BRUK!
"Jalan pake mata!"
"Dimana-mana jalan pake kaki! Sejak kapan mata lo bisa jalan!" Ucap Stella dan kedua matanya mengarah pada sosok laki-laki di depannya, itu Yudistira.
"Kalo lo bukan cewek, gue abisin lo!"
"Mau abisin gue?" Ucap Stella, lalu menendang alat vital milik Yudistira.
"Aaa!!!~" Kesakitannya.
"Jangan so iyeh lo di hadapan gue! Gue cewek tapi tenaga lakik!"
"Awas aja lo! Gue bakal ba-les!"
"Gue tunggu" Ucapnya sambil menatap ke arah Yudistira dengan serius. Lalu, membelai rambut Yudistira dengan lembut.
"Stella!" Rami memanggil Stella.
"Iya!"
"Ngapain anak orang lo?!"
"Biasa gue tendang alat vitalnya, itu kan kelemahan laki-laki?" Rami langsung terdiam, masih tak menyangka Stella sangat menakutkan sekali.
"Kenapa lo? Kok diem aja? Mau gue tendang juga?"
"Parah lo, kalo anak orang sampe mati gimana?"
"Tenang aja, gue nendang masih wajar kok. Belum sampe pake tenaga dalam, jadi tenang aja"
Sampainya di kelas, baru saja duduk di bangkunya. Tiba-tiba Yudistira menariknya keluar. Dengan wajah yang sudah sangat marah sekali, diikutin rintihan kesakitannya. "Lo harus tanggung jawab!"
"Sejak kapan laki-laki bisa hamil? Dan gue gak pernah ngehamilin lo"
"Gue masih kesakitan ini!"
"Ya derita lo. Lagian, ngapain juga cari masalah ke gue?"
"Lo yang duluan!"
"Udah ah! Gue mau balik ke kelas! Gak penting banget gue ngomong sama lo"
"Gak bisa! Lo harus tanggung jawab!"
"Otak lo dimana? Obatin sendiri lah, yakali gue yang obatin?!"
"Yaudah obatin cepetan!" Seketika kedua mata Stella terbelalak. Dia langsung menghantam susu kotak yang diminumnya, tepat ke kepala Yudistira. Hingga, hancur dan tumpahan susu kemana-mana.
"Bener-bener ya lo, cewek gila! Maksud gue tanggung jawab, beliin obat atau ke uks minta obat apa gitu!"
"Terus kalo ditanya sama yang jaga uks gimana? Lo aja lah yang ke uks! Lagian, lebay banget lo. Nanti juga rasa sakitnya sembuh sendiri"
"Eh! Lo itu tadi nendangnya pake tenaga dalam, kalo gue sampe mati gimana?!"
"Tinggal dikubur lah, ngapain di bawa ribet!"
"Gue jait juga mulut lo yah!"
"Ada apa sih?" Tanya Rami, menghampiri mereka berdua.
"Tau ni anak aneh banget"
"Yaudah ayo ke kelas, gue bakal jelasin cara ngerjain soal selanjutnya"
"Eh! Gue masih ada urusan sama ni cewek. Mending lo masuk kelas aja sana"
"Masih ada urusan?" Tanyanya ke Stella.
"Engga"
"Lo denger kan?!" Ucap Rami, langsung menjauhkan tangan Yudistira dari Stella.
BRUK!
Hantaman keras dari Yudistira tepat ke wajah Rami. Membuat semua anak di kelas keluar satu persatu, menonton mereka yang sedang bertengkar. "Yudis! Apa-apaan sih lo?!"
"Yudis!" Teriak Stella, sambil berusaha memisahkan mereka berdua. Dia masih tak memedulikan keberadaan Stella.
"ADA APA INI?!" Teriak menggelegar kepsek, membuat seluruh murid masuk kembali ke kelas.
"Ikut saya!"
Mereka bertiga langsung masuk ke ruang kepsek. Mereka habis-habisan di marahi kepsek disana. "Siapa yang memulai?"
"Dia bu" Stella menunjuk ke Yudistira.
"Gue? Lo yang cari gara-gara ke gue!"
"Eh! Apa gue harus lempar pala lo ke tembok, biar lo sadar?!"
"Eh, lo nendang alat vital gue!" Ucapannya membuat Kepsek dan Rami membeku.
"Yang bikin gue kesel siapa? Lo kan?!"
"Lo nya aja yang gampang emosian!"
"Mau gue tendang lagi, biar langsung gue kuburin lo?"
"Lo tendang, gue juga bakal tendang"
"Wah!!!" Stella langsung mencekik leher Yudistira. Membuat kepanikan melandai Kepsek juga Rami. Mereka terus berusaha memisahkan mereka berdua.
"Hentikan sekarang!!" Teriak Kepsek.
"Stella! Kalo beneran gue mati gimana?! Lepas!"
"Gue mau lo mati dulu, baru gue lega!"
"Tolong gue!!!"
"STELLA! HENTIKAN!!!" Stella langsung melepaskannya.
"Gila lo!" Ucap Yudistira, dengan kesakitannya. Sembari, memegang lehernya.
"Tuh liat bu! Tengil banget dia!"
"Yudistira lebih baik kamu diam juga!"
"Baik, bu"
"Saya kan gak bersalah nih bu. Bagaimana, jika saya kembali ke kelas?"
"Silahkan"
"Eh, gak bisa gitu dong bu. Masa dia di bebasin gitu aja" Rami langsung keluar dengan wajah meledeknya.
"Selesainya pembelajaran, kalian langsung ke aula membersihkan tempat itu. Jika tidak, siap-siap saja keesokkan harinya ada hukuman baru untuk kalian berdua"
***
Selesai pembelajaran. Mereka langsung pergi ke aula. Menatap ruangan itu yang amat sangat besar sekali. Membuat mereka sudah menyerah, sebelum berjuang. Stella juga Yudistira menghela nafas berat bersama. "Apaan lo?! Ngikut-ngikut gue aja!"
"Nafas aja lo permasalahin! Udah cepetan bersihin" Kesal Yudistira.
"Napa lo nyuruh gue!"
"Ya kan gue males!"
"Lo aja males, apalagi gue!"
"Yaudah"
"Yaudah apaan!"
"Setor muka aja, gue mau rebahan"
"Bagun sekarang, atau gue bakal aduin lo!"
"Arg!!!! Kenapa setiap gue deket sama lo, bawaannya selalu emosi!"
"Gue yang emosi, gegara ada lo! Buruan bangun!" Ucap Stella, sambil melempar pel lan ke tubuh Yudistira.
Stella langsung memasang earpon ke telinganya, menyalakan musik untuk memulihkan amarahnya. Mereka terus membersihkan aula itu, sampai pukul 6 malam. "Arg!!!" Ucap Stella langsung merebahkan dirinya ke lantai aula itu, begitu juga Yudistira.
Helaan nafas terus dikeluarkan oleh kedua anak itu. Hukumannya, akhirnya selesai juga. Mereka terus tertawa bersama, sambil tersenyum dan saling menatap satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Yona
aku suka anak suka"😆
2022-12-07
1