...SULUR...
...Penulis : David Khanz...
Malam itu, gulita sudah lama menyapa. Sementara desau alam perlahan mulai membahana. Aku tergolek elok di atas pembaringan, dalam dekapan selimut tebal menggoda. Menatap erotis keremangan langit-langit kamar nan hampa.
Waktu hampir menunjukkan pukul setengah dua belas. Suara senandung binatang malam, senyap tak seperti biasa. Berganti hembusan angin, menyisiri helai dedaunan. Lengkap dengan rintik hujan perlahan menyirami bumi. Kian lama keduanya seperti berlomba memeragakan kekuatan.
Sayup dari luar, terdengar ringkikan suara kuda. Berdetak menjejakkan kaki memutari sekitar, menebar cekam. Tak ada yang berani mengintip, walau hanya untuk memastikan. Karena percuma, sosoknya tak pernah berwujud menampakkan diri.
Ini bukan kali pertama. Sudah memasuki malam ke tujuh semenjak uang itu kuambil dari tangan seorang sahabat. Kardi namanya.
Benak ini mengulang perlahan saat awal bertemu dengannya. Bertepatan dengan waktu tujuh hari ke belakang. Saat itu, aku dan Dirza, diundang datang ke rumah Kardi. Setelah sebelumnya kami bersua dalam sebuah acara reuni kecil teman sekolah dulu.
“Hebat kamu, Di,” ujar Dirza pada Kardi kala berbincang di tengah pesta. “Kehidupanmu sekarang jauh berbeda. Sukses, mapan, dan menjadi tokoh berpengaruh di kampungmu sendiri.”
Kardi tersenyum hambar, lalu membalas, “Ah, biasa saja. Tak beda jauh dengan kawan-kawan kita di sini. Cuma beda nasib saja, mungkin. Hehehe.”
“Ajak-ajaklah kita kerja sama, Di. Aku dan Fauzan lama menganggur gara-gara pandemik. Sulit sekali cari pekerjaan. Sementara kebutuhan keluarga makin bertambah. Iya, ‘kan, Zan?” Dirza melirik padaku dan segera dijawab dengan anggukkan kecil.
Dirza dan Kardi memang pernah berteman dekat waktu masih sekolah dulu. Keduanya telah lama berpisah dan putus hubungan begitu usai tamat mengenyam pendidikan. Sementara aku sendiri tak begitu akrab dengan Kardi walaupun sesama angkatan. Bertaut kembali dengan Dirza pun, karena beberapa waktu lamanya pernah bekerja di satu perusahaan yang sama. Namun akhirnya harus menerima keputusan PHK sepihak, karena tempat kami menambang nafkah jatuh pailit, akibat wabah Corona.
“Iya, Di. Mungkin saja kamu punya pekerjaan buat kami,” timpalku agak sungkan. Dirza menambahkan dengan gaya bercandanya, “Syukur-syukur kamu mau ngasih modal buat kita-kita, Di.”
Kami bertiga tertawa serempak.
Kardi terlihat berpikir. Setelah diam beberapa saat, dia bertanya, “Serius kalian berdua butuh modal?”
Dirza melirik padaku, kemudian dijawab berbarengan, “Tentu saja.”
“Kalau bisa, secepatnyalah, Di. Kamu paham, ‘kan? Kita berdua, masing-masing punya keluarga. Kebutuhan ekonomi itu gak bisa ditunda-tunda.” Dirza tampak semringah dan bersemangat. Besar harapan dia pada mantan teman dekatnya tersebut.
Kardi menanggapi dingin. Sambil menghisap rokok kreteknya, laki-laki berwajah kelam itu berucap, “Kalian berdua, datanglah ke rumahku. Terserah kapan sempatnya. Tapi lebih cepat, lebih baik. Bagaimana?”
“Nanti petang kami datang ke rumahmu, Di!” seru Dirza antusias. “Iya, ‘kan, Zan?”
“Ya, betul. Aku juga harus bilang dulu sama istri. Khawatir kalau mendadak pergi begitu, dia akan mencari-cari,” tukasku mengiakan ajakan Dirza tadi.
“Baik, aku tunggu kalian berdua nanti,” ujar Kardi akhirnya.
Usai mengikuti acara sampai tuntas, Kardi pulang lebih dulu. Meninggalkan tempat reuni dengan gaya selangit. Hampir semua teman-teman yang hadir, berdecak kagum melihat penampilan Kardi sekarang. Jauh berbeda dengan sosoknya saat setahun lalu datang ke acara yang sama.
“Jangan lupa, nanti petang aku tunggu, ya,” kata Kardi mengingatkan kami berdua, sesaat sebelum pergi.
“Ya, kami bakal datang, Di. Terima kasih, ya, kamu sudah mau membantu,” balas Dirza.
Kemudian, Kardi pun pergi dengan Alphard mewahnya. Dirza tersenyum-senyum sendiri memperhatikan kendaraan mahal yang dimiliki oleh Kardi. “Aku tak menyangka, dia bisa berubah secepat itu? Setahun lalu, kehidupannya masih di bawah kita. Benar-benar beruntung.”
Aku menyenggol lengan Dirza, seraya berucap pelan, “Memangnya si Kardi kerja apaan, sih? Kok, bisa berubah drastis begitu?”
“Aku sendiri tak tahu persis,” jawab Dirza, “mungkin saja dia dapet gusuran tanah, harta warisan, atau malah memang sudah nasibnya kini menjadi orang kaya raya. Hahaha.”
“Ya, mudah-mudahan saja dia bisa membantu kita, ya, Za?” Sebenarnya aku masih menyimpan banyak tanya perihal Kardi. Namun enggan untuk dibahas sekarang. Apalagi di masa sulit seperti ini, jarang sekali bisa menemukan orang sebaik dia.
“Kalo cuma ngasih bantuan modal, sih, bukan masalah besar bagi dia,” ujar Dirza seakan sudah terhipnotis dengan penampilan Kardi tadi. “Aku dengar, dia punya banyak tempat usaha di beberapa tempat. Kamu tahu pasar Kedasih?”
“Ya, aku tahu. Yang sering kita lewati saat pergi-pulang kerja dulu, ‘kan?”
Mata Dirza tampak bersinar-sinar. “Tiga puluh persen kios yang ada di sana itu, milik si Kardi. Belum lagi ruko-ruko lainnya. Benar-benar luar biasa.”
“Ya, beruntung sekali dia,” timpalku tak ingin banyak bertanya.
Akhirnya, usai berpamitan dengan teman-teman lain, kami pun berpisah. Pulang ke rumah masing-masing. Kemudian berjanji bertemu di rumah Kardi petang nanti.
Sesuai dengan rencana semula, aku datang menaiki motor sendiri. Saat dihubungi melalui pesan instan, ternyata Dirza masih berada di rumahnya. Artinya, akulah yang datang lebih awal.
Sambil menunggu Dirza, kubelokkan roda motor ke sebuah warung kecil di pinggir jalan. Tak jauh dari kediaman Kardi di depan sana. Dengan sedikit uang pemberian istri di rumah, kupesan segelas kopi hitam untuk menemani sisa rokok bekas acara tadi siang.
“Bang, rumah yang depan sono megah banget, ya?” Aku mencoba mencari informasi mengenai kehidupan Kardi, pada laki-laki pemilik warung. “Itu punya siapa, sih?” tanyaku pura-pura tak tahu.
Laki-laki itu melihat-lihat sebentar rumah yang kumaksud. “Oh, itu rumahnya Pak Kardi. Orang kaya baru. Malah jauh lebih kaya dari orang kaya di lingkungan sini.”
Kuseruput kopi yang sudah dituang sedikit ke dalam tatakan. “Oh, nama pemiliknya Pak Kardi, ya? Saya kagum ngelihat rumahnya itu. Benar-benar megah, kayak hotel bintang lima.”
Pemilik warung tersenyum kecut. “Abang jangan mau, deh, kenal sama yang punya rumah itu.”
“Lah, emangnya kenapa?” tanyaku heran.
Dia agak gelagapan untuk menjawab. Setelah celingukan sebentar, lalu menjawab, “Orangnya aneh, Bang.”
“Aneh bagaimana?”
“Ya, aneh aja,” katanya sambil bergidik. “Orangnya memang ramah sama warga sekitar. Tapi, yang saya denger, ini, Bang. Tamu yang datang ke sana sering kali hilang tanpa jejak.”
“Ah, masa, sih?”
“Beneran, Bang,” ujar laki-laki itu. “Kalaupun bisa keluar dari sono, bisa-bisa sakit mendadak. Kebanyakan, sih, meninggal ujung-ujungnya. Ngeri, deh.”
“Ah, saya gak percaya.”
Pemilik warung itu mendelik. “Ya, terserah Abang juga, sih, percaya atau kagaknya mah. Saya cuma nyeritain apa yang saya denger aja. Tapi yang pasti, warga sini gak bakalan mau nerima semua pemberian dari Pak Kardi. Takut kenapa-kenapa, Bang.”
Bulu kudukku meremang. Tiba-tiba saja kopi yang kuminum terasa sepat. “Maksudnya Pak Kardi itu ngelakuin pesugihan, ya, Bang?”
Dia melirik sejenak dengan mimik ketakutan. “Saya gak berani bilang begitu, ya, Bang. Takut jadi fitnah. Tapi kalo mau jaga-jaga, sih, lebih baik hindari kenal sama pemilik rumah itu.”
Aku tak membalas ucapan laki-laki itu. Ini sudah cukup untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sedari siang tadi muncul. Kebetulan pada saat itu Dirza menelepon. Dia bertanya tentang posisiku.
Tak berapa lama dia muncul. Sama sepertiku. Mengendarai sepeda motor tua dan butut.
“Langsung masuk, yuk,” ajak Dirza dengan senyuman khasnya. “Kardi dari tadi nelepon terus. Mungkin takut kita gak jadi datang.”
Sebenarnya aku ingin membicarakan perihal Kardi, sesuai dengan apa yang didengar dari pemilik warung tadi. Namun, ada baiknya juga menyelidiki lebih jauh kebenaran tentang semua itu. Bisa saja, ‘kan, ada faktor kecemburuan sosial, misalnya.
Kedatangan kami berdua disambut Kardi dengan suka cita. Bahkan langsung disuguhi berbagai makanan lezat di sana. Lalu makan malam bersama dengan semua anggota keluarga tuan rumah, anak-istri Kardi.
Satu hal yang kuperhatikan sejak awal kedatangan tadi, tak pernah sekalipun melihat Kardi turut menikmati semua penganan yang disajikan. Sedikit senyum dengan raut muka yang tak memancarkan bahagia, sebagaimana umumnya orang yang memiliki kekayaan melimpah. Bahkan kalau mau berbanding, wajah Kardi terlihat kusam tak bercahaya. Bertolak belakang dengan keadaan istri dan anak Kardi yang gemuk dan terawat. Jelas sekali, keluarganya itu sangat menikmati apa pun yang disediakan oleh tulang punggung mereka.
“Bapak, kok, gak ikut makan sama kita?” tanyaku iseng usai menyantap makan malam. Istri Kardi tersenyum hambar, seraya menjawab, “Bapak itu punya penyakit diabetes. Gak boleh sembarangan makan makanan. Makanya jarang duduk bersama-sama, makan seperti kita sekarang ini.”
Setelah selesai, anak-istri Kardi pergi ke ruangan lain. Sementara aku dan Dirza, duduk berkumpul dengan Kardi di sebuah ruangan. Di atas meja, depan kami, sudah teronggok sebuah tas ukuran sedang berisikan sejumlah uang.
“Segitu cukup, kan?” tanya Kardi sambil menatap kami yang tengah melihat-lihat isi tas tersebut.
“Ini, sih, kebanyakan, Di,” kata Dirza tertegun. “Bagaimana nanti aku ngembaliinnya, ya?”
Kardi tersenyum dingin. “Gak usah dipikirin masalah itu, sih. Yang penting, aku bisa membantu dan kalian senang. Soal pengembalian, terserah kalian saja. Atur-atur sebisa mungkin.”
Jujur, aku malah bingung dengan uang tersebut. Di satu sisi jumlah yang ada tentu bisa digunakan modal usaha besar, tapi di sisi lain berat untuk mengembalikannya. Terlebih, bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan bantuan keuangan dalam jumlah besar tanpa disertai jaminan apa pun. Terakhir jadi teringat pada cerita laki-laki di warung kopi tadi.
“Kalian berdua, nginaplah di rumahku barang semalam saja. Hitung-hitung buat mengenang masa-masa sekolah kita dulu. Apa pun yang ada di dalam rumahku, kalian bebas menggunakannya,” ujar Kardi sedikit memohon.
Dirza menyanggupi, tidak begitu denganku. Dengan sedikit alasan dan memaksa, aku pulang malam itu juga. Tadinya ingin sekali mengajak serta Dirza, tapi tak enak dengan Kardi. Apalagi sebelumnya Dirza bersikeras ikut bermalam.
Sepanjang perjalanan pulang terus berpikir, terutama tentang uang itu. Akhirnya memutuskan untuk menyambangi salah seorang guru spiritualku di sebuah daerah. Malam itu juga.
Di sana beliau mendengarkan ceritaku, lalu menyarankan untuk menyimpan uang tersebut padanya untuk beberapa hari. Setelah diberi wejangan serta kalimat zikir tertentu, aku pun langsung pulang ke rumah.
Beberapa hari setelahnya, kudengar kabar duka cita. Dirza mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal seketika di tempat kejadian perkara. Hal yang sama selama tujuh hari semenjak pulang dari rumah Kardi, setiap menjelang tengah malam terdengar derap sepatu kuda serta ringkikannya mengitari rumah. Sepanjang itu, tak pernah berani mencari tahu maupun melihat keanehan tersebut.
Di malam ketujuh inilah puncaknya. Alam tiba-tiba seperti mengamuk dengan semburan hujan dan tiupan angin. Gelegar petir saling bersahutan memenuhi langit. Aku terus memperbanyak bacaan zikir yang diberikan oleh guru spiritual. Sampai akhirnya semua reda dengan sendirinya menjelang dini hari.
Keesokan harinya, kabar terbaru pun tiba di telinga. Salah seorang warga kampungku meninggal dunia mendadak tadi malam. Setelah ditelusuri, dia pernah datang bertamu ke rumah Kardi.
Lalu bagaimana dengan uang yang dititip tadi? Aku tak berminat untuk mengambilnya. Walaupun teror mengerikan itu sudah tak ada lagi, semenjak kematian warga kampung tersebut.
Aku lebih suka terus berikhtiar yang dibarengi dengan doa tiada henti pada Tuhan.
...SELESAI...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments