15. Rahasia Ayah Sean!

Perjalanan menempuh pendidikan di kampus itu, sebentar lagi akan mulai berakhir. Itu berarti tidak lama lagi kedua gadis ini akan meninggalkan negara yang dijuluki Paman Sam itu untuk kembali ke negara mereka masing-masing.

Bagi keduanya tidak begitu butuh waktu untuk menyelesaikan skripsi mereka karena keduanya sudah mahir menemukan semua referensi buku sebagai catatan kaki untuk membuktikan setiap argumen penelitian milik mereka di depan para dosen penguji.

Rupanya kehebatan dua gadis ini di manfaatkan oleh Sean dan Ryan untuk membantu mereka menyelesaikan skripsi yang sangat membuat mereka muak bahkan setress.

Sean mengundang ketiga temannya ini ke rumahnya agar bisa menyelesaikan tugas akhir mereka.

Awalnya Cyra dan Celia menolak ajakan Sean. Namun setelah Sean menanyakan alasannya kepada keduanya, ia baru memahami bahwa keduanya takut berhadapan dengan anjing.

"Tenanglah! aku jamin kalau tidak ada satu anjing pun yang akan aku biarkan menganggu kalian karena mereka semua akan di kurung." Ucap Sean.

"Bagaimana kalau kamu bohong?"

Selidik Celia.

"Kalian boleh meninggalkan rumahku secepatnya." Ucap Sean.

Kedua gadis ini sepakat ikut ke rumah Sean yang didampingi oleh Ryan. Tentunya pergerakan dua gadis ini tidak terlepas dari tim sneaker kerajaan yang tetap mengawasi keduanya dari jauh.

Saat tiba di rumah, Sean tidak mengetahui kalau keluarganya sedang berkumpul untuk makan siang. Ibunya yang melihat kedatangan putranya dengan teman-temannya, menyambut dengan sumringah.

"Hai putraku!"

Sambutan hangat serta kecupan di pipi Sean yang diberikan oleh nyonya Anabel.

"Kapan kalian balik dari Perancis?"

Tanya Sean yang jarang sekali bertemu dengan orangtuanya karena urusan bisnis mereka.

"Baru tadi pagi kami tiba di rumah dan kamu sudah berangkat ke kampus." Ujar nyonya Anabel.

"Oh iya.. mommy dan Daddy! Kenalkan ini kedua temanku Cyra dan Celia yang pernah Sean ceritakan kepada kalian."

Ucap Sean memperkenalkan orangtuanya kepada Celia dan Cyra. Sementara Ryan adalah teman Sean sudah dari jaman SMA.

"Oh ini dua gadis jenius muslim itu yang kamu ceritakan, Sean?"

Memastikan ingatannya akan cerita putranya.

"Iya mommy!"

Sesi perkenalan itu berlangsung singkat. Dan Cyra menatap wajah ayahnya Sean yang tidak asing baginya. Iapun memberitahukan kepada Celia tentang pria yang ada dihadapannya ini yang pernah ia lihat tapi ia lupa mereka pernah bertemu di mana.

"Celia!"

"Hmm!"

"Apakah kamu bisa mendeteksi wajah ayahnya Sean?"

Celia menautkan kedua alisnya saat mendengar permintaan Cyra.

"Apa yang sedang kamu kuatirkan Cyra?"

"Tolong lakukan saja sebelum Sean menghampiri kita!" Ucap Cyra setengah berbisik.

"Nanti saja kalau kita sudah pulang. Tidak enak di rumah Sean kita malah menyelidiki tuan rumahnya." Tolak Celia.

"Baiklah tidak apa." Cyra mengalah.

Pelayan Sean membawa minuman kemasan dan beberapa cemilan halal untuk kedua gadis ini. Tapi ada juga buah-buahan segar yang akan mereka ekskusi.

"Sean!"

"Hmm!"

"Apa yang ingin kamu minta tolong kepada kami?" Tanya Cyra yang terlihat tidak betah saat bertemu dengan Tuan Michael.

"Aku butuh catatan kaki dari penelitian ku. Kalian itu seperti robot google yang mengusai dari banyak buku yang kalian baca." Ucap Sean serius.

"Bisa aja kamu." Celetuk Celia.

Keduanya membaca dulu hasil penelitian dua pria tampan ini. Dengan begitu mereka bisa menuliskan buku apa saja yang dibutuhkan sebagai referensi untuk membuat catatan kaki di skripsi kedua pria tampan ini.

Sean dan Ryan saling melakukan tos ketika melihat ketangkasan Cyra dan Celia memasukkan catatan kaki di skripsi mereka.

"Kalian ini hebat sekali, bukan hanya pendapat setiap ahlinya saja yang kalian ketahui, sampai tahun dan nomor halaman buku pun kalian benar-benar mengingatnya." Puji Sean mengagumi kejeniusan keduanya.

Tidak lama berselang keduanya sudah menyelesaikan skripsi milik dua pria tampan ini.

Acara makan-makan pun berlangsung seru di ruang keluarga itu. Keempatnya saling bercerita apa saja yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Rupanya bukan hanya Cyra saja yang merasa sudah pernah bertemu dengan ayahnya Sean, tapi tuan Mickael merasakan hal yang sama seakan pernah bertemu dengan Cyra.

"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi aku melihatnya di mana?"

Tuan Michael berpikir keras tapi sulit sekali ia menemukan momen pernah bertemu dengan Cyra.

Ketika sudah pamit pada kedua orangtuanya Sean, sekali lagi Cyra memperhatikan wajah tuan Michael.

"Nona Cyra!"

"Iya Tuan!"

"Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Tegur tuan Michael santai.

"Sepertinya begitu, tuan. Tapi aku lupa momen apa yang membuat kita pernah bertemu." Sahut Cyra.

Yang lain ikut mengernyitkan dahi mereka saat kedua orang ini saling mengingat satu sama lain.

"Apakah kamu pernah melihat suamiku selingkuh, Cyra?" Tanya Nyonya Anabel yang memang tipikal pencemburu.

"Tidak mungkin nyonya! Karena saya tidak pernah mendatangi tempat-tempat maksiat untuk menjumpai suami anda seperti tuduhan anda." Sahut Cyra tegas.

"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu."

Ucap Celia segera menarik lengan Cyra agar secepatnya meninggalkan kediaman Tuan Michael.

"Aku akan mengantarkan kalian." Ucap Sean.

"Biar saja aku Sean!" Ucap Ryan.

"Tidak apa! Kami bisa pulang sendiri."

Tolak Cyra yang tidak ingin keduanya mengantar mereka pulang.

"Tapi mobil kalian di kampus, lebih baik aku akan mengantar lagi kalian sampai kampus." Timpal Sean.

Cyra dan Celia sebenarnya ingin membahas ayahnya Sean hanya saja mereka tidak ingin Sean mengetahui siapa ayahnya. Itu lah sebabnya mereka tidak ingin di antar oleh kedua lelaki ini.

Karena Sean terlalu memaksa, akhirnya keduanya mengalah.

Saat keduanya sudah meninggalkan kediamannya, tuan Michael segera mencari tahu siapa Cyra setelah mendapatkan foto gadis itu.

"Gadis itu membuat aku sangat penasaran. Aku hanya ingin tahu kami pernah bertemu di mana." Ujar tuan Michael lirih.

Saat melihat identitas Cyra, tidak ada informasi berarti mengenai gadis itu kecuali identitas yang sudah di rekayasa oleh Calista mengenai kedua putrinya.

"Sial! Tidak mungkin identitas gadis ini adalah orang biasa." Lirih tuan Michael penasaran.

Setibanya di apartemen milik kedua gadis itu, Celia segera melacak identitas pribadi tuan Michael.

Dengan menggunakan aplikasi canggih yang mereka miliki, identitas yang terblokir oleh pemiliknya pun mereka bisa mengetahui dengan mudah.

Di Maroko Calista sibuk mencaritahu identitas ayah dari teman putrinya itu. Saking seriusnya ia tidak menyadari kehadiran putrinya Claudia yang berdiri di belakangnya.

"Apakah Ummi sedang melacak penjahat lagi?"

"Celia!"

Calista salah menyebutkan nama putrinya membuat Claudia akhirnya ngambek.

"Apakah hanya Celia putrinya ummi?"

"Oh sayang, ummi minta maaf karena belum bisa membedakan suara kalian. Wajah dan suara kalian sama persis jadi ummi harus melihat tanda lahir kalian dulu, baru bisa mengetahuinya."

Ujar Calista untuk menghibur putrinya Claudia yang baru pulang dari Bogota.

Calista harus menunda pekerjaannya untuk menyambut putrinya. Walaupun saat ini hatinya sangat gelisah dengan keselamatan dua gadis yang ada di Amerika sana.

"Cyra lihatlah! Aku sudah menemukan identitas ayahnya Sean."

Ujar Celia seraya mengarahkan laptop miliknya pada Cyra.

"Celia! Kita dalam masalah besar." Ujar Cyra membuat Celia penasaran dan membaca laporan mengenai tuan Michael.

"Astaga! ini tidak mungkin!"

Ujar Celia dan Cyra bersamaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!