Makhluk Itu Bukan Suamiku

...MAKHLUK ITU BUKAN SUAMIKU...

...Penulis : David Khanz...

Kamis malam di penghujung bulan, hujan rintik mulai turun setelah sekian lama dirindukan. Memberi rasa sejuk dari hawa panas yang seharian tadi terus mengamuk.

Astri masih sibuk bebenah merapihkan perabotan rumah, karena baru beberapa hari ini berpindah, menempati bangunan yang dibeli dengan harga murah. Tak terlalu besar namun cukup untuk sekedar perlindungan, dia dan suami, dari terpaan panas dan hujan.

Konon menurut selentingan kabar yang sempat terdengar, rumah itu dihuni oleh makhluk astral yang kerap menebar nuansa horor. Apalagi di area belakang rumah, berdiri sebuah pohon beringin tua dan tinggi besar dengan pongah. Pada saat-saat tertentu menjelang malam, seringkali terlihat penampakan-penampakan sosok seram.

Astri dan Andi, suaminya, berusaha menepis kabar-kabar tak elok tersebut. Yang terpenting, bagi mereka, bisa memiliki rumah sendiri adalah sebuah keharusan. Daripada terus berkumpul padu dalam satu atap dengan mertua maupun mengontrak untuk jangka waktu tak terhingga. Apalagi bisa membelinya dengan harga miring, tak sampai menguras semua saldo tabungan mereka selama ini.

Astri melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul tujuh petang, Andi belum juga pulang dari tempat kerjanya. Biasanya menjelang petang tiba, laki-laki yang menikahinya setahun yang lalu itu, sudah ada di rumah. Pesan instan yang dikirim pun, masih berwarna abu. Ke mana gerangan suaminya itu?

Astri menghenyakan diri di atas sofa ruang tengah, sekedar melepas penat yang mendera sekujur tubuh. Membuka-buka sebentar beranda akun media sosial di smartphonenya, masih dipenuhi berita-berita seputar aksi demo di beberapa wilayah nusantara. Ada banyak notifikasi dari debat kecil yang dia ikuti tadi siang di group literasi ***. Biasa, jiwa keemakannya seringkali bangkit, jika ada postingan yang kurang sreg dan perlu 'dihajar' dengan bunyi komentarnya yang pedas.

Ah, lagi enak-enaknya membaca cerbung PETAKA HARTA TERLARANG karya penulis lebay yang sering berkomentar mesum itu, layar ponsel seketika berubah tampilan wallpaper dirinya dan Andi, disertai bunyi ringtone dangdut milik suara Evi Tambalban. Andi menelpon ....

"Ya, Abang ada di mana? Kok, belum pulang?" tanya Astri begitu menerima panggilan.

"Aku masih sibuk lembur, Dek. Double shift menggantikan temenku yang gak masuk. Adek baik-baik aja, 'kan, di rumah?" balas Andi di seberang telepon.

"Capek, Bang. Masih bebenah rumah belum kelar-kelar, nih, kerjaan." Astri mulai merajuk.

"Ya, sudah. Tunggu sampai aku pulang nanti, ya? Udah makan belum?"

"Belum, tadi cuma sempet makan mie ayam ceker dari abang-abang yang lewat."

"Abang-abang apaan?"

"Tukang jual mie ayamnyalah, Bang!"

"Gantengan mana sama Abangmu ini?"

Astri hampir tertawa. "Ya, ampun! Segitu aja cemburu, sih. Jelas gantengan Abang suamiku, dong, Bang!"

Terdengar suara tawa dari sana sebelum percakapan berakhir. "Oke, deh. Nanti kalau pulang, Abang kasih kabar lagi, ya, Dek!"

"Iya, Bang. Titi dije, ya!"

"Iyalah, ***** Abang, mah, emang gede, Dek."

"T-T-D-J ... Abang! Hati-hati di jalan, maksudnya! Haduh!"

Andi kembali tertawa.

Astri mesem-mesem sendiri. Suaminya memang kocak. Ada saja bahan obrolan yang bisa membuatnya nyengir setiap hari. Ah, Abang Andi ....

Sebentar kemudian, perempuan itu sudah asyik kembali menarikan jemari di atas layar ponsel. Melanjutkan debat sengit antar emak-emak di group ***.

"Laper lagi, duh!" gerutu Astri sambil pegangi perutnya yang mulai terasa perih kembali, "kalo ada tukang bakso lewat, mantap juga, ya?!

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara ketukan pintu. Astri terhentak.

"Siapa, ya? Bang Andi, gitu?" gumam Astri bangkit dari duduknya.

Benar, begitu pintu depan dibuka, laki-laki kocak itu tersenyum lebar sambil memperlihatkan sebuah bungkusan plastik.

"Abang? Katanya lembur?" Astri berseru kaget sekaligus senang begitu menerima bungkusan plastik yang disodorkan suaminya, berisi bakso.

"Emang lembur, Dek. Tapi cuma setengah hari. Tugas Abang dihandle anak buah," jawab Andi tersenyum melihat geliat istri begitu menyambutnya pulang.

"Abang tahu dari mana aku pengen bakso?" Astri menyelidik.

"Ya ampun! Abang, kan, udah hapal kesukaan istrinya jam-jam segini. Pasti minta jajan bakso. Kalo maleman dikit, sukanya 'bakso' yang laen!"

"Dih, Abang!" Astri mencubit lengan Andi sambil tertawa manja.

Andi meringis kesakitan mengusap-usap lengannya.

"Malem Jum'at, nih, Dek!" Andi mesem-mesem penuh arti.

"Emang kenapa, Bang?" tanya Astri pura-pura tak paham dan mulai menyantap penganan kegemarannya.

"Kayak gak tahu aja. Jadwal umum kitalah, Dek. Apalagi?"

Astri tertawa lebar, "Ya, udah. Mandi dulu sana, gih! Udah aku siapin air panasnya di termos di dapur, tuh!"

"Gak usah mandi dulu, emang kenapa, sih, Dek?"

"Ya, asemlah, Bang! Apalagi Abang ... " Astri mengendus-endus badan suaminya, "bau kentang busuk begini ... "

"Abis mandi, kita ... "

"Iya, Bang! Aku siapin paket spesial buat Abang suamiku tersayang!"

Andi tergelak dan langsung bergegas ke dapur. Tepatnya ke kamar mandi.

Astri menyicip-icipi bakso yang sedang dikunyahnya, terasa agak lain. Baunya juga tak seperti biasa.

Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. Tampak di layar tertera ....

"Dari Bang Andi?" tanya Astri heran, "ngapain dia nelpon dari kamar mandi?"

"Dik, bentar lagi aku pulang. Mau dibeliin apa? Bakso super yang biasa kita beli itu, kan?" tanya suara Andi dari balik telepon.

"Abang posisi di mana, sih? Kok ... "

"Aku ada di tempat kerjaan. Kan, tadi udah dibilangin, Abang lembur! Gimana, sih?"

Astri meletakan smartphonenya di atas meja. Matanya memandang ke arah dapur penuh kebingungan.

Kalau suaminya masih di luar, terus siapa tadi yang pulang mengaku sebagai Bang Andi? Mungkinkah dia ....

Bulu kuduk Astri berdiri. Apalagi tadi sempat membaui badan Andi dengan aroma kentang. Bukankah itu bau khas dari ....

"Aku sudah mandi, Dek!" Andi muncul tiba-tiba di belakang Astri.

"Ya, Tuhan!" Astri terkesiap dan mundur menjauhi sosok suaminya, "siapa sebenarnya kamu?"

Andi melongo heran, "Lho, aku ini suamimu, Dek. Masa gak kenal, sih?"

"Bukan! Kamu bukan suamiku!" teriak Astri sambil terus menjauh.

"Kamu kenapa, Dek? Aku suamimu. Abang Andi!" ucap Andi berusaha menghampiri istrinya.

"Jangan mendekat! Atau kulempar kamu dengan ponselku ini!" ancam Astri mengacungkan smartphone mahalnya dan siap melemparkan ke arah Andi.

"Jangan dilempar, Dek! Nanti rusak. Itu LCD-nya mahal. Layar 6 inci, RAM 4 GB, ROM 32 GB, Android Oreo, kamera utama 20 mp dan 13 mp yang depan, dan batrenya 5000 mAh. Harga jualnya masih mahal, lho, Dek!"

"Aku tak peduli! Kamu bukan suamiku! Pergi!" ancam Astri ketakutan sambil merapal doa sebisanya.

"Jangan, Dek!" teriak Andi seraya mundur menjauhi istrinya.

Geliat tubuhnya seperti merasakan ketidaknyamanan. Dia terus memohon agar Astri menghentikan bacaannya.

"Pergi!" teriak Astri semakin galak.

"Aku suami kamu, Dek! Masa disuruh pergi?"

"Pergi sekarang juga! Atau ... "

"Atau apa?" tanya Andi masih menggeliat tak beraturan.

Astri berpikir sesaat dan langsung teringat pada postingan member *** beberapa pekan belakangan ini. "Aku tuntut kamu dengan RUU KUHP dengan ancaman kurungan penjara dua belas tahun!"

Mata Andi tiba-tiba membelalak kaget. "Jangan! Jangan! Aku pilih pergi saja, Dek!"

"Pergi!"

Perlahan sosok yang menyerupai Andi, suaminya, itu pun menghilang dari pandangan Astri. Meninggalkan aroma bau kentang yang masih tercium di sekitar ruangan.

...SELESAI...

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

aduh maka nya jng sembarangan buka pintu...

2023-01-07

0

Mami Mara

Mami Mara

bisa gtu setan diancam sm ruu kuhp??? melek hukum rupanya 😂😂😂

2022-12-18

0

anggita

anggita

👌👌,, 👻

2022-11-28

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!