Esoknya di sekolah, kelas 12-3 sudah dibuat heboh akan pertikaian Arumi dengan Renila. Bukannya memisahkan, teman lainnya yang di kelas malah keasikkan menontonnya, dan menganggap itu sebagai tontonan. Stella yang baru sampai ke kelas, sebenarnya juga tak mau memisahkan. Namun, karena disana yang berulah adalah Arumi teman sekamarnya. Tak ada pilihan lagi untuk membantunya.
"Jauh-jauh tangan lo dari rambut gue!!" Teriak Renila.
"Lo nya aja masih jambak rambut gue! Gak akan gue lepas, sampe lo lepasin rambut gue duluan!"
"Astaga! Jangan mewek kalo nanti rambut lo abis karena jambakan gue!"
"Emangnya lo aja yang bisa?! Gue bisa botakin rambut lo, dengan jambakan gue ini!"
"Ngapain sih kalian! Kek bocil aja!"
"Bocil lo bilang?!" Kesal Renila, langsung menendang kaki Stella hingga terjatuh ke lantai.
"Wuah!! Niat hati mau gue pisahin loh, ada niat baik gue gini-gini juga. Eh, lo malah buat gue kesel!"
"Udah mending lo bantu gue Stell. Jambak rambut ni anak!"
"Bisanya keroyokan lo!"
"Yang mulai duluan lo!"
"Oke, tapi gue gak akan jambak ni orang. Gue bakal buat ni anak sadar sedikit aja"
"Stell, jangan buat gila lo!"
"Lo sendiri kan yang suruh gue bantu lo. Gue bakal bantu dengan cara gue sendiri lah" Stella menarik rambut Renila dan mendorongnya mengenai meja-meja kelas.
"Aaaa~" Kesakitannya.
"Stella!" Sentak Rami.
"Jangan ganggu gue!"
"Jangan buat masalah lagi, gue bilangin Ibu baru tau rasa!"
"Mainnya ngadu mulu lo! Mau sampe kapan lo pelihara mulut kek cewek begitu?! Ni anak yang duluan mulai, gak ada salahnya gue buat sadar kan?"
"Banyak caranya kan? Gak sepenuhnya harus dengan kekerasan?!"
"Dari pada lo kena semprot, mending lo diem aja sih. Seru-seru liatin mereka gelut" Celetuk Yudistira.
"Mending lo diem! Gak usah sok kesal sama gue! Lo bukan siapa-siapa gue!"
"Idih-idih~ Tackut banget loch"
Rami yang baru saja melangkahkan kakinya untuk memisahkan mereka, malah kini tubuhnya terpental. Akibat dorongan ketiga gadis itu. "Kata gue juga gak usah ikut campur masalah cewek, kena imbasnya kan lo!"
Rami menghela nafasnya, tak beranjak dari terjatuhnya tadi. Sudah kebingungan bagaimana caranya agar Stella tak masuk ke ruangan bu Popi lagi. Jika terus begini, Ibunya yang tadinya hanya memarahi Stella saja, mungkin nanti dirinya juga yang kena omelan Ibunya.
Rambut mereka bertiga sudah seperti tersengat listrik. Goresan diwajah, bibir berdarah, wajah penuh amarah. Pertikaian mereka terhenti akan guru olahraga yang tiba di kelas itu. "Bukannya langsung kelapangan, kalian malah asik di kelas!! Cepat ke lapangan sekarang!!" Teriaknya membuat seisi kelas langsung berlari ke lapangan.
Namanya pak Yuta, masih terlihat muda juga tampan. Namun, agak killer. Wajahnya sangar dan menakutkan. Jika murid melakukan kesalahan atau melawan akan dihukum mati-matian. Tanpa ampun, tanpa kasihan. Semua murid harus sampai lapangan lebih dulu dari padanya. Jika tidak pengurangan nilai akan dia lakukan.
Tak main-main, dia lebih sadis dari pada bu Popi. Pak Yuta terkenal sadis oleh para semua murid di sekolah Tanah Air Harapan Bangsa. Bagi anak yang gampang menangis, lebih baik kuatkan mental lebih dahulu. Jika ingin berbuat masalah dengannya.
Kini Semua murid kelas 12-3 dihukum keliling lapangan selama 30 kali, tanpa henti, tanpa merenglaek, tanpa-tanpa pokoknya. 30 kali putaran harus mereka lakukan dalam waktu setengah jam, yang berarti 1 putaran sama dengan 1 menit.
Baru saja berlari 1 putaran saja sudah engos-engosan. Sebab, lapangannya bisa dibilang tak hanya sepetak saja. Seperti lapangan bola. Namun, hanya Yudistira saja yang sudah 3 putaran dibandingkan yang lain baru 1 putaran. "Jika sudah 30 kali putaran kalian boleh istirahat lebih dulu" Teriak pak Yuta, membuat Yudistira tambah semangat.
Semuanya dibuat keheranan akan Yudistira yang amat sangat cepat sekali berlari, padahal tempo kakinya tidak terlalu cepat, juga tak lambat. Seakan-akan dia sudah terbiasa melakukannya. Stella kini sudah tidak tahan lagi, tubuhnya sudah tergeletak di lapangan yang amat luas.
"Berhenti sama dengan mengulang kembali dari nol!!" Tegas pak Yuta.
Stella yang baru saja merebahkan tubuhnya, perlahan beranjak dan berlari kembali. "Terlalu gila nih pak Yuta ke muridnya!" Ucap Stella sambil engos-engosan.
"Yang buat masalah kan lo, ya harus terima lah kue konsekuensinya" Celetuk Yudistira tiba-tiba.
"Bukannya lo baru aja ngelewat tadi?! Kok udah ngelewat lagi sih!!"
"Bebas dong, yang penting waktu istrahat gue bertambah"
Baru saja lima belas menit, Yudistira sudah selesai melakukannya. Semua dibuat keheranan akan Yudistira. Sementara, teman-temannya yang lain ada yang baru saja berhasil 10 sampai 12 putaran. "Gue yakin tuh anak setiap 1 kali putaran di itung 2" Oceh Stella.
"Mending lo diem, kalo lo terus ngajak ngomong gue. Yang ada gue capek duluan sebelum selesai nih hukuman" Ucap Arumi.
"Ish!"
Dalam waktu 30 menit, semua orang sudah selesai melakukan hukuman dari pak Yuta. Wajah mereka sudah amat sangat merah. Sementara, Yudis malah asik rebahan di samping lapangan. Sembari meminum minumannya yang beberapa saat dia beli di kantin. Sambil asik memainkan ponselnya, cengegesan sendiri menatap layar ponselnya.
Waktu istirahat masih 45 menit lagi. Jadi mereka ada tambahan waktu istirahat. Semua mengambil ponselnya di kotak khusus untuk ponsel mereka. Seketika, semua tertawa saat melihat video yang Yudistira sebarkan beberapa menit yang lalu.
"Stell, mending lo jangan pegang ponsel selama seharian deh" Ucap Arumi sambil merampas ponsel milik Stella.
"Kok ngatur~" Katanya sambil merampas balik ponsel miliknya.
Seketika dibuat terngaga akan video yang Yudis sebarkan di situs sekolah. "YUDIS!!!!!!!" Teriak menggelegar membuat semua murid di lapangan tertawa berjamaah.
"Hapus gak!"
"Belum waktunya, tunggu aja sih sampe 24 jam"
"Hapus sekarang atau gue ambil paksa ponsel lo!"
"Emangnya kenapa sih sampe segitunya? Orang gue cuma posting video loh pas lari tadi doang~"
"Tetep hapus!"
"Engga~"
"Hapus Yudis!"
"Engga~"
Stella langsung merampas ponsel milik Yudistira, dan menghapus postingannya. Dan menghampus semua videonya di galeri. "Segitunya lo cinta ke gue, sampe-sampe ponsel lo isinya cuma video gue doang?"
"Jangan ngada-ngada kalo ngomong!"
"Memang kenyataannya kan? Gue tidur di kelas, ngiket rambut, jalan ke kantin, masuk kelas, makan, bahkan gue pergi ke toilet pun lo videoin? Mesum banget lo" Sontak teman-teman sekelasnya menatap ke arah Yudis sekarang.
"Sengaja kan lo, biar buat fitnah ke anak-anak dan menyebar ke murid lainnya?!" Stella tersenyum menatap kearah Yudis.
"Lo yang mulai, dan gue cuma melanjutkannya aja" Bisik Stella.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments