahatan mereka, Cyra?"

"Iya sayang! Dan tentunya kiprah Oma Andien yang punya peran penting sebagai delegasi Indonesia yang akan menggagalkan rencana mereka karena ini isu dunia." Timpal Cyra.

"Astaga! Jadi kita akan melibatkan mereka semua, Cyra?"

"Jika ibumu bisa menggulingkan para menteri kerajaan yang sangat korup saat itu, kenapa kita tidak bisa?" Jelas Cyra dengan tetap mengulum senyumnya.

"Kalau ummi, dia berani melakukan itu saat kakek Hassan mendukungnya dan juga Abi. Dan itu terjadi di negara suaminya dan di dalam istananya.

Itu adalah hal yang pantas untuk diperjuangkan karena posisi umi sebagai orang biasa yang ingin disingkirkan. Tapi bagaimana dengan kita? Apa kepentingan kita di negara ini Cyra?"

Keluh Celia yang tidak yakin jika mereka bisa melakukannya untuk melawan rezim.

Bukan Cyra namanya kalau tidak bisa membuat kocar kacir manusia-manusia serakah yang haus akan jabatan padahal mereka punya segalanya.

"Jika ingin menegakkan keadilan, tidak perlu memilih tempat untuk membasmi kejahatan di muka bumi ini.

Tidak peduli ini negara siapa, selama kebenaran yang akan kita perjuangkan membawa manfaat untuk orang banyak, anggaplah bumi Allah yang sedang kita selamatkan bukan berdasarkan milik siapa tanah yang kita datangi saat ini.

Selama kebenaran itu ada, Allah akan melindungi hambaNya sebagai wakilNya di bumi ini Celia!" Ujar Cyra penuh keyakinan.

"Ya Allah Cyra! Kamu terlihat sangat menakutkan saat ingin membasmi kejahatan."

"Aku lebih takut jika kekuatan yang aku miliki saat melihat kejahatan merajalela di bumi ini dan aku diam saja tanpa melakukan sesuatu untuk umat manusia.

Jika nanti di akhirat semua anggota tubuhku di hisab, apa yang harus aku jawab untuk mempertanggungjawabkan amal ku kepada Allah?" Gumam Cyra lirih.

Deggggg....

Celia termangu mendengar ucapan Cyra menyadarkan dirinya yang juga memiliki kelebihan tapi tidak bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

"Benar juga Cyra! Aku hampir lupa peranku di dunia ini dengan banyak kenikmatan yang Allah sudah berikan kepadaku tapi tidak digunakan sebaik mungkin.

Terimakasih Cyra, aku akan mendampingimu untuk menumpas kejahatan. Tujuan kita karena Allah semata bukan karena untuk menuai sensasi." Imbuh Celia.

"Jabatan kita sebagai princess sangat berat Celia. Kalau hanya tampil sebagai pemanis kerajaan, lantas apa bedanya kita dengan burung di sangkar emas.

Terlihat cantik hanya untuk dinikmati oleh pemiliknya suatu hari nanti. Tapi kiprahnya sebagai putri raja tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin." Lanjut Cyra.

Di kamar apartemennya, Celia meretas akun milik Sean dengan begitu mudahnya. Ia mencari alamat email pengirim informasi tentang mereka pada Sean.

Sementara itu, Cyra dengan jahilnya memindahkan barang yang ada di ruangan itu dengan kekuatannya.

Semua barang di buat melayang dengan membentuk formasi menarik seperti pertunjukan akrobat dengan ilmu sihir.

Celia hanya menarik nafasnya berat melihat aksi Cyra kalau sedang berlatih untuk menyeimbangkan kembali kekuatan matanya.

"Cyra! Bisakah kamu diam sebentar untuk tidak menganggu aku dengan semua benda yang ada di atas kepalaku?"

Pinta Celia yang cukup ngeri melihat guci besar menari di atas kepalanya.

"Aku tidak akan mencelakakan dirimu, Celia. Sekarang diam lah dan jangan menganggu konsentrasi ku."

Cyra memindahkan satu persatu barang sesuai di tempatnya masing-masing.

Di sisi lain Tuan Walton dan tuan Michael beserta para kandidat lain yang ingin masuk ke gedung putih sedang merencanakan hal besar untuk menumbangkan kubu lawan sebagai saingan politik mereka.

"Apakah kamu sudah memastikan bahwa laju statistik di lapangan akan aman di dunia politik ini?"

Tanya tuan Walton yang masih ragu dengan kinerja tuan Michael.

"Tenang saja tuan Walton! Aku menjamin permainan kotor kita untuk memenangkan persaingan kita di dunia politik tak akan pernah tersentuh oleh siapapun karena aku sudah merekrut orang-orang yang bekerjasama dengan kita akan mengamankan semua kejahatan yang kita lakukan."

Ucap tuan Michael meyakinkan tuan Walton beserta para pemangku jabatan lainnya.

"Kau yakin dengan perkataanmu itu tuan Michael? Bagaimana dengan gadis yang bernama Cyra? Jangan menganggap remeh dirinya walaupun usianya masih belia." Ujar tuan Walton.

"Cyra..? Astaga gadis itu..!

Pantesan aku terus memikirkannya, padahal dia adalah orang yang telah membuatmu mundur dari jabatan mu sebagai pimpinan kampus."

Ucap tuan Michael yang baru mengingat Cyra, teman dari putranya Sean.

Terpopuler

Comments

Idrah Gusmiati

Idrah Gusmiati

semangat thor..cyra, celia...

2022-12-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!