3. Tidak Gentar!

Cyra memandang sinis wajah Sean yang ingin memerasnya. Sedikitpun ia tidak akan terjebak dengan ancaman Sean.

"Kekuatan apa?"

Tanya Cyra pura-pura tidak mengerti."

"Tentu saja kamu memilikinya. Kamu kira aku anak kecil yang bisa kamu kibuli?"

"Hentikan omong kosong mu dan aku ingin pulang!"

Sergah Cyra sambil menjalankan mobilnya perlahan menghindari Sean yang terlalu percaya diri bisa mendapatkan Cyra dengan mudah melalui ancamannya.

"Cyra! Tunggu! aku bisa membuktikannya kalau kamu punya kekuatan."

Sean berbicara sambil mengejar mobil Cyra yang mulai bergerak keluar dari tempat parkir.

Cyra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya. Ia terpaksa pulang sendirian karena Celia masih mengambil kelas lain. Gadis jenius itu ingin seperti ibunya yang mengambil dua jurusan dalam satu waktu.

Saat kedua gadis ini berada di kamar mereka, Cyra menceritakan kepada Celia tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Sean tadi siang. ia mengatakan kalau dirinya mendapat ancaman dari Sean.

"Bagaimana Sean bisa mengetahui kalau kamu punya kekuatan Cyra?"

"Entahlah!"

"Dari awal aku sudah memperingatkan dirimu untuk berhati-hati saat kamu menggunakan kekuatanmu.

Sekarang kamu harus terima resiko dari ulahmu sendiri."

Sahut Celia lalu melanjutkan membaca bukunya.

"Apa yang harus aku lakukan jika dia terus menteror ku?"

"Terima tawarannya untuk berkencan." Ucap Celia

"Tidak, Celia! Kamu tahu sendiri kalau pemuda Amerika mengajak kencan bukan hanya di meja makan saja tapi mereka akan membawa wanitanya sampai ke tempat tidur."

"Itu tergantung kepada kamu nya Cyra. Kalau kita bisa menyatakan sikap dengan tegas, laki-laki juga tidak akan memaksa.

Mereka sangat menghargai kalau kita menolak. Justru mereka akan kagum dengan sikap kita tegas kita, jika kita mampu menjaga diri." Timpal Celia.

"Bagaimana kalau dia memaksa dan cenderung nekat?"

"Bukankah kamu punya kekuatan? Manfaat kan itu untuk melindungi dirimu."

"Oh iya ya! Benar juga katamu. Ok, thanks untuk idenya Celia. Kalau aku sudah curhat kepadamu, semuanya langsung kelar urusannya. Untung ada kamu, Celia."

"Untung ada Allah, bukan aku Cyra!"

"Iya deh! Putri Celia Chafia." Canda Cyra sambil cekikikan.

Dasar Celia! Ekspresi wajahnya terlihat datar dan terkesan seperti robot. Ia hanya tertawa jika hal yang sangat membuatnya menggelitik.

Keesokan harinya, Sean mendekati lagi Cyra saat istirahat makan siang. Ajakan dan ancaman yang sama kembali di lancarkan kepada Cyra.

Cyra tidak menyerah begitu saja dengan gertakan Sean. Ia sengaja mengulur waktu untuk membuat Sean terlihat lelah dan membuktikan ancamannya.

"Apakah kamu masih tidak mau menerima ajakan kencan ku Cyra?"

Tanya Sean sambil berjalan mundur sambil melihat ekspresi wajah Cyra.

Cyra hanya mengangkat kedua bahunya membuat Sean berbalik dan berinisiatif untuk membeberkan rahasia Cyra.

"Ok,! kalau begitu aku akan memberi tahukan semua orang."

Sean berdiri di atas meja kantin dan mulai berorasi di depan semua orang.

"Hai dengarkan semuanya! Di sini ada seorang gadis yang..?"

"Berhenti! Aku mau kencan denganmu."

Ucap Cyra buru-buru untuk mencegah aksi nekat Sean.

Sean mengulum senyumnya. Ia merasa sudah memenangkan permainan ini.

"Ok Cyra! Nanti malam aku akan menjemputmu di apartemen mu."

Sean kembali bergabung dengan teman-temannya dan membiarkan Cyra duduk sendiri menunggu kedatangan Celia.

...----------------...

Tepat pukul delapan malam Sean datang menjemput Cyra. Celia yang sedang menemani Sean saat Cyra mempersiapkan dirinya untuk kencan pertamanya.

"Celia!"

"Hmm!"

"Apakah sahabatmu itu, selain Cyra adalah buku?"

"Benar sekali perkataan anda Sean. Dengan buku aku bisa mengusai setengah dunia ini.

Dengan ilmu aku tidak perlu kuatir menghadapi hidup karena apa yang aku butuhkan sudah mencukupi segala kebutuhanku."

Ucap Celia membuat Sean tidak mengerti sama sekali ucapan gadis kutu buku ini.

"Mencukupi kebutuhan seperti apa Celia?"

"Dengan ilmu orang bisa bekerja. Mengusai ilmu pengetahuan lain yang tidak lazim untuk orang lain tapi sangat dibutuhkan oleh orang dari kalangan tertentu.

Cukup mengajukan dirimu kalau kita bisa menyelesaikan permasalahannya. Setelah itu, imbalan yang kita dapatkan lebih dari ekspektasi kita saat klien kita merasa puas dengan hasil kerja kita."

Ucap Celia yang sudah dipahami oleh Sean.

"Apakah karena itu kamu ingin mengetahui segalanya?"

"Lebih dari itu Sean! Jika waktu yang diberikan Tuhan ku untuk aku bisa melakukan hal yang bermanfaat saat orang sibuk menyenangkan hatinya, aku lebih memilih memuaskan dahagaku akan ilmu tanpa batas yang ada di dunia ini atas ijin Tuhanku."

Balas Celia membuat Sean begitu kagum dengan gadis cantik ini.

Langkah derap sepatu high heels milik Cyra terdengar dari dalam menuju ruang tamu. Cyra yang mengenakan dress mewah berleher rendah warna hitam dengan kombinasi gold membentuk selempang.

Rambutnya yang digulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya dengan dengan kalung berlian bertatahkan batu safir biru di tengahnya.

Mata Sean yang melihat kecantikan gadis blasteran indo Yunani ini nampak terpesona.

"Cyra! Apakah kamu seorang Dewi Yunani?"

Tanya Sean saking kagumnya melihat kecantikan Cyra.

"Bagaimana kalau pertanyaan mu itu benar adanya, Sean."

Batin Celia sambil fokus ke buku yang dibacanya.

"Kita berangkat sekarang Sean?"

Sean memberikan lengannya untuk di gandeng Cyra. Keduanya pamit pada Celia.

"Jangan pulang larut malam. Jaga dirimu dan ingat nasehat Oma Andien, kalau wanita yang baik tahu bagaimana cara menjaga harga dirinya.

Sekalinya dia jatuh, penyesalan seumur hidup akan menghantuinya sampai ia mati."

Ujar Celia mengingatkan saudara sepupunya ini.

"Insya Allah sepupuku yang jenius. Assalamualaikum!"

Ujar Cyra dengan bahasa Indonesia.

Celia menjawab salam saudaranya sambil mendoakan keselamatan Cyra.

Sean hanya menautkan alisnya mendengar percakapan dua wanita cantik di depannya itu.

Keduanya berjalan menuju lift.

"CYRA! Bahasa apa yang kalian gunakan saat berdua?"

"Bahasa Indonesia. Orangtua ibuku asli orang Indonesia."

jelas Cyra.

"Kedengarannya mudah dipelajari. Bolehkah aku ikut belajar bahasa leluhur mu itu, Cyra?"

"Insya Allah."

"Kata apa lagi itu yang kamu ucapkan?"

"Itu adalah kata dari ucapan umat muslim saat memberikan janji kepada lawan bicaranya bahwa ia tidak bisa menempati janjinya jika tidak mendapatkan ijin dari Tuhannya.

Jadi semuanya berpusat kepada Tuhan sang pengatur kehidupan.

"What..? kalian adalah muslim?"

Tanya Sean terlihat syok mendengar agama Cyra.

"Apakah ada masalah dengan keyakinan ku? apakah kamu seorang Islam fobia?"

Tanya Cyra lalu menghentikan langkahnya saat berada di mobil Sean.

Sean terlihat bingung dengan perasaannya sendiri. Antara ingin melanjutkan kencannya atau pamit pulang dan menggagalkan rencana kencannya.

"Sean! Jika kamu tidak yakin jalan denganku, lebih baik kita batalkan saja kencannya. Aku tidak masalah jika di batalkan kencannya. Lagi pula kamu yang mengajak aku kencan."

Ucap Cyra berusaha tenang menghadapi sikap Sean yang langsung berubah pikiran.

"Tidak Cyra! Baiklah aku minta maaf sudah masuk ke urusan paling prinsipil dalam hidupmu. Aku tidak berhak menghukum mu atas sesuatu yang pernah di alami oleh orang lain. Maafkan aku!"

Sean membuka pintu mobilnya untuk Cyra yang masih terpaku melihat keragu-raguan Sean terhadapnya.

Terpopuler

Comments

Osie

Osie

btw nanti buat jg ya cerita ttg kisah hdp celia..kalau boleh beda novel ya thor buatnya

2022-12-02

1

Osie

Osie

kereeen sp disini..aku tunggu up berikutnya...kutunggu bbrp bab dl baru baca yaaa..biar gregetnya dpt..salam semangat author sayang...muuaachh

2022-12-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!