[17]

Setelah semuanya tersebar bukan hanya Stella yang merasa bersalah, namun juga Rami sang kakak tiri Stella. Kini, Jinata dan Jije di panggil keruangan kepsek. Dimarahi habis-habisan, karena ulah mereka yang amat sangat memalukan. "Bu, Nata cuma main-main doang kok"

"Itu cara kamu main-main? Sampai ngelakuin hal keji seperti itu, demi kebahagian kamu sendiri? Ibu gak habis fikir sama kamu, Nata. Mau sampai kapan kamu terus seperti ini? Jika kamu terus tanam rasa kebencian ke orang, bagaimana kamu akan mempunyai banyak teman. Jika dalam diri kamu saja penuh kedendaman?!"

"Jam 4 nanti kalian ada kelas tambahan, dan sebelum itu kalian harus membantu Stella membersihkan semua kelas di sekolah ini. Dan juga pagi dan malamnya kalian bantu pak maman mengabsen semua murid di asrama pria. Dan lagi, ponsel kalian akan saya sita selama sebulan! Jangan lupa minta maaf langsung pada Stella" Ucapnya sambil meminta ponsel mereka berdua.

"Gak bisa gitu dong bu, aku sama Jije ada jadwal buat latihan band di studio. Dan lagi, masa ponsel kita di sita. Kayak bocah aja sih kelakuan Ibu lama-lama!"

"Ibu disini sekarang sebagai kepala sekolah kamu, bukan sebagai ibu yang mengurus kamu seperti biasanya. Jadi, hormati saya. Jika kalian membuat onar, saya akan memberi hukuman lebih-lebih dari ini"

"Terserah, Nata gak akan ngejalanin hukuman itu!"

"Baiklah, saya akan memanggil ibu kamu untuk datang kesini besok" Sontak Jinata yang mendengar itu langsung terdiam. Langkah kakinya terhenti, dan kembali membalikan tubuh nya ke hadapan bu Popi.

"Oke! Nata akan lakuin semua hukuman itu!" Ucapnya, lalu melempar ponsel miliknya ke meja bu Popi. Dan pergi dengan penuh kekesalan.

Kembali ke kelas dengan sikap yang dingin, dan menghampiri Stella. Tak lupa meminta maaf atas semua kelakuannya selama ini padanya. Dengan penuh rasa berat hati. Semua murid di kelas itu kini menatap Jinata yang tak seperti biasanya. Baru kali ini dia melakukan hal seperti itu.

Setelah itu, Stella menarik Rami agar juga meminta maaf pada Yudistira. Sebab, sudah main tuduh padanya. Lagi-lagi wajah tengilnya membuat Stella dan Rami menjadi kesal. Dia melipat kedua tangannya, sambil menaikan kedua kakinya di meja. Ditambah wajah tengilnya, sok mengabaikan keberadaan mereka berdua disana.

Stella dan Rami mulai berat hati untuk meminta maaf padanya. Bagaimana tidak, dia terus acuh tak acuh pada permintaan maaf mereka. Tak menjawab sepatah katapun dan hanya menatap suasana luar sekolah, melalui jendela.

"Intinya gue sama Rami udah minta maaf, dan terserah lo mau maafin atau engga!"

"Itu yang lo bilang permintaan maaf? Buat dapet maaf dari gue, biasanya orang-orang lakuin apapun yang gue mau"

"Udah, Ram mending dari awal kita gak usah minta maaf. Mending sekarang balik ke bangku, Ram"

"Elo yang narik-narik gue tadi"

"Kalo kalian kabur dari tanggung jawab, gue bakal aduin lo berdua udah buat wajah gue begini. Gara-gara tadi pagi"

"Elo sih ngapain pake tonjok mukanya si Yudis segala!" Kesal Stella pada Rami.

"Ya, mana tau bakal kaya gini. Lagi pula, gue kira emang dia yang ngelakuin!"

"Gimana nih?"

"Malah diskusi, mau gue maafin gak?! Atau mau gue aduin?!"

"EH! Gue baru inget! Lo juga kan ngunciin gue di gudang! Kalo lo mau aduin, gue aduin balik!" Jelasnya, membuat Rami tersenyum senang.

"Kayak yang gak pernah ngunciin gue aja" Ucap Yudistira, membuat Stella terdiam.

"Lo pernah ngunciin si Yudis juga?" Tanya Rami, dan Stella mengangguk.

"Gak bisa berkata-kata lagi gue sama kelakuan lo ini. Pantes aja Ibu bujuk gue biar masuk sini, mungkin ini alasannya" Ucapnya dengan helaan nafas yang masih tak percaya.

"Dia duluan yang buat gue kesel! Yaudah apa yang lo mau sekarang, biar cepet selesai nih permasalahan"

"Gue mau lo ikutin semua yang gue suruh mulai sekarang"

"Apaan lo?! Lo kira gue budak lo?! ini bukan zaman penjajahan bro! Kagak mau gue!"

"Gak mau?! Yaudah sist gue bakal aduin ke kepsek, biar Ibu lo dateng kesini"

"Ram! Bantu gue kek!"

"Urusan lo, ngapain ngajak-ngajak gue. Urusin sendiri!"

"Parah banget lo ke adik sendiri!"

"Masabodo, yang penting gue udah aman"

"Parah! Awas aja lo!"

"Cuma sebulan gimana?"

"Cuma kata lo?! Cuma sebulan?! Tetep gue gak mau!"

"Sehari cukup bagi gue"

"Bagi gue kurang"

"Seminggu?"

"Sebulan tujuh hari?"

"2 minggu?"

"Sebulan empat belas hari?"

"Apaan sih lo?!"

"Oke deal!"

"Kagak! Kapan gue bilang dealnya!!" Rengeknya.

"YUDIS!!!" Teriak Stella penuh ke kekesalan, sebab Yudis langsung pergi dari tempat itu.

"WOI!!!" Teriaknya menggelegar menyusuri lorong koridor.

Stella tak menyadari, jika dirinya sudah terkunci oleh Yudistira. Entah, kapan dia bisa melarikan diri dari permainan Yudistira. Yang pasti nanti nya akan selalu membuat dirinya darah tinggi dan tak tahan akan semua perintah laki-laki itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!