Utang Arwah

...UTANG ARWAH...

...Penulis : David Khanz...

Sudah beberapa hari ini aku tak melihat sosok Pak Marto, seorang pedagang nasi goreng yang biasa mangkal di depan kostanku. Hampir setiap malam sepulang kerja, aku selalu menyempatkan untuk membeli dagangannya. Di samping rasanya enak, juga karena aku tahu kondisi perekonomian keluarga Pak Marto cukup memperihatinkan. Untuk menghidupi anak istrinya, beliau mengandalkan hasil keuntungan dari jualan nasi goreng.

"Nasi gorengnya pake sambal ndak, Den?" tanya Pak Marto setiap kali kupesan dagangannya.

"Pake dikit aja, Pak. Kecapnya agak banyakan ya?" jawabku sambil memainkan handphone membalas beberapa pesan yang masuk.

"Siap, Den!" sahut Pak Marto dengan sigap seraya mengaduk-aduk bumbu nasi goreng di atas penggorengan.

Sebentar kemudian pesananku sudah siap terbungkus dengan rapih. Segera kurogoh kantong celana untuk mengambil uang dan menyodorkan selembar uang berwarna biru pada Pak Marto.

"Duh, ndak ada uang kecil, Den? Saya belum punya kembaliannya! Maklum belum ada penglarisan," kata Pak Marto menolak uang yang kuberikan.

"Pegang aja dulu sama Bapak! Kapan-kapan diambilnya. Lagipula saya ini, kan, pelanggan Bapak dan tiap malam beli nasi goreng Bapak. Hitung-hitung nyimpen, deh," aku tergelak sesaat, bermaksud mencandai laki-laki paruh baya itu.

"Tapi saya ndak berani, Den! Takutnya nanti malah jadi hutang sama Den Bagas," Pak Marto tampak masih ragu menerima sodoran uang yang masih kupegang.

"Udah, pegang aja dulu, Pak," dengan sedikit memaksa, aku menyelipkan uang itu ke telapak tangan Pak Marto, "terima kasih ya. Saya tinggal dulu, soalnya masih ada kerjaan kantor, nih."

Pak Marto tertegun memandangi lembar uang yang dipegangnya, "Besok-besok ndak usah bayar ya, Den. Soalnya, uang Den Bagas masih ada di saya."

"Iya, Pak. Tenang aja," jawabku sambil bergegas masuk ke dalam kamar kostan.

Siap menyantap nasi goreng ala Pak Marto yang maknyus dan top markotop!

Itu terakhir kali aku bertemu dengan Pak Marto. Kira-kira hampir seminggu yang lalu. Sekaligus menikmati nasi gorengnya sampai butiran terakhir.

Sepertinya aku sedang kangen nasi goreng Pak Marto ataukah mungkin karena rasa lapar?

Lamunanku tersentak, karena sepertinya sayup-sayup kudengar ada suara-suara penggorengan yang dipukul-pukul. Itu ciri khas Pak Marto ketika sedang memanggil pelanggannya.

Pak Marto? Ya, itu memang Pak Marto.

Yes! Berarti malam ini aku tak usah bersusah payah mengganjal perutku dengan sebungkus mie instan.

Aku segera bergegas keluar dari kamarku dan menghampiri sosok laki-laki paruh baya itu.

"Hei, Pak Marto! Apa kabar? Kemana aja, sih? Kok, lama gak jualan?" tanyaku sumringah sambil menepuk bahu Pak Marto yang terasa dingin.

Pak Marto tak menjawab. Laki-laki itu hanya tersenyum dan memandangku sesaat.

"Pak Marto sakit?" tanyku lagi begitu memperhatikan wajah paruh bayanya tampak sedikit memucat.

Pak Marto diam. Dia hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.

Aneh! Ada apa dengan Pak Marto?

Biasanya begitu melihatku, dia langsung menyambut dengan pertanyaan, 'Pake sambel ndak, Den?'. Ataukah mungkin Pak Marto sedang mengalami masalah dengan keluarganya.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Panggilan dari teman kantorku, rupanya.

"Halo, Bro!"

"Gas, elo ada di kostan, kan? Gue mau ke situ sekarang. Ada urusan kerjaan yang kudu gue tanyain sama elo," kata satu suara dari seberang sana.

Aldi, teman sekantorku.

"Ya, udah. Datang aja! Gue lagi ada di kostan, kok."

"Oke, gue langsung capcus ya?"

"Siap! Eh, elu udah makan belum? Kebetulan gue lagi pesen nasi goreng, nih."

"Boleh. Pesenin gue atu aja ya."

"Oke!"

Aku segera mematikan ponsel, "Pak, nasi gorengnya tambah satu lagi ya buat temanku."

Pak Marto menganggukan kepalanya. Tanpa ada sedikit pun suara yang keluar dari bibirnya yang hitam dan keriput.

Aneh! Pak Marto benar-benar berbeda malam itu. Ada apa ya?

"Bapak sedang ada masalah? Kalo Bapak mau berbagi cerita, mungkin saya bisa membantu," kataku penasaran.

Pak Marto masih terdiam.

Tak berapa lama kemudian dia segera memberikan nasi goreng pesananku.

"Makasih atas perhatiannya, Den. Saya ndak apa-apa. Ini nasi pesanan Den Bagas, sekaligus melunasi hutang saya yang tempo hari itu," ujar Pak Marto dengan suara datar dan lirih.

"Beneran Bapak gak apa-apa, nih?" aku masih penasaran.

Pak Marto menggelengkan kepala sambil tersenyum hambar.

Aneh! Ada apa, sih, dengan Pak Marto? Pikiran itu terus menghantui pikiranku, hingga tak sempat menikmati nasi goreng yang tadi kupesan.

Sampai kemudian teman kantor, Aldi, datang ke kamar kostanku.

"Makan dulu, ah. Gue laper, nih," Aldi langsung membuka bungkusan nasi goreng pesanannya, "elo belum makan juga, Gas?"

"Nungguin elu, Bro! Masa gue makan sendirian?" jawabku segera.

Lumayan masih belum begitu dingin. Dan ....

"Beli nasi di mana lu, Gas?" tanya Aldi sesaat setelah menikmati nasi gorengnya.

"Emangnya kenapa?"

"Kok, rasanya aneh?"

"Aneh gimana?"

"Ya, coba aja punya elu! Masa gak bisa bedain, sih?"

Aku mencicipi sedikit nasi goreng buatan Pak Marto tadi.

Ya, semula kupikir hanya Aldi yang merasakan keanehan nasi goreng itu. Rupanya, aku pun sama.

"Iya, Bro! Kayak ada bau amis gitu, deh," jawabku sambil memuntahkan kembali sisa nasi yang belum sempat ditelan.

"Elu beli di mana, sih? Hati-hati beli makanan jaman sekarang lu! Banyak penjual curang pake bahan makanan illegal," Aldi turut memuntahkan nasi goreng dari mulutnya.

"Gue beli dari penjual nasi goreng langganan gue, kok. Selama ini baik-baik aja."

"Di mana?"

"Tuh, yang suka mangkal di depan kostan gue ini! Tiap malam dia ada di situ."

"Malam ini juga?"

"Iyalah. Biasanya sampe jelang pagi. Namanya ... "

"Perasaan ... gue tadi gak ngeliat ada yang jualan nasi goreng di depan."

"Masa, sih? Gue belom lama, kok, pesennya. Atau muungkin aja dia udah pergi ya?"

"Tadi kata elo mangkal di situ sampai pagi? Gimana, sih?"

"Emang ... "

"Eh, siapa nama pedagang nasi goreng langganan elo tadi?"

"Pak Marto."

"Marto? Sebentar ... rasanya gue pernah baca kiriman berita di group Whatsapp yang memberitakan tentang kematian seorang laki-laki tua akibat kecelakaan lalu-lintas seminggu yang lalu. Namanya, sih, agak mirip-mirip ... Sumarto, gitu. Yang ini bukan, Gas?" Aldi menyodorkan handphonenya.

Aku perhatikan dengan seksama foto korban kecelakaan di layar ponsel temanku itu. Sekilas mirip memang Pak Marto.

Tapi ... apakah, benar, itu Pak Marto? Mirip sekali. Tompel di wajah yang berlumuran darah itu juga mirip tompel Pak Marto.

Apakah memang dia? Ya ... Tuhan!

Aku segera berlari keluar kamar dan melihat-lihat ke tempat biasa Pak Marto mangkal. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya kegelapan disertai gerimis yang mulai turun.

"Pak Marto ... ?" gumam aku lirih, "kalo benar laki-laki itu sudah meninggal seminggu yang lalu, berarti kedatangannya tadi hanya sekedar untuk membayar lunas hutang uang kembalianku tempo hari itu?"

Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar teriakan Aldi, temanku. Aku bergegas masuk kembali ke dalam kamar.

"Ada apa, Bro?" tanyaku heran melihat wajah Aldi seperti tengah ketakutan.

Aldi menunjuk ke depan. Tepatnya ke arah meja di mana kami, tadi, bersama menyantap nasi goreng buatan Pak Marto.

Seketika aku merasa darah mengalir dengan cepat menuju otak. Detak jantung mendadak berpacu sedemikian hebat. Perut teraduk dengan dahsyat serta siap-siap memuntahkan isinya melalui mulut.

Gila!

Sisa nasi goreng yang sempat kami makan tadi, sekarang berubah merah bercampur dengan bercak darah. Menebar aroma amis dan menjijikan.

Seketika aku tak lagi kuasa menahan lebih lama, dorongan otot perut dan segera mengeluarkan sisa makanan yang tadi kumakan, dengan hebatnya.

Untuk selanjutnya, aku merasa tubuhku melemah disertai pandangan yang mulai menguning berkunang-kunang. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi sampai kemudian semuanya perlahan berubah meremang dan gelap.

Gelap ... Gelap ... Gelap ....

...SELESAI...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!