16. Serba Salah!

Saat mengetahui kalau ayah Sean seorang ketua gangster yang banyak melakukan pembunuhan terhadap para petinggi negeri, Cyra dan Celia menjaga jarak dengan Sean membuat pria tampan itu merasa keanehan.

Mereka juga sebenarnya tidak tega dengan Sean, tapi mereka tidak mau terlalu dekat dengan keluarga Sean, jika pria itu mengajak mereka ke rumahnya hanya untuk bermain.

Jika mengajak Sean ke apartemen mereka, dilarang keras oleh kedua orangtuanya mereka masing-masing.

"Apakah kita tidak terlihat kejam menjauhi Sean Cyra!"

Celia merasa kasihan dengan Sean yang hanya seorang putra yang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan lain orangtuanya selain bisnis.

"Lebih baik bersikap tega padanya daripada mencari mati ditangan ayahnya itu. Apakah kamu tidak tahu kalau Ryan masuk penjara semuanya atas konspirasi antara ayah Sean dan tuan Walton." Ujar Cyra.

Saat menyebut nama tuan Walton, mereka baru ingat sesuatu.

"Rekaman itu!"

Keduanya serempak mengingat rekaman tuan Walton yang menemui ketua gangster yang merupakan ayahnya Sean.

"Pantas saja aku mengenalinya ternyata dia adalah kaki tangan tuan Walton." Ucap Cyra.

"Tapi, bagaimana bisa dia mengenali kamu sementara kalian tidak pernah bertemu secara langsung?" Tanya Celia mulai dengan analisanya.

"Apakah kamu tidak curiga kalau tuan Walton yang sudah memperkenalkan wajahku sebagai target utama mereka untuk membunuhku."

Ujar Cyra sambil mengerutkan keningnya.

"Bagaimana denganku? bukankah kita berdua yang telah mengancam tuan Walton?"

"Mereka tidak begitu mengincar mu karena diangggap aman untuk mereka, kamu hanya menggunakan kejeniusan mu untuk menumbangkan kekuasaan tuan Walton. Sementara aku punya kekuatan yang tidak bisa mereka hadapi. Itulah yang membedakan kita berdua." Ujar Cyra.

"Itu berarti, setelah mereka bisa membunuhmu, berarti aku adalah target berikutnya?" Ujar Celia sambil bergidik.

"Tenanglah Celia! Apartemen ini sudah di jaga oleh sneaker dua negara sekaligus untuk melindungi kita dan itupun sudah mendapatkan ijin pemerintah negara ini. Dan lebih dari itu, pelindung kita adalah Allah yang maha segalanya."

Ujar Cyra menenangkan Celia.

"Aku tidak tahu, bagaimana aku tanpamu Cyra." Ujar Celia penuh syukur.

"Aku juga Celia. Kita berdua saling membutuhkan dan semoga kita berdua mendapatkan jodoh yang satu negara tidak terpisah seperti kedua ibu kita." Ujar Cyra.

Keesokan harinya, Sean sengaja menunggu kedua gadis ini di perpustakaan karena mereka selalu mengunjungi perpustakaan.

"CYRA!"

Sean langsung menyergap Cyra yang baru saja membuka pintu perpustakaan itu.

"Astaga! Sean, kamu sudah membuat aku kaget."

"Maafkan aku!"

Sean tersenyum melihat wajah Cyra yang terlihat lucu dan menggemaskan saat terkejut.

"Boleh kita bicara Cyra?"

Cyra terlihat cemas tapi ia juga tidak tega pada Sean.

"Baiklah! Kamu mau bicara apa?"

"Tapi aku tidak mau kita bicara di sini, apakah kamu mau keluar sebentar denganku?"

"Kelihatannya sangat serius, apakah ini sangat penting?"

"Iya Cyra! Ini sangat penting."

"Tapi aku tidak bisa ikut denganmu karena aku harus ditemani Celia. Itu pesan orangtuaku. Kami tidak boleh terpisah satu sama lain." Ujar Cyra memberi pilihan.

"Baiklah!"

Sean mengangguk setuju dan keduanya sepakat untuk menunggu Celia yang masih ada bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya.

Celia segera menemui Sean dan Cyra yang sudah menunggunya. Keduanya menuju cafe anak muda tempat langganan Cyra dan Celia.

Para sneaker harus berpindah tempat lagi untuk mengikuti kedua gadis ini.

"Sean! Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?" Tanya Cyra sambil menyedot minumannya.

"Aku ingin kalian jujur padaku, apakah kalian berdua adalah putri bangsawan?"

Uhukkkk... Uhukkkk!"

Cyra tersedak mendengar pertanyaan Sean di luar dari dugaannya.

"Cyra! Pelan-pelan minumnya!"

Ujar Celia mengalihkan perasaan gugupnya sambil mengusap punggung Cyra.

Sean memperhatikan wajah kedua gadis ini dengan teliti.

"Jangan bicara bahasa lain di depanku!"

Cegah Sean sebelum Celia membuka mulutnya untuk bicara dengan Cyra.

"Ada apa denganmu Sean? Kamu kira kami sedang merahasiakan sesuatu dari kamu? Lagi pula kenapa kamu tiba-tiba ajukan pertanyaan itu kepada kami?"

"Aku hanya minta kalian menjawabnya dengan jujur! Apakah benar kalian berdua adalah princess?"

"Kami hanya anak petani dan bukan siapa-siapa. Kami masuk ke kampus ini karena bea siswa, jadi kami sama saja seperti gadis lainnya yang kuliah di kampus ini." Ujar Celia.

"Apakah aku harus membuktikan kalau kalian berdua itu adalah princess?" Geram Sean.

"Buktikan kalau memang ada!"

Tantang Cyra.

Sean mengeluarkan berkas dari dalam tasnya lalu menunjukkan kepada kedua gadis itu, kalau keduanya adalah princess.

Cyra yang sudah terlatih untuk tidak gugup menyikapi setiap masalah, membaca informasi tentang dirinya yang tertera dari laporan itu.

"Bagaimana kamu mendapatkan ini?"

Giliran Cyra menghardik Sean sambil memegang berkas yang berisi informasi tentang mereka.

"Seseorang mengirim kepadaku lewat email. Dan aku print untuk menunjukkan kepada kalian." Ujar Sean lugas.

"Sean! Apakah kamu tahu orang yang mengirim email kepadamu? Apakah kami boleh melihat alamat email orang itu?"

Tanya Celia tanpa menjawab pertanyaan Sean pada mereka.

"Aku akan memberikan alamat email orang itu, asalkan kalian mengaku kebenaran dari informasi yang dikirim oleh orang itu kepadaku."

Ucap Sean setengah memaksa.

"Itu hanya sebuah informasi palsu yang mungkin saja di rekayasa oleh seseorang untuk membuat kami terkenal atau sebuah penghinaan." Ucap Cyra.

"Tidak! Aku lebih percaya pada informasi yang aku dapat dari orang itu dari pada kebohongan yang kalian katakan kepadaku. Pantas saja kalian sangat berbeda dari gadis manapun yang aku temui." Ucap Sean.

"Berbeda seperti apa Sean?" Tanya Celia.

"Karakter kalian. Pembawaan kalian dan gesture tubuh kalian serta wawasan kalian. Semua itu adalah hasil didikan yang dilatih khusus untuk semua putra-putri bangsawan." Imbuh Sean.

Cyra tertawa kecil. Ia pun tidak mau serius menanggapi penuturan Sean begitu saja. Ia tidak ingin terpancing dengan umpan yang mungkin sengaja di pancing Sean agar rahasia mereka terbongkar.

"Kau terlalu banyak menonton film Sean. Mungkin kamu sedang terprovokasi dari informasi yang tidak akurat dan terkesan direkayasa."

Ujar Cyra dengan mempertahankan argumennya.

"Bagaimana kalau aku menanyakan balik dirimu Sean? apakah kamu siap menjawab pertanyaan kami?"

Tanya Celia.

"Hidupku selama ini wajar karena aku tumbuh dari keluarga pengusaha dan tidak ada yang istimewa dari diriku, apa lagi aib yang tersimpan dalam keluargaku."

Ujar Sean percaya diri.

"Apakah kamu yakin seperti itu keluargamu, Sean?"

Tanya Cyra makin menyudutkan Sean.

"Apakah kalian mengira aku juga seorang keturunan bangsawan seperti kalian? Hah.. yang benar saja Cyra, kalau anggapan kalian sampai sejauh itu padaku." Ucap Sean merasa geli sendiri.

"Tampang kamu tidak memperlihatkan sama sekali, kalau kamu itu adalah keluarga bangsawan walaupun kamu sangat tampan Sean.

Hanya saja kamu memiliki seorang ayah yang sangat payah untuk mempertahankan bisnisnya agar tetap berjalan, ia harus berurusan dengan dunia hitam."

Ujar Cyra untuk memancing emosinya Sean.

"Dunia hitam? Apa maksud kalian?"

"Sekarang kita seri, Sean! Kami akan menjawab pertanyaan mu dan sebagai gantinya kamu harus memberikan alamat email orang yang sudah mengirimkan informasi tentang kami yang sudah direkayasa itu."

Ujar Cyra menawarkan barter informasi diantara mereka.

Terpopuler

Comments

Ria Nasution

Ria Nasution

good

2022-12-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!