Sebenar nya Givan itu bisa dengan sederhana nya bilang. "Echa, gue di suruh Emak lo, untuk nganter lo ke bengkel."
Sangat bisa bilang begitu, bukan? Lebih simple dan lebih mudah di mengerti. Bukan bersitegang dulu dan menyeret nyeret Echa, seolah Echa akan di culik ke luar angkasa.
Di bengkel tempat motor nya di perbaiki, Echa hanya menjadi ekor Givan yang lebih banyak berbicara dengan orang bengkel tentang kondisi motor nya.
Ada banyak istilah yang tidak Echa mengerti, tapi seperti nya Givan tampak paham semua, terlihat dari bagai mana Givan mengangguk dengan ekspresi serius dan mempertanya kan beberapa hal.
Kemudian saat mereka akan pulang, Givan merangkum semua yang tadi di bicara kan nya dengan orang bengkel menjadi sebuah kalimat. "Motor lo beres akhir minggu ini. Agak lama, karena ada spare part yang harus di ganti dan barang nya gak ada di sini."
Echa hanya mengangguk.
Jika, sampai akhir minggu ini Echa akan tersiksa. Harus berangkat lebih pagi untuk memesan ojek online, dan harus pulang lebih lambat- serta lebih lelah- karena berjalan jauh dulu dari gerbang kompleks setelah turun dari angkutan umum.
Jangan menyaran kan untuk nebeng ke Givan ya, jangan. Jangan bisa bisa jiwa jiwa Lambe Turah nya Angga kambuh lagi.
Tidak ada yang mereka bicara kan lagi selama perjalanan pulang. Echa hanya bersikeras menahan tubuh nya agar tidak merosot ke depan di jok motor yang seperti perosotan TK itu.
Sampai akhir nya.
Satu bulir air dari langit jatuh ke pipi nya, Echa merasa kan itu. Saat dia mendongak nya, bulir air lain nya terasa berjatuhan semakin banyak. Lalu orang orang di trotoar tampak berlarian mencari tempat yang teduh.
"Pegangan," pinta Givan terdengar tidak begitu jelas di telinga Echa.
Gadis itu berteriak, "Hah?" untuk merespon. Lalu bertanya lagi dengan nada suara yang tinggi, "Apa? Gue gak denger."
Givan tidak menjawab. Tahu tahu tangan kiri nya bergerak ke belakang, manangkap tangan Echa dengan tepat setelah itu menarik kuat sampai tubuh Echa menabrak tubuh nya.
Givan mengarah kan tangan Echa untuk melingkar di tubuh nya. "Pegangan, gue mau ngebut nyari tempat neduh," kata Givan setengah berteriak.
Iya, pegangan. Tapi ini bisa di sebut kalau Echa setengah memeluk Givan tidak sih?
Givan mengoper gigi di bawah kaki nya lalu menarik gas untuk melaju lebih kencang menembus hujan. Tidak ada yang bisa Echa lakukan selain tangan kanan nya melingkari Givan, berpegangan jika tidak ingin terjengkang ke belakang. Sampai akhir nya, di depan sebuah halte mereka menepi, turun dari motor dan berteduh di sana.
Hujan semakin deras, angin nya berhembus dari kiri menerbang kan sebagian bulir air di sana. Echa menjadi orang yang paling banyak menerima hempasan hujan angin karena dia berdiri paling kiri di halte itu, sebelum akhir nya Givan menarik tubuh nya dan membuat posisi mereka berganti.
"Cieee ngelindungin gue nih cerita nya?" celetuk Echa yang wajah dan seragam putih nya sudah cukup basah.
Givan tidak menanggapi seolah tidak mendengar.
Karena gak ada butuh alias gabut, sedang kan memain kan ponsel di kondisi ini membuat ngeri juga -takut tersambar petir, Echa berusaha impulsif memutus kan untuk menggoda Givan sambil menunggu hujan reda.
"Ciee ... ciee ... " Echa menusuk nusuk lengan kanan Givan dengan telunjuk nya. "Echa yang cantik ini jangan kena air hujan, ya." Echa menangkup wajah nya sendiri dengan kedua tangan dan mengerak gerak kan tubuh nya ke kanan dan ke kiri, bersikap imut
Orang orang yang berteduh di sana memerhati kan mereka dan beberapa terkekeh. Hal itu di sadari Givan, dia melempar tatapan sinis pada Echa, bermaksud meminta Echa berhenti secara tidak langsung.
Aneh sekali tidak sih, cewek yang tadi di sekolah berteriak kencang ingin menyundul kan ke akhirat sekarang malah ... bersikap seperti ini?
Apa Echa ingin membuat nya malu di depan orang orang di sini dan berpikir itu berhasil?
Tidak. Givan tidak akan membiar kan itu.
Givan menyingkir kan tatap sinis nya, kemudian mengembang kan senyum penuh arti dan membuat diri nya berhadapan dengan Echa. Kedua tangan nya hinggap di masing masing bahu Echa membuat gadis itu gelagapan sekaligus bingung.
Tanpa mengata kan apa apa, Givan menarik Echa ke dalam pelukan, memeluk nya erat erat, dan merasa kan tubuh Echa membeku di sana.
"Iya, Echa cantik jangan ke hujanan," kata Givan mengikuti permainan Echa.
Dan tahu kah Givan? Kalau karena kata kata itu dan pelukan ini, jantung Echa jadi berdegup keras? Sebelum akhir nya, Givan melanjut kan kata kata nya.
"Entar kalau make up nya luntur, kumis sama jambang nya ke liatan."
***
Givan baru saja memasuki rumah nya dengan rambut dan jaket yang setengah basah, senyum tipis masih nampak di bibir nya saat ingat dengan tawa orang orang di halte setelah apa yang dia kata kan.
Kemudian, kekeh nya lolos tanpa sadar saat mengingat wajah Echa yang merah padam setelah menjauh kan diri dari pelukan nya tadi.
Dia mendapat satu pukulan cukup keras dari Echa, tapi itu tidak membuat nya menyesal. Malah, tak apa apa.
Di kamar saat Givan baru saja melempar seragam putih nya ke keranjang cucian dan memakai polo shirt berwarna hitam, dia mendengar getar dari ponsel nya yang ada di dalam tas.
Givan mengambil ponsel nya, membuka layar dan mengernyit saat melihat nama Papa menyala nyala di sana, menelpon nya.
Senyum nya luntur, dia seperti di ingat kan dengan alasan yang mendorong dia meninggal kan rumah dan pergi ke sini tinggal sendiri.
Melepas kan satu nafas berat, Givan akhir nya memutus kan untuk mengangkat panggilan nya. Suara pria menyahut segera di sana.
["Givan, hallo."]
Terdengar khawatir.
"Ya, Pa?" kata Givan sambil menunduk dalam. Dia merasa perasaan nya penuh dengan sesak sekarang, hanya karena mendengar suara nya, hanya dengan tau kalau dia sedang di khawatir kan sekarang.
["Kamu baik baik aja? Maaf Papa baru sempet telepon. Bi Mina, kamu suka masak kan nya?"]
Bi Mina adalah asisten rumah tangga yang di pekerja kan Papa nya. Tidak menginap dan hanya bekerja setengah hari -sesuai yang di minta Givan, datang pagi hari untuk membuat kan nya sarapan, membersih kan rumah lalu pulang siang hari setelah meninggal kan makan siang di meja makan -yang biasa nya sudah dingin setiap kali Givan pulang.
Bi Mina juga yang biasa mengisi kulkas kulkas nya sampai penuh.
.
.
.
...Bersambung.... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments