Sebuah Permohonan

...SEBUAH PERMOHONAN...

...Penulis : David Khanz...

Pekat membuta mengiringi langkah kami, menyusuri jalan terjal setapak dan berliku. Mengikuti ayunan kaki Mbah Jarok, dukun tua berambut panjang dan janggut putih, menuju sebuah tempat yang dirahasiakan. Berbekal obor bambu di tangan, bias mata ini mengamati kondisi sekitar yang berjarak pandang hanya beberapa depa. Sesekali terantuk ujung kaki ini, menghantam tunggul yang tersembunyi di antara rerumputan.

Di barisan belakang, dua orang lelaki paruh baya berjalan tertatih-tatih disertai desah kelelahan. Bagaimana tidak, sedari pertama menginjak tanah perbukitan, hanya tanjakan demi tanjakan yang menyambut. Maklum, karena tempat yang hendak dituju itu berada di kaki gunung. Tak ada perbincangan sama sekali. Semua terdiam untuk menyisihkan sedikit sisa tenaga.

Beberapa lama perjalanan, akhirnya kami berhenti begitu Mbah Jarok bersuara. "Kalian tunggu di sini. Jangan masuk sampai kuberi perintah," seru laki-laki tua itu tanpa menoleh sedikit pun. Kemudian memasuki sebuah ceruk kecil dan sempit di antara belukar pepohonan besar nan tinggi.

Kami bertiga menarik napas panjang, untuk sekadar melonggarkan paru yang menyesak. Seorang duduk berselonjor di atas hamparan ilalang, sisanya berjongkok, sementara aku sendiri lebih memilih untuk tetap berdiri. Dengan bantuan kerlip obor di tangan, menyapu pandang pada keadaan sekitar alam.

"O, iya. Anda dari mana, Pak?" tanya salah seorang lelaki pada sosok yang berjongkok. "Perkenalkan, saya Suwito dari Kampung Begalrejo." Mereka bersalaman. Dijawab lelaki di sebelahnya, "Saya Anjar, dari Dusun Kedawung."

Mau tak mau, terpaksa aku ikut bergabung. Menghampiri mereka, lalu memperkenalkan diri. "Saya Galuh. Lengkapnya Galuh Purmana. Berasal dari Dayeuh Bagendit." Bersalaman dengan keduanya, disertai senyuman tawar. Terakhir, turut duduk dengan lutut ditekuk dan badan condong ke belakang berpangkukan kedua lengan.

"Lumayan pada jauh-jauh juga, ya?" ujar lelaki bernama Suwito seraya melempar pandang. "Aku pikir, masih sekitar daerah sini."

Anjar mengekeh. "Ya, begitulah. Aku sendiri datang ke sini, karena petunjuk salah seorang teman. Sekarang dia ada di bawah, di rumah Mbah Jarok, menungguiku sampai kami pulang kembali bersama-sama," tuturnya sambil menyalakan sebatang rokok. Tak lupa menawarkannya pada Suwito dan aku. Lalu kami pun tenggelam dalam kenikmatan sensasi candu tembakau.

"Ngomong-ngomong ... datang ke sini, kita punya maksud yang sama, 'kan?" tanya Suwito memecah kekakuan.

Anjar mengangguk. "Ya, tentu. Pastinya sama-sama memiliki satu keinginan. Apalagi?" Dia melirik sejenak padaku. Kemudian balik menatap Suwito.

"Hehehe. Namanya juga usaha, Pak," imbuh Suwito dengan logat khas dan suara berat. "Persaingan di tempat saya cukup ketat. Kalau tak seperti ini, besar kemungkinan tak akan menang, Pak."

"Sama saja, Pak. Di daerah saya juga begitu. Apalagi bagi kita-kita yang sudah tua begini. Harta sudah banyak terkuras, tenaga cuma tinggal sisa. Salah satu pilihan, ya ... dengan cara begini. Benar, 'kan?" Anjar kembali melirik padaku, kemudian keduanya tertawa. Aku hanya bisa merespons dengan mesem.

"Kamu sendiri bagaimana, Anak Muda?" tanya Suwito padaku. Di antara kami bertiga, memang hanya aku yang terlihat muda bestari. "Dari sejak di rumah Mbah Jarok tadi, tampak sekali kamu tak banyak bicara."

Aku tersenyum. "Mohon maaf, Bapak-Bapak. Memang saya begini adanya. Saya sendiri tak tahu harus bicara apa. Namun, setidaknya saya juga mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan Pak Suwita dan Pak Anjar. Kurang lebih seperti itu," kataku sambil merapatkan kedua tangan di depan dada.

Suwito memperhatikan rautku dengan seksama. Keningnya berkerut disertai mata memicing. "Aku lihat, kamu masih muda. Dari tutur katamu juga menandakan, bahwa kamu orang berpendidikan. Lalu, kendala apa yang dihadapi, sampai harus datang ke tempat seperti ini?"

Aku tak langsung menjawab. Kerlip api di obor itu lebih menarik, ketimbang menjawab pertanyaan tetua itu. Namun, perbincangan mereka tadi telah menarik kilas balik di benak ini, pada kisah beberapa waktu lalu. Tepatnya ketika gaung pemilihan kepala daerah di tempatku mulai bergema.

Bermula atas permintaan beberapa warga kampung padaku, untuk ikut berkompetisi menjadi calon pemimpin tertinggi di desa. Kurdi adalah salah seorang tokoh pemuda berpengaruh, sengaja datang guna menjembatani keinginan mereka tersebut.

"Ayolah, Pur. Kamu itu masih muda, wawasan luas, pendidikan tinggi, dari keluarga berkecukupan, juga dikenal masyarakat. Cobalah pergunakan kemampuanmu untuk ikut berkontribusi membangun daerah kita. Kalau bukan kamu, siapa lagi?" kata Kurdi memohon. "Desa kita sudah cukup lama dipimpin oleh para kaum tetua, hasilnya ....seperti yang kita rasakan hingga saat ini. Stagnasi. Tak ada kemajuan. Paling banter juga ... kesejahteraan sepihak, kelompok tertentu, atau bahkan individualistis. Sampai kapan? Kini waktunya yang muda-muda tampil. Merangsek ke depan dengan segudang ide yang masih segar dan revolusioner. Begitu, Pur!"

Aku hanya tersenyum mendengar Kurdi berdiplomasi. "Kalau menurutmu begitu, mengapa tidak kamu saja yang maju, Di? Kamu juga memiliki syarat yang mencukupi untuk jadi calon pemimpin. Malah sudah dikenal khalayak masyarakat ketimbang aku. Kurang apalagi?"

Kurdi mencibir. "Halah, kamu ini. Nyindir? Aku ini SD saja tak tamat. Masa mau ngaku-ngaku sarjana, biar kelihatan keren. Bisaku cuma megang gagang cangkul. Maksa jadi pemimpin? Mau jadi apa tempat kelahiran kita ini nanti. Yang ada malah tambah hancur lebur," ujar Kurdi diiringi gelak membahana. Sesuai dengan namanya, Kurdi. Bermakna, kurang pendidikan. Padahal nama aslinya Panakol Kapalu. Mirip gabungan nama Thailand dan Filipina.

"Kamu bisa saja, Di," imbuhku. "Tapi tak sampai begitu jugalah. Aku sadar diri, kok. Belum tentu juga bisa memenuhi harapan semua warga. Aku juga masih harus banyak belajar dan menimba pengalaman."

Kurdi menepuk lenganku. "Pur, aku yakin sekali kalau kamu ikut mencalonkan, potensi kemenangan kamu jauh lebih besar. Kandidat lain cuma wajah-wajah lama dan renta. Kemampuan? Tak setara dengan yang kamu miliki. Percaya, deh."

Aku menarik napas. Bingung harus bicara apa. Di satu sisi memang miris melihat perkembangan daerah sendiri, tapi untuk maju ke arah sana masih harus berpikir seribu kali. Apalagi ada tokoh-tokoh ternama masyarakat di antara deretan calon-calon tersebut. Pasti mereka juga mempunyai kans tersendiri.

"Mikir apalagi, sih, Pur? Aku akan membantu kamu sepenuhnya. Berjuang sekuat tenaga dengan seluruh kemampuanku. Bila perlu—"

"Sssttt ... sudahlah. Tak usah muluk-muluk, apalagi mengumbar janji. Kepercayaan yang kamu berikan, itu saja sudah sangat cukup. Aku .... "

"Jadi kamu mau maju, 'kan, Pur?" Kurdi menatapku. Memelas. Kujawab dengan senyum kecut.

Akhirnya aku bersedia memenuhi permohonan mereka. Bekerja sama menyampaikan misi dan visi kepada masyarakat luas. Waktu, tenaga, pikiran, dan uang sudah dilimpahkan. Sampai kemudian, Kurdi membisi sesuatu di luar perkiraan selama ini. "Calon sebelah pakai cara lain, Pur. Kalau kita tetap diam, bisa kalah telak."

"Cara lain apa maksudmu, Di?" Aku kurang paham. Kurdi kembali menjawab dengan satu kata yang cukup membuat remang kudukku, "Dukun."

Jujur saja, sama sekali tak setuju. Ini bukan gayaku. Bahkan paham sekali aturan hukumnya. Namun desakan Kurdi kian menjadi-jadi. Ambisi teman sepermainan sejak kecil untuk menjadikanku pemimpin, teramat besar. Sampai kemudian, kami pun terdampar di tempat sekarang ini. Perdukunan Mbah Jarok.

"Anak muda!"

Aku terperanjat. Kutoleh lelaki tua yang memanggil barusan. "Eh ... iya, Pak. Maaf," kataku gagap.

"Kamu ini ditanya malah melamun. Ada apa?" tanya Suwito, menatapku tajam.

"S-saya ... s-saya .... " belum selesai kuberucap, Mbah Jarok muncul dari dalam ceruk disertai batuk-batuk.

"Eh, Mbah." Anjar menyapa dukun tua itu. "Bagaimana? Sudah bisa dimulai sekarang?"

"Masuklah kalian bertiga!" ujar Mbah Jarok meminta kami mengikutinya.

Suwito dan Anjar, duduk mengapit sosok lelaki berambut dan jenggot panjang. Sementara aku sendiri, memilih dekat pedupaan. Asapnya mengalun memenuhi tempat dengan wangi khas. Sedikit membuat napas sesak dan perih di mata.

"Kalian sudah tahu konsekuensinya, akan apa yang kalian lakukan ini, 'kan?" tanya Mbah Jarok dengan sorot mata menggidikkan. Suwito dan Anjar mengangguk-angguk. "Masih ada kesempatan untuk mundur dari sini, sebelum ritual khusus saya awali."

Semua saling berpandangan, seperti hendak mencari tahu siapa yang akan bangkit dan pulang duluan. Mbah Jarok menatapku, lama. Lalu kembali berkata, "Di sini, hanya ada tiga pilihan yang harus kalian tentukan. Harta, tahta, atau nyawa. Semuanya memiliki kelebihannya sendiri. Atau ingin memilih ketiganya? Hehehe. Itu ada harganya tersendiri."

Anjar mengangkat tangan, hendak bertanya, "Bersediakah Mbah jelaskan arti dari ketiga pilihan tadi? Mohon maaf kalau saya lancang, Mbah."

Mbah Jarok tertawa. Memperlihatkan barisan giginya yang berwarna kelam. "Pertanyaan bagus. Tentu saja, aku akan menjelaskannya," katanya kembali melirik tajam padaku. "Harta ... berarti kalian harus sanggup mengorbankan kekayaan yang kalian miliki. Jumlahnya tak menentu. Itu akan disesuaikan dengan seberapa besar ambisi kalian, untuk meraih apa yang diinginkan. Jika kupinta seluruh harta kekayaan yang ada, maka kalian harus menyerahkannya. Seandainya tidak terpenuhi, perlahan tapi pasti ... kalian akan mengalami nasib nahas sepanjang waktu."

Suwito dan Anjar saling berpandangan. Lalu mengangguk-anguk tanda memahami.

Lanjut Mbah Jarok. "Tahta adalah kekuasaan yang akan kalian pegang dalam waktu tertentu. Semakin besar pengorbanan yang kalian berikan, maka semakin lama jabatan itu dipangku. Semua ada harga dan timbal baliknya. Jika mundur di tengah jalan, kehancuran akan segera dirasakan. Entah kehilangan jabatan, harta kekayaan, orang tercinta, atau bahkan hidup kalian sendiri. Hehehe."

Lidahku mendadak kelu. Pahit terasa menggayuti sepanjang tenggorokan.

"Yang terakhir adalah nyawa. Ini adalah tumbal atas apa yang kalian dapatkan nanti," kata Mbah Jarok seraya memandang kami satu per satu. "Jika perjanjian ini tak dipenuhi, bersiaplah untuk berakhir dalam kepedihan. Kalian atau keluarga kalian sendiri. Bagaimana? Paham kalian semua?!"

Anjar dan Suwito mengangguk.

"Bagaimana denganmu, Anak Muda?" tanya Mbah Jarok padaku. Sorot matanya makin mengerikan.

Tiba-tiba tubuhku gemetar. Sulit sekali untuk bicara. Namun dalam hati, teringat akan Tuhan dan keluarga. Sebisa mungkin menguatkan diri, guna melafalkan sejumlah ayat-ayat suci, hingga akhirnya kepala ini mampu bergeleng ke kanan-kiri.

Suwito dan Anjar tertegun. "Kamu mundur dari sini, Anak muda?" tanya Suwito heran.

Air mataku tumpah. Perlahan meleleh menyusuri pipi. Lalu isak pun menggema di tempat gelap dan pengap tersebut.

"Tidak .... " ucapku setengah berbisik. "Saya tidak bisa melanjutkannya. S-saya t-takut ... pada Tuhan. Astaghfirullahal'adziim .... "

Mbah Jarok tersurut ke belakang dengan raut wajah memucat. "Keluarlah dari sini sekarang juga, Anak Muda! Jangan ucapkan lagi kalimat itu!"

"Astaghfirullah .... "

"Keluar! Pergi kamu!"

Seperti mendapatkan kekuatan baru, aku beringsut menjauh dari kepulan asap dupa. Kemudian bangkit dan melangkah terseok-seok disepanjang jalan. Gelap memaksa diri mengayun kaki penuh kehati-hatian. Dengan bibir tak henti melafalkan kalam ilahi.

Bukan perjalanan mudah. Karena rintangan sesungguhnya bukan dari jalanan terjal. Melainkan kelebat sosok-sosok astral yang berusaha menghalangi kepulanganku, menuju petunjuk Tuhan.

...SELESAI...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!