Echa masih tidak tahi bagai mana dia harus berhadapan dengan Kaivan sejak hari itu. Jadi, saat pulang dan dia serta Zia hampir melewati koridor di mana ada Kaivan sedang berkumpul dengan teman teman nya, Echa menyeret Zia untuk memutar jalan ke koridor lain.
"Kok lo gak mau lewat ke kelas Kak Kaivan?" tanya Zia yang tadi menyadari itu.
"Eh iya juga, lo sekarang kok jarang ngajak gue caper caper ke deket kabitat Kak Kaivan, ya?"
Zia tentu merasa aneh, karena biasa nya di setiap ke sempatan, Echa selalu ingin lewat kelas Kaivan.
"Kalau di inget inget lo gak pernah ajak gue kayak gitu lagi tuh, sejak ke datengan Si Giv----"
"Enggak ah." Echa menyela segera sebelum mendengar nama Givan di sebut. Kemudian Echa menyingkir kan sedikit poni tipis nya dan menunjuk itu sambil menghadap Zia. "Lagi ada beruntusan di jidat gue."
"Pfft." Zia menahan tawa. Beruntusan yang sangat samar dan nyaris tidak terlihat itu jadi alasan mereka memutar begitu jauh untuk sampai ke gerbang sekolah? Demi menghindari Kaivan.
Echa sepenuh nya tahu, kalau Zia tidak percaya dengan alasan yang baru saja di sebut kan nya. Alasan yang terdengar konyol bahkan di telinga nya sendiri.
Tapi, ya sudah. Selama Zia tidak mendesak nya untuk menjelas kan lebih jujur, itu tidak masalah.
"Udah gak suka Kak Kaivan?" tanya Zia penuh selidik.
Echa ingin sekali menjawab, "Gak gitu."
Tapi, dia menahan diri karena tahu diri.
Entah lah setelah semua nya ... setelah ciuman pertama nya malah mendarat di bibir Givan gara gara papan tulis sialan itu, Echa merasa tidak pantas dan malu untuk sekedar mengakui perasaan suka nya seperti itu.
Apa yang harus di kata kan pada Kaivan untuk menyelamat kan image nya tentang ucapan Givan waktu itu di lapang?
Tak ada lagi.
Waktu itu Givan, bilang Echa 'akan' mencium nya. Dan beberapa menit setelah itu Echa 'benar benar' mencium nya. Sekali lagi, karena papan tulis sih. Ya tapi tetap saja, ke jadian itu membuat Echa tidak memiliki apa apa untuk di kata kan di depan Kaivan.
Ucapan Givan sudah menjadi fakta yang terjadi.
Echa melepas kan nafas berat nya sekali sebelum dia merasa lengan nya di tepuk tepuk oleh Zia.
"Ap sih?" tanya Echa yang baru sadar kalau ternyata dia sudah ke luar dari gerbang sekolah dan sekarang sudah di tempat parkir, berdiri di samping motor Zia. Rencana nya Echa akan nebeng pulang dengan motor Zia hari ini.
"Lihat itu," kata Zia sambil memasang helm nya, dia menunjuk ke satu arah dengan dagu nya. "Kenapa Givan liatin ke sini?"
Echa mengedar kan pandangan nya mencari Givan sampai menemu kan nya.
Iya, kenapa Givan yang setengah bersandar ke motor nya itu melihat ke arah nya?
"Gak tau."
Echa memutus kan untuk tidak menghirau kan nya, tetapi dia malah terus memperhati kan saat melihat Givan menegak kan tubuh, berjalan mendekat ke sana sambil membawa helm.
Lalu berhenti tepat di dekat motor Zia, dan mengansur kan helm ke depan Echa.
Apa itu maksud nya?
Echa mengibas kan tangan. "Maaf saya gak bisa beli helm nya Mas, makasih." Echa malah membuat Givan seperti seorang pedagang asongan yang sedang berusaha menjual helm.
Zia tertawa mendengar itu. Tapi, tawa nya langsung tertahan saat melihat ekspresi Givan yang kaku.
"Lo pulang sama gue." kata Givan tanpa basa basi. Dan tanpa mengata kan apa apa lagi, Givan memasang kan helm di tangan nya ke kepala Echa.
Sebelum Echa menolak, terdengar suara 'klik' yang berarti helm itu sudah terkunci di kepala nya.
Kemudian tanpa menjelas kan apa apa, Givan meraih tangan Echa dan membawa -atau lebih tepat nya menyeret?- Echa untuk menuju ke motor nya.
Melihat teman nya di ambil, Zia tidak tinggal diam. Dia segera menghenti kan itu dengan menarik tangan Echa dan membuat langkah mereka terhenti. "Heh, lo mau apain temen gue?" kata nya smbil menatap Givan yang balas menatap nya malas.
"Temen lo, bebek kuning ini?" tanya Givan sambil menunjuk Echa dengan mata nya. "Mau gue bikin jadi bebek goreng."
Tak perduli dengan ekspresi dua gadis yang semakin bertanya tanya, Givan mengetuk bagian atas helm Echa dua kali, sampai terdengar suara, Tuk! Tuk! Dan membuat Echa merasa ubun ubun nya seperti di paku.
"Sialan!"
Tangan Echa di tarik lagi, kali ini lebih keras sampai Zia tidak bisa menahan nya dan berakhir dengan membiar kan Echa di ambil Givan. Ketika dua manusia itu sampai di dekat motor Givan, laki laki itu berkata, tanpa melepas kan tautan tangan mereka.
"Mau naik sendiri, atau mau gue naikin?"
Echa mengernyit. "Apa sih naikin naikin? Tiang listrik tuh lo naikin, biar kesetrum terus mati."
Givan berdecak, saat melihat Echa hendak melangkah pergi Givan menarik Echa dengan keras hingga tubuh Echa terhempas menabrak dada nya.
Jadi momen romantis? Tentu tidak.
Setelah nya Givan meringis karena dagu nya juga di tabrak oleh helm yang sudah terpasang di kepala Echa.
"Diem deh Givandra Galaxy!" kata Echa sambil menjauh kan tubuh nya. "Gak usah sok jadi tsundere tsundere di depan gue. Klemer klemer enggak, liat lo kayak supa lember iya."
Echa menatap Givan dan menunjuk kan tangan nya yang masih di kunci laki laki itu. "Ini lepasin gak? Atau gue sundul lo sampe ke akhirat."
.
.
.
...Bersambung......
^^^Happy Reading🤗^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments