Malam Jumat

...MALAM JUMAT...

...Penulis : David Khanz...

Hujan baru saja berhenti beberapa saat lalu, hanya menyisakan rintik kecil yang menari-nari lembut bersama hembusan angin dingin. Petang pun telah lama tiba, membawa pekat alam nan menggulita.

Euis duduk termenung seorang diri bertemankan nyala lampu teplok berbahan minyak kelapa, di ruang depan rumah. Sesekali nanar matanya menatap jendela yang belum tertutup tirai, menampakan hamparan gelap tak berujung. Berharap sekali Aceng, sang suami, yang baru menikahinya beberapa pekan yang lalu, segera pulang ke rumah saat itu juga. Perempuan muda itu berusaha bertahan dalam kesepian yang menggayuti, serta rasa takut yang sedari tadi meremangkan bulu roma.

Sementara dari kejauhan, suara lolong anjing hutan terdengar kian merapat. Menambah suasana sekitar tempat Euis dan Aceng tinggal selama ini semakin mencekam. Tak ada tetangga maupun sanak keluarga terdekat yang bisa menjadi ruang bertandang. Hanya hamparan luas perkebunan sawit yang terbentang, setia menemani hari-hari seorang Euis mengantar dan menanti sang suami tercinta pulang, dari pergumulan hidup di ujung gurung orang.

Beberapa kali Euis terkantuk-kantuk dalam duduk di atas tikar yang membentang menutupi lantai tanah lembab rumahnya. Entah sudah berapa lama perempuan muda itu terdiam dalam posisi yang sama, bersiteguh menunggu sosok laki-laki pujaan tiba dari medan ikhtiar. Tak ada jam dinding ataupun alat lain yang bisa untuk mencari tahu, pukul berapa saat itu. Namun dari sahut-sahutan binatang malam, jangkrik merah, Euis hanya bisa menduga-duga bahwa hari sudah mulai merangkak tengah malam.

Jangkrik merah? Euis mulai berpikir, 'Tak seperti biasanya binatang itu berbunyi dan hadir di sekitar gubuk. Konon menurut beberapa pendapat, kehadiran binatang yang satu itu lekat dengan keberadaan makhluk tak kasatmata.'

Ah, buru-buru Euis menepis pikirannya, sebelum lebih tersiksa dengan bayang-bayang yang dibuat sendiri. Memang baru beberapa pekan ini dia ikut bersama suami, yang bekerja sebagai mandor di perkebunan sawit, tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggiran hutan. Keputusan itu terpaksa diambil daripada harus menunggu, sebulan sekali, kepulangan Aceng di kampung. Konsekuensi dari sebuah pernikahan dan berharap bisa bertemu sang imam rumah tangga setiap hari.

"Aku berangkat kerja dulu ya, Nèng. Jaga diri baik-baik selama ditinggal," ucap Aceng pagi tadi sebelum pergi dengan sepeda motor tuanya di depan rumah.

"Akang kapan pulangnya? Jangan lama-lama ya, Kang," rajuk Euis bergelayut manja di bahu Aceng sembari menebar senyum manisnya.

"Seperti biasa, Nèng. Paling sebelum petang nanti," jawab Aceng sambil menghidupkan mesin motor. "Aku sudah siapkan bahan-bahan makanan untuk makan malam kita nanti. Stok minyak kelapa untuk lampu penerangan masih ada, kan?"

Euis mengangguk pelan. "Pokoknya Akang jangan telat pulang. Nanti, kan, malam Jumat, Kang."

Aceng mengerutkan kening. "Memangnya ada apa dengan malam Jumat? Enèng takut?" Goda Aceng disertai senyum simpul.

Euis merengut. "Di samping takut, malam Jumat, kan, malam spesial, Kang."

"Malam spesial apaan?" Aceng lanjut menggoda Euis sambil meleletkan ujung lidah serta menjilati tepian bibirnya hingga basah. "Malam buat .... "

Aceng menjerit seketika, saat jemari sang istri mencubit kecil kulit perutnya. "Akang, ih .... "

Laki-laki itu tergelak seraya mengusap-usap perutnya yang terasa perih. "Lagian tiap malam juga, istimewa buat aku mah."

Wajah Euis mendadak merona merah. "Akang .... "

"Iya ... iya ... aku janji gak akan pulang telat, Sayangku." Aceng menjentik gemas ujung hidung Euis yang penyek. "Tapi ... selama aku pergi, Nèng jangan pergi jauh-jauh. Kunci pintu rapat-rapat dan .... "

"Termasuk nyuci pakaian?"

Aceng berpikir sejenak. "Kalo itu ... bolehlah. Ada pancuran kecil di bawah sana. Tapi Nèng harus hati-hati, soalnya di sini suka ada .... "

"Babi hutan? Aku sudah tahu, Kang."

"Iya, itu. Tapi .... " Aceng tak meneruskan ucapannya, namun raut wajahnya jelas menampakan rasa khawatir akan keberadaan Euis yang harus ditinggal sendiri di dalam gubuk untuk beberapa waktu.

"Kenapa, Kang?" tanya Euis dengan sorot mata menyelidik.

"Ah, gak apa-apa, Nèng ... " Laki-laki itu menggelengkan kepala berulang-ulang.

"Perihal perseteruan Akang dengan anak buah Akang itu, kan?" Euis mencoba menebak.

Aceng tersenyum tawar seraya memandangi wajah istrinya. " ... pokoknya jaga diri Nèng baik-baik. Aku berangkat dulu ya."

Setelah mengecup mesra kening Euis, Aceng segera menarik pedal gas motor. Melaju tinggalkan sosok istrinya yang hanya bisa memandang kepergian sang suami.

Euis sudah mengetahui tentang masalah yang tengah dihadapi Aceng dengan anak buahnya, Burhan dan Daim. Kedua pekerja yang bertugas sebagai sopir truk pengangkut hasil panen sawit itu, tertangkap basah sedang menjual sebagian muatannya pada seseorang di sebuah tempat. Aceng yang kebetulan memergoki aksi tak terpuji kedua laki-laki tersebut, segera melapor pada atasannya. Tak berapa lama, Burhan dan Daim langsung dipecat dan dituntut ganti rugi oleh pihak perusahaan. Buntut dari semua itu, mereka marah dan menaruh dendam kesumat pada Aceng.

Berkali-kali suami Euis itu mendapat teror, mulai dari usaha kekerasan fisik hingga guna-guna. Selama itu pula, semua serangan tersebut bisa Aceng atasi dengan kemampuan ilmu bela diri serta ilmu suluk yang pernah dipelajari di tanah kelahirannya, Banten. Akan tetapi kekhawatiran sang mandor itu belumlah reda, karena Burhan dan Daim masih acap kali terlihat mondar-mandir di sekitar area perkebunan sawit.

KROSAK!

Euis tersentak dari lamunan panjangnya. Bunyi kertak keras tadi mengagetkan, sekaligus membuyarkan ingatan akan sosok Aceng serta cerita yang pernah diungkapkan oleh sang suami beberapa hari yang lalu, tersebut.

Perempuan muda itu bangkit perlahan memeriksa jendela tanpa kaca, bertabir jajaran palang bambu dengan tirai kain yang masih terbuka.

"Kang ... " panggil Euis sambil memeriksa keadaan di luar gubuk yang remang di bawah terpaan lampu teplok kecil, tergantung di sisi tiang penyangga.

Sunyi, tak ada suara maupun jawaban yang diharapkan. Hanya jerit jangkrik merah dan lolongan anjing hutan yang kian santer terdengar.

"Kang? Akangkah di luar itu?" Sekali lagi Euis memanggil untuk memastikan. Tetap tak ada sahutan sama sekali.

Euis mengelus dada disertai debar jantung yang memukul tulang rusuknya dengan keras.

KROSAK!

Suara itu kembali nyaring terdengar di antara hembusan dingin angin malam yang mencucuk lubang pori.

"Akang ... " Suara Euis nyaris hanya berupa sebuah bisikan yang tertahan di rongga tenggorokan. "Akangkah di luar sana?"

Ah, mengapa pula suara menyeramkan anjing-anjing hutan itu yang harus menyahuti dihampir tiap kali Euis memanggil suaminya. Sampai kemudian disusul suara-suara dengus berat datang mendekat ke arah pintu gubuk.

Euis tersurut menjauhi daun pintu yang masih terkunci dengan palang kayu melintang di tengahnya. Mata perempuan itu nyaris enggan berkedip, memperhatikan setiap gerak kayu yang terdorong-dorong dari arah luar. Suara-suara itu makin keras dan jelas. Menjilati setiap dinding gendang telinga Euis yang menggigil ketakutan.

"Apakah itu babi hutan?" Euis mencoba menerka sosok yang berada di balik pintu luar gubuk, dari dengking kecil yang samar terdengar. Bunyi yang sama saat terjaga di malam buta bersama suaminya, Aceng, beberapa malam yang lalu. "Ya, mungkin hanya seekor babi hutan yang mencoba masuk ke dalam gubuk ini .... "

Euis mencoba tenang kembali serta memberanikan diri melangkah menuju jendela yang masih terbuka. Perlahan dia ulurkan tangannya hendak menggapai daun jendela dari arah luar, dan tiba-tiba ....

"Nèng ... " Satu suara datang mengejutkan. Spontan Euis menarik lengannya masuk kembali, hingga tak sadar bilah penutup jendela menggores kulit seketika.

"Astaga!" jerit Euis dengan wajah langsung memucat.

"Ini Akang, Nèng. Suamimu ... " Itu memang suara Aceng dan sosoknya langsung menyembul di balik jendela.

"Akang?" Euis memanggil sosok itu untuk memastikan bahwa itu memang benar-benar suaminya.

"Iya, ini aku. Aceng tersayang, si tampan dari bumi pasundan," jawab laki-laki itu setengah bergurau.

"Beneran itu Akang?" Euis masih ingin memastikan.

"Ini Akang, Nèng. Kamu pikir aku genderuwo?" Kekehan lelaki itu terdengar tak lucu bagi Euis. "Bukain pintunya, dong! Aku kedinginan, nih!"

Euis segera menarik palang kayu yang menghalangi daun pintu. "Kenapa Akang lama sampenya? Katanya mau pulang sebelum petang?"

Buru-buru Aceng masuk ke dalam dengan tubuh basah dan menggigil. "Ceritanya panjang, Nèng. Maafin Akang ya, Sayangku?"

"Motor Akang mana? Tadi gak kedengeran suaranya," tanya Euis sembari membuka pakaian Aceng yang kuyup.

"Justru itu, Nèng. Motorku hilang di kebun sawit. Makanya aku pulang jalan kaki dari tempat kerjaan sejak tadi sore, dan baru sekarang nyampenya. Duh, mana dingin lagi, ah." Aceng membuka celana panjangnya juga, hingga tinggal menyisakan kain persegi tiga yang menutupi area khas tubuh laki-laki itu. "Aku laper tapi pengen kangen-kangenan juga sama kamu, Nèng."

"Akang gak makan dulu?"

"Ya, udah. Aku makan dulu, deh," timpal Aceng bermaksud beranjak ke dapur tapi segera ditahan oleh Euis.

"Akang tunggu aja di kamar, biar aku yang bawain makanannya ya?"

"Biarin aku ngambil sendiri dan kamu nunggu aku di kamar tanpa ... sehelai benang pun!" ujar Aceng bersemangat sambil menunjuk bagian tubuhnya di bawah perut. "Kita malam Jumatan, Nèng!"

"Jangan! Akang tunggu aja di kamar!"

"Kenapa, sih, Nèng?" Aceng memandangi wajah Euis yang terlihat manai. "Kamu sakit, Nèng? Kok, kamu .... "

Euis menepis lengan Aceng yang berusaha meraba-raba keningnya. "Aku capek nungguin Akang!" sahut Euis sambil mendorong tubuh sang suami ke kamar hingga terjerembap ke atas pembaringan.

Sebelum terhempas, serta-merta jemari Aceng menarik pinggang Euis dengan sigap. Keduanya jatuh tumpang-tindih saling berhadapan.

"Nèng .... "

"Kang .... "

Tanpa aba-aba, kedua insan ini tiba-tiba saling merangkul dan mempererat pagutannya disertai gerakan-gerakan liar menyelusup di bagian tubuh pasangan.

Pagi sudah datang menerang, disambut kicauan burung-burung hutan yang merdu dan indah, mengundang netra untuk terbuka dan membelalak menikmati berbagai panorama.

"Nèng ... " Aceng memanggil-manggil Euis yang sudah tak ada di sampingnya. Perempuan itu sudah bangun duluan dan sekarang entah ada di mana dan sedang apa.

Laki-laki itu menguap sebentar, lalu segera bangkit dari tempat tidur. Sebelum melangkah ke luar kamar, dia mencari-cari sebentar ****** ******** yang semalam direnggut paksa dan dilemparkan Euis ke sudut kamar.

"Nèng, kamu di mana, sih?" Aceng mencari-cari istrinya di ruang depan, luar rumah, hingga ....

Mata Aceng menyipit ke satu arah. Tepatnya pada bagian belakang gubuk yang selama ini ditinggali, ada sesuatu yang teronggok diam dan ....

"Lho, ini ... kan, motorku yang hilang kemarin siang. Kenapa sekarang ada di sini?" tanya Aceng setengah berbisik seraya memeriksa kendaraannya yang tergeletak begitu saja di atas tanah.

Ada beberapa helai kain yang sobek dan tergantung dekat pijakan kaki belakang motor. Sisanya terjepit kuat di antara cengkeraman gerigi gir dan rantai roda. Aceng hafal betul pemilik kain itu, tak lain adalah kepunyaan istrinya sendiri. Lalu, mengapa ada di situ? Apa yang terjadi sebenarnya?

Aceng menyapu pandangan ke sekeliling area gubuk mencari sosok istrinya yang sedari tadi belum terlihat. "Nèng, kamu di mana?"

"Nèèèennggg ... !!!" teriak Aceng keras menggema di seantero hutan.

Laki-laki itu berlari menuju pancuran, tempat biasa Euis mencuci pakaian. Di sana tak ditemukan sosoknya. Lalu ....

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar seperti ada suara seseorang berteriak memanggil. Benar, sesosok laki-laki tampak tergopoh-gopoh berlari menghampiri Aceng dengan kondisi pakaian camping di bagian depan serta basah oleh keringat.

"Ada apa, Kang Adè?" tanya Aceng begitu laki-laki tadi berada di depannya dengan helaan napas lelah memburu.

Sosok yang dipanggil Adè tersebut menunjuk-nunjuk sebuah arah, dengan suara tersendat dia berucap, "Ada mayat, Pak! Ada mayat di sana!"

Aceng terkesiap. "Di mana? Mayat siapa?" Pikirannya sudah mulai memburuk dan langsung terfokus pada Euis.

"Mayat .... "

"Iya, mayat siapa?!" Aceng mulai kehilangan kesabaran.

Dengan napas tersengal-sengal, Adè menjawab, "Mayat Daim dan Burhan, Pak! Keduanya mati mengenaskan dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar. Di leher mereka tergurat garis membiru seperti bekas telapak tangan, Pak!"

"Berita apa lagi ini? Aku sedang mencari istriku. Kang Ade melihat Euis?" Aceng seperti tak peduli dengan kabar kematian kedua orang yang selama ini kerap menzaliminya.

"Euis?" Tiba-tiba wajah Adè memucat. Laki-laki itu gugup dan menggelengkan kepala berkali-kali. "Saya gak melihat istri Bapak dari kemarin .... "

"Yang aku tanya itu hari ini, Kang. Pagi ini!" Suara Aceng meninggi. "Semalam istriku masih ada dan tidur bersamaku, tapi pagi ini dia mendadak menghilang!"

"Semalam? Bapak semalam tidur bersama istri Bapak?" Ade menceracau semakin gelagapan.

"Kenapa, Kang? Euis itu istriku sendiri. Apanya yang aneh?"

Adè tak menjawab, laki-laki itu segera pamit dan pergi tergesa-gesa. Aceng bingung, hanya bisa memandangi sosok anak buahnya yang satu itu sampai hilang di balik ilalang.

Aceng menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia memutuskan untuk kembali ke gubuk dan berharap Euis sudah ada di sana.

"Nèng!" panggil Aceng begitu memasuki gubuknya. Tak ada jawaban dan masih tetap sunyi.

Aceng melongok sebentar ke dalam kamar tidur, tak ada siapa-siapa di sana, kecuali pembaringan yang masih berantakan bekas mereka bergumul semalam, dan ... rembesan basah putih mirip lendir, menodai kain seprai.

"Neng ... ?" Suara Aceng tertahan disertai kejut yang luar biasa, begitu pandangannya nanar menemukan sesosok tubuh tergolek di lantai tanah dapur, berlumuran darah.

Dia segera memburu Euis serta berusaha mengangkatnya. Tubuh itu begitu dingin dan kaku, dengan kondisi pakaian terbuka serta acak-acakan. Memperlihatkan bagian auratnya, terpampang jelas. Sementara sebilah pisau dapur menancap, menghujam telak ke arah jantung.

"Nèng, apa yang terjadi padamu? Bangunlah! Siapa yang melakukan ini? Siapa?!" jerit histeris Aceng sambil memeluk istrinya yang sudah tak bernyawa. "Tidaaaaakkkk ... !!!"

Masih dalam tangisnya, Aceng sempat melihat jemari Euis seperti tengah menggenggam sesuatu. Setelah dipaksa terbuka, ada secarik kain lusuh dalam genggaman tangan istrinya. Seperti ... warna dan bahan kain yang pernah dilihat Aceng sebelumnya. Di mana? Kapan? Milik siapa?

Untuk sementara, Aceng hanya bisa menangisi jasad sang istri. Tak lebih ....

...~ SELESAI ~...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!