[20]

"Yudis napa lo balik lagi? Bukannya lo udah di keluarin tadi?" Tanya Jimi.

"Gak jadi!"

"Eh, kok gak jadi?! Padahal gue udah seneng banget loh, denger kabar lo dikeluarin hari ini" Celetuk Vixa.

"Terlalu jujur itu gak baik!" Ucap Suga.

"Tau dah ah pusing gue"

"Tapi masih berlanjutkan lo jualan narkoboy nya?"

"Gila lo! Kagak lah"

"Tapi, lo masih ada niat buat kabur dari sekolah ini?"

"Ya ada, tapi otak gue udah mentok banget. Pakek cara apalagi buat keluar dari sini"

"Gimana kalo kita kabur bareng-bareng? Bentar lagi kan UTS, gimana kalo udah kelar ulangan kita jalanin rencananya?"

"Terlalu niat banget lo, pakek nunggu dulu UTS baru kabur dari sini. Kenapa gak sekalian aja langsung keluar sebelum UTS!"

"Kewajiban kita loh itu, tambah-tambah nilai juga kan?"

"Percuma nilai jeblok lo gak akan pernah ngebantu tambahin nilai lo, Vixa!"

"Ada apa nih? Lagi ngegosip buat cari cara keluar dari sini yah? Gue ikutan dong!" Ucap tiba-tiba Stella, yang sedari tadi bersama Arumi dan Rami.

"Lo udah liat pengumuman di mading belum?" Ucap salah satu teman kelasnya, yang baru saja masuk.

"Belum, kenapa?"

"Katanya, kalo kita berhasil dapet nilai di atas rata-rata. Bu Popi bakal kasih kesempatan kita buat bebas dari sekolah ini selama seminggu!"

"Serius lo?!" Kini, mereka saling menatap dan mulai menampakan senyumnya.

"Ngapain lo bertiga ikut senyum! Lo pada gak kita ajak perasaan!"

"Yaelah, gitu amat sih! Gak ada salah nya kita ikut gabung"

"Engga-engga tadi aja gara-gara lo, gue gak jadi dikeluarin dari sekolah ini! Nanti yang ada gagal lagi"

"Yaudah lah, kita bertiga aja"

"Oh iya, gue lupa lo kan pinter banget yah Ram!"

"Udahlah, Yudis. Lo tau kan si Rami paling pinter di sekolah ini. Udah kita manfaatin aja, saling menguntungkan kan satu sama lain?"

"Oke! Lo bertiga boleh gabung"

"Nah, gitu dong! Apa rencananya?"

"Kita ambil soal ujiannya malam ini juga!"

"Gila lo!"

"Gak salah denger kan gue?"

"Yudis, otak lo kadang-kadang pinter juga"

"Engga-engga! Yang ada kita bakal di hukum lagi"

"Udah kebal akan hukuman bu Popi kan lo? Selagi gak ketauan, kita gak akan kena hukuman"

"Iya sih, bilang aja lo bertiga takut kan?"

"Siapa yang gak takut coba?! Lo pada sekarang enteng buat rencananya. Entah, saat lo pada ngelakuinnya kan?"

"Jadi gimana? Lo mau gabung atau engga?!"

"Ya, gabung!"

"Oke siapa yang mau masuk ke ruang guru buat ambil tuh kertas ulangan?"

"Ya elo lah, Dis! Lo yang buat rencana. Dan lo yang paling cepetkan larinya di sini? Jadi, semisal ketauan lo langsung satset lari"

"Oke, gue. Siapa lagi?"

"Gak usah banyak-banyak kali, kalo banyak orang yang masuk bakal buat ribet juga kan?" Ucap Stella, membuat kelima dari mereka mengangguk bersamaan.

"Oke, lo, Suga bakal sama gue masuk ke ruang guru"

"Kok gue?!"

"Udah terima aja Stell Yang sabar yah" Arumi menepuk-nepuk pundak Stella, agar dirinya menerima nasibnya dengan lapang dada.

"Rami, Arumi masuk ke ruang cctv, dan semua hapus jejak gue sama Stella. Vixa, Jimi lo pada pancing penjaga itu buat keluar dari ruang cctv. Pakek cara apapun buat Rami sama Arumi bisa lama-lama di ruang cctv. Gimana?"

Malamnya, tepat tengah malam mereka mulai menjalankan misinya. Mereka keluar dari jendela belakang asrama, yang dimana tidak ada sama sekali cctv disana. Mereka menggunakan berbagai kain, yang lalu mereka ikatkan menjadi satu. "Lama banget, buruan!"

"Bentar dong, Stell. Lo kira gampang turun dari lantai 4 ke bawah? Sabar napa!"

Mereka langsung menghampiri titik kumpul, yang sudah mereka janjikan. Tak lama, dari kejauhan mereka sudah melihat ke lima pria yang sudah sampai lebih dulu disana. "Oke, karena kita udah kumpul semua. Kita langsung berpencar sekarang".

"Malah ke enakkan, bukannya kerja malah tidur. Makan gaji buta dong kalo begitu"

"Bagus dong, ngemudahin kita juga kan?"

"Iya juga" Vixa dan Jimi langsung mengangkat tubuh pak Yuyut, dan memindahkannya jauh dari tempat itu.

Rami dan Arumi langsung masuk ke dalam ruangan cctv dan menguncinya. "Biar gue aja!" Ucap Arumi langsung duduk, dan mulai menghapus semua jejak Stella, Yudistira, dan Suga dalam hitungan detik. Dengan kelincahan tangannya juga otaknya.

"Wih! Keren juga lo!"

"Keren lah, gue!"

"Gimana nih, dikunci!" Panik Suga.

"Awas, biar gue aja!" Ucap Stella, langsung mengeluarkan penjepit kertas andalannya. Dan, tak butuh waktu lama dia berhasil membuka pintu itu.

"Suka maling lo yah!"

"Astaga! Ada manfaatnya lo kunciin gue di gudang waktu itu"

"Masih inget aja lo!"

"Yaudah, ayo masuk!"

Baru beberapa langkah mereka mendekati brangkas itu. Tiba-tiba mereka dibuat mengaga akan keberadaan Jinata, Jije, Mutiara, dan Renila yang juga ada disana. "Heh! Lo pada mau maling yah!"

"Pelanin suara lo, Stella!"

"Sorry-sorry!"

"Lo mau ngapain disini juga? Mau maling soal ujian kan?!"

"Oh, yaudah gimana kalo kita kerja sama?" Tawar Stella.

"Ogah!" Tolak mentah-mentah Jinata.

"Yaudah gue laporin lo ke bu Popi! Eh iya, bu Popi cuma ibu sambung lo. Gimana kalo gue aduin ke tante Sasha?"

"Kenapa lo selalu buat gue kesel sih?!"Kesalnya terus mendorong tubuh Stella.

"Bisa gak kasar gak lo ke cewek?!" Kesal Yudistira, mendorong kembali tubuh Jinata. Stella perlahan menatap kearah Yudistira, dengan memberi tatapan berseri.

"Oke, kita kerja sama. Tapi, kalo sampe salah satu dari kita ketauan, jangan sampe geng lo aduin kalo kita berdua juga ikut dalam rencana ini"

"Oke! Buka cepetan sandi brangkasnya!"Jinata dengan perlahan membuka brangkas itu, dan dia berhasil. Membuat semua disana merasa lega akan hal itu.

"Ini kenapa mereka lama banget sih!" Arumi mulai gugup.

"Tenang aja, pasti bentar lagi kok"

Namun, perlahan tatapan Jinata menjadi kosong. "Kenapa?" Tanya Stella. Dan Jinata perlahan membalikkan tubuhnya, memperlihatkan isi brangkas itu yang sudah kosong melompong. Tidak ada apapun disana.

"Gila~"

"Pasti ada yang lebih dulu dari kita"

"Gak mungkin. Pasti Bu Popi udah tau rencana kita"

"Berarti-" Tatapan mereka mulai kesana-kemari, dan benar saja lampu menyala sendiri. Mereka melihat Bu Popi tengah berdiri sambil menatap mereka dengan amat sangat tak percayanya.

"Ngapain lampunya pake di nyalain segala!" Tambah panik Arumi.

"Pada gila tuh anak! Emangnya kurang pake senter doang!" Ikut panik Rami.

"Ikut saya ke ruangan saya, bawa teman-teman kamu juga yang ada di ruangan cctv dan kedua teman lainnya yang tadi kunciin pak yuyut di kamar mandi"

"Ba-baik bu"

Yudsitira langsung memberi kode kepada Rami dan Arumi lewat cctv yang sedari tadi mereka pantau "Ketauan kayak nya nih. Skak mat udah, bu Popi ada di sana juga lagi" Ucap Rami, dengan kegugupannya. Membuat Arumi juga ikut gugup.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!