Semenjak adanya ancaman Celia pada tuan Walton, akhirnya Riyan dibebaskan dari sel tahanan kantor polisi.
Celia dan Cyra tidak memproklamirkan kebaikan mereka pada Ryan. Semuanya kembali terlihat seperti biasa dan Ryan bisa kembali beraktivitas di kampusnya.
Hanya saja posisi tuan Walton tidak kuat lagi di lembaga pendidikan yang telah membesarkan namanya itu.
Atas ancaman Celia agar dia harus mengundurkan diri dari kampus dan melupakan ambisinya menjadi seorang salah satu menteri di gedung putih
Namun itu tidak membuatnya berhenti begitu saja. Ia masih mencari cara lain untuk membungkam dua gadis ini dengan menciderai bahkan membunuh Cyra dan Celia sekaligus pasti dengan tangan orang lain.
Untuk mengantisipasi serangan tidak terduga oleh pihak lawan, raja Fatih dan raja Davin sepakat mengirim sneaker untuk melindungi putri mereka yang sedang menempuh pendidikan di Amerika.
Tidak hanya itu saja, Calista dan mamanya Andien serta Camilla menyadap setiap obrolan yang masuk ke notifikasi ke ponsel Cyra dan Celia. Hal ini dilakukan diam-diam oleh ketiganya untuk mengetahui pergerakan musuh.
Sebenarnya Calista tidak ingin lagi putrinya terlibat dengan orang-orang yang sedang berurusan dengan kancah politik, namun raja Fatih mencegah istrinya untuk memanggil kembali putri mereka pulang ke negaranya.
"Tidak usah egois dan kuatir berlebihan seperti itu sayang! Apakah kamu lupa, putrimu itu menuruni sifatmu yang ingin menegakkan keadilan walaupun nyawa kalian adalah taruhannya dan itu kamu lakukan saat mengandung mereka berempat." Ucap Fatih.
"Tapi, tiga anakku tidak seperti Celia. Semuanya kalem sepertimu." Tukas Calista.
"Kalau kalem semua, lantas siapa yang akan bertanggungjawab atas kejahatan di dunia ini, kalau bukan putri kita yang dikirim Allah untuk memberantas manusia-manusia yang bermoral rendah dan bertampang rakus ingin menggenggam dunia dengan cara yang salah.
Lagi pula nggak ada orang seperti kamu dan Celia, di dunia ini nggak akan ramai, sayang." Ucap Fatih membuat Calista tersipu.
"Benar juga sih, tugas kita di dunia ini adalah mencegah kemungkaran dan menebarkan kebaikan. Berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencapai keridhaan Allah. Semoga Allah melindungi perjuangan Celia dan Cyra yang ingin memperjuangkan kebenaran." Imbuh Calista.
Sementara itu, di kampus Ryan terlihat lebih banyak diam dan menyendiri dari teman-temannya bahkan ia tidak lagi berminat untuk mendekati Celia semenjak keluar dari penjara.
"Celia! Apakah tidak sebaiknya kita menghibur Ryan agar dia kembali percaya diri untuk memulai hidupnya lagi?" Ucap Cyra.
"Lebih baik tidak usah Cyra. Setiap orang butuh waktu untuk bertengkar dengan dirinya sendiri agar ia mampu keluar dari penjara permasalahannya. Dan itu tidak mudah untuk dilalui oleh siapapun termasuk Ryan." Sahut Celia.
"Ok. Tidak masalah, sebaiknya kita pulang." Ajak Cyra.
Celia yang memperhatikan Ryan yang masih melamun di ruang kelasnya dengan ponsel ditangannya tergugah juga hatinya untuk mendekati pemuda tampan itu.
"Hai Ryan!"
Ryan menatap wajah cantik Celia sesaat lalu menundukkan lagi wajahnya dengan sibuk bermain game.
"Apakah kamu mau aku kirim Beberapa catatan mata kuliah yang sudah tertinggal olehmu melalui email mu?"
"Tidak usah so perhatian padaku! Urus saja urusanmu sendiri karena aku bisa melakukan apapun tanpa mengharapkan bantuan darimu."
Ucap Ryan begitu kasar pada Celia yang cukup tercengang melihat perubahan sikap Ryan.
"Baiklah. Jika kamu tidak membutuhkannya. Terimakasih! Jaga dirimu Ryan. Aku percaya kamu bukan orang yang dituduhkan dari pihak kampus atas apa yang terjadi padamu karena itu bukan perbuatanmu." Ujar Celia lalu keluar dari kelasnya.
Profesor Kimberly yang sedang mendengar ucapan kasar Ryan menghampiri pemuda itu.
"Ryan!"
"A..iya prof."
"Apakah kamu baik-baik saja!"
"Iya prof." Ryan mengangguk.
"Mengapa kamu begitu kasar pada gadis yang telah berjuang untuk bisa membebaskan kamu dari tuduhan yang dilayangkan oleh pimpinan kampus ini?"
Deggggg....
"Seorang gadis yang membelaku dan itu...?" Tanya Ryan masih terlihat bingung.
"Kalau bukan karena Celia dan Cyra, mungkin kamu tidak akan pernah kembali ke kampus ini lagi untuk meraih cita-citamu."
Lanjut profesor Kimberly.
"Apa maksudmu prof...?"
Profesor Kimberly menceritakan bagaimana dua gadis itu berupaya menekan tuan Walton untuk bisa membebaskannya dari jeratan hukum.
Usai mendengar penjelasan profesor Kimberly, Ryan segera mencari Celia dengan perasaan yang terlihat sangat bersalah.
"Oh, betapa bodohnya aku, saat gadis itu mau mendekati ku, justru aku malah menyia-nyiakan kesempatan ini." Ryan mengusap wajahnya dengan kesal.
Tapi kekesalannya terhenti saat melihat Celia sedang memperbaiki tali sepatunya yang terlepas, tapi Ryan lebih dulu membantu gadis itu mengikat tali sepatunya.
"Maafkan aku Celia!"
Ucap Ryan sambil mengencangkan tali sepatu Celia.
"Kau..!"
"Aku sudah berbuat kasar kepadamu. Maaf aku masih....?"
"Tidak apa Ryan! Jika aku jadi kamu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Tetap semangat Ryan. Walaupun kebenaran di dunia ini tidak pernah di dengar, tapi yakinlah bahwa kebenaran tidak akan pernah kalah selama kita memperjuangkannya untuk mengungkapkan kebenaran itu sendiri."
"Mengapa kamu mau berteman denganku, sementara yang lain meninggalkan aku?"
"Karena mereka sudah dibutakan dengan kepalsuan yang menipu penglihatan mereka dan membohongi batin mereka." Ucap Celia.
"Berarti kamu mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui Celia? Hingga kamu bisa membuktikan aku tidak bersalah?"
Deggggg....
Celia begitu kaget bagaimana Ryan bisa mengetahui kalau dia yang telah membebaskan dirinya.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya Ryan?"
"Tidak penting bagaimana caranya aku bisa mengetahuinya, yang jelas aku ingin kamu tahu, kalau aku sangat berkesan atas pertolongan kamu dan rasa terimakasih ku yang tidak bisa aku balas dengan kebaikan yang sama padamu." Ucap Ryan tulus.
"Dengan senang hati Ryan. Setiap tindakan orang lain yang ingin memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya perlu ada tindakan tegas agar orang itu tahu kalau kekuatan dari segala yang ia miliki, masih ada kekuatan lain yang menghancurkannya."
"Kekuatan apa Celia? siapa yang punya kekuatan itu?"
"Dialah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tidak ada daya dan upaya melainkan kekuasaanNya meliputi langit dan bumi ini." Ujar Celia.
"Apakah keyakinan mu mempercayai adanya Tuhan?"
"Tentu saja Ryan. Alam ini ada yang mengaturnya, begitu juga dengan adanya agama dalam hidup kita yang akan mengendalikan kita agar bisa mengenal mana yang baik dan yang buruk.
Dan mana yang Haq maupun yang batil dengan begitu kita bisa berjalan pada jalur kebenaran agar hidup kita selamat dan surga adalah janji Tuhanku Allah sebagai tempat tujuan di akhir hidup ini kelak." Timpal Celia.
"Aku jadi penasaran dengan agama yang kamu anut Celia."
"Bagaimana dengan keyakinan mu sendiri?" Tanya Celia.
"Aku dan keluarga besar ku adalah ateis. Kami hidup hanya percaya semua adalah alam yang mengatur. " Tukas Ryan.
"Alam sendiri ada penciptanya, Ryan. Bagaimana bulan dan matahari berganti tempat dan waktu untuk menjalankan tugas mereka. Dan masih banyak lagi makhluk yang ada di bumi ini dan semuanya yang ada antara langit dan bumi ada fungsi penciptaannya masing-masing dan itu di kendalikan oleh Allah."
"Bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu Celia?"
"Allah yang memberitahu kami melalui firman-Nya berupa kitab Al-Qur'an yang diturunkan kepada nabi Muhammad, nabi untuk seluruh umat di bumi ini." Ujar Celia lugas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Idrah Gusmiati
bagus sekali ceritanya , sekalian kita belajar agama..
2022-12-06
2