Kuntilanak Gak Tau Diri

Sekarang Echa sedang berjalan di koridor sekolah sendirian. Karena motor nya belum di ambil dari bengkel, Echa berangkat pagi ini ke sekolah naik ojek online yang di pesan pukul enam pagi dan baru datang pukul enam lewat tiga puluh.

Tidak pergi bersama Givan?

Jawaban nya tidak, tidak sudi.

Semalam setelah lampu kembali menyala dan hujan berhenti, Echa langsung lari ke rumah nya dan melanjut kan tidur dengan perasaan bersalah kepada pundak, perut, lutut, tangan dan kaki nya yang sudah tak sengaja menempel nempel pada Givan.

"Cha, kok lesuh banget si?" tanya Zia yang ternyata sudah datang lebih dulu dan duduk di bangku nya.

Echa hanya mengangguk pelan, kemudian duduk di kursi nya sendiri. "Ngantuk gue, semalem---" kurang tidur dan malah meluk meluk Givan.

Aish.

Ucapan nya tidak berlanjut dan kepala nya menggeleng segera, Echa tidak ingin mengata kan lebih banyak tentang semalam.

Saat melihat Givan baru saja datang di depan pintu, Echa mendengus. Dia mengeluar kan selembaran uang lima ribu dari dalam saku nya kemudian berlari dan mengangsur kan itu ke Givan ketika Givan sudah berdiri di dekat bangku nya.

"Uang mie rebus." kata Echa berharap Givan cepat mengambil uang itu dan mengakhiri interaksi ini. Karena Echa sangat menyadari nya, dia sedang di plototi oleh beberapa pasang mata, termasuk sepasang mata milik teman sebang ku nya. Elzia.

Tapi Givan tak kunjung mengambil uang nya, membuat Echa memberi kode dengan mata yang maksud nya mendesak. 'Tolong cepetan ambil uang itu.'

"Mie rebus doang?" tanya Givan membuat Echa mengernyit, memang nya apa lagi yang kemaren Echa makan di rumah Givan? "Biaya peluk pelukin gue dua kali?"

Tau tidak sih Givan? Kalau di ruang kelas itu tak hanya mereka berdua saja yang punya telinga? Orang lain juga, woiy!

Suara riuh langsung menyambut setelah semua mendengar apa yang baru Givan kata kan.

Angga yang baru saja datang dan melewati ambang pintu langsung ribur. "Apa? Apa? Kok pada rame, ada apa kasih tau gue dong?"

Rido yang berdiri di ujung kursi menjelas kan pada Angga, dengab teriak kan nya yang lantang. "Yang kemaren ke-gep lagi peluk pelukan di lampu merah, sekarang udah peluk pelukan lagi."

"Sambil makan mie rebus lagi." tambah yang lain.

"Ramen meokgo gallae, gak sih?" seorang siswi malah semakin mengompori dengan kalimat seribu arti khas drama korea itu.

"Cieee, wit wuiw."

***

Echa habis hari ini. Jadi bulan bulanan seisi kelas SESAT. Gara gara ucapan Givan yang sedikit tapi sangat ber-damage itu.

Bisa bisa nya Givan mengumum kan itu ke seisi kelas seolah sedang mengumum kan prestasi yang membangga kan.

Echa ingin hari ini cukup, cukup hari nya di penuhi dengan Givan yang sangat sialan itu.

Tapi di rumah, saat nya tepat makan malam, Bunda nya cerita -yang ternyata sudah pulang dari rumah nenek- memasak banyak makanan dan mengguna kan alasan itu untuk mengundang Givan makan malam di rumah nya.

Jadi sekarang, di meja makan berbentuk persegi dengan dua bangku yang mengapit di dua sisi berbeda itu, mereka duduk. Posisi nya begini, Echa duduk di sebelah Givan -dengan kursi yang di tarik sedikit menjauh. Sementara kursi seberang Echa kosong, kursi seberang Givan di isi Bunda nya.

"Bunda denger komplek kita kemaren mati lampu, ya?" tanya Bunda membuka pembicaraan dengan pambahasan yang lagi lagi membuat Echa mendengus.

Meski begitu, Echa mengangguk hampir bersamaan dengan Givan.

"Pas banger lagi, semalem hujan, ya?" tambah Bunda lagi sambil terkekeh dan menggeleng. Kemudian dia melihat ke arah Echa. "Gimana Echa? Ada berapa Kuntilanak yang masuk ke rumah?"

Mendengar itu, Echa meringis. Kenapa di bahas lagi? Dunia hari ini seperti nya sedang bekerja sama untuk membuat Echa ingin menyuruk kan wajah nya ke ketek kuntilanak, saking mereka putus asa di buat malu terus menerus.

Sebelum Bunda melanjut kan pembicaraan nya dengan Givan. Dia menunjuk Echa dengan mata, "Kata nya Echa percaya kalau hujan itu kuntilanak pada berteduh di rumah. Kamu percaya?"

Echa sempat mencuri lihat sedikit, Givan tersenyum tipis. Tapi, Echa yakin di dalam hati nya, sekarang mungkin Givan sedang tertawa terbahak bahak, menertawa kan nya.

"Percaya." kata Givan terdengar seperti mati matian menahan tawa. Benar kah?

"Karena kemaren rumah aku ke masuk kan kuntilanak."

"Uhuk!" Echa terbatuk dan langsung meraih gelas minum nya, dan meminum air banyak banyak dari sana.

Di sisi lain Bunda malah tertawa, seperti sudah tak peduli dengan Echa yang wajah nya merah padam seperti sedang menahan batuk nya.

"Oh, ya? Serius? Kok kamu bisa tau?" tanya Bunda.

"Kuntilanak nya minta masak mie Tante, jadi aku tau."

Lantas Bunda tertawa karena menganggap itu lelucon yang konyol. "Bisa bisa nya." kata Bunda di sela tawa nya. "Kuntilanak yang gak tau diri, ya? Udah numpang neduh, minta masak mie lagi. Aduh hahaha." Bunda tertawa lagi.

Benar benar tawa lepas tanpa beban dan tanpa tahu kalau kuntilanak yang di maksud Givan adalah Niscala Rescha, anak nya sendiri, yang wujud nya ada di sana.

***

"Bun, aku gak mau ah Givan ke sini lagi," keluh Echa yang baru saja duduk di karpet dekat Bunda nya yang sedang menonton televisi.

Karena acara yang sedang di nikmati nya memasuki waktu jeda dengan tayangan iklan, akhir nya Bunda mengecil kan volume nya untuk menanggapi ucapan Echa.

"Kok gitu sih kamu?" Bunda jelas saja memprotes.

Echa menghela nafas. Terlalu panjang untuk di jelas kan, dan tidak ada yang di jelas kan juga pada Bunda nya kenapa Echa tidak senang Givan ada di rumah nya, berinteraksi dengan nya, atau sekedar duduk berdampingan seperti tadi.

"Masih karena Givan yang pernah lempar bola futsal ke wajah kamu dulu?" tanya Bunda.

Echa mengerjap kan mata nya. "Bunda masih ingat itu?"

"Masih lah," kata Bunda dengan santai nya sambil menyisir poni tipis Echa. "Momen itu yang sebenar nya bikin Bunda sayang sama Givan."

Sekarang Echa mengernyit, benar benar tidak mengeti. Maksud nya, ada anak laki laki yang melempar bola futsal ke wajah anak perempuan nya, tetapi Bunda malah menyayangi anak laki laki sialan itu? Kok bisa?

Echa mulai mempertanya kan, dia anak kandung Bunda nya bukan sih?

Oh tunggu, sekilas ingatan terlintas di kepala Echa.

Tujuh tahun lalu, setelah wajah nya di lempar bola futsal oleh Givan itu semua nya heboh. Echa menangis kencang dan di kerubungi oleh teman teman nya.

Di antara teman teman nya itu Echa ingin melihat Bunda nya -yang memang sedang ada di sekolah untuk pertemuan orang tua, Bunda nya ikut menghampiri.

Bunda sempat bertanya dengan panik, alasan Echa menangis dan siapa yang membuat Echa menangis saat itu. Lalu, Givan mengaku.

Meninggal kan Echa, Bunda membawa Givan ke ruang guru. Lalu entah apa yang terjadi di sana, saat ke luar Bunda nya malah berpelukan dengan Givan di pintu, yang membuat Echa menangis semakin keras karena merasa tidak adil.

Dia yang di lempar bola futsal, Givan yang di peluk.

Kembali mengingat nya, Echa jadi merasa kan perasaan tidak adil itu sekali lagi.

"Jangan benci Givan karena itu ya, Echa? Bunda gak pernah ajarin kamu untuk simpan dendam sama orang." Bunda mengata kan kata kata nasehat yang membuat Echa mendengus. "Dia baik kok, coba lihat lagi."

Sekarang Bunda malah memuji nya.

Iya, coba lihat lagi kalau yang di maksud Bunda 'coba lihat lagi' itu fisik nya ya? Itu jelas sih. Givan ganteng, meski pun benci Echa mengakui itu.

Tapi sikap sialan nya itu loh. Bisa tidak sih minta sedikit di revisi ke Tuhan?

Echa mendumel dalam hati.

"Mau tau gak, kenapa Bunda gak bisa marah ke Givan waktu itu padahal Givan lempar wajah kamu pakai bola futsal?"

Nah, sekarang Echa benar benar melihat Bunda nya, dengan tatapan: Hah? Apa nih? Ada rahasia?

...Bersambung......

Terpopuler

Comments

Satriawahid Rahayu

Satriawahid Rahayu

udahhh ampir 5x lebih ngulang cerita ini sambil nunggu othorny up lg...ttp aja masih ngakak ngakak sendiri klo baca

2023-12-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bola Futsal
2 Tour Guide
3 Di Hukum
4 'OMG! First Kiss gue!
5 Cium Bel Pintu
6 Emang Aku Barang
7 Kuncir Rambut Angga 56
8 Kuntilanak Ikut Berteduh
9 Siluman Monyet
10 Kuntilanak Gak Tau Diri
11 Kepala Gue Ada Resletingnya Gak
12 Gue Sundul Lo Sampe Akhirat
13 Kumis Sama Jambangnya Keliatan
14 Bukan Anak Kandung
15 Bayar Dua Ribu Lebih Mahal
16 Patah Hati Bukan Patah Tulang
17 Udah Sultan Lo?
18 Bukit Bintang
19 Penghibur bin Buaya
20 Ketek Ayam
21 Out Of Topic
22 Konferensi PERS
23 Sampai Zimbabwe Saja
24 Ada Setannya di UKS
25 Mana CPU?
26 Jigong Naga
27 Itu Simba
28 Dia Sebenci Itu, Kan?
29 Lihatin Lo ... Napas
30 Pembasmi Kutu
31 Awan Pipis
32 Sembur Angga
33 Lantaran Kancing Seragam
34 Dilempar Bunga Mau Gak?
35 Dedemit
36 Minuman Kaleng Doraemon
37 Mamam Wajah Ganteng Ayank
38 Mamam Wajah Ganteng Ayank
39 Aku Mau Jadi Pensil
40 Kokoroyok
41 Hirup Aroma Ketek Angga
42 Tadi Gue di Gigit
43 Fight 8 Fun
44 KUA
45 Jadi Givan? Omo!
46 Think-Think Hard
47 Di Kutuk Gak Sih?
48 Oca Awas Ada Zebra!
49 Jedag-Jedug
50 Ada CCTV
51 Kisseu, Kisseu, Popohe
52 Apa Givan ... Alien?
53 Gemoy Cekuli
54 Ada Asap! Ada Asap!
55 DEG! DEG! DEG!
56 ZOMBIE-ZOMBIEAN
57 Tapi Lo Lucu
58 Planet Hoka-Hoka
59 Halo. Halo. Halo
60 Mau Ke Racunan
61 Gak di Racun, Kan?
62 Takutnya Kaki Aku Copot
63 Cium Dulu, Gak?
64 Mm?
65 Gak Kesurupan, Kan?
66 Yeyegombel
67 Kuntilanak Jalan-Jalan?
68 Amplop Jackpot
69 Lo Tau Gak?
70 Jangan Gila!
71 Masih Lama!
72 Kiri? Maksudnya Angkot?
73 Gak Ada Gajah di Atas Gue!
74 Sales Chunky Bar
75 Ngereog Lo?
76 Berjiwa Koin Gope
77 Martabak Kerikil?
78 Roti, Roti, Roti.
79 Touching-Touching
80 'Si Kampret'
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bola Futsal
2
Tour Guide
3
Di Hukum
4
'OMG! First Kiss gue!
5
Cium Bel Pintu
6
Emang Aku Barang
7
Kuncir Rambut Angga 56
8
Kuntilanak Ikut Berteduh
9
Siluman Monyet
10
Kuntilanak Gak Tau Diri
11
Kepala Gue Ada Resletingnya Gak
12
Gue Sundul Lo Sampe Akhirat
13
Kumis Sama Jambangnya Keliatan
14
Bukan Anak Kandung
15
Bayar Dua Ribu Lebih Mahal
16
Patah Hati Bukan Patah Tulang
17
Udah Sultan Lo?
18
Bukit Bintang
19
Penghibur bin Buaya
20
Ketek Ayam
21
Out Of Topic
22
Konferensi PERS
23
Sampai Zimbabwe Saja
24
Ada Setannya di UKS
25
Mana CPU?
26
Jigong Naga
27
Itu Simba
28
Dia Sebenci Itu, Kan?
29
Lihatin Lo ... Napas
30
Pembasmi Kutu
31
Awan Pipis
32
Sembur Angga
33
Lantaran Kancing Seragam
34
Dilempar Bunga Mau Gak?
35
Dedemit
36
Minuman Kaleng Doraemon
37
Mamam Wajah Ganteng Ayank
38
Mamam Wajah Ganteng Ayank
39
Aku Mau Jadi Pensil
40
Kokoroyok
41
Hirup Aroma Ketek Angga
42
Tadi Gue di Gigit
43
Fight 8 Fun
44
KUA
45
Jadi Givan? Omo!
46
Think-Think Hard
47
Di Kutuk Gak Sih?
48
Oca Awas Ada Zebra!
49
Jedag-Jedug
50
Ada CCTV
51
Kisseu, Kisseu, Popohe
52
Apa Givan ... Alien?
53
Gemoy Cekuli
54
Ada Asap! Ada Asap!
55
DEG! DEG! DEG!
56
ZOMBIE-ZOMBIEAN
57
Tapi Lo Lucu
58
Planet Hoka-Hoka
59
Halo. Halo. Halo
60
Mau Ke Racunan
61
Gak di Racun, Kan?
62
Takutnya Kaki Aku Copot
63
Cium Dulu, Gak?
64
Mm?
65
Gak Kesurupan, Kan?
66
Yeyegombel
67
Kuntilanak Jalan-Jalan?
68
Amplop Jackpot
69
Lo Tau Gak?
70
Jangan Gila!
71
Masih Lama!
72
Kiri? Maksudnya Angkot?
73
Gak Ada Gajah di Atas Gue!
74
Sales Chunky Bar
75
Ngereog Lo?
76
Berjiwa Koin Gope
77
Martabak Kerikil?
78
Roti, Roti, Roti.
79
Touching-Touching
80
'Si Kampret'

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!