Pagi ini, Echa berlari ke arah nya yang baru saja menaiki motor nya sendiri. Benar benar baru naik, mesin nya belum nyala.
Dalan balutan cardigan rajut biru dan rambut yang terurai berantakan, gadis itu merapat kan kedua tangan di depan wajah nya yang terlihat panik.
"Gue nebeng sama lo, ya?" Itu kata pertama yang di ucap nya. "Gue bakal bayar lo dua ribu lebih mahal dari ongkos ojol," kata nya dengan sangat sangat memohon.
Sebelum Givan mengata kan sepatah kata, Echa sudah kembali berbicara lagi.
"Gue lagi pesen ojol." Echa memperlihat kan layar ponsel nya, riwayat chat dengan pengemudi ojek online yang tidak begitu jelas. "Tapi, motor driver nya malah bermasalah. Gak tau lah mogok, atau motor nya lagi mager, pokok nya gue nebeng sama lo, ya? Plis banget ini udah telat kalau gue harus cari driver lain lagi."
Givan tidak mengangguk, tapi mendelik kan dagu nya ke belakang. "Naik," kata nya singkat, dan berhasil membuat ke panikan dari wajah Echa hilang seketika.
Gadis itu meraih tangan kanan Givan, kemudian menabrak kan punggung tangan nya ke dahi Echa sendiri berulang kali, sambil bilang, "Makasih, makasih, makasih."
Entah Echa menyadari tingkah nya sendiri atau tidak, yang pasti Givan merasa ada sesuatu yang menggelitik di perut nya saat Echa melakukan itu.
Menggemas kan sekali, ya?
"Pegangan," kata Givan setelah merasa kan kalau Echa sudah naik di belakang nya. Lalu, Givan menyala kan mesin motor nya.
"Udah," jawab Echa membuat Givan mengernyit, dia tidak merasa kan apa apa, tapi Echa bilang sudah berpegangan? Ke mana?
Givan sampai membalik kan badan nya untuk melihat nya sendiri, dan dia mendapati kedua tangan Echa memegang besi di belakang jok.
"Ayo," kata Echa yang mereka sudah berpegangan.
"Mau ke jungkal sampai ke akhirat?" pertanyaan Givan membuat Echa mendengus, merasa di sindir.
"Oke, oke." Echa kemudian memegang masing masing sisi jaket Givan.
***
Setelah turun dari motor Givan dan berdiri, Echa merasa kan kedua lutut nya gementar hebat. Cukup lega akhir nya dia sampai di sekolah dengan selamat, bukan menghadap Tuhan.
Pegangan di ujung jaket Givan berubah menjadi pelukan erat di jalan saat Givan melakukan motor nya di atas kecepatan biasa.
Echa tidak bisa melontar kan banyak makian meski ingin, karena selepas mereka melewati gerbang kedua, gerbang itu langsung di tutup rapat. Arti nya telat satu detik saja, mereka alamat masuk ruang BK untuk menulis nama di sana.
Inti nya, keputusan Givan untuk ngebut itu tepat.
"Thanks," kata Echa sambil melepas kan helm nya dan memberi kan itu ke Givan. "Gak bisa gue meninggoy di jalan."
Selepas melihat anggukkan Givan, Echa mengayun kan langkah memasuki gedung sekolah duluan. Tentu dia cukup tahu untuk tidak berjalan bersama dengan Givan bersebelahan. Bisa bisa kalau ada anak kelas SESAT yang melihat, dia di ceng-in habis habisan.
Namun, entah perasaan nya saja atau bukan Givan seperti berusaha menyama kan langkah dengan nya. Seperti berusaha untuk berjalan di sebelah nya.
Benar tidak sih? Saat Echa melangkah lebih cepat, Givan juga melangkah lebih cepat.
"Oh iya," kata Echa teringat sesuatu. Dia menghenti kan langkah nya di dekat tangga dan Givan mengikuti nya juga, berhenti. "Bentar." Echa mengambil beberapa lembar uang dari saku kemudian menyimpan itu di tangan Givan.
Dia sudah janji sebelum nya akan membayar Givan untuk perjalanan tadi, tak lupa dengan lebih dua ribu rupiah yang dia katakan. Mungkin itu sebab nya Givan mengejar, pikir Echa.
"Lunas ya?" Echa menunggu Givan mengangguk, tapi laki laki itu tidak kunjung melakukan nya. Malah melihat Echa dengan senyum aneh, senyum miring? Mencibir? Atau apa itu sih? Aneh sekali pokok nya. "Gue kan tadi meluk lo karena gak mau mati, lo ngebut sih."
Perkataan terakhir Echa membuat Givan tampak menahan tawa nya. "Jadi lo mau bilang kalau lo gak mau bayar itu?"
"Iya." Echa bilang begitu lagi, membuat Givan melepas kan kekehan pelan.
"Peluk bayar nya pake peluk juga dong." kata Givan membuat Echa mengata kan 'Heh?!' keras keras tanpa sadar sambil melotot.
"Apa sih? Otak lo tadi terbang di jalan apa gimana?" Echa menggeleng geleng kemudian melanjut kan langkah nya lagi menaiki tangga.
Dia berjalan terus tanpa memperhati kan ke depan. Dia masih merasa Givan sangat aneh, benar seperti perkataan nya barusan. Otak Givan terbang atau bagai mana? Tapi ya sudah lah, Echa tidak ambil pusing. Terserah Givan dari ujung rambut sampai ujung tulang ekor.
Sampai di belokan tangga, karena jalan sambil terus mendumel tipis tipis dalam hati, dia bertabrak kan dengan seseorang yang akan turun.
Echa yang ke hilangan ke seimbangan nyaris akan jatuh di tangga, beruntung Givan yang ada di belakang dengan sigap menahan tubuh nya, membuat beban tubuh nya sekarang bersandar sepenuh nya pada Givan.
Sementara orang yang menabrak itu meminta maaf sambil lalu dan pergi, Echa kini masih terdiam dengan punggung yang bersandar di dada Givan, tidak langsung masih terhalang tas. Tapi tetap saja, cukup membuat Echa terpaku lama sampai Givan membantu nya kembali berdiri tegak.
"Oke hutang peluk nya lunas," kata Givan setelah nya, membuat Echa merasa jantung nya berdentum keras.
"Ehem," suara deheman itu membuat Echa terlonjak, dia melihat Angga muncul sambil melihat ke sebarang arah. "Di jalan liat yang peluk pelukan, di tangga peluk pelukan lagi. Manusia manusia hari ini pake lem UHU sebadan badan apa gimana ya? Nempel mulu, heran."
.
.
.
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aina Aina
kampret emang si Angga tu
2022-12-04
2