Bagai mana bisa Echa tetap memberi kan scrapbook nya, setelah apa yang di kata kan Givan di lapangan tadi? Tidak bukan hanya itu, bagai mana bisa Echa tetap melakukan nya, setelah ciuman pertama nya jatuh pada Givan dengan cara paling.... membagong kan.
Echa kembali menunduk dalam. "Hiks, papan tulis kampret."
Suara ketukan pintu terdengar, di susul suara Bunda. "Echa ke luar dulu bentar, tolong rapetin tutup tupperware."
"Bun, aku lagi-----" galau.
"Cepetan keluar Echa, kamu dari siang ngurung diri di kamar. Punya cita cita jadi tahanan penjara kamu?"
Echa mendengus lalu berdiri.
Dia tidak ke luar kamar dari sejak pulang sekolah dan sekarang di minta -paksa- ke luar kamar dengan tujuan untuk merapat kan tutup tupperware milik Bunda nya?
Indah sekali hidup Niscala Rescha ini.
"Bukan nya di tawarin makan dulu gitu." cetus Echa setelah menutup pintu kamar nya dan melangkah menuju dapur.
Echa mengambil kotak makanan berwarna abu semi trasparan di meja makan yang belum tertutup sempurna. Setelah beberapa tekanan, akhir nya semua sisi nya rapat. Echa mengangkat mengintip apa yang ada di dalam.
"Salad buah, Bun?"
"Iya, buat tetangga baru kita," jawab Bunda yang sedang mengeluar kan brownies cokelat dari pemanggang nya.
Sejenak Echa berfikir. Tetangga baru, siapa?
"Givan, temen kamu."
"Heleh," Echa bergidik dan melempar kotak makanan nya menjauh, itu reaksi reflek. "Bukan temen aku Bun."
"Temen kamu lah, Bunda tau kamu sekelas juga dama Givan." kata Bunda sambil mengipasi brownies cokelat nya.
Echa berdecak. "Tau dari mana sih Bun?"
"Tadi sore Bunda ngobrol sama Givan di depan, waktu Givan lagi cuci motor nya. Duh, Cha, kalau kamu liat Givan tadi sore, ganteng banget dia. Seksi banget, pake kaos oblong basah basahan, tangan nya itu loh," Bunda menunjuk kedua lengan atas sendiri. "Uhh banget pokok nya."
Echa meringis, mendengar dan melihat bagai mana Bunda nya bercerita tentang Givan, jika tidak ingat kalau yang ada di depan nya ini adalah wanita yang melahir kan nya, pasti Echa sudah menggeplak mulut nya sedari tadi.
"Bun, aku bilang Papa ya kalau Bunda kayak fangirling gini sama anak itu." Echa mengancam.
Bunda hanya tersenyum tidak terintimidasi ancaman Echa sedikit pun.
"Bilang aja, Papa kamu tau kok. Bunda kan emang sayang, eh suka, eh pokok nya itu deh sama Givan. Bunda seneng tau dia pindah lagi ke sini, merasa punya anak cowok. Nanti kalau Bunda butuh sesuatu kan bisa minta tolong dia, ya?"
Untuk informasi, Papa Echa bekerja di Bali dan hanya pulang sebulan sekali, atau dua bulan sekali. Jadi di rumah itu hanya ada Bunda dan Echa, anak tunggal nya.
Tidak ada nya laki laki di rumah kadang membuat mereka menghadapi beberapa ke sulitan. Seperti saat butuh seseorang untuk mengganti lampu yang mati atau kalau ada kodok masuk ke rumah wakti hujan.
Tidak ada yang bisa di andal kan selain satu sama lain.
"Atau kamu pacaran sama dia aja, terus nikah. Jadi kan, Givan bener bener jadi anak Bunda nanti?" celetuk nya.
Echa yang sudah menganga kan mulut nya untuk menggigit apel, mendadak menjauh kan apel nya lagi. Merapat kan kembali mulut nya, Echa menatap tajam Bunda. "Bun berhenti ngomong aneh aneh deh," pinta Echa sungguh sungguh. "Aku belum makan jangan bikin aku enek."
Bunda terkekeh lalu mendorong brownies nya ke depan Echa, saat Echa melihat wujud brownies yang sekarang, mata Echa terbelalak.
What?!
Ada sebuah papan yang terbuat dari cokelat putih di atas nya dengan bentuk oval. Tentu bukan itu yang membuat nya terbelalak, melain kan tulisan di papan cokelat putih itu.
"Selamat Datang Givandra?" Echa membaca tulisan nya keras keras dengan alis mengernyit. Kemudian Echa melihat ke arah Bunda nya. "Bun?"
"Tolong anterin kue sama salad buah nya ke Givan ya?"
"Bun!" sekarang Echa berdiri. Bukan sangat siap melaksana kan apa yang Bunda perintah kan. Melain kan dia sedang memprotes.
"Anterin ke Givan atau Bunda akan ambil motor kamu?"
***
Rumah Echa di perumahan puri melati masuk ke dalam jajaran komplek H, yang terletak paling ujung, paling belakang, paling jauh dari gerbang utama.
Enak sih, tidak dekat dengan jalan raya jadi tidak begitu bising. Selain itu, dekat dengan taman komplek. Jadi kalau Echa sedang gabut, biasa nya Echa pergi ke taman untuk mendengar kan musik dan membaca novel atau memotret senja kalau ke betulan langir nya sedang bagus.
Namun, hal menyebal kan karena jauh dari gerbang utama adalah kendala di mobilitas. Andai Bunda mengambil motor nya, maka segala nya akan jadi tidak mudah.
Echa harus memesan ojek online untuk pergi ke sekolah di pagi hari dan itu sering menimbul kan masalah. Pengemudi ojek biasa nya nyasar dan berputar putar di komplek saat akan menjemput Echa karena ke sulitan menemu kan rumah nya yang di ujung.
Kemudian, ketika pulang dengan angkutan umum yang mengantar nya hanya sampai di gerbang komplek, Echa harus berjalan sepanjang dua kilo meter untuk sampai ke rumah nya.
Melelah kan.
Kenapa tidak naik ojek online lagi saat pulanh? Karena ongkos nya lumayan lebih mahal dari angkutan umum, bisa bisa Echa hanya minum air keran saat istirahat jika pulang pergi naik ojek online.
Jadi, demi mobilitas nya yang tetap lancar, Echa harus mengantar kan kue itu serta salad buah nya ke rumah Givan, Si Cowok Sialan yang merebut ciuman pertama nya.
Aish. Lupa kan dulu tentang itu.
"Ini gimana gue pencet bel nya?" kata Echa yang sudah berdiri di depan pintu rumah Givan. Merasa resah saat melihat tombol bel yang setinggi wajah nya.
Dia harus memencet bel itu, kan? Agar Si Penghuni Rumah tau ada dia di sini. Tapi tangan Echa penuh, kanan memegang kue, kiri memegang kotak makanan yang isi nya salad buah.
Echa berusaha menjangkau dengan siku, dan tidak sampai. Tidak ada kursi atau meja dan teras untuk menyimpan salah satu yang di pegang nya itu sejenak.
"Apa gue teriak ya?" tanya nya, lalu di jawab sendiri oleh gelengan kepala. "Jangan, gak sopan."
Echa memang benci Givan, tapi pikir kan tentang orang tua Givan yang mendengar Echa berteriak teriak? Itu akan meninggal kan kesan buruk.
Jadi, hal paling benar adalah memencet tombol bel nya. Dengan? Bibir?
Hanya itu yang terlintas.
Echa berjinjit, mendekat kan wajah nya ke bel pintu. Echa semakin merasa ini benar benar hari sial nya, membayang kan ada seseorang yang melihat nya melaku kan hal konyol ini. Hendak menempel kan bibir sendiri ke bel pintu orang?
Sekarang Echa melihat bel pintu itu sudah sejajar dengan bibir nya, kemudian, dia memaju kan bibir nya sedikit.
Ayo sedikit lagi.
Tepat, tepas sekali. Saat bibir Echa sudah menyentuh tombol bel, pintu terbuka dan sosok Givan yang mengena kan kaos oblong abu berdiri di sana, mengernyit aneh saat melihat Echa yang mematung dengan bibir menempel ke tombol bel nya.
"Gak cukup bibir gue?" tanya Givan sambil mengangkat sebelah alis nya. "Sekarang lo juga mau cium bel pintu gue?"
Lalu Givan tertawa hambar. Menertawa kan ke konyolan Echa?
"Lo tumbuh jadi maniak ciuman ternyata."
...Bersambung... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments