...BUAH CINTA BERDARAH...
...Penulis : David Khanz...
Unti menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Sesekali, isak tangis gadis cantik itu terdengar di antara desiran bayu yang bertiup, membelai lembut panjang rambutnya yang tergerai hingga panggul. Dengan bola mata indah berkaca-kaca, menatap hampa jauh ke depan tanpa tujuan. Seakan tengah berpikir untuk mencari tambatan, dari gelayut perih dalam hati yang masih terasa.
Perlahan Unti meraih sisa kain penutup tubuh yang berserak di atas rerumputan. Sebagian sudah koyak direnggut paksa oleh laki-laki bergajul bernama Uwok, sesaat sebelum gadis itu hilang kesadaran dan juga kesucian.
Ya, laki-laki durjana itu telah merampas mahkota kebanggaan yang seharusnya Unti persembahkan untuk kekasih pujaan hati, Ocong. Namun apalah daya, kini semuanya telah musnah berganti nestapa. Uwok tiba-tiba datang menghancurkan impian yang selama ini menjadi bunga-bunga kehidupan Unti dan Ocong yang penuh cinta.
"Demi langit dan bumi, aku bersumpah akan selalu berusaha membahagiakan kamu, Adinda Sayang. Apapun yang terjadi," begitu ucap Ocong suatu ketika saat tengah berdua bersama Unti di sebuah tempat yang indah dipenuhi pepohonan Kamboja.
"Benarkah itu, Kanda?" Unti menatap penuh harap mata kekasihnya itu dengan segenap rasa cinta.
"Tentu saja, Dinda. Apakah selama ini aku pernah mengingkari janji-janjiku padamu?" Tanya Ocong lembut sambil tersenyum manis lalu mengecup mesra kening Unti.
Unti merebahkan kepala di dada laki-laki yang sudah lama menghiasi pesona hidupnya dengan penuh kasih, "Aku percaya padamu, Kanda. Ketulusan cinta yang selama ini kau berikan, membuatku semakin yakin bahwa engkaulah laki-laki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku kelak. Tak ada yang lain."
Keheningan, sejenak menyelimuti mereka berdua. Hanya usapan lembut angin yang beraroma bunga Kamboja, sedikit membuat suasana asmara dua insan ini menggelora.
Ocong menatap sayu wajah Unti yang tengah bersandar di dadanya. Desah nafas hangat laki-laki itu seketika menerpa kedua bola mata indah sang kekasih yang hampir terlelap dalam lena.
Entah siapa yang memulai, perlahan Unti bangkit dari sandaran sambil balik menatap mata Ocong penuh harap. Berangsur mendekatkan wajah dan siap menghujamkan ranum bibirnya, menyatu dalam pagutan membara.
Tapi ....
"Tidak, Sayang," tiba-tiba Ocong memalingkan wajahnya.
"Mengapa, Kanda?" Unti menatap heran sang kekasih dengan nafas memburu.
"Belum saatnya kita melakukan hal itu, Dinda. Aku ingin engkau tetap dalam kesucian, sampai masanya kita bersatu dalam ikatan yang direstui."
"Kapan, Kanda?"
Ocong menoleh dan tersenyum, "Segera setelah dua purnama yang akan datang."
"Selama itukah, Kanda?" tanya Unti lirih.
"Tunggu saja sampai saatnya tiba. Selama itu pula, kita akan saling menguji kedalaman dan kebesaran cinta yang dimiliki, sebagaimana halnya aku menjaga kesucianmu dari jamahan nafsu yang kerap menggoyahkan kasih sayangku, Dinda."
Ya, benar. Ocong memang laki-laki normal yang bisa saja khilaf. Namun selama ini, dia sama sekali tak pernah sekalipun berbuat hal yang tidak semestinya pada Unti.
"Semua akan indah pada waktunya ... " itulah kalimat terakhir yang Ocong ucapkan sebelum akhirnya nestapa itu datang di saat yang tak diharapkan.
Kemunculan sosok laki-laki bernama Uwok dalam hidup Unti, semula hanya dianggap biasa. Berulang kali Uwok menyatakan cinta dan berharap agar Unti berkenan menerima lamaran. Namun di saat yang sama, gadis itu kerap menolak dengan halus.
"Apa, sih, yang membuatmu selalu menolakku, Unti? Padahal aku sanggup memberikan apapun yang kauinginkan!" Uwok berseru marah ketika lamarannya berulang kali ditolak Unti.
"Maafkan aku, Bang Uwok. Aku sudah memiliki dan menentukan pilihanku sendiri. Bahkan, tak lama lagi aku akan diperistri seseorang," jawab Unti ketakutan melihat sorot mata Uwok yang berapi-api.
"Siapa laki-laki itu, Unti? Katakan padaku!" Uwok semakin marah sampai tersengal nafasnya menahan murka.
"Bang Ocong ... " lirih suara Unti menyebutkan nama itu.
Khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada mereka berdua.
"Sialan! Dia lagi!" Rutuk Uwok sambil mengepalkan jemari tangannya yang bergetar hebat, "lagi-lagi keturunan dia yang membuat keluargaku selalu dikecewakan! Jahanam!"
Gemeretak gigi Uwok terdengar jelas disertai dengus nafasnya yang kian memburu. Sorot matanya liar menjilati sekujur tubuh Unti yang berdiri tak jauh dari keberadaan laki-laki beringas itu.
Tiba-tiba seulas senyum licik menyeringai di bibir hitamnya. Lalu perlahan mendekati sosok Unti yang semakin ketakutan.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan dekati aku!" teriak Unti keras seraya mundur beberapa langkah.
"Biarlah aku tak bisa memilikimu, Unti! Tapi setidaknya, aku harus bisa ikut menikmati tubuhmu, sebelum si laki-laki sialan itu memperistrimu, ******! Hahaha!" tawa Uwok memecah kesunyian alam.
Secepat kilat dia memburu Unti dan berusaha mendekapnya dengan kuat. Di saat yang bersamaan, gadis itu berusaha menghindar dan berlari. Namun apa mau dikata, kekuatan seorang laki-laki yang sedang dirasuki nafsu durjana itu tak mampu dilawan dengan rontaan seorang perempuan teraniaya.
Unti hanya bisa mengelak beberapa langkah dari terjangan Uwok. Lajunya tertahan saat jemari Uwok berhasil menggapai kain penutup tubuh bagian punggung dan mengoyak dengan ganas. Bahkan daging tubuh belakang gadis itu sampai tergores menyisakan rasa perih yang hebat.
Unti terjatuh dengan keras ke tanah. Perlawanan gadis itu sia-sia dan hanya bisa pasrah sambil menahan sakit tak terkira.
Di tengah rasa takut dan kesakitan yang mendera, perlahan kesadaran Unti memudar. Hitam pekat seketika menyelimuti setiap pandangan dan segenap alam pikiran. Sampai akhirnya, dia pun tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Sejak kejadian itu, Unti seringkali murung dan menyendiri. Hanya isak tangis yang seringkali terdengar dari bibir ranumnya. Tak ada semangat untuk menjalani kehidupan seperti sedia kala. Hatinya benar-benar hancur tak tersisa. Bahkan kehadiran sang kekasih, Ocong, tidak pernah dihiraukannya.
Melihat keadaan Unti yang menyedihkan akibat perlakuan Uwok, Ocong bertekad untuk membalas dendam. Lalu mereka terlibat perkelahian seru tak seimbang. Dengan mudah, Uwok membabat habis Ocong hingga babak belur. Wajah kekasih Unti itu dibuat tak menentu. Hitam legam bercucuran darah akibat hantaman kepalan tinju Uwok yang membabi buta. Tak sampai di situ, bahkan Ocong sampai tak mampu lagi berjalan sebagaimana biasa.
Tak dinyana, seiring perjalanan waktu, ternyata Unti mengandung anak Uwok dari hasil kejadian mengenaskan beberapa purnama yang lalu itu.
Sesosok bayi mungil terlahir dari rahim Unti. Namun pada saat yang bersamaan, Unti justru meninggalkan bayi itu begitu saja sambil menangis memilukan. Perempuan itu terus berlari dan berlari menjauh dari tempat yang selama ini di tinggali. Di saat terasa lelah, dia berhenti sambil merenung dalam kesendirian. Menangis dan kembali menangis. Lagi-lagi sebuah tangisan yang memilukan. Namun kali ini, kadang, disertai tawa.
Tertawa?
Ya, Tuhan. Unti sudah gila rupanya. Guncangan bathin yang selama ini dirasa, telah membuat kesadaran perempuan itu hilang sedemikian rupa. Jiwanya berubah tak waras. Sementara kecantikannya pun turut memudar. Berganti rupa menjadi sosok yang buruk berpenyakitan. Bagaimana tidak, bekas luka di punggung yang dulu pernah digoreskan Uwok, rupanya semakin bertambah parah menjijikan. Tak pernah diobati apalagi dirawat. Hingga luka itu pun membusuk dipenuhi belatung-belatung hidup yang menggerogoti daging punggung yang koyak.
Sementara Ocong, kini harus bertahan hidup dengan kedua kaki yang tak mampu lagi berjalan seperti sedia kala. Laki-laki ini harus melompat dan melompat untuk melangkah maupun berpindah tempat. Dia merasa malu dan khawatir jika bertemu dengan sang kekasih, Unti. Maka dari itu, dia kerap bersembunyi sambil menunduk dengan kedua tangan serta kakinya yang cacat tertutup kain.
Lalu bagaimana dengan nasib anak Unti? Ternyata bayi mungil itu dipungut dan diasuh oleh seorang wanita tua yang kebetulan menemukannya tergolek begitu saja di tengah hutan. Wanita tua itu bernama Nenek Long We. Melihat sosok bayi yang mungil dan unyu-unyu, maka dia memberi nama bayi itu, Uyul.
Sayang sekali, karena usia yang sudah semakin menua, Nenek Long We tidak sepenuhnya mampu merawat Uyul dengan baik. Di tengah kondisi yang lama menjanda serta miskin, Uyul mengalami kekurangan gizi dan pendidikan. Sampai kemudian anak itu tumbuh besar tak sebagaimana umumnya anak-anak seusia dia. Ditambah pula dengan perangai Uyul yang seringkali kedapatan mencuri uang untuk sekedar jajan permen atau kembang gula. Parahnya lagi, Uyul seringkali mencari-cari air susu yang tak pernah dirasakan sejak balita.
Terakhir adalah nasib Uwok, yang tak pernah terdengar menikah karena kecewa cintanya ditolak Unti. Laki-laki ini seringkali mengembara mencari mangsa untuk melampiaskan nafsu bejat. Hidup dalam balutan dendam yang belum terpuaskan, membuat sosok laki-laki ini menjadi pemarah. Sorot mata Uwok yang selalu merah menyiratkan, bahwa dia akan tetap menikmati sisa hidup dalam dekapan murka.
Sejak itulah mereka semua tidak pernah mau saling bertemu satu dengan lainnya.
Demikianlah sepenggal kisah ngasal bin asal-asalan tentang asal-usul munculnya Kuntilanak (Unti), Ocong (Pocong), Uwok (Genderuwo), Uyul (Tuyul) dan A Long We (Kalong Wewe). Lumayan buat bahan dongeng!
...SELESAI...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
bisa ae dah ah..
2023-01-07
0
Mami Mara
gini toh, asal usul para dedemit paling tersohor di negara +62? top 5 pula 🤔
2022-12-18
0