[2]

"Stella! Bangun! Nanti yang ada kamu telat ke sekolah baru kamu!"

"Stella bilang kan gak mau! Kenapa terus maksa sih?!"

"Angkat!" Ucap Ibuku menyuruh pak Regan dan pak Abo membawaku ke mobil.

Stella terus menolak, dan terus berusaha untuk tidak dipindahkan ke sekolah itu. Namun, mau bagaimana pun perintah Ibu lah yang paling penting bagi mereka berdua. Mau sebagaimana pun Stella terus membacot, itu akan percuma saja.

Mereka sampai di sekolah itu, kedua mata Stella tiba-tiba terbelalak melihat gerbang yang amat besar dan tinggi. Terlihat juga tulisan nama sekolah itu terpangpang jelas di depan mata. Yaitu, SMA Tanah Air Harapan Bangsa.

Agak aneh saat membacanya. Namun, sekolah itu amat besar dan megah. Bak istana, bukan sekolah. Stella mulai bersemangat, jika seperti ini mungkin dirinya akan mulai nyaman sekolah di tempat ini.

"Ikut Ibu!" Ucap Ibundanya. Lalu, Stella berjalan di belakang Ibunya dengan harapan sekolah ini akan lebih baik dari rumah nya sendiri.

Kita berjalan ke ruang kepala sekolah, dan ternyata bukan hanya aku saja yang baru saja dipindahkan. Ada sembilan anak lagi disana. Dengan wajah sudah amat sangat kesal, sambil menatap ke arah Stella.

"Baiklah, karena sudah berkumpul semua di sini. Saya lebih dulu akan membagikan seragam sekolah ini" Ucap kepala sekolah sambil memberi seragam sekolah.

"Saya akan memberi peraturan di sekolah ini, mohon untuk dengarkan baik-baik"

"Pertama, kalian harus bangun sekitar pukul 5 pagi. Dan jangan lupa untuk membersihkan tempat tidur kalian lebih dulu"

"Apaan nih?!" Kesal Yudistira.

"Yudis!" Tegur Ibundanya.

"Baik saya lanjutkan. Yang kedua, kalian hanya diberi waktu membersihkan diri selama 30 menit"

"30 menit?! Bu, jangan bercanda dong! Saya biasa mandi 2 jam!" Ucap Stella tak terima.

"Stella! Bisa diem gak kamu?!" Kesal Ibunda Stella.

"Mandi 2 jam, ngapain aja lo?! Ngehalu sambil berak?" Ledek Yudistira.

"Mending lo diem! Dari pada nanti gue kesel, gue jambak rambut lo sampe botak kinclong!"

"Stella!!"

"Ketiga, saat pembelajaran berlangsung. Semua ponsel di kumpulkan di kotak dekat meja guru"

"Masa di kumpulin! Masih mending kalo ulangan, masa bodo mau dikumpulin juga!"

"Reni...la..." Kesal Ibundanya.

"Keempat, pukul 20.00 waktu tidur kalian. Tidak keluyuran, jika tertangkap. Kalian akan diberi hukuman"

"Selagi gak ketauan masih bisa keluyuran kan?" Celetuk lelaki di sebelah Stella, dia Suga.

"Aw!!!" Teriak kesakitannya, akibat cubitan dari Ibunya.

"Kelima, dilarang berkunjung ke asrama lawan jenis"

"Keenam, kalian bebas menggunakan aksesoris apapun ke sekolah. Juga di perbolehkan untuk bermakeup disini" Seketika mereka tersenyum senang.

"Ketujuh-"

"Bu, gak langsung kasih aja kertas peraturannya ke kita?"

"Rami~"

"Kesel abis nya aku ini, Bu"

"Harus sabar~" Ucap Ibunya dengan lembut.

"Anak mommy ternyata" Celetuk Jinata.

"Ya anak Mommy lah, dikira gue dilahirin sama bapak-bapak? Bukan anak Mommy lagi jadinya" Balas nyelekit Rami.

"Ketujuh, kalian tidak boleh membawa hal-hal tak pantas ke sekolah ini. Seperti, benda tajam, rokok, dan hal lainnya"

"******?" Tanya Yudistira, membuat semua orang disana menatapnya dengan tatapan gila.

"Itu juga tidak diperbolehkan!" Tekannya.

"Emang udah gila sih lo" Ucap Stella dengan jelas.

"Sama lo juga kan?" Seketika ucapannya membuat Stella benar-benar sangat kesal padanya.

"Baiklah hanya itu saja, kalian boleh mengganti baju kalian terlebih dahulu" Seketika ketujuh laki-laki itu membuka bajunya di ruangan itu, membuat mataku ternodai.

"Tunggu, maksud saya ganti bajunya di ruang ganti. Bukan di ruangan saya"

"Lagian Ibu gak bilang, bukan salah kita dong"

Terpopuler

Comments

Yona

Yona

🤭🤭

2022-12-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!