Echa menunggu perkataan selanjut nya dari Bunda. Tapi, Bunda tidak kunjung mengata kan apa apa, lalu setelah itu menggeleng begitu saja.
Eh, kok?
Echa merasa di tinggal kan di saat saat kentang.
"Gak jadi deh kasih tau nya," kata Bunda memperjelas. "Nanti kamu jadi sayang lagi sama Givan."
Sayang?
***
Sebenar nya apa sih yang terjadi waktu itu? Alasan yang membuat Bunda nya tidak jadi melanjut kan ke marahan nya atau membenci Givan padahal sudah jelas melempar bola futsal ke wajah nya.
Semalaman Echa memikir kan nya dengan cukup serius. Dia penasaran juga. Sampai akhir nya dia membuat dugaan yang sedikit konyol, tapi itu memiliki ke mungkinan terjadi.
Dugaan pertama, apa Givan mencuci otak Bunda di ruang guru, dengan cara seperti menghipnotis?
Dugaan kedua, apa Givan menggoda Bunda dan membuat Bunda nya---- jatuh cinta pada Givan?
Eh, itu mungkin tidak sih?
Tapi, mengingat Bunda nya yang pernah dengan terang terangan fangirling ke Givan---- iya! Ingat hari pertama Givan pindah? Bunda nya sangat ke senangan, sampai membuat kan nya brownies cokelat.
Di pikir pikir aneh juga sikap Bunda nya pada Givan yang menyambut nya sampai semeriah itu.
Di tambah sayang yang sering di sebut Bunda, sayang nya Bunda pada Givan itu, sayang sebagai apa maksud nya? Anak atau----
Di jam kosong di kelas hari ini, sambil menggigiti ujung pulpel nya, Echa melihat Givan yang duduk di depan. Givan yang sibuk berkutat, entah pada apa tepat nya.
Dia jadi ngeri sendiri dengan dugaan kedua yang dia miliki.
"Liatin aja terus sampe kepala nya bolong," celetuk Angga dari ujung kelas membuat Echa mendengus. Lalu, Echa menoleh hanya untuk melempar tatapan sinis pada Angga yang terkekeh di sana tanpa suara.
Setelah Echa puas mengintimidasi Angga, Echa baru menyadari kalau dia juga sedang di tatap.
Cukup sinis.
Oleh Zia.
Ah, iya. Echa lupa. Dia sampai sekarang belum menjelas kan apa apa tentang 'peluk peluk' yang di ucap kan Givan kemaren, yang sudah mengheboh kan satu kelas.
"Kenapa?" tanya Echa pura pura bodoh.
"Udah bisa mangap sekarang?" tanya Zia terdengar sangat sarkastis.
Echa mengangguk.
Kemaren dia membungkam mulut nya rapat rapat menghindar dari serangan Zia. Sekarang dia tidak bisa melakukan itu lagi.
***
Waktu istirahat di kantin Echa duduk di depan Zia dan Alkana, Si Ketua Kelas yang Zia seret untuk duduk satu meja dengan nya.
Jika Zia adalah teman Echa dari kecil yang tinggal satu komplek di Perumahan Puri Melati -sebelum pindah tiga tahun lalu. Alkana ini teman Echa dan Zia sejak SMP. Mereka dekat, bahkan Alkana tau kalau Echa pernah di sebut Tweety waktu SD dan wajah nya pernah di lempar bola futsal oleh anak laki laki.
Al tau sebatas itu, sampai kemaren Zia akhir nya memapar kan detail identitas Si Anak Laki Laki itu adalah Givan, anak baru yang jadi teman sebangku Al sekarang.
Balik lagi, kenapa Al ikut di seret ke sana. Ya karena Al juga sama kepo tentang itu. Al ikut duduk di sana untuk ikut mendesak Echa kalau kalau gadis itu masih bungkam.
"Ada apa sih di komplek terbelakang Puri Melati? Lo gak bikin skandal kan?" tanya Zia yang membuat Echa berdecak keras.
"Skandal apa sih?"
"Kayak kucing kawin, kejar kejaran terus tumpang tindih di tengah jalan sama tetangga baru lo."
"Zia!" Echa benar benar memelototi nya sekarang, jika tangan nya sampai dia ingin menarik kuncir rambut Zia karena kata kata liar yang baru saja terucap itu. "Lo, astaga. Harus banget perumpamaan nya kucing kawin yang di jelasin banget tumpang tindih nya? Iuh."
"Ya, abis nya apa? Lo jelasin gak? Gak, kan? Ya bebas lah gue menyimpul kan."
"Gue kan baru narik nafas," kata Echa mengulur waktu sebenar nya. Dia masih tidak tau bagai mana harus menjelas kan rentetan ke jadian malam itu, mulai dari dia yang berlari ke rumah Givan karena gelap, hujan, sendirian, dengan rasa takut karena memikir kan Kuntilanak berteduh di rumah nya. "Itu gak sengaja, gue ...."
"Definisi 'gak sengaja' tuh peluk peluk nya sampe dua kali, ya?" tanya Zia lagi membuat Echa semakin meringis. "Sambil makan mie?"
Givan sialan itu menyebut nya secara rinci, dua kali nya dong, ikut di umum kan juga. Echa mengedar kan pandangan nya ke seluruh penjuru kantin, mencari wujud Givan, jika dia menemu kan nya sekarang mungkin Echa akan menenggelam kan wajah laki laki itu ke panci bakso.
Sayang nya tidak, Givan tidak ada di sana.
"Jelasin aja kali," kata Al dengan gampang nya. "Gue mau tau, cowok kaku kayak dia kalau pelukan pantat nya nungging gak?"
Lah? Sempat sempat nya di saat terpepet Echa tertawa karena membayang kan visual Givan berdasar kan deskripsi yang baru di sebut kan Alkana.
"Cha!" Zia memukul meja sekaligus membuat Echa mengatup kan mulut nya.
"Ya udah deh." Echa tidak memiliki pilihan lain, dia harus menjelas kan nya sekarang.
Setelah penjelasan panjang lebar nya, mereka malah tertawa. Menertawa kan Echa berkat ke percaya konyol yang membawa nya pada ke sengsaraan itu.
"Mangka nya kalau parnoan tuh gak usah sok nonton konten horos, napa sih?" kata Al di tengah tawa nya yang masih tersisa.
"Lagian lo, emang cuman Givan aja yang tetangga lo?" tanya Zia masih sambil tertawa. "Lo gak ke pikiran buat ketuk pintu rumah tetangga lain gitu, seandai nya harus ngungsi banget dari rumah lo yang jadi tempat neduh Kuntilanak?" tanya Zia yang mesih belum puas membuat Echa mengingat setiap detail yang terjadi malam itu.
"Zua, sini pindah duduk nya ke sini," kata Echa sambil menepuk kursi sebelah nya.
Zia menurut, dia pundah ke samping Echa. "Nih lihat di kepala gue ada resleting nya gak? Kalau ada buka aja, terus lo puas puasin tanya otak gue, kenapa dia memerintah sekujur tubuh gue untuk lari ke pintuh rumah Givan malam itu." Echa mendorong dorong kepala nya kepada Zia yang tertawa tawa.
Alkana di seberang nya semakin tertawa mendengar dan melihat tingkah bengek Echa.
Tak sampai sana, Echa masih melanjut kan ke kesalan nya.
"Udah nemu belum resleting nya? Buka aja, boleh kok boleh banget. Ambil kalau perlu otak gue, di jadiin seblak otak otak ceker dinosaurus level jahanam, biar lo kenyang sekalian."
.
.
.
...Bersambung......
^^^Happy Reading🤗 Jangan lupa buat dukungan nya. ^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aina Aina
baru di novel ini aku jadi yg pertama kasi komentar
2022-12-04
1
Aina Aina
sumpah ngakak bemanget Thor aku suka
2022-12-04
1