13. Fakta Baru!

Celia menghubungi Cyra untuk lebih berhati-hati karena saat ini ada penjahat lain yang akan menuju ke lantai dua puluh untuk menyerangnya.

"Cyra!"

"Ada apa Celia?"

"Sepertinya temannya si penjahat itu akan menyusul temannya ke lantai ini. Sebaiknya kamu segera masuk ke kamar kita!" Titah Celia cemas.

"Baik! Tolong hubungi ayahmu untuk mengirim pengawal kerajaan ke apartemen ini!"

Pinta Cyra sambil berlari ke arah kamarnya yang cukup jauh dari tempatnya saat ini berdiri.

Baru saja Cyra hampir dekat dengan pintu kamarnya, tembakan membabi buta menyerangnya dengan pistol kedap suara.

Cyra melakukan beberapa kali lompatan salto untuk bisa berlindung di depan pintu kamarnya dari hujan peluru yang hampir menembus tubuhnya.

Cyra membaca surah Al-fatihah penuh keyakinan lalu menatap ke arah peluru yang melesat begitu saja ke arahnya hingga ia harus melakukan gerakan kayang dan mengembalikan lagi peluru itu ke arah lawan yang bukan hanya satu tapi tiga orang sekaligus.

Pistol itu terpental dari tangan mereka. Cyra tidak ingin lari seperti pengecut untuk menghindari serangan musuh.

Dengan kekuatannya, ia menghadang para penjahat dan mengundang angin kencang untuk melemparkan tubuh tiga penjahat itu sekaligus.

Sama seperti nasib satu teman mereka tadi, ketiganya di dihadapkan ke tembok secara berderet dengan kedua tangan mereka di naikkan ke atas.

"Apa yang terjadi? Mengapa kita berubah seperti robot yang diperintah oleh pemiliknya?"

Tanya salah satu penjahat itu pada kedua temannya.

"Entahlah! Sepertinya gadis itu memiliki kekuatan pada matanya. Beruntung saja dia tidak membunuh kita."

Ucap temannya yang bernama Marco.

"Tapi misi kita tidak boleh gagal untuk menghabisi nyawa kedua gadis itu atau keluarga kita akan kena imbasnya." Ujar Hendrik.

"Bisa-bisanya saat ini kamu memikirkan misi manusia terkutuk itu tanpa memikirkan cara kita menyelamatkan diri dari gadis ingusan itu." Umpat Martin.

"Diam lah! Gadis itu sedang menghampiri kita."

Ujar Hendrik yang ingin pipis di celana saat pistol miliknya sudah mengarah ke pelipisnya.

"Beritahu aku! siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang kami?" Tanya Cyra sambil mendorong pistolnya ke pelipis Marco.

Belum sempat Marco menjawabnya, beberapa pengawal istana kerajaan Maroko sudah datang menghampiri Cyra dengan memperlihatkan lencana mereka pada Cyra.

"Serahkan mereka pada kami princess!"

Pinta panglima besar Maroko itu pada anggotanya.

"Baiklah! Mereka adalah milik kalian, lakukan dengan cara penerapan hukum istana pada empat orang penjahat ini."

Ujar Cyra seraya menyerahkan empat pistol milik penjahat pada panglima istana kerajaan Maroko.

"Baik princess. Saya mohon princess kembali ke kamar dan jangan membuka pintu untuk siapapun karena bisa jadi teman sendiri adalah musuh kalian."

Ucap panglima itu mengantar Cyra sampai ke pintu kamar apartemennya.

Celia segera membuka pintu kamar itu untuk Cyra. Keduanya berpelukan setelah melewati pertempuran yang menegangkan sore ini dengan pembunuh bayaran.

"Cyra! Apakah kamu baik-baik saja?"

"Lumayan melelahkan Celia. Bagaimana dengan data para penjahat itu, apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentang mereka?"

"Lihat ini!"

Celia menunjukkan data empat penjahat yang sudah menyerang Cyra di lantai 20 di depan pintu lift.

Cyra membaca satu persatu identitas para pembunuh bayaran itu." Astaga! Track record tingkat pembunuhan mereka sudah mendunia.

Jadi aku sedang berhadapan dengan pembunuh bayaran kelas dunia..? Wah, ini sangat keren. Pantas saja keempat pria itu sangat tampan, jika dilihat sekilas, sepertinya tampang mereka bukan seorang pembunuh.

Mereka lebih pantas menjadi artis Amerika yang memerankan film action. Kalau saja mereka artis Amerika, aku ingin menjadi pacar mereka."

Ungkap Cyra bangga.

"Hah! Nyawa mu saja hampir melayang oleh mereka, dan kamu masih sempat merasa bangga bisa bertempur dengan mereka. Kamu kira sedang ikut audisi film action dengan mereka?"

Sungut Celia tidak habis pikir dengan otak Cyra yang sudah gila menurutnya.

"Kamu tadi tidak melihat wajah mereka secara langsung Celia, makanya kamu hanya bisa berkomentar penuh ketakutan seperti itu.

Coba saja tadi kalau kamu berhadapan langsung dengan mereka kamu tidak akan menyangka mereka itu adalah pembunuh bayaran kelas dunia."

Timpal Cyra sambil senyum-senyum sendiri.

"Kamu selalu memprioritaskan lelaki tampan dalam agenda hidupmu tanpa memikirkan bagaimana akhlak mereka." Ujar Celia kesal.

"Mengagumi ciptaan Allah itu tidak apa Celia asalkan tidak pakai hati." Canda Cyra membuat keduanya tertawa geli.

"Lebih baik menjaga hati untuk lebih berhati-hati dalam memilih sang kekasih." Imbuh Celia..

"Kau ini ada-ada saja Cyra. Kita ini sudah melalang buana belajar dari kampus ke kampus hanya untuk mengumpulkan ijazah sampai usia kita di sejajarkan dengan usia yang pantas untuk kuliah lagi.

Entah sudah berapa ijasah sarjana S1, S2, dan S3 yang kita kumpulkan dari usia kita sepuluh tahun hingga kita berakhir di negara Paman Sam ini. Dan lucunya mereka mengira kita baru mengenyam pendidikan S1." Ujar Celia.

"Iya juga Celia, perasaan sampai usia kita 17 tahun ini, kita hanya di suruh kuliah sampai kita pantas untuk masuk ke dunia kerja." Ujar Cyra.

"Habis mau bagaimana lagi, dua saudara kembar Ibu kita yang terlalu cerewet untuk kita agar terus saja sekolah." Ujar Celia.

"Dan kedua ayah kita melarang kita untuk bekerja karena kita seorang princess.

Dan teman-teman kita belum mengetahui fakta baru tentang kita yang punya banyak gelar dan prestasi yang sudah kita raih." Ucap Cyra.

"Setelah ini, aku ingin bekerja dan aku tidak mau lagi kuliah." Ujar

Celia yang sudah banyak mengambil gelar doktor dengan berbagai macam jurusan.

Dreetttt...

Ponsel keduanya berbunyi serentak. Keduanya melihat panggilan dari ibu mereka masing-masing. Keduanya menyiapkan diri terlebih dahulu sambil menarik nafas dan menghembusnya perlahan.

"Hallo Cyra, Celia!"

Sapa Camilla dan Calista bersamaan ketika melakukan virtual dengan keduanya.

"Iya bunda, mami."

"Apakah kalian berdua baik-baik saja?" Tanya Calista terlihat cemas.

"Seperti yang kalian lihat, kami tidak apa." Ucap Cyra dan Celia bersamaan.

"Bagaimana penjahat itu bisa masuk ke apartemen kalian padahal keamanannya di apartemen itu sangat ketat di situ?" Tanya Camilla.

"Iya mami! Sepertinya salah satu dari mereka tadi mengikuti Celia masuk ke lift sementara lift harus memiliki key card tersendiri oleh penghuninya saat naik ke lantai kamar tujuan penghuni masing-masing." Ucap Cyra.

"Apakah kalian butuh rumah saja supaya punya penjagaan tersendiri?" Tanya Davin.

"Tadi perlu Daddy. Kami tidak akan lama lagi di sini, jadi tidak perlu mubasir hanya untuk melindungi kami dari penjahat itu." Timpal Cyra.

"Celia! Kalau keselamatan kalian di sana terancam lebih baik kalian pulang!" Titah Calista.

"Justru kami kuliah di luar negara kami masing-masing yang membuat aku dan Cyra bisa lebih dekat Ummi." Ucap Celia.

"Tapi kalian bisa berkunjung satu sama lain, sayang." Ujar Camilla.

"Tidak! Setahun waktunya sangat cepat. Dan kami sudah terlanjur kuliah di sini. Tugas kalian cukup mendoakan kami saja tanpa meminta kami untuk kembali sebelum waktunya."

Ucap Cyra menolak keras untuk berpisah dengan Celia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!