Di kelas Sebelas Sosial Satu, di saat murid murid tengah sibuk mencatat materi sosiologi, tiba tiba saja Angga datang ke bangku Zia dan Echa. "Minta tissu dong Zia cantik."
Zia mengeluar kan kotak tissu kecil dari saku nya, memberi kan itu pada Angga lalu kembali melanjut kan mencatat.
Tidak menghirau kan Echa yang menatap nya sinis, Angga menempel kan selembar tissu yang baru di cabut nya dari kotak kecil itu, ke jidat nya sendiri.
"E, e, eh, liat deh Zi. Tissu nya NEMPEL dong ke jidat gue. Sulap gak? Sulap gak?" Angga tampak antusias sambil mencari perhatian Zia, dan mungkin orang di sebelah nya.
"Apa sih, Tulil. Ya kalau jidat lo keringetan, pasti tissu nya bakal nempel lah," decak Zia yang merasa terganggu.
"Yah ... gue bisa sulap karena tissu nya bisa NEMPEL du jidat tanpa di pegang." kata Angga sok merasa sedih.
"Sulap, sulap, pantat lo mengkilap baru lo bilang sulap," gerutu gadis itu sambil kembali menulis.
Angga terkekeh sendiri. "Kok bisa ya NEMPEL?"
Echa tidak terlalu polos untuk tidak peka kenapa Angga selalu menekan kata 'nempel' di setiap ucapan nya. Dia masih menahan diri. Sampai sepuluh menit kemudian suara Angga kembali terdengar dari ujung kelas.
"Eh ada cicak NEMPEL di jendela. Lucu banget perut nya, kucik kucik."
Dan lima menit setelah itu.
"Ri apa ya enam abjad, sesuatu dengan sesuatu yang melekat di sebut?"
"TTS?" tanya Rido, yang mendapat anggukan langsung dari Angga. "Huruf pertama?"
"N belakang nya L."
"Nempel?" Rido tidak yakin.
Angga tersenyum lebar lalu mengangguk nganggukan kepala nya dengan kencang. "Oh ya NEMPEL."
Baik, Echa sudah ke habisan stok sabar, dia menyimpan alat tulis nya lalu berdiri di bangku nya. "Angga!" teriak nya memancing perhatian seisi kelas. "Lo berhenti berisik deh! Sekali lagi gue denger suara nafas lo, gue bikin pipi lo nempel ke pusar selama nya."
Anak anak lain tertawa mendengar itu, termasuk Givan yang mendengar nya cukup jelas karena duduk di depan Echa.
Lalu, Rido bertanya di sisa tawa nya, "Pipi nempel ke pusar tuh gimana cerita nya Cha? Lo mau kutuk Angga jadi trenggiling?"
"Enggak! Gue bakal lepas dulu tuh kepala nya Si Lambe Turah Sesat, terus celupin ke lem UHU dan tempelin pipi nya ke pusar. Puas lo?"
Seisi kelas ketawa lagi melihat Echa yang begitu menggebu-gebu dan terlihat serius saat mengata kan nya. Rido menggeleng geleng di tempat nya. "Lepas pala dong, kek Berbie pasar Malem aja."
Saat Echa akan kembali duduk, dia tak sengaja melihat ke depan dan bertemu pandang dengan Givan yang masih memperhati kan nya sambil menahan tawa.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja. Gak usah di tahan tahan, entar malah jadi kentut terus angin nya terbang ke sini semua. Tidak sudi."
***
"Minum nya dua jadi sepuluh ribu ya Bu," kata Echa sambil menunjuk kan dua botol minuman yang di beli nya pada Ibu Kantin.
Saat Echa memberi kan uang nya, ada tangan lain yang menyodor kan uang juga. "Ini uang nya Bu, minuman punya dia," kata nya.
"Oh, iya iya." kata Ibu Kantin itu menerima uang nya lalu melempar senyum penuh arti ke Echa. "Ciee Neng Echa di traktir cowok nih."
Echa hanya tersenyum sedikit, kemudian menarik tangan Givan dari sana.
"Kok bayar punya gue sih?" tanya Echa setelah mereka sedikit jauh. Dia hendak meraih tangan Givan untuk menyimpan uang yang bakal di berikan ke Ibu Kantin, tapi Givan malah menenggalam kan masing masing tangan nya ke saku celana olahraga. Menghindar.
"Itu uang lo yang tadi pagi," jelas Givan.
Jadi Givan menolak bayaran ongkos nya?
"Oh." Echa melihat kedua tangan Givan, dia tidak mungkin memaksa mengejar tangan Givan dengan masuk ke saku celana olahraga nya, bukan? Demi mengembali kan uang itu.
Ya kali tangan Echa ikut berjejal di sana.
"Gak ada drama gue bayar tumpangan tadi pagi pake sesuatu ya!" Echa menegas kan.
"Suatu?"
Echa mengangguk. "Gara gara gue numpang di lo tadi, gue harus kabulin tiga permintaan lo misal nya," kata nya terang terangan mengata kan apa yang terlintas di kepala nya. "Bukan kabulin, gue pukulin yang ada."
Givan tertawa mendengar itu, membuat nya terlihat lebih manusiawi jika tertawa begitu. Berbeda sekali dengan Givan di hari pertama datang ke sekolah, seperti Givan di Robot. Kaku.
"Ke banyakan nonton drama?"
"Ya, kali aja," kata Echa. Kemudian dia jadi canggung sendiri. Echa melihat dua minuman di tangan nya, lalu teringat Zia. Salah satu minuman itu milik Zia. "Gue ke lapang duluan," kata nya kemudian melangkah pergi.
Dan baru satu langkah, Echa berhenti lagi karena tangan nya di tahan.
Dia berbalik dan melihat Givan. "Kenapa?"
Givan tidak langsung menjawab, malah menatap nya lama membuat Echa semakin bertanya tanya. Apa sih? Givan sedang mencari titik sasaran untuk di lempar bola futsal di wajah nya atau gimana?
"Lo benci gue?" Itu yang Keluar dari mulut Givan pada akhir nya, refleks membuat Echa mengerjap.
"Nanya tiba tiba udah kayak kuis aja." celetuk Echa. "Gak harus banget gue jawab, kan?"
"Enggak sih." Givan melepas kan tangan nya.
Lagi pula Echa bingung. Dia membenci Givan awal nya, tetapi akhir akhir ini Givan berbuat baik pada nya. Seperti memberi tebengan tadi pagi, tanpa mau di bayar, iya kan? Echa tidak begitu jahat sampai tidak memperhitung kan itu.
Jadi kalau bisa di takar dengan porsi, ke bencian nya sudah mengurang sedikit jadi setengah porsi.
Ya elah, baso kali.
***
Di perjalanan olahraga hari ini Givan menjadi yang paling banyak mendapat pujian dari Pak Bayu, karena melakukan teknik teknik bola basket dengan baik.
Bahkan saat praktik bermain, Givan berhasil mencetak banyak poin untuk tim nya dengan teknik Lay Up yang mengesan kan.
Berbeda dengan Givan yang selama dengan pelajaran olahraga, Echa malah sibuk dengan urusan nya sendiri. Urusan pribadi.
Setiap ada ke sempatan, dia menembak kan bola basket ke Angga. Supaya setelah nya dia bisa bilang. "Maaf, kayak nya emang bola basket nya pengen NEMPEL sama lo deh."
Setelah jam pelajaran olahraga berakhir, Echa duduk duduk di pinggir lapangan basket indoor itu bersama Zia. Dia masih tertawa sampai lemas dan tidak bisa membuka tutup botol nya yang masih tersegel.
"Bukain tolong," kata Echa.
Zia meriah botol minum milik Echa dan membuka kan tutup nya. Setelah itu mengembalik kan botol minum itu ke Echa. "Masih dendam aja sama Angga. Kan dia udah dapet kunciran 56 itu."
Zia masih tidak tahu tentang nempel nempel yang sering di sebut Angga hari ini. Dan Echa tidak mau menjelas kan juga, bisa bisa nanti malah jadi panjang.
"Dah ah, yuk ke kelas," kata Echa setelah minum sambil berdiri di ikuti Zia.
Sambil berjalan ke kelas Echa membuka ponsel nya, melihat sembarang aplikasi sampai akhir nya dia membuka ins**gr*m.
Nama pertama yang dia lihat di timeline adalah nama akun Kaivan. Senyum Echa mengembang hanya dengan melihat nama nya saja. Baru dia akan menekan tombol love, Echa tertegun saat melihat foto yang di upload nya.
Kaivan dengan seorang gadis yang di kenal nya.
Dia adalah Dita dari kelas XI MIPA 3 yang terkenal cantik. Gadis itu di rangkul dekat oleh Kaivan, sampai pipi mereka menempel.
Lalu, caotion yang tertulis di sana adalah 'Happy 1 month mensiversary to the most amazing girlfriend that a man could ever ask for'
"Cha, kenapa diem?" tanya Zia yang heran.
Echa tidak menjawab itu, dia masih berusaha mencerna hal mengejut kan yang baru dia lihat.
Jadi , Kak Kaivan sudah berpacaran dengan Dita selama satu bulan? Dan Echa baru tau.
Zia mendekat, lalu mengintip apa yang di lihat oleh Echa di layar ponsel nya dengan mata berkaca kaca. Kemudian Zia terkejut.
"Oh, gini ya patah hati?" gumam Echa, setetes air mata jatuh ke pipi nya membuat Zia panik.
Zia mengusap nya segera sebelum ada orang lain yang melihat. "Cha, jangan nangis di sini."
"Gue kayak gak punya kekuatan buat ke kelas, terbang di anterin Superman aja bisa gak?" kata Echa dengan suara yang sudah terisak.
Zia menghela nafas. Dia mau tertawa tapi, tidak tega dan kasihan saat melihat raut wajah Echa. "Kalau ada di aplikasi gue order deh buat lo, tapi kan gak ada. Sekarang yuk bisa yuk, jalan dulu ke kelas."
Echa menggeleng, bibir nya sudah melengkung ke bawah dan air mata di pelupuk mata nya sudah tidak bisa di tahan lagi. Tangis Echa pecah, bahu nya naik turun dan membuat Zia bingung, dia mengedar kan pandangan nya mencari Alkana, mau meminta tolong. Tapi tidak ada siapa siapa di sana selain ... Givan.
Laki laki itu mendekat tanpa di minta, kemudian menyimpan seragam putih nya di kepala Echa, menutupi sampai ke wajah nya. Berhasil menyembunyi kan tangis gadis itu.
Lalu, Givan merangkul nya, menepuk nepuk bahu nya pelan. "Oca. Lo cuman patah hati, bukan patah tulang. Jadi you can still walk, oke?"
.
.
.
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments