[10]

Setelah mendengar dengan telinganya sendiri, Stella yang bersikeras untuk keluar dari sekolah itu, kini menjadi ciut. Pasalnya, bukan hanya dirinya saja yang ingin keluar dari sekolah itu. Namun, seisi sekolah pun sama. Berbagai cara mereka lakukan untuk meloloskan diri dari sana, tetap saja hasilnya nihil. Beribu-ribu murid di sekolah itu, hanya Renila saja yang berhasil meloloskan diri dari tembok tinggi itu. Itu pun di bantu oleh Suga.

“Oke! Stella kita bertahan 1 tahun lagi, semangat!!!” Ucapnya untuk dirinya sendiri.

“Tapi gue gak bisa!!! ARG!!” Kesalnya sendiri.

“1 tahun? Gila aja, gue gak akan sanggup” Tambahnya.

Tiba-tiba telapak tangan hinggap di kening Stella, ternyata itu tangan Yudistira. Sambil menatap kearahnya dengan keanehan, dan wajah tengilnya. “Menurut gue lo udah diambang kegilaan”

“Ish!! Jauh-jauh lo dari gue!”

“Kita omongin masalah tadi yah”

“Ogah!”

“Idih! Lo harus tanggung jawab”

“Lo terus-terusan minta gue buat tanggung jawab, padahal gue gak buat apa-apa ke lo”

“Gak buat apa-apa ke gue?! Hellow!! Sadar sist, lo tadi tendang gue sampe mental numbruk tembok. Tulang punggung gue sekarang sakit banget”

“Hellow! Gini nih bro. Gue cuma ngejalanin tugas gue, dari orang pengganggu kaya lo. Orang kaya lo, emang harus gue tendang, banting, piting, tonjok, biar sadar dan gak ngeganggu gue terus”

“Gue laporin juga lo ke KOMNAS H A C T”

“KOMNAS HAM! Otak lo terlalu bego, mangkanya belajar yang bener!”

“Lo terlalu kudet! KOMNAS HAK ASASI COWOK TAMVAN, masa lo gak tau gitu doang”

“Anjir! Tamvan dari mana nya? Oh, gue tau kalo diliat dari lubang sedotan kan? Hhaha”

“Tawa lo!”

“Gak mau gue berurusan sama lo lagi, jauh-jauh mending lo dari gue!”

“Semakin lo jauhin gue, semakin kejailan gue membara”

“Jangan buat gue kesel, pergi gak lo”

“YUDIS!!” Teriaknya. Sambil terus berlari dari Yudis, yang sedari tadi terus mendekatinya.

Kemana pun ada Stella, disitu ada Yudis. Yudistira terus mengikuti kemana pun Stella pergi. Membuat Stella menjadi kesal, akan kelakuan Yudis. Tak hanya sehari, namun seminggu lebih. “Gue abisin lo yah, kalo terus-terusan ikutin gue!”

“Gak takut”

“Gue fikir sih yah, si Yudis naksir kali ke lo Stell” Celetuk Arumi.

“Idih!!” Tak terima Yudis maupun Stella.

“Terus kalo bukan naksir, kenapa lo terus ngikutin Stella mulu?” Tanya lagi Arumi.

“Seneng aja buat kesel dia” Jawabnya dengan santai.

“Seneng buat keselnya atau seneng karena bisa terus deket sama Stella?”

“Kebanyakan nanya lo!”

“Idih-idih~ Beneran ini sih fix, no debat. Si Yudis naksir lo!”

“Jangan suka ngada-ngada lo!”

“Kan ngambek, artinya dia beneran suka sama lo”

“Gue kayak gini artinya gue gak terima sama omongan lo barusan”

“Yaelah, pinter banget lo spak spik nya”

Stella yang terus mendengar perdebatan mereka berdua, Stella perlahan mulai menjauh dari keberadaan mereka berdua. Pergi sambil membawa makanan nya sudah habis. Hingga, sampai dimana Yudistira juga Arumi sadar akan keberadaan Stella yang sudah tak ada kantin.

“Lo terlalu banyak ngebacot kan jadinya Stella ilang!”

“Kan, kan bener. Lo itu suka sama si Stella, dia ilang lo panik”

“Lo gak bisa apa bedain panik sama-”

“Sama apa? Sayang?”

“Idih! Najis! Gue tau nih, lo kali yang naksir si Stella” Ujar Yudistira, langsung meninggalkan Arumi. Membuat Arumi terdiam, dengan perasaan jijik sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!