...T E R D A M P A R...
...Penulis : David Khanz...
Rintik hujan masih turun, tersapu desau angin yang berhembus dingin, menusuk-nusuk jaketku yang kuyup. Berlindung di bawah sebuah gubuk kecil tak terurus dengan tatanan atap jerami bolong dan menyisakan tetes-tetes bening membasahi di sekeliling. Lumayanlah, pikirku, ketimbang harus meneruskan perjalanan, usai turun dari angkutan umum beberapa waktu lalu.
Kubuka tas pinggang untuk mengambil ponsel, lalu membuka-buka bekas percakapan melalui aplikasi perpesanan dengan jemari yang masih lembab, disertai gigil menggetarkan tubuh, dengan Azel teman lama sewaktu kuliah.
"Maen, dong, ke tempat gua, Ron," tulis temanku bernama Azel tiga hari lalu. "Udah lama kita gak ketemu."
"Emang elu tinggal di mana sekarang?" tanyaku diantara pendam rasa rindu setelah beberapa tahun berpisah. Tepatnya sesudah acara wisuda di kampus tempat kami bersama-sama menimba ilmu dulu.
Azel menuliskan nama sebuah alamat. Begitu asing dan jauh dari tempatku tinggal saat itu. " ... daerah Jawa, Ron."
"Jauh amat, Zel. Sejak kapan elu tinggal di sana?" Alisku terangkat naik begitu membaca nama tempat yang dikirim Azel tadi.
"Belum lama, sih, Ron," jawabnya cepat. "Tadinya gua gak bermaksud tinggal di sini, tapi entah kenapa gua jadi terdampar 'gini. Hehehe."
Kukirim stiker kartun tertawa.
"Elu udah kerja, Ron?" tanya Azel kemudian. Kujawab segera, "Udah. Biasalah, hasil rekom dari Om gua. Hehe."
"Masih mending. Gua malah belum ngapa-ngapain dari dulu. Ya, 'gini aja. Gak kemana-mana. Hiks."
Cukup panjang kami berbalas pesan saat itu. Sampai akhirnya kuputuskan untuk berkunjung ke tempat dimana Azel tinggal. "Oke, deh. Sabtu dan Minggu, gua 'kan libur gawe. Sekalian ngambil cuti tahunan, barang dua atau tiga hari. Jadi, lumayan gua bisa berlama-lama di rumah elu. 'Gimana?"
"Nah ... 'gitu, dong!" balas Azel disertai emoticon berekspresi senang. "Yakin elu tahu alamatnya?"
"Gampang! 'Kan gua bisa pake Google Map."
"Sip, deh. Gua tunggu, ya, Ron," tulis Azel seakan berharap banyak aku jadi datang.
"Oke ... siap, Zel. Kangen gua ama elu, soalnya. Hehe."
Percakapan pun berakhir. Selanjutnya sambil menunggu waktu yang ditentukan untuk keberangkatan, kami melakukan perbincangan ringan. Itu pun kerap dilakukan usai aku pulang kerja dan beristirahat di kontrakan, sekitar petang hari.
Sebenarnya, pertemuanku dengan Azel terjadi secara tidak sengaja. Suatu ketika, tiba-tiba saja denting notifikasi ponsel berbunyi. Salah seorang teman sekampus memasukkan nomor selulerku ke dalam sebuah grup Whatsapp. Semula tak begitu tertarik mengikuti semua perbincangan tak berguna anggota yang ada di sana. Hampir selalu hanya sekadar salam, tegur sapa, candaan, maupun pamer aktivitas diri. Untuk keluar dari komunitas tersebut, rasanya tidak sampai hati. Biarlah, sementara cukup hadir sesekali agar tidak dinilai sombong sambil rajin-rajin menghapus perbincangan yang tak sempat kubaca.
Entah mengapa, beberapa waktu kemudian, iseng aku membuka info grup. Meneliti nomor-nomor yang terdaftar di sana. Tiba-tiba mata ini lekat tertuju pada sebuah nomor bernama profil yang sangat tak asing dan kerap kucari-cari selama ini. 'Azel ….' gumam hati ini diiringi gemuruh hebat membuncah dada. 'Ya, Tuhan … sejak kapan nomor itu terselip di antara nama-nama mereka. Kenapa baru sekarang aku menemukannya.'
Jawab salah seorang teman bernama Syahrul, sekaligus Administrator grup, saat kutanyai, "Si Azel udah lama gabung di grup, Ron. Hanya saja, dia gak pernah ikutan berinteraksi ama temen-temen. Padahal nomornya masih aktif. Bahkan dijapri juga terkirim, kok. Tapi gak pernah dibales."
Ya, aku periksa usia komunitas ini sudah lebih dari setahun lalu. Menurut keterangan, keanggotaan Azel pun hampir separuh lamanya. "Nomor elu sendiri baru gua tahu dari bokap gua yang sekantor ama Om elu," tuturnya menambahkan saat kutanya mengapa baru tahu ada grup angkatan kuliah dulu. "Coba aja japri dia, Ron. Elu 'kan temen deket sekaligus satu kosan ama dia."
Kucoba menghubungi nomor Azel. Hasilnya ceklist. Namun barulah pada malamnya menerima balasan. "Hai, Ron. Ini beneran elu?" tanya Azel.
"Iyalah. Ini gua. Elu juga beneran Azel?" Aku balik bertanya setelah lama memperhatikan gambar profil Azel. Dia menggunakan foto lama sewaktu masih kuliah dulu. Klasik sekali.
Selanjutnya kami melakukan percakapan hingga jelang tengah malam, melalui tulisan. Hanya beberapa kali kucoba menelepon maupun melakukan video call, hasilnya tidak pernah memuaskan dan sering delay. Bahkan gambarnya pun gelap, tak jelas, serta terpatah-patah.
"Sorry, Ron. Sinyal di sini parah banget!" Azel memberi alasan. "Soalnya gue tinggal di pelosok. Hahaha."
Tidak jauh berbeda dengan Azel yang pernah kukenal dulu. Selalu penuh dengan canda dan tawa. Kami pun larut dalam suasana gelak sambil berbalas pesan. Itu terjadi hampir setiap usai waktu petang bertandang.
Aku tersenyum-senyum sendiri membaca bekas percakapan-percakapan lalu kami. Sampai kemudian setetes air jatuh menimpa tengkuk ini. Dingin, sekaligus menyadarkan diri bahwa hari sudah mulai melewati sore. Kulirik jam di layar ponsel, sudah menunjukkan pukul setengah lima. Sementara hujan pun rupanya telah lama reda.
" … dari sana, elu terus aja ke dalem. Ada jalan setapak di samping gubuk tua itu. Cuma jalan itulah satu-satunya akses menuju tempat tinggal gua, Ron," tulis Azel memberi arahan kemarin malam. Sialnya saat kucoba menghubunginya kembali untuk bertanya lebih jauh, pesan yang dikirim masih tetap ceklist seperti tadi pagi sebelum berangkat. Hasil sama pun begitu, ketika tengah berada di perjalanan.
'Payah! Semakin mendekati ke sini, sinyalnya makin timbul-tenggelam …." gerutuku sambil menggerak-gerakkan ponsel kesana-kemari. Tetap saja, yang dicari-cari tak kunjung membaik. 'Pantas saja, Azel sulit dihubungi.'
Aku melihat-lihat suasana sekitar. Tepatnya memeriksa jalan setapak seperti yang dituliskan Azel. Memang benar, di sana terdapat sebuah terusan memanjang berupa akses untuk berjalan kaki. Tanah basah, becek, dan licin. Di kanan-kirinya dipenuhi rerumputan liar dan pepohonan besar menjulang tinggi. Mirip seperti kawasan padang belantara menyeramkan. Untung saja, aku sudah mempunyai pengalaman naik-turun gunung sewaktu masih berstatus mahasiswa dulu. Sehingga rasa takut akan hal-hal mengenai kehidupan di dimensi lain, dapat kukikis tipis.
'Gila! 'Gimana ceritanya si Azel sampai bisa dateng dan menetap di daerah seperti ini? Mana jauh dari perkotaan. Susah komunikasi pula,' gumamku kembali teringat akan kendaraan angkutan umum yang dinaiki tadi. Satu-satunya dan hanya beroperasi dua kali dalam sehari. Pagi dan sore.
"Apa? Mau ngapain ke Sirnagalih, Mas?" tanya sopir angkutan umum itu seperti terkesiap mendengar tempat tujuanku. Jawabku di tengah tatapan mata-mata penumpang yang setia menunggu sabar kendaraan yang masih mengetem tersebut tadi siang, "Menemui temen lama, Bang. Katanya, sih, dia tinggal di sana."
Sang sopir melirik sejenak ke arah penumpang lain. Kemudian kembali menatapku dan berkata, "Apa gak sebaiknya dibatalkan saja, Mas? Atau setidaknya menunggu sampai besok hari. Kalo Mas berangkat sekarang, kemungkinan besar nyampe di sana menjelang petang. Apalagi Mas sendirian 'gitu."
"Gak apa-apa, Bang. Saya sudah terbiasa jalan sendiri, kok," timpalku merasa tak enak hati menjadi pusat perhatian di dalam angkutan tersebut.
" … atau begini saja, Mas nginep dulu di rumah saya. Gak jauh, kok, dari daerah Sirnagalih. Besoknya sama-sama berangkat sama saya sambil jalan ritasi pertama sekalian lewat sana." Sopir itu memberi saran. Namun aku bersikukuh, perjalanan ini harus tuntas hari ini juga, agar bisa segera tiba di tempat tujuan dan bertemu dengan Azel. Rasa rindu akan sosok teman akrab itu, sudah seperti di pelupuk mata. "Hati-hati, ya, Mas," kata sopir itu kembali kala kuturun dari angkutan di depan gubuk tersebut.
"Makasih, Bang," sahutku kemudian. Hampir semua mata di dalam kendaraan menatapku tajam. Ada apa? Entahlah. Mungkin merasa kasihan saja.
Ah, persetan dengan obrolan tadi. Aku hanya ingin segera tiba di rumah Azel. Melepas rindu serta bernostalgia tentang masa lalu. Kelucuan, kepahitan, atau perihal cewek-cewek nakal di ujung gang kosan kami waktu itu. Dia dan aku … ya, begitulah. Heh!
Hari sudah mulai mengelam. Sementara petunjuk peta di ponsel tak bisa dibuka. Sinyal seluler benar-benar lenyap. Sejak itulah, aku hanya mengandalkan histori percakapan lalu dengan Azel. Ke sana, ke sini, belok kanan-kiri, tanjak-turun, dan lain-lain. Sampai kemudian, denting notifikasi dari WA berbunyi. Kening ini berkerut. Heran. Pesan dari temanku tersebut. Bagaimana bisa?
"Sudah sampai mana, Ron?" tanya Azel dengan keterangan waktu pengiriman persis sama dengan setingan waktu di ponsel. Kucoba membalas, "Gua lagi jalan, Zel. Baru beberapa meter dari gubuk di pinggir jalan itu." Tak terkirim. Keterangan pesan hanya berupa tampilan jam bulat. Tentu saja. Bukankah tak ada sinyal? Lalu, bagaimana pesan dari Azel bisa sampai?
TING!
"Oh, jalan aja terus dari gubuk itu. Ikuti petunjuk yang gua kasih."
Balasan dari Azel? Padahal pesanku barusan gagal terkirim. Ah, pikiran ini mulai dipenuhi tanya. Sementara mata sudah tidak mampu lagi melihat. Gelap gulita diiringi desir angin dingin menusuk pori.
Kunyalakan lampu menggunakan perangkat handphone. Lumayan, bisa sedikit membantu walaupun dengan jarak pandang terbatas. Sialnya, sebentar kemudian indikasi baterai mengedip merah. Ponsel pun terbatuk-batuk lirih. 'Setan alas! Kalo tahu begini, gua bakalan bawa senter ….' rutukku dalam hati.
Lampu penerangan tiba-tiba mati. Padahal status daya masih tersisa lima persen. Kucoba menyalakan kembali, tetap gagal. Bimbang pun hadir, antara lanjut berjalan atau berdiam di tempat.
'Ya, Tuhan … ada apa ini?' Mendadak kuteringat pada-Nya. Padahal beberapa menit lalu menyapa makhluk jahanam itu. Takut? Tidak. Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Bahkan pernah terpisah jauh dari rombongan pendaki di tengah gunung dulu. Berbekal pengalaman itulah, aku nekat meneruskan perjalanan, serayal mengingat-ingat arahan Azel melalui pesannya. Melangkah pelan-pelan menuruti insting sambil meraba-raba dalam kegelapan.
Lelah perlahan datang mendera, disertai cucuran keringat panas memandikan raga. Rasa dingin itu pun mendadak berubah menjadi bara. Memanggang kuyup jaket yang membalut sekujur badan.
Entah sudah berapa jauh kaki ini melangkah. Tidak terhitung. Bahkan pikiran pun kian membuta, sudah sampai mana keberadaanku sekarang. Tak ada petunjuk apa-apa, terkecuali bisikan hati yang berkata, 'Sebentar lagi, gua nyampe di tempat tujuan.'
DUK!
"Aduh!" seruku terkejut. Ujung sepatu membentur sesuatu yang keras. Sialnya lagi, aku tak sempat menahan laju tubuh ini. Terhuyung ke depan dan jatuh mencium bumi. Segera berusaha bangkit kembali, terduduk, lalu meraba permukaan tanah basah tadi. Batu? Ya, memang benda tersebut yang menyebabkanku terjerembab barusan. Tidak hanya satu, melainkan banyak. Berbanjar rapi membentuk barisan memanjang seperti sebuah kotak, dengan posisi tanah di menggunduk di tengah-tengah. "Apa ini?" tanyaku sibuk menerka-nerka. "Kayak sebuah … kuburan?"
TING!
Ya, Tuhan! Notifikasi pesan dari Azel lagi. Segera kubuka dan membaca isinya yang berbunyi, "Selamat datang di rumah gua, Kawan."
Aku terkesiap. Bingung bercampur was-was menyatu dalam irama jantung yang bertalu-talu. "Elu di mana, sih, Zel? Gua kesasar, nih," balasku dengan jemari bergetar hebat. Masa bodoh, pesan ini akan terkirim atau tidak. Nyatanya di ambang daya ponsel yang kian terkuras, Azel masih bisa berkirim percakapan.
"Gua di sini, Ron," jawab Azel dengan cepat.
"Di sini … di mana?" Pikiranku makin berkecamuk kacau.
"Di tempat elu."
"Di mana?"
"Persis di bawah tanah yang elu dudukin."
"Jangan bercanda lu, Zel!"
"Iya, bener. Gua ada di dalam kuburan ini."
Kuburan? Astaga! Aku berharap ini adalah sebuah prank. Ya, karena gaya Azel bercanda kadang terbilang ekstrim. Tapi, benarkah ini? Juga tentang ponsel tanpa sinyal itu? Tidak mungkin! Lalu Azel?
Aku beringsut. Desiran darah ini tiba-tiba seperti berkumpul dalam satu titk. Sekujur batok kepala. Disusul kesadaran yang kian melemah, berkurang, kemudian lenyap tanpa sisa. Namun, terekam sesaat sebelum itu terjadi, samar-samar ada sesosok menghampiri, lalu ….
'Uh, di mana ini?' tanyaku seraya mengerjapkan kelopak mata. Sebuah tempat pengap, gelap gulita, dan sempit tampaknya. Sulit sekali menggerakkan tubuh. Hanya bisa terbujur kaku dalam ingatan yang berangsur memulih. "Ini apa?" desahku begitu meraba-raba pakaian sendiri. Bukan jaket kuyup seperti yang dikenakan sebelumnya, tapi lembar kain lembab tanpa jahitan. Memanjang dari ujung kepala hingga kaki, dengan beberapa ikatan di beberapa bagian.
"Fuih, apa pula ini?" Hampir saja aku terbersin, menghirup sebuah benda yang mencocok lubang hidung, dan wajah. Pantas saja pengap.
TING!
Suara apa itu? Handphone-ku? Ah, masih hidup dan terhubung rupanya. Bagaimana bisa? Bukankah ….
"Apa kabar, Ron? Maaf, ya, elu gua tinggal. Sekarang gua lagi nikmatin kebebasan gua. Selamat menikmati kesendirian elu di sana. Semoga ada orang lain kelak yang bisa ngegantiin posisi elu. Hehehe," tulis pesan dari Azel. "Gua mau pulang ke kontrakan elu, kerja di kantor Om elu, dan juga … jadi diri elu. Hahaha!"
'Jadi diri gua? Terus … sekarang, gua siapa? Apakah gua … jadi sosok Azel? Ya, Tuhan … apa ini?' Aku meronta-ronta sekuat tenaga dalam keterbatasan gerak di ruangan sempit. Menjerit lirih menyebut-nyebut nama Tuhan. Selama itu pula kesunyian ini menyertai. Kecuali sedu sedan tiada henti sepanjang waktu.
Tidak! Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Harus segera mencari seseorang di luar sana yang bisa membantu. Siapa? Eemmmhhh, Syahrul. Administrator grup WA komunitas kampus kami. Semoga saja dia mau datang, kelak.
"Ngapain elu maen jauh-jauh 'gitu, Ron? Oke, deh. Gua jemput elu di sana tiga hari lagi. Soalnya gua kerja dan kudu minta cuti dulu, ya," jawab Syahrul begitu kupintai tolong. "Sekalian, gua juga pengen travelling ke tempat-tempat terpencil kayak dulu. Hehehe."
Bagus, dia bersedia datang. Semoga saja benar adanya. Kemudian pesan lain masuk, "Ron, ada salam dari sopir angkutan umum. Dia bersyukur, gua masih hidup, katanya. Hahaha."
"Bangsat lu, Zel!" balasku, namun kali ini gagal terkirim. Entah mengapa. Mungkin karena hari sudah memasuki pagi? Lalu, kapan lagi bisa berkirim percakapan dengan Syahrul? Menunggu petang sepertinya. Sial!
...Wassalaam...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments