Jika begitu---
"Kuntilanak nya ada di depan gue sekarang."
Satu detik.
Dua detik.
Echa masih mencerna. Masih belum memutus kan untuk takut atau merasa kan apa. Sebelum akhir nya, saat perkataan Givan sudah tercerna dengan baik, saat menyadari kalau yang ada 'di depan' Givan itu adalah Echa sendiri, baru Echa mengumpat, "Sialan."
Jadi, maksud nya Echa kuntilanak yang masuk ke rumah Givan?
"Echalanak." tambah Givan lagi sambil tersenyum miring, sebelum akhir nya memejam kan mata nya kembali.
Echa memutus kan untuk tidak berbicara lagi. Dia hanya ingin listrik cepat menyala, dan dia bisa kembali pulang ke rumah nya.
Di tengah hening di ruang itu, tiba tiba saja suara perut Echa terdengar paling kencang. Echa reflek menahan nafas tapi tidak ada yang terjadi. Suara perut nya tetap terdengar sampai berhenti, ketika waktu nya berhenti.
Echa lapar.
Dia belum makan sejak pulang sekolah. Lalu, kulkas Givan yang penuh makanan -seperti kulkas pajangan barang di minimarket- tiba tiba saja terbayang.
Givan tidak mau menawari nya makanan gitu, pada gadis yang bertamu di tengah malam hujan seperti kuntilanak ini?
"Hei," panggil Echa, berharap Givan membuka mata dan menawari nya mie instan. "Lo gak laper?"
Satu gelengan dari Givan, berhasil membuat Echa ingin kayang.
Echa tidak akan berbasa basi lagi karena dia tidak mau mati. "Oke gue mau ngelunjak," kata Echa sambil berdiri.
Dia berhasil membuat Givan membuka mata dan melihat nya dengan malas, lagi.
Baik Echa, jangan sia sia kan perhatian Givan yang sangat mahal itu.
"Gue beli makanan di kulkas lo, besok uang nya."
Jika ada lampu yang menyorot ke Echa sekarang, sudah di pasti kan Givan akan melihat wajah Echa yang merah padam.
Echa tidak pernah berpikir kalau dia akan benar benar mengambil makanan di kulkas Givan seperti membeli makanan dari kulkas minimarket.
Givan berdiri dari sofa dan berjalan pergi ke dapur.
Melihat itu, Echa mengikuti nya segera Echa berjalan di belakang Givan.
Echa baru menyadari kalau dia terlalu fokus mengamati punggung Givan, tepat saat Givan berhenti dan wajah Echa menabrak punggung nya dengan sangat keras.
"Aish."
"Gak sekalian peluk pelukin aja?"
"Heh!" reflek tangan nya memukul punggung Givan dengan keras. "Gue gak semesum itu, ya?"
Givan membalik kan badan dan membuka pintu kulkas nya. "Oh ya? Selain bibir gue, lo juga mau cium tombol bel di depan pintu gue."
Echa meringis, kenapa semua nya di bahas di saat yang sama? Dan di kolerasi kan begitu. Jadi terdengar seperti argumen yang saling mendukung untuk membuat Echa terlihat ... beneran mesum.
"Lo tau gak sih waktu itu ada papan tulis yang turun di tangga?" tanya Echa sungguh sungguh, padahal dia sangat yakin Givan tahu itu. "Barang kali mata lo udah ke tutupan balon lope lope, gue kasih tau, ya. Waktu itu punggung gue di tabrak papan tulis! Mangka nya gue-----" cium lo. Harus banget di jelas kan lagi begitu?
Dan Givan, hanya tersenyum melihat Echa yang misuh misuh di depan nya. Kemudian Givan mengedik kan kepala nya ke kulkas, yang sudah terbuka lebar. "Selamat datang di Givan Mart, ada yang bisa saya banting?"
"Ada, otak lo. Banting sana sampe ke inti bumi."
Setelah mengata kan itu, Echa menunduk di depan kulkas, mangambil snack pengganjal perut dan terdiam lama. Snack itu Echa tahu harga nya kalau tidak salah lima ribu seratus di etalase minimarket. Setelah Echa melihat lihat bungkus nya, berat bersih yang tercantum hanya 22gr.
Sedang kan, Echa sangat lapar sekarang. Ini tidak akan cukup. Echa butuh makanan yang lebih berat.
"Boleh masak mie rebus gak sih?" tanya Echa menahan malu dan gengsi nya sambil melihat Givan.
Beberapa detik lalu, Echa mulai emosi dan mengumpat untuk membanting otak Givan ke inti bumi. Sekarang, entah lah urat malu nya seperti berhasil di putus oleh rasa lapar nya.
"Sure," kata Givan dengan ringan.
Jika Echa sangat harus memberi label pada Givan. Rasa nya Echa akan bingung, apa dia harus memberi Givan label setan? Atau malaikat?
Givan menyebal kan dan baik di saat yang sama. Givan ini, mungkin, manusia setengah mateng?
Omong omong berkat -setengah- ke baikan hati Givan. Echa berhasil menuntas kan rasa lapar nya dengan semangkuk mie yang dia masak di dapur Givan, masih dalam keadaan gelap. Untung nya, Givan menyala kan beberapa lilin di sana.
Tuh kan, Givan baik?
Echa berdehem ringan. "Thanks," kata nya pada Givan di seberang meja makan yang baru saja selesai menghabis kan semangkuk mie juga, wajah nya tersorot cahaya dari lilin yang ada di tengah mereka.
Givan hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan Echa. Saat Echa baru akan bilang kalau dia mau mencuci piring untuk berterima kasih, Echa merasa kan ada sesuatu yang sangat berbulu bergerak gerak di dekat kaki nya.
Tunggu, apa ini? Kaki Givan? Se-berbulu itu?
Echa kembali melihat Givan yang ada di depan nya. "Van," panggil Echa yang masih merasa kan sesuatu yang berbulu itu bergerak gerak di kaki nya, ini apa sih?
Givan sedang menggoda nya apa gimana? "Kaki lo kok berbulu banget sih? Lo manusia, kan? Bukan monyet?"
"Siluman monyet, mungkin?" celetuk Givan seraya sendiri.
Tunggu, Givan sudah berdiri. Sementara yang berbulu dan bergerak gerak masih terasa di kaki nya.
Jadi apa kah ini jika bukan kaki Givan?
Lalu sesuatu yang sedikit basah dan kasar menyentuh betis nya dari bawah ke atas. Tanpa menduga duga lagi, Echa menjerit dan berdiri secepat mungkin.
Kemudian...
Memeluk Givan! Yang berdiri di sisi meja dan baru akan mengambil mangkuk mie bekas pakai mereka.
"Huaaa, apa itu? Apa itu? Apa itu?"
Givan memdesis, dia menunggu sampai Echa menyadari situasi mereka, posisi nya, baru setelah Echa terlihat lebih tenang, dia bertanya.
"Reflek lo, luar biasa ya? Kalau kaget, suka meluk melukin orang?"
***
Kucing
Givan memelihara kucing.
Bisa tidak sih Givan menjawab pertanyaan sederhana Echa tentang sesuatu yang berbulu itu dengan tatanan kalian, "Mungkin kucing gue."
Jika jawab nya seperti itu, mungkin akan selesai sampai sana. Echa tidak akan begitu terkejut saat kucing ras persia berwarna abu itu menjilat kaki nya, dan berakhir memeluk Si Cowok Sialan itu.
Baru tiga hari Givan pindah ke depan rumah nya, sekaligus pindah ke sekolah nya, interaksi fisik mereka sudah memasuki tahap amazing amit amit sekali.
Echa bergidik saat mengingat semua nya.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments