Givan melihat Echa, kemudian mengangguk dengan ragu. Tentu saja, anggukkan kecil itu membuat Bunda tersenyum lebar, Bunda menepuk nepuk bahu Echa. "Tuh kan, untung ada Givan."
***
"Sakit banget kepala gue," kata Echa yang menggosok gosok jidat nya sambil berjalan di koridor menuju kelas.
Terhitung lima atau enam kali, setiap Givan mengerem, Echa yang duduk di jok motor mirip prosotan itu selalu terantuk ke depan dan helm nya menabrak helm Givan dengan keras.
Tak hanya itu, beberapa kali saat Echa berusaha menyelamat kan kepala nya agar tidak terjeduk, malah badan nya yang menabrak punggung Givan.
Benar benar tidak ada yang mending.
Tapi, beberapa meter sebelum gerbang sekolah, tepat nya di dekat halte SMA Nusa Bhakti, Echa meminta turun dan Givan menurun kan nya.
Tujuan nya supaya tidak ada yang tahu kalau dia berangkat dengan Givan hari ini. Terutama Kaivan persoalan kemaren saja Echa masih tidak tahu bagai mana menjelas kan nya.
Echa masuk ke kelas nya dan dia mendapati Givan yang sudah duduk di kursi nya, di sebelah nya ada Yuyun yang mengisi kursi Alkana, sedang berusaha mengajak Givan mengobrol dan ke liatan nya hanya di tanggapi sambil lalu.
Zia belum datang, jadi setelah menyimpan tas nya di kursi, Echa memutus kan untuk nongkrong di depan kelas dari pada duduk di bangku nya dan menjadi saksi bisu Yuyun yang sedang menggoda Givan.
Namun, baru saja Echa akan pergi, seorang cowok berjaket biru tiba tiba berdiri menghadang, menekan bahu Echa sampai Echa duduk di bangku Zia, kemudian bertepuk tangan meminta perhatian.
"Eh, eh, tau gak sih ada yang udah sat - set - sat - set aja?" tanya nya setelah sebagian besar murid di kelas melihat ke arah nya.
"Ck, Kang Gosip mulai," decak Echa kemudian berdiri tapi di tekan Angga lagi hingga kembali duduk. "Apa sih Angga main neken neken gue suruh duduk aja, mau gue ke jeblos apa gimana?"
"Sabar sis, lo harus di sini." kata Angga dengan senyum santai.
Echa menghela nafas. "Apa si serangga, cepetan bisa gak kalo mau nyebar gosip? Gue lagi nulis nih," teriak siswa lain dari baris kanan yang penasaran akut.
"Masa tadi pagi gue liat ada yang pelukan dari lampu merah?" kata nya lalu tersenyum penuh arti ke Echa, kemudian Givan.
Echa mulai merasa tidak enak. Lampu merah mana nih?
"Mau ngomong apa lo?" desis Echa dengan tatapan tajam nya ke Angga.
Si Penerima Tatapan Tajam malah mengulum senyum. Angga mengotak atik ponsel nya lalu mengangkat nya tinggi tinggi.
"Mau liat bukti nya gak?" tanya Angga ke teman teman yang lain tak merespon Echa. "Gue kirim di Grup SESAT ya."
"Ah elah lama nih, ke buru gue berjamur!"
"Ke buru gue di gebet ayank!"
"Ke buru gue du lamar Oppa Tae."
Angga tertawa. "Sabar, sabar. Tiga, dua, sat----"
"Angga, lo mau mati muda gak?" ancam Echa yang sama sekali tidak menakut kan dan tidak berguna. Karena begitu Echa berdiri untuk beraksi mencabik Angga, Angga lebih dulu menekan tombol kirim dan membuat semua notifikasi ponsel murid di kelas berbunyi.
Lima detik kemudian.
"Wah, sat - set banget lo Echa udah peluk pelukan aja sama Givan di motor!"
***
Jam istirahat pertama ini. Angga bersimpuh di samping bangku Echa. Sementara itu Echa menelungsup di meja masih menangis, sedang kan Zia di samping nya berusaha menenang kan Echa sambil menyudut kan Angga.
"Echa maafin gue dong."
"Janji gue gak bakal gitu lagi deh."
"Cha, udah dong nangis nya."
"Rela gue di apain aja."
Echa mendengar tapi tidak ingin merespon.
"Ya lo sih, bercanda nya gak lucu banget." kata Zia ke sekian kali dengan kesal.
Tadi selepas Angga mengirim kan foto itu, selesai jadi gaduh dengan sorak sorakan untuk Echa dan Givan.
Sebenar nya pose foto nya tidak separah yang di celetuk kan Rido. Foto nya di ambil saat ngerem di lampu merah, Echa terpental ke depan, dada nya menabrak punggung Givan dan tidak di rencana kan tangan nya menekan ke paha Givan.
Echa sendiri tidak sadar dengan itu, Givan juga tidak mengata kan apa apa saat di lampu merah tadi. Sampai Angga mengambil foto dan menyebar kan nya dengan cara paling membagong kan.
Karena Echa menanggis, Angga sudah menarik pesan nya lagi, sekaligus menyesal. Taoi tetap saja beberapa sudah ada yang mengambil tangkapan layar nya.
Mulai sesak dan pegal juga nangis lama lama sambil menelungsup, akhir nya Echa menegak kan tubuh, dia melihat bangku di depan nya kosong. Givan tidak ada di kelas, cowok itu pasti bisa makan dengan nyaman di kantin, seolah tidak terjadi apa apa. Sialan.
Kemudian Echa mengalih kan pandangan nya pada Angga yang langsung mengerjap ngerjap. "Berapa tanggal lahir lo?" tanya Echa dengan suara parau.
"M-mau apa lo, mau nyantet gue?" kata Angga dengan takut takut. "Maafin gue lah Cha, ya?"
"Cepet berapa tanggal lahir lo."
"Dua puluh delapan," kata Angga pada akhir nya.
"Bulan?" Echa bertanya lagi.
Tak hanya Angga, Zia pun bingung.
Kok tiba tiba tanya tanggal dan bulan lahir, sih?
"Bulan, dua. Februari," jawab Angga.
"Dua puluh delapan kali dua berapa?" tanya Echa.
Angga mengeluar kan sepuluh jari tangan nya, menghitung kemudian menjawab. "Lima puluh enam."
Angga kira dia di maaf kan setelah menjawab soal sederhana itu, tetapi ternyata.... tentu saja tidak semudah itu!
Echa mengangguk kan kepala. "Zia, gue minta tolong ya?" kata nya sambil mengeluar kan selembar uang sepuluh ribu dari saku nya. "Beliin gue karet kepang lima puluh enam biji."
Zia tertawa. Baru mengerti lalu berdiri dan menyambar uang Echa. "Siap, laksana kan Tuan Putri!" Kemudian dia menunjuk Angga dengan seringkali puas nya. "Mampus lo!"
***
Echa baru bisa makan di kantin pada jam istirahat kedua. Mata nya masih sembab, hidung nya masih merah karena menangis tadi, tapi sekar lihat? Bibir nya tertawa, lebih tepat nya menahan tawa dengan pandangan yang tertuju lurus pada Angga di seberang meja sekarang memiliki kunciran 56 di kepala nya.
Angga menunduk, tidak berani melihat ke sekitar. Tak hanya Echa yang sedang menahan tawa karena melihat nya, seisi kantin sekarang sedang memerhati kan nya. Beberapa ada yang mengambil foto, membuat Angga merasa dia sedang menjadi aset budaya.
"Malu banget, udah ya Cha?"
"Lo pikir gue gak malu karena tingkah membagong kan lo tadi pagi, hah?" Echa langsung melotot, serius. Angga mengangguk sekali.
Dia benar benar menyesal sudah jadi paparazzi nya Echa pagi ini. Seharus nya dia abai kan saja Echa dan Givan, pura pura tidak lihat.
"Pilihan lo juga. Gue kasih pilihan yang lain, kan? Ya loh milih yang ini," kata Echa lagi, membuat Angga hanya mengangguk lagi.
Jadi ke sepakatan nya begini, Angga di beri dua pilihan untuk di maaf kan. Tetap dengan 56 kunciran itu hanya waktu dan tempat nya yang berbeda.
Pilihan pertama Angga bisa memakai kunciran 56 itu di kelas tidak ke mana mana, dia tidak akan semalu sekarang, tapi dalam waktu yang lebih lama dari jam sepuluh sampai jam empat sore nanti pulang sekolah, lalu di lanjut besok dari jam tujuh pagi sampai jam sepuluh.
Sedang kan pilihan kedua, Angga hanya perlu memakai kunciran 56 itu selama satu jam istirahat, tapi harus memakai nya di kantin, di depan Echa.
Rambut di kuncir sebanyak lima puluh enam biji itu tentu saja tidak terasa baik baik saja, sakit sekali, woiy! Angga merasa cenat cenut, otak nya seperti di gigit oleh manusia bergigi buaya. Sakit nya bikin gila.
Jadi Angga ingin menyelesai kan ini secepat nya, dia memilih satu jam di kantin dan di sini lah dia sekarang.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments