"Ini Lab Sains, tapi kita gak akan ke sini. Kita anak IPS," jelas Echa sambil menunjuk pintu yang jelas tulisan nya Laboratorium.
"Mm." Givan hanya mengangguki nya saja. Melihat sebentar kemudian fokus nya kembali tertuju pada ponsel, membuat Echa merasa apa yang di lakukan nya sekarang terasa sia sia.
"Barang kali lo gak tahu ada di kelas IPS berapa. Kita anak sebelas IPS satu," tambah Echa lagi saat mereka melewati lorong panjang yang di kanan dan kiri nya merupakan jajaran ruang kelas sepuluh. "Lo tahu gak nama kelas nya apa kalau di singkat?"
Givan tampak tidak tertarik, dia tak menoleh. Tapi Givan menanggapi nya, "Apa?"
"Kelas SESAT," kata Echa. "SEbelas sosial SATu," jabar nya. Kemudian mengecek exspresi wajah Givan. Tertawakah laki laki itu saat mendengar singkatan nama kelas nya yang sedikit konyol?
Tidak.
Tidak tertawa.
Hanya ada anggukan, lalu tidak ada suara apa apa lagi.
Echa jadi malu sendiri. Dia merutuki diri nya.
'Harus nya diem aja deh, gak usah banyak bacot.'
Di depan dua pintu besi berwarna abu, Echa segera menunjuk nya. "Ini lapang indoor, lapang outdoor nya... tadi udah kita lewatin kan?"
"Udah," ucap Givan tanpa melihat nya.
Echa mengangguk. "Di sana bisa main futsal, ada bola lengkap sama gawa nya." Jadi, sekira nya mau tendang tendangan di sana jangan ke wajah gue.
Echa hanya berani mengata kan kaliamat terakhir dalam hati nya.
Kemudian lama ke lamaan Echa merasa resah sendiri. Melihat Givan yang tampak tidak tertarik dengan tour ini. Echa ingin bertanya, apa tour nya sudah cukup atau belum? Tapi, dia agak tidak berani.
"Ada yang mau lo tanyain?" Echa memperhalus nya.
Langkah Givan terhenti membuat Echa ikut berhenti juga. Mereka bertatapan selama beberapa saat kemudian, Echa yang menjadi pertama memutus kan tatap dengan melempar padangan ke arah lain.
"Lo tetangga depan rumah gue, kan?" tanya Givan seraya mengambil satu langkah maju, membuat Echa refleks mengambil satu langkah mundur.
Punggung nya menempel pada tembok.
"Iya," jawab Echa dengan gugup.
"Niscala Rescha?" Givan mengangkat sebelah alis nya. "Itu nama lo?"
Echa mengangguk lagi.
"Bebek kuning?" tanya Givan lagi.
Ha? Apa? Echa mengerjap sekali.
Sementara Givan melihat nya dengan mata menyipit, "Tweety?"
Lalu, ada senyum samar di wajah Givan yang tampak aneh. Sebelum akhir nya Givan kembali menegak kan tubuh dan memasuk kan tangan nya ke saku.
Echa baru sadar kalau sejak tadi Givan mencondong kan tubuh ke depan nya. Pantas saja, Echa merasa mereka sangat dekat tadi. Echa kira koridor yang menyempit.
"Lo yang pernah gue melempar pake bola futsal, dulu?" tanya Givan lagi, membuat Echa tak berkutik.
Pertanyaan ini, harus di jawab seperti apa oleh Echa?
"Hei, kalian sedang apa di luar kelas?"
Suara sentakan itu membuat Echa terlonjak. Baik Echa mau pun Givan sama sama menoleh ke sumber suara, mereka melihat seorang guru laki laki berkemaja biru muda melangkah mendekat, Pak Ridwan.
"Ini Pak, saya kan lagi----" penjelasan Echa tidak tuntas. Karena tangan nya di tarik tiba tiba oleh Givan, lalu di bawa lari.
Kaki Echa terus bergerak sementara wajah nya memasang ekspresi bingung, kok mereka harus berlari sih?
"Mau ke mana kalian?" teriak Pak Ridwan yang semakin jauh di belakang nya, masih mengejar dan berteriak teriak.
Echa tidak menjawab karena tidak tau mau ke mana juga, dia hanya ikut berlari saja, masih dengan bingung. Lalu tangan nya di tarik Givan menaiki tangga, belok di kiri sekali dan berhenti di depan sebuah pintu dengan tulisan. 'Gudang.'
"Mau apa----"
Lagi lagi perkataan Echa tidak tuntas, Givan membuka pintu nya dan mendorong Echa masuk lebih dulu. Lalu diri nya ikut masuk kemudian. Saat Echa akan bertanya lagi, mulut Echa di bungkam oleh tangan Givan. Sementara mata Givan bergerak menujuk ke pintu.
Suara derap langkah terdengar bersama dengan teriakan Pak Ridwan. Echa melihat nya sedikit lewat jendela, Pak Ridwan melintasi gudang dan pergi menjauh.
Baru setelah itu, Givan menjauh kan tangan nya dari mulut Echa. Givan melihat poni Echa yang berantakan karena tadi dia bawa berlari. Tanpa sadar, tangan Givan terangkat untuk----
"Udah boleh nanya nih?"
Suara Echa membuat Givan kembali sadar, mengepal kan tangan lalu memasuk kan kembali tangan nya ke saku celana sambil mengangguk. "Sure,"
"Kenapa lo ajak gue lari?" tanya Echa pertama. Belum pertanyaan itu di jawab, Echa sudah mengajukan pertanyaan lagi. "Kenapa kita masuk ke sini?"
"Lari kerena guru tadi ngejar. Kita masuk ke sini, karena guru tadi ngejat. Sama alasan nya."
Echa berdecak, jawaban macam apa itu? Mengerti tidak sih Givan dengan konteks pertanyaan?
"Maksud gue----"
BRAK
Pintu terbuka tiba tiba membuat kedua nya terperanjat. Ada Pak Ridwan yang berdiri di sana, melihat mereka dengan tatapan tajam sambil memukul mukul kan penggaris kayu ke tangan nya.
"Kalian, ikut saya ke ruang BK!"
***
Sialan!
Echa ingin meneriak kan kata itu keras keras.
Jadi begini. Bu Dewi tidak pernah kembali ke kelas setelah Echa dan Zia pergi ke toilet. Apa lagi meminta Echa menjadi tour guide sekolah untuk Givan.
Itu semua adalah kebohongan Givan!
Pantas saja, itu terasa janggal!
Pak Ridwan mengejar? Jelas, karena mereka kedapatan membolos saat jam pelajaran nya.
Setelah masuk ruang BK dan mendengar wejangan dari Pak Ridwan sekitar sepuluh menit, Echa dan Givan mengayun kan langkah nya ke lapangan upacara.
Untuk apa? Tentu saja untuk menjalani hukuman.
Sekarang di sana lah mereka berada. Berdiri bersebelahan di bawah terik matahari yang hampir berada di atas kepala, sambil menghormat kepada bendera yang menginbar di atas sana.
Echa mencuri lirik ke samping, melihat sinis Givan yang belum mengatakan apa apa sejak kebohongan nya di bongkar di ruang BK. Echa sedang menunggu, Givan meminta maaf atau menjelas kan sesuatu, tapi tidak ada tanda mulut laki laki sialan itu akan terbuka.
"Heh!" Echa menyenggol nya sedikit dengan siku. Berhasil membuat Givan terusik dan melihat nya.
"Apa?"
Echa melirik sekitar, memasti kan tidak ada yang mengawasi. Kemudian Echa menurun kan tangan yang menghormat untuk mendorong sedikit bahu Givan sampai laki laki itu berhadapan dengan nya.
"Apaan sih maksud lo?" suara Echa meninggi.
Mana Echa yang ketar ketir tadi pagi?
Lenyap. Ke kesalan nya membuat Echa berani.
Namun, tidak peduli setajam apa tatap Echa, Givan masih membalas menatap nya datar. Masih. Givan masih belum terlihat menyesal karena sudah membuat mereka di hukum.
"Maksud apa?" tanya Givan.
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments