Kuncir Rambut Angga 56

Givan melihat Echa, kemudian mengangguk dengan ragu. Tentu saja, anggukkan kecil itu membuat Bunda tersenyum lebar, Bunda menepuk nepuk bahu Echa. "Tuh kan, untung ada Givan."

***

"Sakit banget kepala gue," kata Echa yang menggosok gosok jidat nya sambil berjalan di koridor menuju kelas.

Terhitung lima atau enam kali, setiap Givan mengerem, Echa yang duduk di jok motor mirip prosotan itu selalu terantuk ke depan dan helm nya menabrak helm Givan dengan keras.

Tak hanya itu, beberapa kali saat Echa berusaha menyelamat kan kepala nya agar tidak terjeduk, malah badan nya yang menabrak punggung Givan.

Benar benar tidak ada yang mending.

Tapi, beberapa meter sebelum gerbang sekolah, tepat nya di dekat halte SMA Nusa Bhakti, Echa meminta turun dan Givan menurun kan nya.

Tujuan nya supaya tidak ada yang tahu kalau dia berangkat dengan Givan hari ini. Terutama Kaivan persoalan kemaren saja Echa masih tidak tahu bagai mana menjelas kan nya.

Echa masuk ke kelas nya dan dia mendapati Givan yang sudah duduk di kursi nya, di sebelah nya ada Yuyun yang mengisi kursi Alkana, sedang berusaha mengajak Givan mengobrol dan ke liatan nya hanya di tanggapi sambil lalu.

Zia belum datang, jadi setelah menyimpan tas nya di kursi, Echa memutus kan untuk nongkrong di depan kelas dari pada duduk di bangku nya dan menjadi saksi bisu Yuyun yang sedang menggoda Givan.

Namun, baru saja Echa akan pergi, seorang cowok berjaket biru tiba tiba berdiri menghadang, menekan bahu Echa sampai Echa duduk di bangku Zia, kemudian bertepuk tangan meminta perhatian.

"Eh, eh, tau gak sih ada yang udah sat - set - sat - set aja?" tanya nya setelah sebagian besar murid di kelas melihat ke arah nya.

"Ck, Kang Gosip mulai," decak Echa kemudian berdiri tapi di tekan Angga lagi hingga kembali duduk. "Apa sih Angga main neken neken gue suruh duduk aja, mau gue ke jeblos apa gimana?"

"Sabar sis, lo harus di sini." kata Angga dengan senyum santai.

Echa menghela nafas. "Apa si serangga, cepetan bisa gak kalo mau nyebar gosip? Gue lagi nulis nih," teriak siswa lain dari baris kanan yang penasaran akut.

"Masa tadi pagi gue liat ada yang pelukan dari lampu merah?" kata nya lalu tersenyum penuh arti ke Echa, kemudian Givan.

Echa mulai merasa tidak enak. Lampu merah mana nih?

"Mau ngomong apa lo?" desis Echa dengan tatapan tajam nya ke Angga.

Si Penerima Tatapan Tajam malah mengulum senyum. Angga mengotak atik ponsel nya lalu mengangkat nya tinggi tinggi.

"Mau liat bukti nya gak?" tanya Angga ke teman teman yang lain tak merespon Echa. "Gue kirim di Grup SESAT ya."

"Ah elah lama nih, ke buru gue berjamur!"

"Ke buru gue di gebet ayank!"

"Ke buru gue du lamar Oppa Tae."

Angga tertawa. "Sabar, sabar. Tiga, dua, sat----"

"Angga, lo mau mati muda gak?" ancam Echa yang sama sekali tidak menakut kan dan tidak berguna. Karena begitu Echa berdiri untuk beraksi mencabik Angga, Angga lebih dulu menekan tombol kirim dan membuat semua notifikasi ponsel murid di kelas berbunyi.

Lima detik kemudian.

"Wah, sat - set banget lo Echa udah peluk pelukan aja sama Givan di motor!"

***

Jam istirahat pertama ini. Angga bersimpuh di samping bangku Echa. Sementara itu Echa menelungsup di meja masih menangis, sedang kan Zia di samping nya berusaha menenang kan Echa sambil menyudut kan Angga.

"Echa maafin gue dong."

"Janji gue gak bakal gitu lagi deh."

"Cha, udah dong nangis nya."

"Rela gue di apain aja."

Echa mendengar tapi tidak ingin merespon.

"Ya lo sih, bercanda nya gak lucu banget." kata Zia ke sekian kali dengan kesal.

Tadi selepas Angga mengirim kan foto itu, selesai jadi gaduh dengan sorak sorakan untuk Echa dan Givan.

Sebenar nya pose foto nya tidak separah yang di celetuk kan Rido. Foto nya di ambil saat ngerem di lampu merah, Echa terpental ke depan, dada nya menabrak punggung Givan dan tidak di rencana kan tangan nya menekan ke paha Givan.

Echa sendiri tidak sadar dengan itu, Givan juga tidak mengata kan apa apa saat di lampu merah tadi. Sampai Angga mengambil foto dan menyebar kan nya dengan cara paling membagong kan.

Karena Echa menanggis, Angga sudah menarik pesan nya lagi, sekaligus menyesal. Taoi tetap saja beberapa sudah ada yang mengambil tangkapan layar nya.

Mulai sesak dan pegal juga nangis lama lama sambil menelungsup, akhir nya Echa menegak kan tubuh, dia melihat bangku di depan nya kosong. Givan tidak ada di kelas, cowok itu pasti bisa makan dengan nyaman di kantin, seolah tidak terjadi apa apa. Sialan.

Kemudian Echa mengalih kan pandangan nya pada Angga yang langsung mengerjap ngerjap. "Berapa tanggal lahir lo?" tanya Echa dengan suara parau.

"M-mau apa lo, mau nyantet gue?" kata Angga dengan takut takut. "Maafin gue lah Cha, ya?"

"Cepet berapa tanggal lahir lo."

"Dua puluh delapan," kata Angga pada akhir nya.

"Bulan?" Echa bertanya lagi.

Tak hanya Angga, Zia pun bingung.

Kok tiba tiba tanya tanggal dan bulan lahir, sih?

"Bulan, dua. Februari," jawab Angga.

"Dua puluh delapan kali dua berapa?" tanya Echa.

Angga mengeluar kan sepuluh jari tangan nya, menghitung kemudian menjawab. "Lima puluh enam."

Angga kira dia di maaf kan setelah menjawab soal sederhana itu, tetapi ternyata.... tentu saja tidak semudah itu!

Echa mengangguk kan kepala. "Zia, gue minta tolong ya?" kata nya sambil mengeluar kan selembar uang sepuluh ribu dari saku nya. "Beliin gue karet kepang lima puluh enam biji."

Zia tertawa. Baru mengerti lalu berdiri dan menyambar uang Echa. "Siap, laksana kan Tuan Putri!" Kemudian dia menunjuk Angga dengan seringkali puas nya. "Mampus lo!"

***

Echa baru bisa makan di kantin pada jam istirahat kedua. Mata nya masih sembab, hidung nya masih merah karena menangis tadi, tapi sekar lihat? Bibir nya tertawa, lebih tepat nya menahan tawa dengan pandangan yang tertuju lurus pada Angga di seberang meja sekarang memiliki kunciran 56 di kepala nya.

Angga menunduk, tidak berani melihat ke sekitar. Tak hanya Echa yang sedang menahan tawa karena melihat nya, seisi kantin sekarang sedang memerhati kan nya. Beberapa ada yang mengambil foto, membuat Angga merasa dia sedang menjadi aset budaya.

"Malu banget, udah ya Cha?"

"Lo pikir gue gak malu karena tingkah membagong kan lo tadi pagi, hah?" Echa langsung melotot, serius. Angga mengangguk sekali.

Dia benar benar menyesal sudah jadi paparazzi nya Echa pagi ini. Seharus nya dia abai kan saja Echa dan Givan, pura pura tidak lihat.

"Pilihan lo juga. Gue kasih pilihan yang lain, kan? Ya loh milih yang ini," kata Echa lagi, membuat Angga hanya mengangguk lagi.

Jadi ke sepakatan nya begini, Angga di beri dua pilihan untuk di maaf kan. Tetap dengan 56 kunciran itu hanya waktu dan tempat nya yang berbeda.

Pilihan pertama Angga bisa memakai kunciran 56 itu di kelas tidak ke mana mana, dia tidak akan semalu sekarang, tapi dalam waktu yang lebih lama dari jam sepuluh sampai jam empat sore nanti pulang sekolah, lalu di lanjut besok dari jam tujuh pagi sampai jam sepuluh.

Sedang kan pilihan kedua, Angga hanya perlu memakai kunciran 56 itu selama satu jam istirahat, tapi harus memakai nya di kantin, di depan Echa.

Rambut di kuncir sebanyak lima puluh enam biji itu tentu saja tidak terasa baik baik saja, sakit sekali, woiy! Angga merasa cenat cenut, otak nya seperti di gigit oleh manusia bergigi buaya. Sakit nya bikin gila.

Jadi Angga ingin menyelesai kan ini secepat nya, dia memilih satu jam di kantin dan di sini lah dia sekarang.

...Bersambung......

Episodes
1 Bola Futsal
2 Tour Guide
3 Di Hukum
4 'OMG! First Kiss gue!
5 Cium Bel Pintu
6 Emang Aku Barang
7 Kuncir Rambut Angga 56
8 Kuntilanak Ikut Berteduh
9 Siluman Monyet
10 Kuntilanak Gak Tau Diri
11 Kepala Gue Ada Resletingnya Gak
12 Gue Sundul Lo Sampe Akhirat
13 Kumis Sama Jambangnya Keliatan
14 Bukan Anak Kandung
15 Bayar Dua Ribu Lebih Mahal
16 Patah Hati Bukan Patah Tulang
17 Udah Sultan Lo?
18 Bukit Bintang
19 Penghibur bin Buaya
20 Ketek Ayam
21 Out Of Topic
22 Konferensi PERS
23 Sampai Zimbabwe Saja
24 Ada Setannya di UKS
25 Mana CPU?
26 Jigong Naga
27 Itu Simba
28 Dia Sebenci Itu, Kan?
29 Lihatin Lo ... Napas
30 Pembasmi Kutu
31 Awan Pipis
32 Sembur Angga
33 Lantaran Kancing Seragam
34 Dilempar Bunga Mau Gak?
35 Dedemit
36 Minuman Kaleng Doraemon
37 Mamam Wajah Ganteng Ayank
38 Mamam Wajah Ganteng Ayank
39 Aku Mau Jadi Pensil
40 Kokoroyok
41 Hirup Aroma Ketek Angga
42 Tadi Gue di Gigit
43 Fight 8 Fun
44 KUA
45 Jadi Givan? Omo!
46 Think-Think Hard
47 Di Kutuk Gak Sih?
48 Oca Awas Ada Zebra!
49 Jedag-Jedug
50 Ada CCTV
51 Kisseu, Kisseu, Popohe
52 Apa Givan ... Alien?
53 Gemoy Cekuli
54 Ada Asap! Ada Asap!
55 DEG! DEG! DEG!
56 ZOMBIE-ZOMBIEAN
57 Tapi Lo Lucu
58 Planet Hoka-Hoka
59 Halo. Halo. Halo
60 Mau Ke Racunan
61 Gak di Racun, Kan?
62 Takutnya Kaki Aku Copot
63 Cium Dulu, Gak?
64 Mm?
65 Gak Kesurupan, Kan?
66 Yeyegombel
67 Kuntilanak Jalan-Jalan?
68 Amplop Jackpot
69 Lo Tau Gak?
70 Jangan Gila!
71 Masih Lama!
72 Kiri? Maksudnya Angkot?
73 Gak Ada Gajah di Atas Gue!
74 Sales Chunky Bar
75 Ngereog Lo?
76 Berjiwa Koin Gope
77 Martabak Kerikil?
78 Roti, Roti, Roti.
79 Touching-Touching
80 'Si Kampret'
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bola Futsal
2
Tour Guide
3
Di Hukum
4
'OMG! First Kiss gue!
5
Cium Bel Pintu
6
Emang Aku Barang
7
Kuncir Rambut Angga 56
8
Kuntilanak Ikut Berteduh
9
Siluman Monyet
10
Kuntilanak Gak Tau Diri
11
Kepala Gue Ada Resletingnya Gak
12
Gue Sundul Lo Sampe Akhirat
13
Kumis Sama Jambangnya Keliatan
14
Bukan Anak Kandung
15
Bayar Dua Ribu Lebih Mahal
16
Patah Hati Bukan Patah Tulang
17
Udah Sultan Lo?
18
Bukit Bintang
19
Penghibur bin Buaya
20
Ketek Ayam
21
Out Of Topic
22
Konferensi PERS
23
Sampai Zimbabwe Saja
24
Ada Setannya di UKS
25
Mana CPU?
26
Jigong Naga
27
Itu Simba
28
Dia Sebenci Itu, Kan?
29
Lihatin Lo ... Napas
30
Pembasmi Kutu
31
Awan Pipis
32
Sembur Angga
33
Lantaran Kancing Seragam
34
Dilempar Bunga Mau Gak?
35
Dedemit
36
Minuman Kaleng Doraemon
37
Mamam Wajah Ganteng Ayank
38
Mamam Wajah Ganteng Ayank
39
Aku Mau Jadi Pensil
40
Kokoroyok
41
Hirup Aroma Ketek Angga
42
Tadi Gue di Gigit
43
Fight 8 Fun
44
KUA
45
Jadi Givan? Omo!
46
Think-Think Hard
47
Di Kutuk Gak Sih?
48
Oca Awas Ada Zebra!
49
Jedag-Jedug
50
Ada CCTV
51
Kisseu, Kisseu, Popohe
52
Apa Givan ... Alien?
53
Gemoy Cekuli
54
Ada Asap! Ada Asap!
55
DEG! DEG! DEG!
56
ZOMBIE-ZOMBIEAN
57
Tapi Lo Lucu
58
Planet Hoka-Hoka
59
Halo. Halo. Halo
60
Mau Ke Racunan
61
Gak di Racun, Kan?
62
Takutnya Kaki Aku Copot
63
Cium Dulu, Gak?
64
Mm?
65
Gak Kesurupan, Kan?
66
Yeyegombel
67
Kuntilanak Jalan-Jalan?
68
Amplop Jackpot
69
Lo Tau Gak?
70
Jangan Gila!
71
Masih Lama!
72
Kiri? Maksudnya Angkot?
73
Gak Ada Gajah di Atas Gue!
74
Sales Chunky Bar
75
Ngereog Lo?
76
Berjiwa Koin Gope
77
Martabak Kerikil?
78
Roti, Roti, Roti.
79
Touching-Touching
80
'Si Kampret'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!