Daging Pembawa Malapetaka

...DAGING PEMBAWA MALAPETAKA...

...Penulis : David Khanz...

Satu per satu para pengantar jenazah meninggalkan areal pekuburan. Sementara isak tangis keluarga yang ditinggalkan, mengiringi langkah kembali pulang ke rumah. Meninggalkan gundukan tanah merah yang masih basah, bertabur rupa warna bermacam jenis bunga.

Hari itu menjelang petang. Bara mentari telah lama redup, berpayungkan iringan awan kelabu. Dihiasi gaung petir memecah langit. Sebentar kemudian, rintik hujan pun mulai berjatuhan.

Rendra, pemuda tanggung berusia belasan tahun, masih berjongkok di tepian makam. Menatap sedih kayu nisan yang tertancap kuat, lengkap dengan tulisan sebuah nama. Bibirnya gemetar melapal bacaan tertentu dengan khidmat. Sesekali diselingi isak pedih serta linangan air mata.

"Selamat jalan, Margo. Semoga kamu beristirahat dengan tenang di alam sana. Amin," ucap lirih Rendra menutup serangkaian doa. Untuk kesekian kali, diusapnya kayu nisan. Kemudian beralih pandang pada dua gundukan makam lain, tak jauh dari tempat dia berada. Sama-sama masih tampak baru dihiasi dekapan pelepah daun kelapa. "Sakim ... Asad ... kalian berdua tak akan kesepian lagi, 'kan? Ada Margo yang baru saja menyusul ke sana. Berkumpul seperti sedia kala, sebagaimana kita berempat ketika masih sama-sama hidup."

Beberapa waktu sebelumnya, mereka adalah empat sekawan yang kerap berkumpul bersama. Rendra, Margo, Sakim, dan Asad. Pemuda pengangguran penghibur dunia bergadang. Jarang tertidur di malam buta, tapi lebih suka terlelap hingga siang bolong. Tak ada kegiatan lain, kecuali menghiasi pekat sepanjang alam, dengan celoteh gurau serta iringan dawai berkumandang. Sesekali iseng mengadu kartu, dan juga mewakili warga lain yang tak bisa melaksanakan tugas ronda. Bagi mereka berempat, itu merupakan keuntungan tersendiri. Bisa memperoleh uang dengan percuma, tanpa harus bersusah payah memeras peluh.

"Kim, bagian ronda entar malem siapa?" tanya Asad waktu masih bersama dulu, pada Sakim. Yang ditanya berpikir sejenak, lalu berkata usainya, "Kalo gak salah Pak Marli, Pak Kusin, dan Bang Jarok. Sisanya gua lupa. Siapa, ya?"

"Mas Karto," jawab Rendra diiyakan oleh Margo. "Betul, Mas Karto ama Pak Juhe." Margo menambahkan.

"Hafal banget lu, Go," timpal Sakim disambut tawa keempatnya.

"Iyalah, gua inget banget giliran ronda orang-orang itu. Maklum, mereka royal kalo ngasih duit buat gantiin tugas ronda," imbuh Margo kembali diiringi gelak mereka.

"Duit, Bro. Duit. Hahaha."

Sekali lagi Asad berujar begitu tawa mereka mereda, "Nah, berhubung mereka berlima lagi pada mudik, entar malem pasti kosong, 'kan? Gimana kalo kita berempat, ngomong ama Pak RT. Kita-kita yang bakal gantiin tugas mereka." Mata Asad membelalak bulat disertai seringai penuh makna. Ketiga temannya pun melakukan hal sama. Faham sekali apa yang dimaksud oleh Asad tadi.

"Duit!" seru keempat sekawan itu serempak. Lalu tertawa girang membahana di seantero pos ronda.

"Ya, udah. Entar gua yang ngomong ama Pak RT. Biar ada saksi," kata Rendra.

"Duitnya?" Sakim ikut bertanya.

Jawab Rendra, "Entar ditagih ama Pak RT begitu mereka semua udah pada balik. Gampang, 'kan?"

"Setuju!" seru Margo dan Sakim.

"Oke, berarti sepakat, ya? Entar malem kita bergadang full sampe pagi!" imbuh Rendra. "Kumpul kembali di sini jam sembilan malam."

"Siap! Gue mau nyari modal dulu buat beli rokok," kata Asad.

"Kopi, bagean gua," balas Sakim.

"Kalo beras gimana?" tanya Rendra.

"Tenang. Itu bagian gua," Margo menjawab, "kebetulan bokap gua abis panen. Jadi stok beras, jangan diraguin. Gua colong cuma dua liter, sih, cetek. Hehehe."

"Mantap!" seru Sakim dan Asad sembari mengacungkan jempol pada Margo.

"Lauknya gua yang bawa." Rendra tak mau kalah.

"Eh, guys ... gua lihat, kebon timun Mbah Manto udah siap panen tuh." Tiba-tiba Margo menyela. Ketiga temannya serentak menoleh. "Itu artinya .... "

Tanpa ada yang meneruskan, keempat pemuda tanggung itu kompak tertawa lagi.

"Dasar, jiwa maling lu!" ejek Asad sambil terkekeh. Margo berkilah, "Eit, entar gua ganti pake duit kuli ronda, Cuy!"

"Terserah elu, deh," kata Asad sembari bangkit dari duduk.

"Eh, mau ke mana lu?" tanya Margo pada Asad. "Gua bakil dulu, Coy. Sekalian nyari duit beli rokok buat entar malem," jawab Asad.

"Gua ikut balik, ah. Molor dulu, biar entar malem kuat melek ampe pagi," kata Sakim mengikuti langkah Asad. Dua pemuda ini memang satu arah menuju rumah mereka.

Rendra memandang Margo. "Elu gimana, Go?" tanyanya begitu ditinggal Asad dan Sakim.

Margo berpikir sejenak. "Gua juga pulang dulu, deh. Kagak seru cuma kita berdua."

"Ya, udah. Yuk, balik, dah." Rendra beranjak meninggalkan pos ronda. Diikuti Margo menuju arah berlawanan.

"Jangan lupa entar malam, Dra!" seru Margo dari kejauhan.

"Siap!" sahut Rendra dengan suara keras.

Sesuai dengan janji tadi siang, Margo dan Rendra datang tepat pukul sembilan malam. Lengkap membawa perbekalan masak beserta peralatannya.

"Sakim sama Asad mana, ya? ****** tuh bocah. Janji jam segini, belum nongol juga," gerutu Rendra.

"Tahu tuh! Boro mah gua kagak nurutin nyokap tadi, nyuruh gua beli obat nyamuk. Sial!" Margo turut bersungut-sungut.

Setengah jam kemudian, Asad dan Sakim muncul. Membawa sebuah bungkusan plastik dan beberapa bungkus rokok serta kopi dan gula.

"Dari mana aja, sih, elu berdua?" tanya Margo seraya memperhatikan bawaan kedua temannya itu.

Sakim dan Asad menyeringai. "Sorry, kita berdua telat. Maklum, abis bisnis gede, nih."

Rendra memperhatikan rokok yang berserak di lantai pos ronda. "Banyak amat bawa rokok. Elu abis ngerampok mini market?"

Sakim dan Asad saling pandang, seraya sama-sama tersenyum simpul. "Pokoknya hari ini kita pesta besar, Guys! Itu rokok ama kopi kagak bakalan abis kita hisap rame-rame sampe besok malam juga," kata Sakim semringah.

"Gila! Lagi banyak duit juga lu, ya?" tanya Margo sambil mencomot sebungkus. Diikuti Rendra.

"Gua bilang juga, malam ini kita pesta!" jawab Sakim. "Ada kejutan lain, nih." Dia membuka bungkusan plastik yang sedari tadi belum dibuka.

Rendra dan Margo terperangah. Mata keduanya terbelalak hebat. "Daging apaan, nih?"

"Kambing," jawab Asad disertai seringainya.

"Daging kambing dari mana?" Margo menciumi onggokan daging yang masih terlihat segar, di dalam bungkusan. "Elu berdua kagak nyolong, 'kan?"

Sakim mengekeh. "Ya, kagaklah, Coy. Biarpun kita badung, tapi gak bakalan ngerugiin punya sesama warga kampung sini, dah. Iya, gak, Ad?" Dia menoleh pada Asad.

"Yoi, Bro. Pokoknya tenang aja. Nih, kambing kagak bakalan ada yang nanyain. Kambing liar, Bro. Sebagian gua jual buat beli rokok ama kopi dan gula. Sisanya segini. Cukup, 'kan, buat acara masak-masak malam ini?" Asad tersenyum-senyum.

"Kambing liar dari mana?" Rendra bingung. "Jangan-jangan .... "

"Udah, kagak usah banyak tanya. Yuk, kita bakar buat lauk makan malam kita," ujar Sakim seraya bersiap-siap untuk memasak.

"Lah, kalo entar ada yang nyariin kambingnya hilang, nama kita berempat bisa tercemar, Coy!" Margo ikut memprotes.

"Haduh! Segitu aja pake dipikirin lu," imbuh Asad. "Kalo emang ada yang nyari, kita ganti aja entar pake duit kuli ronda malem ini. Gampang, 'kan?"

Margo geleng-geleng kepala. Tak bisa berkata banyak, akhirnya dia dan Rendra pun ikut membantu menyalakan tungku.

Begitulah, mereka berempat benar-benar menikmati pesta besar malam itu. Terjaga di pos ronda hingga jelang pagi. Tak ada yang membebani pikiran. Terkecuali hanya ada kesenangan dan harapan memperoleh uang pengganti tugas menjaga lingkungan.

Kabar pertama yang diperoleh Rendra, menjelang siang adalah berita kematian Asad dan Sakim. Kedua temannya itu mengalami kecelakaan lalu lintas saat berboncengan mengendarai sepeda motor. Menurut saksi mata, bertabrakan keras dengan sebuah truk besar. Tewas mengerikan seketika, di tempat kejadian.

"Mungkin mereka dalam keadaan mengantuk. Soalnya semalam habis bergadang," kata seorang pelayat yang berkerumun di depan rumah duka.

Rendra dan Margo ikut terpukul dengan nasib nahas yang dialami Asad dan Sakim. Tak ada firasat apa pun terkait kepergian mereka berdua untuk selama-lamanya. Yang pasti, merasa sangat kehilangan dua teman karib tersebut.

Belum kering air mata yang tumpah, beberapa jam kemudian Margo menyusul Asad dan Sakim menuju alam peraduan terakhir. Nasib serupa dialami pemuda tanggung itu. Dia terjatuh dari ketinggian pohon kelapa. Meninggal seketika dengan kondisi patah tulang leher.

Hampir semua mata warga tertuju pada Rendra. Bukan curiga atau hendak menuduh, akan tetapi dari desas-desus yang tersiar, penyebab kematian ketiga pemuda itu ada erat kaitannya dengan daging kambing yang mereka santap tadi malam.

Bagaimana bisa? Selentingan suara-suara penuh ketakutan mengatakan, Asad dan Sakim mengambil seekor kambing yang kerap berkeliaran di kampung-kampung, tanpa diketahui pemilik jelasnya. Binatang ternak tersebut biasanya berjumlah lima sampai tujuh ekor. Salah satu diantara mereka, selalu mengenakan kalung bergandul lonceng kecil. Selama ini tak ada seorang pun yang berani mengganggu, apalagi memiliki kambing-kambing tersebut. Konon, menurut pendapat beberapa warga, binatang tersebut sengaja dilepas bebas untuk mencari tumbal bagi kekayaan pemiliknya.

Entah, benar atau tidak, kematian beruntun ketiga pemuda tanggung itu telah mempertebal kepercayaan yang menggayuti warga. Segerombolan binatang tersebut memang diperuntukkan mencari 'sulur'.

Rendra pulang malam ke rumah dari tempat pekuburan dalam kondisi kuyup. Langkahnya gontai memasuki kamar.

"Ya, Tuhan ... Rendra!" teriak Ibu Rendra begitu mendapati anaknya terbaring di atas tidur dalam keadaan basah dan kotor penuh lumpur. "Ada apa denganmu, Nak?"

Rendra diam tak menjawab. Tatap matanya hampa. Seperti hilang kesadaran.

"Pak! Rendra, Pak!" teriak Ibu Rendra memanggil suaminya. Tak berapa lama muncul sosok laki-laki, tergopoh-gopoh menghampiri anak-istri.

"Ya, Tuhan! Rendra?" Bapak Rendra menggoncang-goncangkan tubuh anaknya. Dia tak bergeming. Diam membeku dengan tubuh melemah. "Kenapa kamu, Nak?"

Ibu Rendra menyahut, "Mungkin tertekan dengan kehilangan teman-temannya itu, Pak?"

"Ya, Tuhan! Sadarlah, Nak! Ini Bapak dan Ibu di sini! Lihat kami, Nak! Sadarlah!"

Tiba-tiba kilatan langit memecah alam. Disusul gelegar petir mengentak bumi. Riuh suara angin mengamuk, menghembus kencang disertai hujan lebat.

Sesaat kemudian, keheningan mereka bertiga tambah mencekam. Suara gemerincing lonceng sayup-sayup terdengar dari arah luar rumah. "Pak, suara apa itu?" tanya Ibu Rendra ketakutan. Jawab laki-laki tua di sampingnya, "Tetap ingat pada Tuhan, Bu. Perbanyak membaca ayat-ayat suci."

Dalam kejut mereka, tiba-tiba Rendra menangis pilu, "Tidak. Jangan ajak aku. Kumohon, jangan."

"Rendra, sadarlah, Nak," bisik Bapak Rendra sambil memeluk anaknya. "Sebut nama Tuhan, Nak. Ingatlah hanya kepada Dia."

Rendra tak merespons. Suara-suara lonceng itu kian mendekat. Berbaur dengan desau angin yang masuk melalui lubang udara di atas jendela.

Rendra memberontak. Menangis lirih sambil berucap tak menentu, "Tidak! Jangan ambil aku!"

"Rendra! Sadar, Nak! Sebut nama Tuhan!"

"Itu ... itu ... ada kambing bagus. Aku ingin ikut. Hahaha. Hei, tunggu!" Serta merta, tangis Rendra berubah tawa. Namun dengan tatap mata yang kosong. "Hahaha. Aku ikut kamu, Kawan! Hahaha!"

"Rendra!" teriak kedua orang tua itu untuk menyadarkan anaknya.

Ya, Rendra memang tidak ke mana. Dia masih hidup. Tak seperti ketiga temannya tadi, meninggal dalam keadaan mengenaskan. Namun kini berubah ceria, tak lagi bersedih. Karena tawa pemuda tanggung itu tak berhenti dan tak pernah berhenti. Walau amuk hujan dan angin telah lama reda.

"Hahaha. Hore, aku masih hidup! Malah kini punya teman baru. Kambing-kambing itu. Hahaha."

...SELESAI...

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

sembarangan sih kalian..
apa aja d makan

2023-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!