[19]

Persembunyian hanya sia-sia. Yudistira tertangkap basah dan sekarang berada di ruangan kepsek. Habis-habisan bu Popi menghabisi Yudistira dengan omelannya. Telinga Yudistira sudah amat sangat panas, dan sudah tak bisa mendengar ocehan bu Popi lagi. Belum selesai bu Popi mengomel, tiba-tiba Ibundanya masuk ruangan itu. Dan mulai mengomel Yudistira.

"Yudis! Kamu sadar masalah kamu kali ini benar-benar fatal? Untuk apa kamu jadi pengedar narkoba di sekolah ini?! Kamu mau tau, Ibu tiap hari khawatir sama kamu! Karena apa? Karena, kamu selalu membuat masalah!" Yudistira tak membalas ucapan Ibundanya. Dia terus mengabaikan.

"Yudis!!"

"Bagaimana jika kita langsung ke intinya saja bu? Saya sudah tidak bisa menoleransi kelakuan Yudistira kali ini. Apa yang dia lakukan kali ini benar-benar sudah sangat membawa hal buruk, untuk para murid di sini. Saya akan mengeluarkan Yudistira dari sini. Jadi-"

"Bu.. Tolong, beri anak saya kesempatan sekali lagi" Memohonnya.

"Bu! Ngapain sih mohon-mohon begitu! Lagi pula Yudis gak salah kok! Yudis bukan ngedarin narkoba yang aneh-aneh. Yudis cuma mau bantu aja, itu pun Yudis gak asal kasih! Yudis ngaku salah, karena udah jadi pengedar narkoba. Tapi, yang Yudis kasih itu bisa juga buat menyembuhkan penyakit kan? Dan Yudis kasih sesuai resep dari Ayah! Tiap hari Yudis telfon Ayah, walau memang awalnya Ayah gak setuju sama apa yang Yudis lakuin"

"YUDIS!!"

"Terus Yudis mau diem aja saat temen Yudis depresi? Sampe ada loh yang mau bunuh diri! Terus yang Ibu mau sekarang, Yudis diem aja liat tuh anak terjun, terus mati? Gak satu atau dua masalahnya yang coba ngelakuin itu! Yudis emang salah, harusnya Yudis pilih ikut sama Ayah, bukan Ibu!" Mendengar itu, dada Ibunda Yudis amat sangat sesak. Dia terus memukul-mukul dada dengan kepalan tangannya.

Saat dia keluar dari ruangan kepsek itu, dia melihat ada Stella disana. Dengan kegugupan, sambil menatapnya dengan serius. "Dasar tukang nguping!"

"Dis, lo gak boleh dong kaya gitu ke Ibu lo sendiri!"

"Jangan omelin gue, lo juga sama nya!"

"Dis!"

"Stell! Lo gak berhak omelin gue, status lo sama gue itu cuma sebatas teman sekelas. Dan jangan pernah lo urus, urusan gue. Gue gak perlu itu semua!" Ucapnya lalu pergi ke kelas mengambil tasnya, dan membersihkan semua loker miliknya.

"Kalo lo gak merasa bersalah, buat apa lo beresin barang-barang lo sekarang? Takut di tangkep polisi kan? Mangkanya, gue bilang juga gak usah lah lo jual kaya begituan. Nyesel kan sekarang? Emang dasar ya, beraninya cuma di awal. Tapi, diakhirnya malah ciut"

"Lo tenang aja gue gak merasa bersalah kok, gue malah seneng karena gue berhasil keluar dari sekolah ini"

"Jadi, lo jual itu... Karena, lo tau akhirnya bakal kayak gini?"

"Hmmm~"

"Parah banget! Tau gitu gue juga mau ikut lah! Kan gue juga pernah bantu lo ngedari tuh narkoba"

"Salah lo, kenapa lo nolak. Padahal, itu satu-satunya cara lo buat keluar dari sekolah ini"

"Yaudah gue tinggal bilang aja kalo gue juga ikut ngedarin tuh narkoba"

"Jangan main-main lo! Yang ada nanti gue gak jadi keluar dari sini!"

"Tetep gue mau bilang ke bu Popi!" Stella terus bersikeras. Sementara, Yudistira terus mempiting leher Stella agar tak kemana-mana.

"Gimana sih lo! Harusnya, bantu gue juga keluar dari sekolah ini! Bukannya, malah nahan gue kaya gini!"

"Jangan pernah lo ancurin semua kerja keras gue selama ini! Selama gue jualan tuh narkoba, tiap hari gue kepikiran. Dosa gue udah numpuk, tambah-tambah aja numpuk! Dan lo sekarang mau buat perjuangan gue selama ini sia-sia?! Gila aje lo! Kalo mau keluar dari sekolah ini, inisiatif sendiri lah! Alih-alih lo rusak rencana gue ini. Mending lo buat rencana lo sendiri!"

"YUDIS!!" Teriak bu Popi.

"Kamu ini! Terus buat Ibu kesal! Bisa-bisanya kamu ngelakuin itu semua!" Kesal Ibundanya terus memukuli tubuh Yudistira.

"AW!! Sakit dong bu!"

"Sini kamu!!"

"Apa sih ah!!"

"Bu ni anak-"

"Stella! Diem gak lo! Jangan sampe sepatah kata pun keluar dari mulut lo itu!"

"Ma-sa-bo-do!!"

"Saya sudah mendengar semuanya, jadi tak perlu kamu jelaskan lagi. Bagaimana, sekarang Ibu ikut saya. Kita bicarakan ketidak jadian Yudistira untuk keluar dari sekolah ini?" Ucap bu Popi kepada Ibunda Yudistira.

"Gak bisa gitu dong! Saya ini sudah membuat kesalahan yang amat fatal sekali. Gak bisa, gak jadi begini dong dikeluarin nya?! Gara-gara lo sih! Lo mancing-mancing gue kan tadi?!" Stella hanya tersenyum puas.

"ARG!!! Gue bejek-bejek juga muka lo!" Kesalnya.

"Mau dong di bejek~"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!