Echa mengangkat wajah nya dari baju seragam milik Givan yang menjadi tempat menampung air mata nya sedari tadi. Melihat ada bekas di sana membuat Echa meremas baju putih itu lalu menarik nya turun ke bawah meja, kemudian Echa melihat Givan yang duduk di depan nya -masih memakai kaos olahraga.
Laki laki itu duduk bersanding di tembok dan sedang menatap nya juga. Sejak kapan? Selama dia menangis tadi?
"Lo pasti gak akan mau pake baju yang ada ingus gue nya, kan?" Itu hal yang pertama kali di kata kan Echa dengan suara yang parau. "Nanti pulang sekolah gue cuci dulu, malem nya gue balikin."
Zia yang duduk di sebelah Echa menyingkir kan beberapa helai rambut Echa yang menempel di pipi lembab nya. Kemudian dia mengansur kan roti isi selai cokelat ke Echa. "Makan ini dulu. Jam istirahat mau habis."
Tak menjawab Zia, Echa masih berbicara pada Givan yang ada di depan nya. "Kalau lo jijik, gue bakal bakar baju lo besok gue ganti yang baru."
"Udah sultan lo?" tanya Zia yang kesal karena di abaikan. "Sok mau beli baju seragam orang."
Kemudian Zia mendorong dorong roti cokelat itu ke Echa. "Gue desak desakan sama masyarakat Nusa Bhakti lo di kantin, demi dapet roti ini buat lo. Tau gak? Roti cokelat ini best seller banget, udah kayak ada sidik jari Idol nya aja."
Akhir nua Echa mengambil roti cokelat itu. Tak hanya menghargai usaha Zia yang baru saja di papar kan, tapi juga karena dia lapar. "Thanks Cayang." kata Echa sambil menarik pipi Zia.
"Ck," Zia mengusap pipi nya yang terasa lengket. "Meperin ingus ya barusan?"
"Gak kok," kata Echa sambil membuka bungkus roti nya. Dia menggigit roti itu. Sambil mengunyah, Echa mengambil botol minum baru yang masih tersegel.
Huh, Echa masih merasa tidak memiliki kekuatan karena patah hati nya ini.
"Alkana, Alkana." panggil nya membuat Alkana menoleh. "Bukain dong."
Baru Alkana akan meraih botol dari tangan Echa, ada tangan lebih dulu meraih botol itu untuk membuka kan tutup nya.
Givan, tangan itu milik Givan.
Givan membuka kan botol minum untuk Echa.
Tanpa mengata kan apa apa, dia mengembali kan botol minum nya pada Echa saat tutup nya sudah terbuka.
Echa, Alkana, dan Zia yang melihat itu mematung bersama. Seperti tengah menyaksi kan fenomena langkah melintas nya komet Neowise di langit.
"Cie~ di bukain ayang dong." celetuk Angga dari ujung kelas. Tau aja kalau Givan baru melakukan sesuatu untuk Echa.
Emang jiwa jiwa Lambe Turah.
***
Seragam putih milik Givan sudah terlihat rapi di meja belajar di kamar Echa. Seragam itu sekarang sudah bersih, setelah di cuci dan di kering kan tadi sore sepulang sekolah. Wangi juga dari deterjen, bukan wangi parfum Echa.
Di samping baju seragam milik Givan, Echa baru saja menyimpan sebuah paper bag yang di temukan nya dari meja belajar. Rencana nya Echa akan mengembali kan baju seragam itu dengan paper bag nya, sebagai bentuk ke sopanan saja bukan apa apa. Kan aneh aja kalau Echa mengantar baju seragam Givan begitu saja tanpa di wadahi apa apa.
Tapi, setelah melihat paper bag merah muda itu penuh dengan motif love, Echa jadi merenung. Ini terlalu berlebihan tidak, sih? Givan apa tidak akan berpikir macam macam karena baju seragam nya di masuk kan ke paper bag love itu?
"Ya, masa gue balikin nya pake baki. Sang saka merah putih kali," decak Echa mencibir hasil pemikiran berlebihan nya sendiri. "Lagian bukan gue yang cetak motif paper bag nya." Echa membuat pembelaan sambil memasuk kan seragam Givan ke paper bag.
Dengan kaos peach longgar yang di masuk kan ke celana dusty jeans pendek, Echa menenteng paper bag itu ke rumah melintasi halaman rumah nya yang berumput.
Saat menyeberang dari rumah nya ke rumah Givan, Echa baru menyadari kalau motor Givan ada di luar, dengan keadaan lampu dan mesin nya menyala.
"Ngapain manasin motor malem malem," kata Echa sambil melihat aneh ke motor itu. "Di tinggal lagi, emang gak takut di ambil orang?"
Echa celingukan melihat sekitar. Daerah tempat tinggal mereka cukup sepi. Jika ada orang lewat dan berniat jahat mencuri motor ini, pasti akan berhasil dengan mudah karena minim saksi mata.
Baru Echa akan menekan bel, pintu sudah terbuka dan Givan muncul dari sana dengan memakai jaket navy jeans, serta celana panjang yang senada.
Dari penampilan rapi nya, Echa menebak kayak nya Givan mau pergi ... kencan? Rajin banget, padahal ini bukan satnite.
"Mau ke luar? Ngapel ya, ke cewek?" tanya Echa basa basi. Givan hanya berdehem tidak jelas. Lalu, Echa menunjuk motor Givan. "Jangan di tinggalin nyala gitu, kalau ada yang curi motor nya gimana?"
"Lo gak baca chat gue?" Givan tidak menjawab satu pun pertanyaan Echa dengan jelas, tapi malah balas bertanya.
Dan seperti nya Echa tidak menyadari itu. Dia mudah teralih kan oleh bahasan baru dari Givan.
"Chat apa?" Echa merasa mereka tidak saling tahu kontak masing masin, maksud nya belum bertukar kontak. Apa Givan tahu kontak nya dari Bunda? Heu. "Lo chat gue? Gue gak buka hp."
Kalau memeriksa ponsel nya pun, mana tau Givan yang mengirim kan nya pesan. Pasti pesan itu akan jadi pesan dari rentetan nomor asing, dan pasti Givan tidak akan basa basi dengan mengirim pesan begini,
[Hai, gue Givan. Save ya]
Sangat bukan gaya Givan sekali.
"Gue chat, kalau lo mau balikin seragam itu, lo pake jaket."
"Hah?" Echa terkejut. Itu pesan yang Givan kirim?
Jarak dari rumah nya ke rumah Givan kan hanya beberapa langkah. Echa hanya perlu menutup pintu, melintas di halaman depan nya yang cukup luas tanpa pagar, kemudian menyeberang di jalan kompleks dan sampai ke rumah Givan.
Sedekat itu, rumah mereka tepat berhadapan.
Kenapa Givan meminta nya ke sana pakai jaket?
"Gak sekalian lo minta gue nganterin baju lo pake jas hujan, gitu? Atau pakaian adat?"
"Sssh, bentar." Givan membuat Echa semakin mengernyit karena mendadak dia di tinggal oleh laki laki itu yang masuk ke dalam rumah nya.
Echa menurut untuk menunggu karena baju seragam Givan masih ada di paper bag di tangan nya, belum di berikan. Tujuan Echa ke sana kan untuk memberi kan seragam itu.
Cukup lama Echa di sana sampai akhir nya, Echa melihat Givan kembali dengan jaket jeans lain.
.
.
.
.
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments