Echa tahu kalau dia baru saja di permalu kan oleh ucapan Givan. Echa juga sangat tahu kalau sebab nya adalah aksi nya yang sangat memalu kan.
Iya, Echa tahu.
Harus nya setelah itu dia pergi saja, berlari secepat kilat kembali pulang, bukan malah mengikuti Givan masuk ke rumah nya dengan wajah yang memerah seperti ini.
"Simpen di meja." kata Givan dengan dingin, dagu nya menunjuk ke meja sementara Givan sendiri berjalan menuju ke kulkas nya.
"Sini." Givan memanggil Echa yang baru saja akan meregang kan tubuh setelah menyimpan kue dan kotak makanan yang di bawa nya.
Echa mengernyit. "Ngapain?" Givan tidak akan memasuk kan nya ke kulkas, bukan?
'Gak lah, konyol.'
Echa mendekati Givan dan berdiri di sebelah nya, kemudian Givan membuka kulkas nya dan mata Echa berbinar.
"Wah..... kulkas lo, kayak kulkas minimarket." kata Echa dengan kagum. Maksud nya, saking penuh nya setiap ruang di kulkas itu dengan berbagai macam makanan dan minuman. Echa terpesona, sampai tanpa sadar membungkuk kan dan memasuk kan wajah nya ke sana.
Siapa yang tadi menfitnah Givan akan memasuk kan Echa ke kulkas? Sekarang Echa memasuk kan diri nya sendiri ke sana.
"Ambil apa pun yang lo mau," ujar Givan membuat Echa mendongak.
"Hah?"
Kemudian kepala Givan meneleng sedikit, menunjuk bawaan Echa di meja.
"Gue gak punya nyokap yang bakal suruh gue balas anterin makanan ke rumah lo." tutur Givan membuat Echa tertegun.
Givan tidak punya Ibu?
Ah, kenapa harus di kata kan? Echa jadi merasa kasihan.
Tangan Echa mengibas di depan wajah nya. "Bunda menyambut ke datangan lo dan suruh gue anterin sesajen itu karena nanti dia mau nyuruh nyuruh lo."
"Sesajen?"
"Ya, maksud gue makanan itu. Anggap aja sesajen, Bunda kasih lo sesuatu, karena Bunda di masa depan dia mau banyak minta tolong sama lo." Echa menerang kan nya tanpa ragu ragu, memang Bunda nya berkata seperti itu, kan? "Anterin tupperware nya kalau udah habis, cuci nya jangan pake kawat, tapi pake spons, jangan ke gores."
Melihat Givan tidak mengata kan apa apa, Echa menganggap nya sudah mengerti. Dengan itu, urusan Echa di sini selesai. "Gue pulang."
Echa berbalik dan baru beberapa langka Echa berjalan, Givan memanggil nya. "Ola,"
Hah? Ola?
Saat Echa berbalik kembali, Echa melihat Givan melempar sesuatu ke arah nya. Tanpa benar benar melihat apa itu, Echa menangkap nya dengan sigap.
Sebatang cokelat yang dingin. Astaga, bisa manis sekali ternyata Givan ini.
Echa mengembang kan senyum nya. "Thanks -----"
"Buat Nyokap lo."
JLEB! Senyuman nya, hilang.
***
"Givan manis banget, ya?"
"Masa ke Bunda kasih cokelat?"
"Manis banget tau Echa!"
"Syirik ya kamu gak di kasih cokelat?"
PRANG
Echa sengaja menjatuh kan pengoles selai ke pirinh roti nya dengan keras lalu menatap Bunda tajam. "Seneng banget ya Bun di kasih cokelat sama Givan?" Echa bertanya dengan rasa tidak senang yang di tunjuk kan jelas.
Tidak peduli dengan itu, Bunda mengangguk sambil tersenyum lebar. Lalu menjawab, "Iya, ini pertama kali nya ada cowok yang kasih Bunda cokelat lagi selain Ayah kamu."
Astaga. Perlu tidak sih Echa melaku kan dosa pagi ini dengan melayang kan piring ke arah Bunda nya? "Ya iya lah siapa cowok gila yang mau kasih cokelat ke Ibu Ibu yang udah nikah dan udah punya anak segede ini?" Echa menunjuk nunjuk diri nya sendiri.
"Givan." jawab Bunda nya berdasar kan fakta.
Echa berdecak.
Sepulang dari rumah Givan semalem, Echa mendatangi rumah Bunda nya dan memberi kan cokelat itu ke Bunda dengan kesal sambil berkata. "Dari Givan, untuk Bunda yang cantik." Echa tidak tahu kalau Bunda akan bereaksi seperti ini.
Seharus nya sudah bisa di tebak. Echa menyesal.
"Bunda aku berangkat ah," kata nya sambil berdiri. Menyambar tangan Bunda untuk menyalimi nya lalu merampas kunci motor dari meja.
Masih lapar sebenar nya, butuh sekitar tiga keping roti lagi. Susu cokelat nya juga belum di minum sepenuh nya sampai habis. Tapi, dia sudah kepalang muak mendengar Bunda terus berceloteh tentang Givan.
"Tau gak sih Bunda kalau gue di hukum gara gara cowok sialan itu?" rutuk Echa yang sudah memakai helm dan duduk di motor nya, dia memasuk kan kunci dan memutar nya. Lalu, menekan tombol starter.
Harus nya, menyala tapi sekarang?
Mesin nya hanya bergumuruh tidak jelas.
"Ih, kok," protes Echa yang perasaan nya mulai tidak enak.
Mendengar itu Bunda ke luar dia mengernyit melihat Echa yang masih memaksa kan motor nya harus menyala.
"Udah, udah, jangan di paksa," kata Bunda sambil memukul mukul tangan Echa sampai Echa meringis ke sakitan dan turun. "Papa udah bilang kemaren kalau motor kamu harus di service."
"Terus kenapa gak service?" Echa merengek, rasa nya ingin menangis saja.
"Ya, kapan mau service? Siapa yang anter motor nya ke bengkel? Terus kamu juga pake tiap hari ke sekolah?" balas Bunda.
Echa merasa sedang di marahi, padahal dia sedang kesal. "Bunda ih, sekarang gimana aku ke sekolah?" kalau motor nya tidak menyala pagi ini, iya bagai mana dia harus ke sekolah? Order ojek online juga sudah terlalu mendesak.
"Kenapa tante?" suara itu terdengar dari dekat mereka. Echa dan Bunda melihat ke sumber suara, jika Bunda menampak kan ekspresi yang bahagia seperti baru saja mendapat sambutan tangan malaikat, Echa mendengus dan memutar tubuh nya lagi.
"Ini Givan, motor nya Echa gak mau nyala," kata Bunda sambil menunjuk motor berwarna putih dah merah muda yang biasa Echa gunakan ke sekolah, senada dengan helm nya.
"Coba aku lihat," kata Givan lalu mendekat.
"AKU," cibir Echa keras keras saat Givan melintas ke depan nya. Tapi seolah tak mendengar, Givan hanya mengecek motor Echa saja.
Setelah melaku kan beberapa kali percobaan dengan kick starter dan tetap tidak menyala, Givan menyinpul kan, "Kayak nya turun mesin, harus service."
Bunda mengangguk. "Jadi gak bisa di pake, ya?"
"Bisa Bun di pake, tapi di dorong." Echa mendengus. Basa basi Bunda nya ini, nyala saja motor nya tidak.
"Ya udah, titip Echa sama kamu, ya?" kata Bunda pada Givan membuat kedua anak yang mendengar nya sama sama terkejut dalam diam.
"Titip, Bun?" tanya Echa. "Emang aku barang."
Tak peduli dengan perkataan Echa, Bunda melanjut kan bicara nya pada Givan. "Susah soal nya oder ojek online pagi pagi di sini, kalau naik angkot nanti dia keringetan harus jalan dulu. Gak apa apa ya, titip sama kamu dulu?"
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Neni Syafitri
ceritanya,,, blm seru,,, msh rasa benci dan kesal yg ada
2024-11-25
0
SeptiGunarto22
kok sepi bgt komennya kek kuburan padahal ceritanya asik lucu ringan gini loh.... semangat ya Thor nulisnya ❤️❤️
2023-01-12
1