...PANGGILAN DARI ALAM GAIB...
...Penulis : David Khanz...
"Hati-hati, ya, di jalan. Kalo udah nyampe di rumah, kasih tahu gue!" Ghea melambaikan tangan melepas kepergian sahabat lamanya yang sudah berada di dalam bis.
"Tentu dong, Say. Jangan lupa kontek-kontekan, ya," balas Irene dari balik kaca jendela kendaraan yang terbuka, "nomor hape gue udah elo save, kan?"
"Udah dong, Say," jawab Ghea sambil tersenyum, "pokoknya gue bakal tunggu kabar dari elo. Awas, kalo sampe kagak!"
Irene tertawa lalu memberikan kode kedua jempol tangannya.
Tidak berapa lama, bis yang ditumpangi Irene mulai merangkak meninggalkan pelataran parkir terminal. Ghea melambaikan kembali tangannya, dibalas Irene dengan hal yang sama. Perlahan roda kendaraan itu mulai menginjak jalanan raya, sampai kemudian hilang dalam temaram alam pagi hari.
Ghea segera menghidupkan motornya lalu memacu lesat menembus dinginnya udara. Sementara dari kejauhan samar terdengar lantunan suara ayat-ayat suci mengisi langit yang masih pekat, menyambut jelang tibanya waktu untuk mengagungkan Sang Illahi.
Irene adalah sahabat Ghea yang sudah berpuluh tahun tak saling jumpa. Terakhir pamit dan berpisah, saat acara pelepasan siswa kelas enam di sekolahnya dulu. Sejak itulah mereka seperti padam perapian. Tak tahu kabar berita dan tak ada tempat untuk bertanya. Akhirnya kedua sahabat itupun saling terlupa sejalan waktu berlalu.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya sore kemarin, tiba-tiba Irene muncul di depan rumah Ghea. Datang bertamu hendak melepas rindu, sambil bercerita tentang masa lalu.
Tentu saja ini menjadi saat-saat yang sangat bersejarah bagi keduanya, setelah sekian lama hilang dalam pisah.
"Gue abis dari rumah tante di Jakarta. Jadi keingetan, pengen sekalian mampir dulu ke rumah elo. Sebelum lanjut pulang ke Bandung," itu awal Irene bercerita saat berada di dalam kamar Ghea.
"Nginep, ya? Sehari? Dua hari? Atau bahkan setahun juga, elo boleh tinggal di sini," Ghea mulai berkelakar seperti yang sering dia lakukan dulu, tiap kali dekat dengan sahabatnya itu.
"Gila lu, ah! Itu nginep apa ngekos, sih?" jawab Irene dengan suara cemprengnya.
Keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Gue cuma numpang tidur doangan buat semalem ini aja. Lumayan buat ngehemat duit. Daripada nyewa kamar hotel, kan?" lanjut Irene kembali diiringi tawa kerasnya, "eh, elu belom punya laki, kan?"
"Belom, Say. Gue masih single."
"Ngkali aja elu udah kawin. Ntar kalo laki elu lihat gue di kamar ini, takutnya gue bakalan dijadiin bini kedua."
"Sialan lu, ah!" Ghea menepuk lengan Irene sambil tertawa kembali.
Ya, begitulah. Jika dua sahabat ini bertemu, selalu saja ada gelak tawa yang membisingkan suasana. Namun malam itu tak banyak cerita yang terungkap dari keduanya. Irene tampak lelah dan tertidur lelap dengan cepat saat Ghea telat membalas obrolannya yang penuh lawak.
"Dasar tukang molor. Gue diem beberapa menit aja langsung ngorok, nih, orang. Kelakuannya gak berubah dari dulu. Dasar!" gumam Ghea sambil menyelimuti tubuh Irene yang terasa dingin.
Dia mematikan AC kamar sebelum merebahkan diri di samping Irene. Tak lupa memadamkan lampu agar lekas terlelap. Beberapa saat kemudian, keheningan pun menyelimuti keduanya menuju alam impian.
"Ghea, bangun! Anterin gue ke terminal, yuk!" suara Irene tiba-tiba memutuskan jalinan mimpi yang tengah Ghea nikmati.
"Apaan, sih?"
"Anterin gue ke terminal, Say!"
Ghea menggeliat sebentar sambil menguap dan menghembuskan nafasnya ke wajah Irene.
"Busyet! Bau banget, sih, mulut elo!" Irene menutup hidung.
Ghea mengekeh sesaat, "Jam berapa, sih?"
"Bentar lagi shubuh. Ayo, cepetan bangun, dong, ah! Entar gue ketinggalan bis, nih!"
Ghea segera bangkit dari tidurnya.
"Sepagi ini?"
"Lah, emang mau nunggu siang?"
"Elu kok udah rapih? Udah mandi juga? Tumben!"
"Gak usah banyak cing-cong. Buruan anterin gue, yuk!"
"Bentar, gue mau mandi dulu kalo gitu."
"Kagak usah, Say! Lagian pagi-pagi gini mana ada cowok kelayaban naksir elu, ah!"
"Sialan!"
Irene tertawa ditahan. Takut membangunkan seisi rumah.
"Ya udah, tungguin. Gue mau pake baju dulu. Masa keluar pagi-pagi dalam keadaan seksi, sih?"
"Emang kenapa?"
"Takut ditaksir angin jalanan. Terus gue dimaharin pake kerokan," Ghea yang kali ini gantian tertawa, "eh, elu kirim nomor hape elu dong. Gue gak mau kehilangan kontak lagi sama elu, Ren!"
"Aaasssiiiaaappp, Bosque!" jawab Irene.
Tidak berapa lama, kedua gadis itu pun sudah melaju di jalanan melawan dinginnya udara pagi. Berpacu dengan waktu di atas motor matic yang dikemudikan Ghea. Hanya beberapa menit sudah tiba di tempat tujuan.
Sebelum berpisah, Ghea dan Irene berpelukan erat. Rasa rindu yang sekian lama terpendam, belum puas terpenuhi rasanya hanya dengan pertemuan semalam. Dalam hitungan jam, keduanya harus kembali berpisah jarak dan berjibaku dengan kesunyian gelak tawa.
"Ren, udah nyampe mana sekarang?" tanya Ghea melalui ponselnya.
"Baru nyampe Sukabumi," jawab Irene dari seberang sana.
"Oke. Entar gue hubungi lagi, ya, Say!"
"Siap. Makasih, ya, Bosque!" terdengar tawa renyah Irene di sana sebelum menutup panggilan teleponnya.
Beberapa waktu berlalu, Ghea kembali menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu.
"Sekarang udah nyampe mana?"
"Bawel amat, sih, lu! Gue baru nyampe Cianjur."
Entahlah, tiba-tiba saja ada rasa khawatir yang Ghea rasakan tentang Irene. Ataukah karena rindu yang masih belum terpuaskan? Tak tahu. Karena sedari tadi, nomor ponsel Irene sulit dihubungi. Selalu saja gagal atau bernada sibuk.
"Mungkin gak ada sinyal?" gumam Ghea berusaha menghibur diri.
Jemarinya kembali menyentuh layar dan mengirim beberapa pesan pada Irene. Siapa tahu dengan cara seperti itu, dia akan cepat meresponnya.
Dan, akhirnya kali ini panggilan teleponnya tersambung kembali.
"Eh, gila! Kemana aja, sih, elu? Gue miscall kagak nyambung-nyambung! Gue khawatir, tahu!" seru Ghea di depan ponselnya.
"Maaf, hapenya baru saya aktifkan. Ini dengan siapa, ya?"
"Gila, jangan bercanda, ah. Elu udah nyampe rumah, kan?" Ghea mulai kesal.
"Maaf, ini dengan siapa? Mungkin Anda salah sambung, Bu?"
Ghea merapatkan layar ponsel ke daun telinganya. Dia merasa suara itu bukan suara Irene. Tapi ….
"Elu Irene, kan? Gue dari tadi gak salah mijit nomor, deh. Jangan bercanda, ah! Gak lucu, Ren!" seru Ghea lebih keras suaranya kali ini.
Terdengar suara batuk-batuk dari sana, "Ini dengan Mamanya Irene, Bu. Anda siapanya Irene, ya?"
"Lho, kok, jadi Mamanya Irene? Mungkin dia udah nyampe rumah ngkali, ya?" Ghea bergumam sendiri.
"Halo … "
Ghea segera menjawab sambil gelagapan, "Oh, maafkan aku, Tante. Aku Ghea, temen Irene waktu kecil. Tante masih ingat gak?"
"Ghea anaknya Bu Marline yang tinggal di Bogor?"
Ghea berdoa semoga ini kerjaan Irene yang sedang membuat video prank, seperti yang sering dia tonton di internet.
"Betul, Tante. Aku Ghea anaknya Mama Marline. Syukurlah, Tante masih ingat," Ghea mulai bisa bernafas lega sekarang, "Irenenya sudah sampe rumah, Tante?"
Lama tak ada jawaban dari seberang sana. Ghea tahu teleponnya masih tersambung. Samar-samar seperti ada suara isak tangis yang terdengar.
"Halo, Tante. Halo?"
"Irene tidak ada di rumah, Neng," suara Mama Irene terdengar parau.
"Ke mana, Tante? Tapi Irene sudah sampe di rumah, kan, Tante?" kembali Ghea dilanda rasa khawatir.
"Irene tak akan pulang lagi, Nak."
"Lho, kenapa, Tante? Tadi … "
"Dia sudah meninggal dunia seminggu yang lalu."
"Apa?!" hampir saja ponsel terlepas dari Genggaman Ghea, "tidak mungkin, Tante!"
"Benar, Nak. Irene meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cianjur seminggu yang lalu."
"Ya, Tuhan!" pekik Ghea tanpa sadar.
Tubuhnya tiba-tiba terasa melemah dan ambruk ke atas tempat tidurnya.
Bagaimana mungkin bisa terjadi? Padahal jelas-jelas Irene masih tidur bareng dengan Ghea semalaman. Sulit sekali rasanya membuka pikiran Ghea untuk mempercayai. Benar-benar mustahil!
Gadis itu tak bisa menerima kenyataan bahwa sahabat yang dirindukannya selama ini, ternyata sudah tiada. Lalu, yang kemarin berkunjung ke rumah Ghea itu, siapa?
Entahlah, lagi-lagi pikirannya seperti menggulita. Tak ada secercah sinar pun yang bisa menuntunnya menyusuri jalan ke luar.
Seharian Ghea hanya mengurung diri di kamar. Dia tak bernafsu mencari penghiburan ataupun sekedar mencari udara segar bagi parunya yang masih sesak.
Kriiiinngg … !!!
Ponselnya berbunyi. Dari nomor Irene. Mungkin Mamanya yang menghubunginya.
"Halo, Tante," lirih suara Ghea menyapa.
"Woy, Say! Tante … Tante! Emang tampang gue kayak emak-emak, hah? Ke mana aja, sih, elu? Seharian tadi gue telepon kagak aktif mulu!"
Lho, itu suara Irene. Bukankah ….
"Irene … "
"Iya, ini gue. Siapa lagi? Mak Lampir? Hahaha," suara gelak Irene terdengar nyaring.
"Beneran ini Irene, kan?" Ghea masih belum percaya.
"Emang elo pikir gue siapa? Kan, kemaren malem gue nginep di rumah elo, Ghea. Paginya gue dianter sama elo ke terminal. Tadi siang baru nyampe di Bandung. Gue mau ngasih kabar, nomor elo kagak aktif!" suara cempreng Irene seperti menusuk-nusuk lobang telinga Ghea, "gue berdoa semoga elo belom pikun, Say!"
Sejenak Ghea terdiam.
"Tapi kata Mama elo tadi siang … "
"Apaan, sih? Kapan Mama gue ngobrol sama elo?" Irene tertawa cekikikan, "ini, gue lagi sama Mama gue. Elo mau ngobrol?"
Terdengar suara wanita setengah baya ikut tertawa dengan Irene di seberang sana.
"Halo, Neng Ghea. Apa kabar? Ini Ghea temennya Irene waktu masih sekolah SD itu, ya?" Mama Ghea menyapa dengan lembut, "gimana juga kabar Mama Marline sekarang?"
Gila! Ghea semakin bingung dibuatnya. Prank macam apa, sih, ini? Sungguh dia tak sanggup kalau harus terus menjalani sekenario candaan mereka itu.
Perlahan ponsel Ghea terlepas dari genggaman. Jatuh namun tak bersuara. Dan, mendadak suasana kamar menjadi gelap.
"Mati listrik?" Ghea bergumam.
Dia bangkit hendak mengambil ponselnya, namun kepalanya terantuk dengan keras ke dinding. Lalu tangannya menggapai mencari pegangan dalam kegelapan. Hanya tersentuh dinding yang lembab dan dingin dan tercium seperti aroma tanah basah.
Tanah? Sejak kapan kamar Ghea berdinding tanah? Tapi, gadis itu meraba sekujur tubuhnya. Terasa seperti sedang mengenakan kain tak berjahit dan panjang menjulur sampai membungkus kedua kakinya.
Ghea berusaha menggerakan kedua kakinya yang terasa diikat. Diikat? Lho, perbuatan siapa ini sampai tega mengikat kakinya, juga … betisnya, pinggangnya, perutnya, kedua tangannya, leher sampai ujung kain yang menutupi hingga kepalanya.
Ghea menjerit sekuat tenaga. Namun hanya kegelapan yang kian erat menyelimuti setiap pandangannya.
Ghea ….
...SELESAI ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Ganuwa Gunawan
nah ini episode yg mmbingungkn..
maksud nya gmn ya ini
2023-01-07
1