Bi Mina, yang mengganti kan peran Ibu untuk mengurusi nya selama di sini.
"Aku baik," jawab Givan setelah menghela nafas sekali. "Masak kan nya ... enak. Aku suka," kata Givan lagi.
Suara bel terdengar beberapa kali membuat Givan ke luar dari kamar nya dan berjalan menuju ke pintu. Masih dengan ponsel yang menempel di telinga nya, masih dengan panggilan yang terhubung.
Givan mendengar Papa nya bertanya dari telepon.
["Dari beberapa properti yang Papa punya, apartemen di belakang Braga Citywalk salah satu nya, kenapa kamu pilih untuk tinggal di rumah itu? Di komplek yang lokasi nya paling ujung?"] tanya Papa nya.
Pertanyaan yang sudah pernah Givan dengar, saat Givan berdiskusi dengan Papa nya dan Givan memutus kan rumah nya sekarang yang menjadi tempat tingkal.
Sebelum Givan menjawab, Givan membuka pintu dulu.
Ada Echa berdiri di sana dan baru saja mengatup kan mulut nya kembali saat melihat Givan sedang bertelepon.
Pasti gadis itu tengah menelan kata kata makian nya sekarang.
["Boleh Papa tau alasan nya, kenapa kamu pilih tinggal di sana dari pada apartemen elit itu?"]
Kembali Papa nya bertanya karena Givan belum menjawab.
Dan, Givan menjawab nya dengan senyum yang muncul tanpa sadar dan tatapan yang tertuju lurus pada Echa yang sedang menunjuk nunjuk tiga tumpuk tempat makanan yang di pegang nya.
"Ini alasan nya," jawab Givan masih dengan senyum, pasti terdengar ambigu. "Ada sesuatu di sini, yang gak ada di gedung apartemen itu."
***
Givandra Galaxy, sejak kecil dia tumbuh di keluarga yang mengasing kan nya. Givan selalu merasa tidak adil, dan tidak tau alasan kenapa Mama serta Kakak laki laki nya, Kak Yudha, selalu memperlihat kan jelas penolak kan akan ke hadiran Givan di tengah mereka.
Mereka seperti selalu berupaya membuat Givan tidak nyaman.
Seperti setiap kali Givan dengan Kakak laki laki nya yang berbeda satu tahun itu bertengkar, maka Givan yang pasti akan di salah kan oleh Mama nya.
Jika Yudha mengingin kan barang milik Givan, maka Givan harus menyerah kan nya. Harus.
Papa nya sesekali membela Givan, tapi hanya sesekali. Selebih nya apa yang di bilang Papa nya hanya berupa kata kata lembut, bujuk rayu agar Givan turut mengikuti apa yang di ingin kan Mama serta Kakak nya.
Seumur hidup Givan tidak tahu apa yang salah dengan diri nya. Kenapa dia di asing kan di keluarga nya sendiri? Dia selalu berusaha sekeras mungkin untuk mendapat kan hati Mama nya, untuk menjadi adik yang di sayangi oleh Yudha.
Dia berusaha berlaku baik dan menjadi murid berprestasi untuk membangga kan mereka. Tapi, tak peduli berapa sering mendali Olimpiade di kalung kan ke leher nya, Mama dan Yudha tidak pernah balik bersikap baik pada Givan. Dia masih di asing kan dan du perlaku kan tidak adil.
Itu yang menyebab kan Givan sering kali bersikap dingin pada orang orang, dia tidak tahu bagai mana harus menjalin hubungan baik dengan orang di luar karena dia tidak bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga nya sendiri.
Givan hidup seperti itu, dan tidak tahu apa apa sampai beberapa minggu lalu.
7 Juli, di ulang tahun nya yang ke tujuh belas tahun, Givan baru di beritahu kalau dia memang bukan anak yang lahir dari rahim wanita yang selama ini dia panggil Mama, bukan adik kandung Yudha. Melain kan, dia adalah anak Papa nya dari wanita lain, di luar pernikahan.
Satu fakta itu membuat Givan memahami segala nya. Semua perlakuan tidak adil yang dia terima, ternyata itu memang pantas di terima nya.
Pantas Mama tidak pernah berada di pihak nya, pantas mereka berlaku begitu. Semua nya terasa pantas setelah Givan tahu fakta nya yang sebenar nya.
Givan cukup tahu diri untuk tidak memaksa kan hadir nya lagi di tengah mereka, dia memutus kan untuk pergi dari rumah itu dan tinggal sendiri.
Fakta itu cukup membuat Givan sampai di titik rendah nya. Dia tidak di terima oleh keluarga nya dan mereka tidak ada yang menerima nya di dunia ini, di mana pun. Dan pada saat Givan terpuruk merasa kan itu, Givan tiba tiba saja memiliki pemikiran begini.
Givan berpikir dia akan baik baik saja asal kembali ke rumah ini, rumah yang di tinggali nya waktu kecil, di komplek H Puri Melati, yang ada tepat di depan rumah Echa.
Iya, Niscala Rescha.
Entah kenapa, wajah anak perempuan yang pernah dia lempar bola futsal itu terbayang begitu saja pada waktu sulit nya, di saat Givan memejam kan mata dan menangis sendiri. Entah kenapa ada wajah Echa kecil.
Dan entah kenapa, setelah wajah itu hadir dalam bayangan nya dia menjadi sedikit baik baik saja. Mungkin itu yang membuat Givan berpikir kalau selama dia ada di dekat perempuan itu, dia akan baik baik saja.
Dan benar, Givan mereka cukup baik baik saja selama di sini. Tidak sehancur yang dia pikir kan, tidak menghancur kan diri nya.
.
.
.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
SeptiGunarto22
mulai deh ada rasa2 bawang merah ini 😢😢😢😢
2023-01-12
1