Tanpa mengata kan apa apa, Givan membuka satu lengan jaket nya, meraih tangan kanan Echa dan memasuk kan tangan gadis itu ke sana.
Givan memutar tubuh Echa untuk menyampir kan jaket nya ke bahu kiri. Lalu dengan pengertian nya mengambil paper bag di tangan kiri Echa sambil memasuk kan tangan kiri gadis itu ke lengan jaket nya.
"Kok, kenapa?"
Maksud nya, kenapa Echa jadi di pakai kan jaket Givan?
"Gue mau ajak lo ke luar," jawab Givan dengan ringan yang sekarang berdiri di depan Echa.
Echa mengerjap ngerjap. Lalu teringat dengan motor Givan yang tampak nya sudah di siap kan untuk di pakai, yang di maksud Givan 'keluar' itu bukan hanya keluar dari rumah kan? Mereka akan naik motor dan pergi ke suatu tempat.
"Yuk," kata Givan yang baru saja mengunci pintu rumah nya setelah menyimpan paper bag berisi seragam nya di dekat sofa pintu. Kemudian, tatapan Givan jatuh ke bawah, ke celana pendek Echa yang nyaris tertutup di jaket nya.
Jika Givan menyuruh Echa pulang berganti celana dulu, rasa nya gadis itu mustahil keluar lagi.
Sementara itu, Echa masih bingung. "Bukan nya lo mau keluar sama cewek ya?" Tadi Echa sudah bertanya dan Givan ... mengangguki itu. Eh, iya tidak sih? Echa seperti mendadak lupa karena tiba tiba saja dia merasa gugup tanpa alasan yang jelas.
Dan Givan semakin memperparah ke gugupan Echa dengan senyum aneh nya sambil berkata. "Iya." Dia mengangguk mantap dan menunujuk Echa dengan dagu nya. "Kan cewek nya lo."
DEG!
DEG!
DEG!
"Beneran 'cewek' kan, lo? Gak berkumis dan berjambang?"
Aishh.
Sialan cowok itu!
***
Tau apa yang Givan bilang untuk membuat Echa naik motor nya? Laki laki itu bilang begini, "Bayar gue pake martabak telor karena gue udah pinjemin seragam itu."
Tanpa ada dugaan buruk apa apa dan karena Echa merasa harus berterima kasih. Dia menurut saja untuk naik ke motor Givan setelah memeriksa di saku nya ternyata ada selembar uang lima puluh ribu, cukup untuk membeli satu kotak martabak telor.
Tapi, begitu motor melaju keluar dari kompleks dan terus bergerak menjauh. Echa di buat bertanya tanya setiap kali Givan melewati tukang martabak di pinggir jalan.
Kenapa Givan tidak kunjung menepi dan berhenti? Kata nya, mau beli martabak.
Sampai akhir nya, ternyata memang bukan beli martabak tujuan Givan sebenar nya.
Tebak. Ke mana Givan membawa Echa malam malam tanpa persiapan itu?
Bukit Bintang.
Echa merasa baru saja di culik lewat pintu kemana saja.
Kayak nya Bukit Bintang merupakan salah satu destinasi wisata yang bisa menjadi pilihan untuk di datangi saat malam hari. Sesuai nama nya, dari tempat tingga itu mereka bisa melihat City Light Kota Bandung yang menabjuk kan, seolah ada ribuan bintang yang menyelimuti seluruh kota.
Pemandangan indah, bukan? Panorama alam berpandu dengan lampu kota itu, hampir membangkit kan suasana romantis.
Iya hampir. Suasana akan terasa romantis jika saja Echa berpakaian lebih baik, maksud nya datang ke sana bukan dengan celana sependek itu dan sandal jepit
Karena apa yang di pakai nya sekarang, Echa malah lebih fokus untuk merasa dingin dari pada mengagumi ke indahan malam yang di sajikan tempat itu.
Dari tempat motor Givan terparkir, Echa berjalan dengan kaki yang di usaha kan di buat rapat menahan dingin.
Lalu, tahu tidak apa yang di kata kan Givan saat melihat itu?
"Di bawa bagasi motor ada celana jas hujan, mau lo pake?"
Yang langsung di balas Echa sambil bersunggut sunggut. "Gak usah ngadi ngadi deh."
Ya, masa tidak turun hujan Echa malah pakai itu? Terlebih, celana nya saja. Orang yang melihat pasti akan ngakak brutal karena merasa aneh, sekaligus menyangka Echa ngompol di celana sampai harus pakai celana waterproof itu.
Sesampai nya di puncak, Givan mengajak nya duduk di sebuah bangku yang terbuat dari batang pohon. Melihat Echa yang masih merapat kan kaki nya tampak ke dinginan, menyisakan hoodie abu di tubuh nya. Kemudian dia menyelimut kan jaket jeans nya ke pangkuan Echa.
Gadis itu menoleh, dengan ekspresi bertanya tanya, "Serius?"
"Serius apa?"
"Serius lo akhir nya bersikap waras?" lanjut Echa dengan sarkastis.
Givan sedikit terkekeh. "Gue seburuk itu di mata lo?"
Echa ingin sekali menjawab: Iya! Buruk banget.
Tapi tidak tahu kenapa, kata kata itu hanya tertahan begitu saja di tenggorokan nya. Echa berdehem lalu melihat ke depan, melihat pemandangan lampu kota yang mengagum kan di bawah sana.
"Kenapa lo ajak gue ke sini?" tanya Echa pada Givan tanpa melihat nya. "Jangan bilang mau dorong gue sampai terjungkal ke bawah."
"Ya enggak lah." Givan terkekeh lagi.
Eh, udah dua kali ya, Givan terkekeh?
Kok bisa? Bukan nya cowok itu biasa nya kaku, jarang senyum, dan ya gitu. Sejak kapan bisa banyak terkekeh seperti ini?
Echa tidak sadar sampai menoleh kan wajah dan melihat Givan langsung, melihat laki laki itu yang tengah tersenyum di samping nya sekarang.
"Kenapa gue ajak lo ke sini? Gue gak tau," kata Givan pada akhir nya. "Gue bener bener gak tau. Tapi kalau harus gue jawab, jawaban nya cuman entah kenapa."
"Hah, apa sih?" Echa semakin merasa aneh. "Kesurupan gak sih? Coba sembilan di kali tujuh puluh?"
"Enam ratus tiga puluh." jawab Givan tanpa berpikir lama.
"Oh, bagus. Berarti gak kesurupan, mana ada hantu bisa ngitung."
Givan terkekeh lagi, ke tiga kali ya?
Echa merasa sedang melihat ke ajaiban Dunia mendapati Givan banyak terkekeh saat bersama nya.
Omong omong, alasan Givan kenapa mengajak Echa ke sini memang tidak tahu apa, benar benar entah kenapa.
Selain itu berkaitan dengan Echa, ada banyak 'entah kenapa' yang tidak bisa Givan jelas kan bahkan pada diri nya sendiri. 'Entah kenapa' yang mendorong Givan untuk melakukan banyak hal, 'entah kenapa' yang tidak datang sekali.
'Entah kenapa' yang muncul dan masih menjadi misteri tetapi mendasari keputusan nya, sejak awal.
Seperti 'entah kenapa' dia memutus kan ke Bandung setelah membayang kan wajah Echa di waktu sulit nya. Lalu, di hari pertama nya datang menjadi murid baru, dan mengetahui Echa ada di kelas yang sama dengan nya 'entah kenapa' dia mengganggu Echa duluan.
Bukan tidak peka, Givan tau Echa menghindari nya.
Jika ada yang mengata kan Givan mengganggu Echa karena alasan benci, jawaban nya bukan, itu salah. Givan bisa mengatan kan nya dengan tegas. Salah!
.
.
.
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments