[15]

"Ngapain lo hapus sih? Lucu banget padahal muka capek lo tadi pas lari"

"Idung gue kembang kempis lucu nya dimana? Nanggung malu yang ada gue! Mana muka merah banget kayak pantat monyet" Mendengar itu Arumi terus tertawa tanpa henti.

"Ahhahaha~"

"Gak bisa ini gak bisa, gue ngakak banget sumpah"

"Mending lo diem sekarang, yang ada gue tambah malu"

"Lagian, bisa-bisa nya yah tuh si Yudis gak ketinggalan momen terpenting buat bikin lo kesel"

"Udahlah, gue udah capek banget sama tingkah laku tuh anak"

"Tapi emangnya beneran ponsel si Yudis isinya video lo semua?"

"Cuma asal ngomong doang gue, kalo sampe bener gue udah abisin tuh anak di tempat"

"Untung nya aja nih ya baru kelas kita aja yang liat. Untungnya, kelas lain masih belajar. Kalo semua liat tamat riwayat lo, nanggung malu seumur hidup di sekolah ini"

"Lebih udah gak tau lagi sih mau nempatin nih muka gue kemana, Rum"

"Ahhahaha~"

"Masih ketawa aja lo yah!"

"Sorry-sorry, keinget mulu gue sama video lo"

"Stell lo dicariin pak Yuta, suruh ke gudang katanya"

"Hayoloh Stella, lo pasti kena hukuman pak Yuta gegara lo tadi sempet rebahan di lapangan"

"Yaudah lo duluan aja ke kantin, gue samperin pak Yuta dulu"

Saat Stella sampai disana, dia tak melihat keberadaan pak Yuta disana. Dia berjalan masuk kedalam, beranggapan pak Yuta mungkin saja ada di dalam. Namun, yang dia lihat hanya tumpukkan meja, kursi, an barang-barang lain yang sudah tak layak pakai saja.

Crek~

Hingga, dia tersadar akan pintu yang tertutup sendiri dan di kunci dari luar. Stella langsung melirik sana-sini dari balik jendela, yang ternyata itu ulah Yudistira. "Yudis!! Parah banget lo! Bukain sekarang!!" Teriak Stella terus menerus. Yudistira mengabaikannya dan pergi dari sana, sambil melempar kunci gudang ke asal tempat. Dan melambaikan tangannya ke Stella dengan tubuh membelakanginya.

"Bngst! Ngapain lo buang kuncinya segala!!!"

"YUDIS!!!"

"Gila sih ni anak udah gila. Sekarang nasib gue gimana ini?"

"Tunggu. Yudis-Yudis, bodoh kali kau ini. Untung gue bawa-" Terhenti. Tersadar akan ponselnya yang hilang di saku bajunya.

"Tunggu! Tadi si Yudis ngantungin ponsel gue kan ke saku celananya?"

"Bener-bener yah tuh anak, gilanya sampe buat stres gue ke ubun-ubun!!"

"Gak lucu kalo gue diem di gudang ini sampe malem nanti. Tenang Stella, Arumi bakal bebasin lo dari gudang ini"

"Rumi, lo gak perlu cari Stella. Tadi gue liat dia di hukum abis-abisan sama pak Yuta, bersihin gudang"

"Tapi ini udah hampir mau malem loh"

"Lo kaya gak tau aja hukuman pak Yuta, waktu itu aja ada yang di hukum sampe pagi kan?"

"Iya juga sih. Tapi ini bukan kelakuan lo kan?"

"Maksud lo?"

"Ya, siapa tau kan lo kunciin Stella di gudang"

"Gak sampe segitunya kali, yakali gue kunciin tuh anak. Untungnya buat gue apaan?"

"Hmmm, iya juga sih. Yaudah deh gue balik ke asrama dulu"

"Oke, hati-hati"

"Tumben banget tuh anak, kok jatuhnya gue jadi takut gini sih" Ucap Arumi, sambil jalan cepat menjauh dari Yudistira.

Alih-alih meloloskan diri dari sana, Stella malah asik duduk menatap keluar jendela. Berharap Arumi datang atau orang lain lewat disana. Namun, nyatanya sudah dia tunggu berjam-jam. Hingga langit kini sudah berubah menjadi gelap gulita, tak ada satupun yang datang.

Kini kepanikan melanda dirinya, kini sudah berbagai cara dia lakukan untuk keluar dari sana. Namun, tak ada satupun cara yang berhasil. Ketakutan melanda dirinya, suara-suara yang tak ingin dia dengar, kini terlintas di telinganya.

"Sampe gue berhasil keluar dari sini, gue langsung abisin lo. Gue langsung cekik lo sampe abis napas!" Tegasnya dengan penuh ketakutan juga kesal.

Stella terus mencari alat dari yang berukuran kecil sampai besar, yang nantinya bisa dimasukkan ke lubang kunci. Beberapa jam sudah dia cari, dan akhirnya dia menemukan penjepit kertas. Dia terus berharap cara yang dia lakukan akan berhasil.

"Tolong gue, pliss!"

"Gue bakal cari pasangan lo, kalo nanti lo bantu gue sekarang keluar dari sini" Ucapnya melantur, terus meluruskan penjepit kertas itu dan mencobanya untuk membuka pintu itu.

CREK~

Pintu terbuka.

"Makasih banget, lo emang terbaek" Ucapnya lalu mencium-cium penjepit kertas itu dan memasukkan nya ke kantung seragamnya.

"Yudis, I'm coming~" Ucapnya sembari tersenyum senang, Berjalan menuju asrama laki-laki. Masuk dengan mudah, karena tak ada satu pun penjaga disana. Melihat daftar kamar di lobi dan akhirnya menemukannya. "Dunia sedang berpihak pada gue" Ucapnya sambil tersenyum kembali, mengambil kunci dari berpuluh-puluh kunci disana dengan nomor 22.

Terus melepar-lemparkan kunci itu ke langit-langit, sambil mengunyah permen karet andalannya setiap dia beraksi. Berjalan dari lobi hingga depan kamar Yudis dengan sangat mudah, tak ada rintangan sedikit pun.

Crek~

Pintu itu terbuka, Stella masuk ke kamar itu tanpa permisi atau pun ketakutan. "Mau ngapain lo kesini, Stella!" Ucap Jimi penuh kepanikkan.

"Stttt~" Stella langsung mencari Yudistira, yang ternyata dia ada di kamar mandi. Asik konser menyanyi tanpa rasa bersalahnya. Membuka pintu itu dan melihat Yudistira sedang BAB di kloset duduk. "YAAAA!!!!" Kaget Yudistira menggelegarkan asramanya.

Seketika Stella langsung melayangkan gagang shower tepat ke kepalanya. Hingga Yudistira tersungkur ke lantai. "Macem-macem lagi ke gue, gue bakal buat hal lebih gila dari ini" Ucapnya lalu pergi, dan mengambil ponsel miliknya yang sedari tadi Yudis pegang.

"DIS! Dahi lo berdarah!" Panik Jimi, membuat Yudistira juga ikut panik.

"Stella! Kenapa kamu ada di asrama laki-laki?" Tegur pak maman.

"Salah asrama pak, sowrry~" Ucapnya dengan nada tengilnya, sambil mengembalikan kunci asrama yang diambilnya tadi. Stella tersenyum puas, karena sudah membalaskan kekesalannya pada Yudistira.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!