Kampus tempat Cyra dan Celia yang sedang bernaung memiliki masalah dengan rahasia dokumen yang telah diretas oleh sekelompok orang untuk dijual ke negara lain.
Isu itu mulai menerpa di kalangan mahasiswa yang dicurigai sebagai orang yang bertanggungjawab atas kebocoran itu.
Mengingat Ryan adalah mahasiswa yang hebat dalam dunia IT, menjadikan dia tersangka utama.
Walaupun dia adalah putra dari seorang yang cukup berpengaruh di negara itu, namun ia harus menerima tuduhan itu dan itu akan membuat kedudukan ayahnya yang terlibat dengan dunia politik akan menjadi terancam.
Permainan politik memang kejam di negara itu. Kesalahan sekecil apapun akan jadi masalah besar agar orang itu bisa tersingkirkan dengan mudah. Apa lagi orang itu punya pengaruh besar yang lebih dekat dengan rakyat akan lebih mudah jalannya di dunia politik.
Menjadikan Ryan kambing hitam untuk lebih mudah bagi sekelompok orang itu bisa menyingkirkan ayahnya.
Ayahnya seakan tidak percaya apa yang dituduhkan pihak kampus yang dilakukan oleh putranya Ryan. Tapi bukti itu lebih mengarahkan pada Ryan karena akun miliknya yang mudah terdeteksi.
Mendengar nama Ryan terlibat dalam aksi pembobolan rahasia kampus, memaksa Celia ikut campur urusan internal kampus itu.
Ia dan Cyra nekat mendatangi rektor yang sedang melakukan meeting pagi itu dengan beberapa staff dosen untuk membahas tentang keterlibatan Ryan.
"Pagi tuan!"
"Apa keperluan kalian?"
"Kami ingin bertemu dengan pemimpin kampus ini." Ujar Cyra.
"Maaf pimpinan sedang ada rapat. Kalian boleh kembali lagi setelah dua jam kemudian." Ujar petugas keamanan kampus tersebut.
"Tidak! Justru kami ingin ikut rapat juga." Ujar Cyra.
"Apakah kalian punya surat undangan rapat?"
"Tidak punya. Tapi kami sudah buat janji dengan pimpinan." Ucap Celia bohong.
Melihat wajah serius Celia, petugas itu pun mengijinkan kedua gadis itu mengikuti rapat.
Cek..lek..
Cyra dan Celia memberikan salam pada semua anggota rapat. Sementara pimpinan rapat menautkan kedua alisnya melihat kehadiran dua mahasiswa yang tidak ada hubungannya dengan agenda rapat.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Tanya pimpinan rapat yang tidak suka dengan kehadiran dua gadis itu.
"Maaf tuan! Kami ingin menuntut keadilan." Ujar Cyra.
"Keadilan..? Keadilan apa yang kalian maksud?"
"Bebaskan teman kami Ryan karena dia tidak bersalah."
"Tahu apa kalian tentang pemuda itu. Dia adalah oknum mahasiswa yang ingin merusak citra kampus ini demi kepentingannya.
"Jika saya bisa membuktikan kepada kalian semua kalau teman kami itu tidak terlibat, apakah dia akan di bebaskan?" Tanya Celia.
"Apa yang akan bisa kalian lakukan untuk membuktikannya?"
"Kami hanya ingin minta kebebasannya! Jika kebebasannya dipersulit, maka akan ada banyak yang akan
di libatkan dalam konspirasi ini."
Ucap Celia penuh penekanan pada kalimatnya.
Wajah pimpinan kampus itu terlihat gusar, namun rasa percaya dirinya begitu tinggi karena kejahatannya tidak akan pernah bisa diusut oleh siapapun.
"Omong kosong apa yang sedang kalian sampaikan kepada kami? Apa kalian mau aku kirim kalian ke penjara juga?" Ancam pimpinan kampus itu.
"Silahkan tuan! Tapi sebelumnya anda harus mempertanggungjawabkan perbuatan anda pada kampus ini kepada publik karena kami tidak akan segan mengangkat kebusukan anda selama kepemimpinan mu di kampus ini demi sebuah jabatan.
Bagaimana? Apakah tuan masih menantang kami?"
Ancam Celia terlihat menakutkan bagi pimpinan kampus itu.
"Panggil sekuriti untuk menyeret dua gadis ini keluar dari sini!" Titah pimpinan kampus itu pada salah satu anggota rapat.
Cyra dengan cekatan menutup pintu itu dengan sangat kencang sehingga sulit bagi orang itu membuka pintu ruang meeting tersebut.
"Maaf tuan! Pintu ini tidak bisa di buka."
"Hai kalian bantu dia untuk membuka pintu itu!" Titah pimpinan kampus itu dengan memperlihatkan wajah murkanya.
Anggota meeting ada yang sedang menghubungi petugas keamanan yang ada di kampus itu untuk mendobrak pintu itu dari luar, namun ponsel mereka tiba-tiba tida ada sinyal.
"Kenapa tiba-tiba sinyalnya hilang seperti ini?"
Keluh dari beberapa orang anggota meeting tersebut.
Semuanya terlihat panik karena mereka tidak bisa keluar dari ruang meeting itu.
Pimpinan kampus itu menatap wajah kedua gadis yang sedari tadi menantangnya.
"Apa yang kalian inginkan, hah?"
"Bebaskan teman kami Ryan atau konspirasi kalian semua yang terlibat dengan beberapa pejabat pemerintah akan saya ungkap!"
Sahut Celia.
"Sebutkan satu bukti kesalahanku yang kalian tuduhkan padaku!" Titah pimpinan rapat itu.
"Baiklah! Mau diperlihatkan di depan anggota rapat atau anda sendiri tuan?"
Tanya Celia yang sudah menyiapkan bukti dari kejahatan pimpinan kampus itu yang bernama Tuan Walton.
Tuan Walton mulai gelisah. Ia tidak bisa lagi meremehkan ancaman kedua gadis ini yang merupakan mahasiswanya.
Tapi demi gengsinya, ia tetap mencibir ancaman Celia.
"Coba perlihatkan kepadaku apa yang kalian ketahui tentangku?" Tantang tuan Walton dengan intonasi suara yang pernah wibawa.
"Cih! Dasar pria tua bangka tidak tahu malu. Harusnya kau lebih pantas momong cucumu di rumah dari pada mengejar kekuasaan yang tidak pantas lagi untukmu."
Umpat Cyra sambil mengawasi langkah kaki jenjang dari Celia menuju ke arah tuan Walton.
Celia menyerahkan ponselnya kepada tuan Walton untuk memperlihatkan kejahatan yang telah dilakukan oleh tuan Walton.
Dengan senyum sinis nya, Tuan Walton mulai melihat tayangan dirinya yang sedang berhadapan dengan gangster yang ada di negara itu untuk membunuh seseorang yang menjadi penghalang dirinya saat menduduki jabatannya yang sekarang ini ia tempati.
Senyum keangkuhan itu langsung terbenam dengan perubahan raut wajah panik lagi pucat. Ia segera mematikan ponselnya Celia dan hendak membanting ponsel itu, tapi tangannya tiba-tiba seperti di pelintir seseorang hingga tulang engsel lengannya kedengaran patah. Ponsel itupun akhirnya jatuh dan segera ditangkap oleh Celia.
Dua orang dosen yang duduk di sebelahnya segera menolongnya namun engsel tulang lengannya segera diperbaiki oleh Cyra dengan hanya menatapnya.
"Bagaimana tuan Walton? Apakah masih perlu bukti lain untuk bisa membuatmu berubah pikiran untuk mengundurkan diri dari pencalonan dirimu yang saat ini jabatannya sedang diduduki oleh ayah kandungnya mahasiswa mu bernama Ryan?"
Tanya Celia membuat anggota rapat mulai bertanya-tanya dengan konspirasi apa yang dimaksudkan Cyra dan Celia atas keterlibatan tuan Walton dengan para pejabat lainnya.
"Bebaskan pemuda itu sekarang juga!"
Titahnya pada sekertarisnya.
"Maaf tuan! Di sini tidak ada sinyal dan pintu ruang rapat itu tidak bisa di buka."
Ujar sekertarisnya dengan gugup.
"Kenapa anda menjadi pembohong Miss Valencia? Sinyal di sini baik-baik saja."
Ucap Cyra sambil mengulum senyumnya.
Sekertaris itu membuka lagi ponselnya dan ternyata sudah bisa menghubungi keluar.
"Terimakasih atas kemurahan hatimu Tuan Walton. Tapi kami berharap hentikan ambisi mu untuk menjadi orang penting di negara ini, karena kamu tidak pantas menjadi seorang pemimpin di negeri ini."
Ujar Celia yang langsung berjalan menuju pintu keluar.
Cyra membuka pintu itu dengan entengnya membuat para anggota rapat yang rata-rata adalah dosen itu hanya tercengang.
Sementara beberapa dosen yang jujur termasuk Professor Richard dan Profesor Kimberly yang tidak begitu peduli dengan tuan Walton, terlihat tenang.
Hanya saja mereka masih bertanya-tanya tentang kejahatan apa saja yang dilakukan oleh tuan Walton dengan keterlibatannya dalam sebuah konspirasi politik.
Kedua dosen itu saling mengirim pesan satu sama lain padahal keduanya duduk bersebelahan.
"Bagaimana bisa Celia mengetahui kejahatannya tuan Walton? Apakah kamu mengetahui sesuatu Miss Kimberly?" Tanya tuan Richard.
"Justru ini yang ingin saya cari tahu. Kalau gadis itu bisa mengetahui kejahatan tuan Walton yang tidak pernah terendus pihak berwajib maupun wartawan, bukan tidak mungkin dua gadis itu mengetahui segalanya." Tulis nona Kimberley.
Cyra dan Celia melakukan tos saat keduanya keluar dari ruang rapat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Osie
celia unjukkan aksimu spti mommy mu ygmenjatuhak para petinggi kerajaan maroko yg berkhianat...
2022-12-06
1