Darah

...DARAH...

...Penulis : David Khanz...

Ponsel berdering disertai getaran menghentak nakas. Membangunkan Dirga dari pejam beberapa saat lalu di atas pembaringan. Perlahan dia bangkit dengan payah.

Tertera nama seseorang di layar, Mirza, lengkap dengan foto profil seorang laki-laki. “Halo .... “ sapa Dirga setelah menggeser gambar telepon berwarna hijau.

“Ga, elo ada di rumah, kan?” tanya Mirza di seberang. “Baru bangun. Ada apa?” Dirga balik bertanya dengan suara parau dan lirih.

Terdengar kekeh pelan di balik speker. “Ada hal penting yang harus elo tahu, Ga.”

“Hal apa?” Dirga penasaran. “Pokoknya elo ikut gue sekarang juga. Elo yang ke sini atau gue yang dateng ke sana?” tawar Mirza antusias.

“Tentang apa dulu, Mir? Gue lagi males ke mana-mana. Gue pengen istirahat,” ujar Dirga lirih. Terdengar decak kesal di sana. “Payah lu, Ga. Gue ingin ngebantu elu. Keinginan elu. Mimpi elu selama ini!” seru Mirza mengingatkan. “Memangnya tentang apaan, sih, Mir?” Rasa penasaran Dirga kembali bangkit.

“Makanya elu kudu ikut gue hari ini juga.”

“Ke mana?”

Dirga mengekeh. “Begini aja. Satu jam ke depan, gue jemput elu. Siap-siap dari sekarang,” kata Mirza menegaskan. “Pake pakaian yang gue kasih ke elu minggu lalu. Oke!”

“Terserah elu aja, deh, Mir,” timpal Dirga menjelang akhir percakapan. “Gue mandi dulu.”

“Oke. Gue langsung cabut ke sana, ya.”

Obrolan pun berakhir. Dirga langsung bergegas ke kamar mandi. Setelah itu sarapan seadanya. Tak sampai enam puluh menit, Mirza sudah tiba. Bunyi klakson kendaraan memanggil-manggil dari depan rumah.

“Gimana, Bro? Udah siap?” tanya Mirza di belakang kemudi. Dirga tersenyum. Masuk ke dalam mobil lalu balik bertanya, “Bukan ke tempat reuni, kan, Mir?” Mata sayu Dirga memperhatikan pakaian yang dikenakan Mirza.

“Enggaklah! Pokoknya elu tenang aja. Ikutin semua arahan gue sampe tuntas. Paham?” Mirza menyalakan mesin kendaraan.

“Terserah elu, deh,” jawab Dirga akhirnya. Mirza terkekeh.

Kedua laki-laki sebaya itu pun segera meninggalkan tempat tersebut. Melaju dengan kecepatan tinggi. Seakan-akan takut kehilangan waktu yang telah ditentukan.

Beberapa saat kemudian, roda kendaraan berputar memasuki pelataran parkir. Sebuah rumah sakit yang cukup besar.

Dirga mengernyitkan kening. Heran. Mirza membawanya ke tempat seperti itu. "Elu bukan mau--"

"Gue bilang juga ikutin arahan gue dan santai, Bro. Oke?" Mirza menempelkan telunjuk di depan bibir. Setelah mengenakan jaket, kacamata hitam, dan topi berwarna senada, laki-laki itu meminta Dirga untuk tetap berada di dalam kendaraan. "Tunggu di sini sampai gue balik lagi. Ingat itu, Ga!"

"Terserah elu, deh, Mir," jawab Dirga pasrah. Tatapan laki-laki itu terlihat makin sayu.

Mirza tersenyum, lalu memberikan kode jempolnya pada Dirga. "Ingat! Jangan ke mana-mana!"

Dirga mengangguk perlahan.

Beberapa lamanya, Mirza menghilang. Masuk ke dalam rumah sakit. Tinggal Dirga seorang, duduk sendirian di dalam mobil. Mendengarkan musik yang mengalun pelan. Sebentar-sebentar dia melihat-lihat sekitar dari balik kaca yang hitam. Menunggu Mirza kembali.

Rasa kering di tenggorokan, mendorong laki-laki itu mengambil sebotol air minum yang tergeletak di samping kursi. Lalu mereguk nikmat hingga habis tak tersisa. Kemudian Dirga membuang bekas kemasan minuman ke tempat sampah di dalam kendaraan.

Selanjutnya, yang dinanti pun datang. Melangkah dengan santai. Masuk kembali ke dalam kendaraan. "Sekarang pakai ini. Lalu masuklah ke dalam. Temui petugas medis di sana. Ikuti dan lakukan apa yang dia perintahkan." Mirza melepas jaket, kacamata hitam, serta topi yang dia kenakan tadi, lalu memberikannya pada Dirga.

"Sebenernya elo mau ngapain, sih?" tanya Dirga sambil melekatkan jaket di badan. "Nanti akan gue kasih tahu begitu semuanya usai. Ini akan jadi berita terbaik dalam sepanjang sejarah sisa hidup elo, Ga." Mirza terkekeh.

Setelah mengikuti perintah Mirza, Dirga pun bergegas keluar kendaraan. "Elo tetap bakal di sini sampai gue kembali, kan?"

"Tentu, Bro. Lakuin aja dulu sesuai instruksi gue," jawab Mirza diiringi kekehannya.

Dirga melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Menemui petugas medis di sana, kemudian mengikutinya menuju sebuah ruangan khusus.

Menit demi menit pun berlalu dengan cepat. Dirga keluar menuju parkiran sambil memegangi lengannya.

"Udah beres?" tanya Mirza begitu Dirga sudah berada kembali dalam kendaraan. "Gue gak salah ngikutin permintaan elo, kan, Mir?" Dirga balik bertanya. "Elo gak ngikutin permintaan gue, tapi guelah yang membantu elo buat ngewujudin impian elo selama ini," jawab Mirza seraya tertawa keras.

"Maksud elo?" Dirga masih belum paham. "Kita pulang dulu sekarang. Ke rumah elo. Nanti gue ceritain semua di sana. Oke?" jawab Mirza sambil menyalakan mesin kendaraan. Tak berapa lama, keduanya segera meninggalkan area parkir.

Singkat cerita, Dirga dan Mirza sudah tiba di tempat tujuan.

"Sekarang ceritakan, apa maksud dari semua ini, Mir," kata Dirga sambil memijit-mijit lengan yang ditutupi perban dan kapas beralkohol.

Mirza memperhatikan Dirga sejenak. "Rio. Elo masih ingat dia, kan?" tanya Mirza mengawali cerita. "Tentu. Gue gak bakalan ngelupain si bangsat itu!" jawab Dirga dengan wajah mendadak keruh tak bersahabat. Mirza tersenyum kecut.

"Sebentar lagi ... orang yang paling elo benci di muka dunia ini, perlahan akan segera tersiksa. Sekarat dan akhirnya mati dengan cara mengenaskan," kata Mirza meneruskan ucapan.

"Ada apa dengan si bangsat itu?"

Mirza terkekeh. "Sudah lama ginjalnya bermasalah. Dia harus rutin cuci darah setiap waktu."

Mata Dirga membesar. Seulas senyum licik menyeruak di bibirnya. "Jadi ... darah yang gue donorkan tadi itu ... "

"Benar. Dia butuh transfusi darah. Kebetulan gue dapet kabar kalau hari ini dia lagi butuh donatur. Kebetulan darah elo dan dia sama, jadi gue pikir ... inilah kesempatan membalas dendam lama yang elo inginkan itu," tutur Mirza mengakhiri ceritanya.

"Tapi bagaimana mungkin. Gue, kan, mengidap .... " Belum usai Dirga berkata, Mirza segera memotong, "Hehehe ... justru itu. Karena gue tahu darah elo bermasalah, makanya saat pemeriksaan awal tadi ... guelah yang maju. Selanjutnya elu yang terakhir. Pihak rumah sakit gak bakalan curiga, karena kita .... " Mirza berhenti berkata. Lekat memandang sosok di dekatnya.

Dirga mengangguk paham.

Mirza tersenyum-senyum sambil tetap memperhatikan wajah Dirga yang kian memucat. Tak lama, tawa laki-laki yang berstatus ODHA itu perlahan berhenti. Diikuti lelehan darah dari hidung. "Mir, gue berdarah. Apa yang ... terjadi ... ama ... g-g-u-e-e .... ?"

Mirza malah terkekeh menggidikkan. "Sorry, Ga. Sebaiknya mulai saat ini kita berpisah. Gak baik buat gue kalo elo berlama-lama hidup. Gue udah capek dikejar-kejar tanggung jawab ama cewek-cewek yang telah banyak elo tiduri. Bahkan, Janeta bini gue, adalah salah satu dari perempuan bodoh yang menjadi korban elo."

"Mir ... elo ... " Suara Dirga terbata-bata. Napasnya kian menyesak dan tersengal-sengal.

"Sorry, Ga. Gue pengen pergi jauh dari sini. Menjadi diri gue sendiri yang baru. Selamat tinggal saudara kembar ... " Mirza melangkah pergi meninggalkan sosok Dirga yang sempoyongan. Tak berapa lama kemudian ambruk dengan hidung dan mulut banjir darah.

Di dalam kendaraan, Mirza mengambil sampah bekas minuman yang sudah kosong. Setelah memperhatikan sejenak, lalu membuangnya ke luar jendela. "Bulleyes!" ujar laki-laki itu sebelum menginjak pedal gas dalam-dalam.

...TAMAT...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!