...JANJI SUAMI...
...Penulis : David Khanz...
Pukul empat pagi, aku terjaga di samping Mas Alvan, suamiku. Terbaring letih dibalut selimut tebal usai bergumul hebat dengan lelaki itu. Tidak seperti biasa, malam ini dia sanggup membuatku merintih berkepanjangan melucuti tulang hingga persendian ini. Benar-benar perkasa, pikirku.
Masih dalam cengkeraman ngilu di sekujur badan, aku bangkit, perlahan melepas pelukan ini atas tubuhnya. Memandang sesaat wajah laki-laki yang telah menikahiku tujuh tahun lalu tersebut. Kosong, dengan hembusan napas berat membebani bidang dadanya yang berbulu. Lalu berbisik lirih disertai senyuman, 'Kasihan sekali kamu, Mas. Seharian tadi, kupaksa dirimu pulang melalui keluh kesahku. Sampai akhirnya, kamu pun memenuhi janji walau harus tiba di rumah menjelang tengah malam. Maafkan aku, ya, Mas.'
Mas Alvan memang berjanji akan pulang. Entah malam ini atau besok. Sampai kudesak dia habis-habisan dengan nada kesal melalui percakapan telepon, "Memangnya sekali-kali bisa 'kan pulang malam, Mas? Kenapa harus nunggu sampai besok, sih?"
"Aku harus beresin kerjaan dulu, Dik. Nanti kalo waktunya pulang, aku pasti bakal pulang, kok," jawab laki-laki tersebut.
"Aku gak mau tahu, Mas. Pokoknya malam ini juga, kamu harus pulang," kataku nyaring. "Ingat, hari ini ulang tahun Rena, anak kita. Seharian tadi dia nanyain kamu."
"Iya, aku gak lupa itu, kok. Tapi …."
"Tapi apa? Nyari alasan?"
"Bukan begitu maksudnya, Dik." Terdengar dengkus napas Mas Alvan menerpa speker ponsel. Kemudian lanjut bicara, "Kalo pulang malam … aku cuma khawatir di jalannya, Dik. Tahu sendiri, 'kan? Jalan menuju kampung kita itu cukup rawan."
"Halah, itu cuma mitos saja, Mas. Selama ini aku denger, aman-aman saja, tuh. Mas aja 'ngkali yang banyak alasan, biar bisa seneng-seneng di sana semalaman. Iya, 'kan?" Aku mulai menduga-duga. Rengekan Rena benar-benar telah membuat hatiku buta akan alasan Mas Alvan tadi.
Percakapan terhenti sejenak. Mungkin laki-laki itu tengah berpikir. Kemudian kupanggil dia berulang-ulang, "Mas? Mas? Mas masih di situ, 'kan?" Kulihat durasi panggilan masih berjalan. Berarti, Mas Alvan belum menutup teleponnya. "Mas? Jawab, dong!"
"I-iya, Dik," jawabnya terbata-bata. "Aku usahakan pulang, deh."
"Harus pulang malam ini juga!"
"Iya … iya, Dik."
"Janji, ya, Mas?"
"I-iya. Aku janji."
"Beneran?"
"Iya!"
"Nah … begitu, dong," kataku senang. "Aku tunggu, ya, Mas."
"Iya, Dik."
Aku menutup panggilan telepon, lalu menghampiri Rena yang sedang asyik bermain di depan rumah. "Sayang, Ayah nanti malam pulang, lho."
Seru Rena riang diiringi senyum semringah, "Horeee … Ayah mau pulang. Bawa hadiah buat Rena gak, Bu?"
Aku berpikir sejenak. Lupa tidak memesan itu pada Mas Alvan tadi. "Mudah-mudahan aja bawa, Sayang. Ibu lupa nanya sama Ayah."
Tidak ada perubahan apa pun pada wajah anak berusia enam tahun itu. Dia masih tersenyum senang. Ujarnya, "Gak apa-apa, deh, kalo Ayah gak bawa apa-apa juga. Yang penting Ayah cepet pulang, ya, Bu."
"Iya, Sayang."
Anak itu merangkulku. Kabar kepulangan ayahnya setelah sepekan pergi kerja di luar daerah, membuatnya merasa sangat senang. Bahkan tidak seperti biasa sebelum sore tadi, dia minta segera dimandikan. "Biar kalo Ayah datang, aku sudah wangi, Bu," katanya menggemaskan.
Hari ini memang spesial untuk keluarga kami. Sengaja kuhidangkan menu makan malam khusus. Merayakan ulang tahun Rena, serta menyambut kedatangan sang kepala keluarga. Hingga waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam, hidangan di meja belum juga tersentuh. Hanya Rena seorang yang kupaksa makan.
"Rena mau nungguin Ayah pulang, Bu," ujar anak tersebut saat kupinta makan duluan.
"Iya. Nanti Ayah pulang, Sayang. Sekarang kamu makan dulu, ya?" rayuku tidak sampai hati membiarkan perutnya kelaparan.
"Rena mau makan sama Ayah," rengek Rena lirih.
"Gak apa-apa makan sekarang. Nanti kalo Ayah datang, Rena boleh ikut makan lagi. Gimana?"
Anak itu menurut. Makan sedikit. Lalu terlelap sendiri di atas kursi ruang tengah usai petang tadi. Segera kupindahkan ke kamarnya, kemudian duduk-duduk sambil menonton televisi. Beberapa waktu berlalu, rupanya tidak sadar tertidur di sana. Hingga suara deru motor membangunkan tiba-tiba.
"Mas Alvan …." Segera kuburu pintu. Membukakan lebar-lebar. Benar, laki-laki itu telah tiba. "Kok, jam segini baru sampai, sih, Mas?" tanyaku seraya menoleh ke arah jam dinding. Pukul setengah dua belas. Dia hanya tersenyum, lalu merangkulku dengan erat. Dingin sekali tubuhnya. Mungkin karena habis terkena angin malam selama di perjalanan barusan.
"Mana Rena?" tanya Mas Alvin seraya celingukan ke arah kamar anak perempuan itu. Aku jawab, "Dia udah tidur, Mas. Sepanjang sore tadi nungguin kamu."
"Kasihan sekali," desah laki-laki tersebut. Dia menyodorkan sebuah bungkusan padaku. "Hadiah buat Rena."
"Apa ini, Mas?"
"Boneka."
"Oohhh …."
Mas Alvan melirik ke arah meja makan. "Kamu belum makan, 'kan, Dik?"
"Belum, Mas."
"Makanlah dulu."
"Mas lapar juga, 'kan?"
Laki-laki itu mengangguk pelan.
"Tapi makanannya sudah dingin, Mas. Biar aku panaskan sebentar, ya?"
"Tidak usah, Dik. Dingin juga gak apa-apa, kok."
"Beneran?"
Mas Alvan kembali mengangguk. Kemudian kami pun makan bersama-sama. Setelah itu bersiap-siap tidur. Kasihan sekali, dia pasti lelah usai menempuh perjalanan jauh.
Kubukakan jaketnya. Menaruh bersama pakaian kotor lainnya di dalam sebuah wadah. Tiba-tiba sebuah pelukan melingkar erat mengalungi pinggang, disertai embusan napas hangat menerpa daun telinga ini. "Aku merindukanmu, Dik," bisik Mas Alvan dari arah belakang.
Aku tersenyum di antara gelinjang akibat perlakuannya. "Mas … pengen?" tanyaku pelan. Khawatir akan membangunkan Rena. Laki-laki itu mengecup tengkukku lalu menjawab, "Iya, Dik."
Kemudian kami pun berjalan beriringan masuk ke kamar. Berdua menuntaskan entakan kerinduan yang terpendam selama sepekan ini. Mengisi keheningan malam dengan rintih dan pekik memuaskan. Hingga menjelang pagi ….
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu depan. Aku bergegas mengenakan kembali pakaian yang teronggok, berserak di lantai. Lalu berjalan limbung ke luar kamar.
"Selamat pagi, Bu!" ucap seorang laki-laki berseragam coklat di dampingi beberapa sosok lainnya di belakang, begitu pintu terkuak. Aku tercekat. "Iya, selamat pagi. Ada apa, ya, sepagi ini Bapak-bapak polisi ke rumah saya?"
"Mohon maaf mengganggu, Bu. Kami datang hanya ingin bertanya dan memastikan, apakah ini rumahnya Bapak Alvan?" tanya polisi tadi.
Bibirku bergetar. "Iya, betul. Itu nama suami saya. Orangnya ada di kamar, masih tidur."
Sosok-sosok itu saling melempar pandang satu dengan lainnya. Entah apa yang tengah mereka pikirkan. Apakah sama denganku? Merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Terutama pada Mas Alvan. Mengapa sepagi ini dicari-cari polisi?
"Pak Alvan ada di rumah? Apakah Ibu yakin?" tanya kembali polisi tersebut. Keningku berkerut, heran. Jawabku, "Tentu saja yakin, Pak. Semalam suami saya pulang sebelum tengah malam tadi."
Lagi-lagi para polisi itu saling berpandangan. "Boleh kami masuk untuk memeriksa, Bu?"
"Buat apa? Bapak-bapak mau menangkap suami saya? Salah dia apa?" Aku berusaha mencegah mereka.
"Tidak. Kami tidak akan menangkap suami Ibu. Kami hanya ingin memastikan saja."
Akhirnya aku pun mengizinkan mereka masuk. "Suami saya masih tidur. Dia ada di …." Aku terkejut. Laki-laki itu tidak ada di kamar. Kemana? "Mas Alvan? Mas!" Aku memanggil-manggilnya. Tidak ada. Ruang makan, dapur, kamar kecil, bahkan kamar tidur Rena. "Kemana suamiku?"
Salah seorang polisi tadi mendekatiku. Tanyanya, "Ibu yakin, suami Ibu memang pulang semalam dan ada rumah?"
"Tentu saja! Kami tidur bersama semalaman. Memangnya ada apa ini? Suami saya melakukan tindak kejahatan?" Otak ini mulai dipenuhi tanya. Bingung. Kemana perginya Mas Alvan?
"Mohon maaf, Bu. Sebaiknya, Ibu ikut kami ke rumah sakit sekarang juga," kata polisi tersebut. "Buat apa?" tanyaku heran.
Setelah menarik napas sejenak, polisi itu lanjut berkata, "Kami menemukan suami Ibu … tergeletak di sebuah tempat. Pinggir jalan."
"Enggak mungkin! Itu pasti bukan Mas Alvan! Bapak-bapak ini pasti salah!" Aku mulai histeris.
"Kami menemukan ceceran isi dompet di sekitar tempat kejadian perkara. Termasuk KTP ini. Di situ tertera nama Alvan, suami Ibu, 'kan?"
Cepat kusambar sodoran KTP yang dimaksud. Benar, itu memang Mas Alvan. Foto, nama, tanggal lahir, alamat, tanda tangan … semuanya persis. "Tidak mungkin!"
"Kami menemukan korban—"
"Korban?" Aku terkesiap.
"Ya, korban … dalam keadaan sudah tak bernyawa. Jasadnya kini masih ada di rumah sakit. Makanya kami minta Ibu untuk—"
Aku menjerit histeris, "Enggak mungkin! Ini pasti salah!"
Aku berlari ke belakang. Tumpukkan cucian. Jaket yang semalam dikenakan Mas Alvan. Masih ada teronggok di sana, namun dalam kondisi koyak dibeberapa bagian. Seperti bekas tusukan benda tajam. Lengkap dengan bercak darah yang sudah mulai mengering. "Mas Alvan! Enggaaakkk!"
Aku ingat, semalam Mas Alvan datang membawa motor. Mana kendaraan itu? Di depan rumah. Ya, di sana. Tapi sekarang sudah tidak ada. Siapa yang mencurinya?
"Kami menduga, suami Ibu menjadi korban pembunuhan dan perampokkan. Karena di TKP, kami temukan helm yang tergeletak dekat korban. Kemungkinan besar milik Pak Alvan. Jadi—"
Tiba-tiba Rena muncul di antara kami. Dengan wajah polos anak perempuan itu bertanya, "Ayah sudah pulang, Bu?"
Pulang? Ya, suamiku memang sempat pulang. Memenuhi janjinya. Tapi yang semalam itu siapa, jika Mas Alvan nyatanya tidak pernah tiba di rumah?
"Horeee … Ayah membelikan aku boneka!" teriak Rena tanpa sepengetahuanku telah menemukan hadiah yang dibawakan Mas Alvan semalam. Mana mungkin? "Sekarang … Ayah di mana, Bu?"
Aku tidak tahu, Sayang. Bahkan sudah mulai tak ingat kelanjutan yang terjadi. Semua mendadak hitam. Kelam. Menggulita dan perlahan sirna dari ruang kepala ini.
...WASSALAAM...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Mami Mara
akibat memaksakan keinginan tanpa inget keselamatan lbh penting
2022-12-18
0