...PERSAINGAN DUNIA MISTIK...
...Penulis : David Khanz...
Pulang kerja, Darto mengenyakkan diri di kursi ruang tengah, diiringi desah lelah serta raut wajah muram. Sesekali decak bibir hitam lelaki berkumis tebal itu pun menggema, melengkapi gundah yang tengah dia rasakan.
Tidak berapa lama, Sunarti istri Darto, datang menghampiri dari ruang belakang. Masih dengan kondisi lengan baju digulung dan basah beraroma sabun cuci. Seruak senyum perempuan itu seketika, menghadirkan garis khas di kedua pipinya yang putih dan mengilap, di antara paduan minyak serta keringat. Sejenak menyeka wajah menggunakan punggung tangan, lalu menyapa lembut suaminya. "Pak, sudah pulang rupanya," ujar Sunarti seraya mendekat. "Maaf, tadi aku lagi nyuci pakaian. Dengar suara pintu depan terbuka, kukira siapa yang masuk rumah."
Darto membalas senyuman istrinya dengan senyum tawar. Kemudian menimpali datar, "Iya, Bu, tak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku mau istirahat dulu sebentar."
Sesaat, Sunarti menatap raut wajah Darto sebelum kembali berucap. "Tak sarapan dulu, Pak?" Perempuan itu mencoba menawari. "Aku sudah masak lebih awal tadi. Ada masakan kesukaan Bapak, lho."
Sekali lagi, lelaki berusia empat puluh tahunan itu mengurai senyum kecut. Setelahnya, lalu menjawab, "Bikinin aku kopi saja, deh, Bu. Saat ini aku belum terlalu lapar."
Kening Sunarti berkerut, heran. "Lho, katanya Bapak mau istirahat. Kalau minum kopi, nanti malah susah tidur, Pak."
"Sudah, sana. Bikinin saja dulu, Bu," seru Darto tampak tak begitu senang diingatkan istrinya barusan. "Semalaman aku sudah banyak tidur."
Kali ini kerutan dahi Sunarti disertai sorot mata menyipit. Semula hendak kembali bertanya, tapi urung dilakukan. Dia lebih memilih menuruti perintah Darto, ketimbang menuntaskan rasa penasaran. Apalagi nada suara lelaki itu sudah mulai meninggi. Maka, perempuan itu pun bergegas menuju dapur.
Tidak berapa lama, Sunarti kembali lagi ke ruang tengah. Membawa segelas kopi hitam kental kegemaran suaminya. "Memangnya, semalam dagangan Bapak sepi, ya? Kok, Bapak bilang lebih banyak tidur?" tanyanya usai memenuhi permintaan Darto tadi.
Lelaki itu melirik sejenak istrinya.
"Begitulah, Bu," jawab Darto sambil menuangkan sedikit air kopi yang masih panas ke dalam pisin. "Sudah beberapa malam terakhir ini, tak banyak pembeli yang datang. Yang ada pun, hanya segelintir pelanggan lamaku."
"Kenapa, Pak?" Belum hilang rupanya rasa penasaran Sunarti, hingga berkali-kali mengajukan pertanyaan. "Ada pedagang nasi goreng lain juga dekat pangkalan tempat biasa Bapak dagang?"
Darto menggeleng perlahan. "Tak ada. Hanya beberapa teman seprofesiku dengan dagangan berbeda," jawabnya, kemudian menyeruput nikmat air kopi di atas pisin sedikit demi sedikit.
"Kok ... bisa, ya, Pak? Mungkinkah karena masih dalam masa pandemik?" Sunarti mengetuk-ngetuk jari telunjuk pada bibir sendiri. Seperti hendak ikut berpikir, perihal penyebab kegundahan yang sedang dirasakan suaminya.
Kembali Darto melirik sekilas pada Sunarti, kemudian berkata perlahan, "Apakah aku harus pindah tempat saja, ya, Bu? Mungkin di sana sudah tak cocok buat berdagang."
Perempuan yang berumur tak jauh dari usia Darto itu, tercengang. "Pindah ke mana lagi, Pak?" tanyanya serius. "Ini sudah beberapa kali, lho, Bapak berpindah-pindah tempat dagang."
Darto menarik napas panjang. Sekadar ingin melegakan dadanya yang tiba-tiba terasa menyempit. "Entahlah. Aku sendiri masih bingung," timpal lelaki tersebut lirih, "aku pikir sebaiknya memang pindah, Bu. Agak menjauh dari sesama lapak pedagang makanan. Apalagi persaingan usaha sekarang, jauh lebih ketat daripada sebelumnya."
Kali ini Sunarti terdiam. Tak tahu, pertanyaan apalagi yang akan diajukan. Terlebih, melihat raut wajah lelaki yang sudah menemaninya hidup selama puluhan tahun itu, tampak semakin muram.
Akhirnya, beralasan hendak melanjutkan pekerjaan di belakang, Sunarti pun pamit meninggalkan Darto di ruang tengah. Sendirian.
Mata lelaki berkumis tebal itu menguntit sosok istrinya hingga lenyap di ambang pintu dapur. Decak bibir hitamnya kembali bersuara, kemudian mengerucut membentuk bulatan penuh, mirip kloaka binatang unggas. Gumamnya dalam hati, 'Maafkan aku, Narti. Sudah beberapa waktu terlewati, aku selalu membohongimu. Itu semua terpaksa kulakukan, agar kamu tak banyak mendebatku. Bahkan, aku takut sekali jika sampai tahu, kamu akan pergi meninggalkanku.'
Masih segar dalam ingatan laki-laki itu, saat lalu. Bingung hendak lanjut mencari penghidupan usai diputus hubungan industrial dari tempat pekerjaan. Itu terjadi beberapa pekan, setelah wabah virus itu melumpuhkan persendian ekonomi warga. Termasuk Darto. Berbekal uang pesangon ala kadarnya, dia berusaha mempertahankan hidup serta pemenuhan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, dengan cara berniaga. Memiliki dasar pengetahuan di bidang kuliner, lelaki tersebut mencoba peruntungan usaha menjual nasi goreng.
Awalnya berjalan cukup lancar, sampai kemudian perlahan-lahan usahanya meredup. Modal pun semakin menipis dan habis. Untuk mencari pinjaman, sungguh teramat sulit. Apalagi di tengah pandemik seperti sekarang ini. Di mana hampir semua orang memiliki masalah kompleks dan seragam.
Di pengujung masalah, hampir saja Darto mengalami depresi dan frustrasi. Pada masa itulah, dia dipertemukan dengan satu sosok asing bernama Ki Jarok. Seorang lelaki tua bangka, berambut serta janggut putih tergerai memanjang, memberi kesan layaknya penghamba dunia klenik. Ki Jarok menawarkan solusi pintasan untuk menuntaskan masalah pelik Darto. Terdengar begitu menggiurkan, karena prosesnya teramat mudah, ringan, tapi menjanjikan hasil cepat dan banyak.
Akhirnya, Darto pun tergoda. Tanpa sepengetahuan Sunarti, dia bergabung dengan perkumpulan yang telah lama dibentuk oleh Ki Jarok. Isinya tak lebih dari sekelompok orang-orang lemah iman dan rela menjadi hamba, bagi makhluk durjana. Berdagang hanyalah sebagai kedok Darto, untuk menghindari kecurigaan pihak istri. Hal tersebut, sudah berjalan beberapa bulan semenjak kasus virus Corona itu mencuat.
Dengan alasan kuat hendak berusaha, Darto leluasa melakukan aktivitasnya di malam hari. Meninggalkan Sunarti, seorang sendiri di rumah, di hampir setiap alam mulai membuta. Bersama seorang teman sesatnya, Samad, laki-laki itu kerap berkeliling mencari tempat strategis guna melancarkan aksi mereka.
Masalah baru pun muncul. Secara tak sengaja diketahui. Ternyata hampir semua pedagang di tempat biasa Darto mangkal, adalah sama-sama anggota perkumpulan Ki Jarok. Hanya saja, walaupun memiliki tujuan serupa, di antara mereka ada yang berbeda dalam cara memilih perjanjian serta aksinya. Seperti yang baru terungkap beberapa pekan lalu ….
Jafar, salah seorang penggelar lapak martabak tak jauh dari tempat biasa Darto memangkal, jelang tengah malam tiba-tiba mendatangi suami Sunarti tersebut. "Mas, aku pinta sebaiknya malam ini kamu tak usah beraksi dulu. Beri kesempatan rekan kita yang lain untuk mencari tambahan uang," kata Jafar dengan suara pelan. Khawatir ada yang mendengar percakapan mereka.
Darto yang tengah duduk termenung, terkejut. Serunya, "Maksud kamu apa, Far?"
Jafar menyeringai memuakkan. Lalu jawab laki-laki muda tersebut, "Ayolah, Mas. Kamu pikir aku tak tahu, apa yang selama ini kamu lakukan?" Tawa kecilnya seketika memecah suasana.
"Bicara yang benar, Far! Kalau tidak, kamu akan dituduh memfitnah!" Darto bangkit dari duduk. Berdiri tegak berhadapan dengan Jafar dengan napas memburu.
"Fitnah katamu, Mas?" Seringai Jafar kembali menyeruak. Lanjutnya masih dengan suara perlahan, "Asal kamu tahu saja, ya, bahwa teman-teman pedagang kita di sini masing-masing sudah pada tahu kebejatan kamu, saya, dan juga mereka."
"Siapa yang bejat? Jangan asal kalau bicara!"
"Masih mau pura-pura?" Jafar mendekatkan mulutnya ke telinga Darto. "Kamu anak buahnya Ki Jarok, 'kan?"
Darto terkejut. Tak disangka, rahasia yang selama ini dia simpan ternyata ada yang mengetahui juga. Kali ini, dia tak bisa berkata maupun menyangkal.
Lagi-lagi Jafar memperlihatkan seringainya.
"Jangan dikira aku tak tahu usaha sampinganmu, Mas. Lihat …." Dia mengayunkan lengan seraya menyapu pandangan pada seisi tempat di sekitar itu. "Kamu pikir para pedagang di sini benar-benar mempunyai usaha tunggal? Tidak. Seperti halnya kamu, berdagang bagi mereka hanya sekadar topeng. Aslinya, di antara mereka ada yang kerap menjadi monyet, anjing, ular, atau bahkan berteman dengan pocong, kuntilanak, tuyul, genderuwo, serta berbagai macam dedemit lainnya."
"Kamu …." Darto tak bisa berkata-kata. Dia seperti tengah ditelanjangi bulat-bulat saat itu juga.
Jafar kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Darto, kemudian berbisik, "Kalau kamu sendiri memilih perjanjian apa, Mas?" Berpikir sejenak, lalu lanjut berucap, "biar kutebak. Hhmmm … pilihan yang bagus. Babi hutan, 'kan?"
Jafar tergelak hebat, sampai Darto beringsut menjauh seraya menutup lubang telinga. Rutuknya, "Sialan!"
"Tak usah malu-malu, Mas. Aku juga anggota perkumpulan Ki Jarok. Hanya saja jauh lebih dulu bergabung dengan dukun tua itu, dibanding kamu sendiri. Dan sebagai perkenalan, coba kamu lihat pedagang bakso urat itu …." Tunjuk Jafar dengan ujung mata pada seorang pedagang dimaksud. "Kebejatan apa yang dia lakukan? Hhmmm, kalau kamu ingin tahu … dia menggunakan ****** ******** sendiri untuk jimat pelaris. Hahaha."
"Apa?!" Darto berseru kaget. Tiba-tiba saja dia memegangi perut, seperti mau muntah.
Jafar tergelak terbahak-bahak. Katanya, "Itulah sebabnya, sejak tahu praktik menjijikkan ini, aku sangat membenci bakso! Hahaha!"
Percakapan singkat tapi penuh makna waktu itu, mengawali gundah seorang Darto akan nasib selanjutnya. Jalan sesat yang ditempuh selama ini, nyata sekali masih belum bisa mengubah perjalan hidup laki-laki tersebut. Persaingan kerap terjadi di mana-mana. Bahkan di dalam dunia klenik sekalipun.
Terpaksa Darto bersama dengan Samad, teman persekongkolannya, memilih jalan aman. Untuk sementara waktu, mereka mencari target di luar dari tempat biasanya. Itu pun tanpa sepengetahuan Jafar dan teman-teman perkumpulan.
"Kali ini kita beroperasi di mana, Mas?" tanya Samad suatu hari. Dia bertugas sebagai pengawal aktivitas Darto saat menjalankan aksi. Yang ditanya pun tampak terlihat bimbang. Jawabnya, "Aku sendiri bingung, Mad. Seharian kemarin kita menyurvei berbagai tempat, belum ada satu pun lokasi bagus yang patut kita datangi."
"Apa tak kita coba saja di luar daerah, Mas?" Samad memberi saran.
Darto menggeleng. "Terlalu beresiko. Belum tentu hal itu akan berhasil. Lagipula, pekerjaan ini bukan hanya dilakukan oleh kita berdua, Mad. Masih banyak bertebaran manusia-manusia berpikiran sempit berkeliaran di dunia ini, layaknya kita," tutur laki-laki gaek itu. "Jika terlalu dipaksakan, khawatir bakal terjadi hal yang tak diinginkan. Apalagi, masyarakat sudah mulai curiga karena sering kehilangan harta benda. Tentunya mereka juga akan menggunakan cara yang sama untuk menjaga kekayaan."
"Maksudmu, Mas?"
Darto mendengkus keras, kemudian menjawab, "Mereka akan menggunakan bantuan tenaga gaib, Mad. Itu salah satu hal yang sangat kukhawatirkan selama ini."
Samad ikut berpikir sejenak.
"Terus, kalau malam ini kita tak kerja, anak-istri kita mau makan apa?" Samad terlihat gundah. "Sementara hasil yang kemaren pun tak seberapa."
Darto manggut-manggut. Dia paham apa yang membuat temannya risau. Maka tak ada pilihan lain, mereka sepakat beroperasi malam nanti, di tempat yang telah disepakati.
Seperti biasa sebelum melakukan aksi, Darto dan Samad mengadakan ritual khusus di sebuah tempat sepi, gelap, terpencil, dan tentu saja menyeramkan. Kepulan asap dupa pun mengalun menebar aroma mistik memenuhi area pemujaan.
"Aaarrgghh!"
Darto mulai meraung-raung dalam belitan jubah hitam yang menutupi sekujur tubuh. Seketika badannya mulai mengecil dengan bentuk muka melonjong ke depan disertai taring meruncing ke atas. Suara erangan tadi pun perlahan berubah menguik laksana seekor babi hutan yang tersakiti.
Sementara Samad terus merapal kalimat-kalimat aneh tiada henti di depan kepulan pedupaan dan wadah besar penuh bebungaan, lengkap bersama tancapan lilin di tengah-tengahnya.
"Berangkatlah, Mas, sekarang. Aku akan menjagamu dari sini," ucap Samad seraya menoleh ke arah seekor babi besar dan legam, tepat di mana sosok Darto tadi berada.
Kembali terdengar binatang tersebut menguik, seakan-akan paham akan ucapan Samad barusan. Ia melangkah pergi dengan keempat kakinya yang pendek serta kibasan ekor melengkung bulat menuju suatu tempat.
Beberapa saat setelah itu, tanpa disadari, dari arah belakang Samad muncul sesosok makhluk lain. Tinggi-besar laksana julang pohon di pedalaman rimba, mendekat selangkah demi selangkah, lantas meraup tubuh laki-laki itu dengan cepat. Nyaris tanpa jeritan ketakutan maupun kesakitan, terkecuali derak patah tulang belulang tergerus kunyah mulut sosok tersebut.
Samar-samar dari kejauhan terdengar kekeh puas bercampur kegelapan malam.
Darto yang telah berubah menjadi sosok besar babi hutan, terus berjalan sembari mengendus-endus tanah mencari tempat yang diduga mengandung timbunan harta kekayaan. Menyelinap di antara bayang-bayang hitam alam, kemudian membaui sesuatu yang khas. Aroma uang.
Tidak seberapa jauh dari tempat Darto yang bersiap-siap hendak menguliti harta kekayaan sebuah rumah besar, sesosok makhluk lain tengah berdiam mengintai dari balik rimbunan pepohonan.
"Ssshhhh … ssshhh …." Desis tipis berbaur dengan desau angin malam menawarkan pendengaran. Bergerak perlahan meliuk-liuk di antara ranting-ranting.
"Ngik! Ngik!"
Darto mencium ada aroma berbahaya di sekitarnya. Dia celingukan dengan bentangan batang leher yang kaku, hendak mencari-cari sumber tak beres. Namun langkah kaki pendek itu tidak sempat lari menghindar, karena tubuhnya tiba-tiba menyesak dipenuhi belitan menyakitkan.
"Ngiikkk! Ngiikkk!"
"Ssshhh … sshhh …."
Terjadi pergumulan hebat di sana, disertai bunyi menguik-nguik cukup keras membangunkan warga sekitar. Sekejap saja tempat itu pun ramai dipenuhi lautan manusia dengan berbagai senjata siap terhunus di tangan.
"Hehehe …." Kekehan lain di tempat Samad menemui ajalnya tadi pun kembali terdengar. Perlahan sesosok manusia muncul dari kegelapan, mendekati pedupaan serta nyala lilin yang bergerak-gerak hampir padam di tengah taburan bebungaan.
Seorang laki-laki tua dengan gerai panjang memutih dari rambut serta janggutnya.
Imbuh sosok tersebut, "Malam ini … terimalah persembahan tumbal-tumbal istimewa dariku, teruntuk Mahaguru-ku Eyang Selaksa Jagat. Semoga Eyang bisa menerimanya dengan senang hati …."
Usai laki-laki tua tersebut berkata demikian, tiba-tiba nyala lilin pun padam. Padahal tak ada embusan angin sama sekali di sekitar tempat itu. Kemudian bergema tawa menggidikkan disertai lolongan anjing dari kejauhan.
Esoknya, penduduk kampung digemparkan dengan penemuan beberapa sosok mayat di pinggiran jalan. Tergeletak dengan kondisi mengenaskan dan penuh darah mengering di sekujur badan. Mereka adalah Darto, Samad, dan Jafar.
...SELESAI...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
ternyata mereka mati sia sia..
2023-01-07
0