Malam Ketujuh

...MALAM KETUJUH...

...Penulis : David Khanz...

Waktu baru saja merangkak malam. Hembusan dingin berbaur dengan rintik hujan menghiasi pekat alam yang baru saja reda dari tangis. Genangan sisa air hujan, mengolam dihampir setiap lekuk jalan berlobang. Keruh kecoklatan bercampur lumpur beraroma selokan. Sementara kehidupan kaum bernyawa lain tampak mulai menggema, terkecuali orang-orang yang biasa duduk-duduk nongkrong di warung kopi itu. Perlahan kuayun langkah ini, menuju tempat tersebut. Seorang wanita setengah baya menyambut dengan tatapan mata bulat membesar. "Kamu?" Dia menunjukku dengan mulut terbuka.

Aku tersenyum dingin sambil melipat kedua lengan di dada. Lumayan untuk sekadar mengurangi gigil yang kian mendera. "Iya, Bu," timpalku terus mendekatinya. "Mamihnya ada?" Sejenak mengintip suasana di dalam warung melalui daun pintunya yang sedikit terbuka. Memastikan sosok pemilik bangunan itu ada di sana atau tidak.

"D-dia s-sudah t-tidur .... " jawab wanita tersebut terbata-bata. Mulutnya masih menganga disertai jari telunjuk menunjuk kearahku. "K-kamu ngapain k-ke sini?"

Kembali aku tersenyum kecil seraya mengalihkan pandangan ke pekat malam. "Saya mau minta maaf sama Mamih. Soalnya--"

"Ya, kakak saya sudah memaafkannya, Yoga," ujarnya memotong ucapanku. "Dia sudah mengikhlaskannya juga."

"Bagaimana saya tahu kalau Mamih tidak bilang sendiri sekarang?" tanyaku ragu di antara tatapan tajam ini. Memperhatikan gerak membulat besar mata wanita yang hidup berdua bersama kakaknya, yang kupanggil Mamih tadi, di warung tersebut. "Saya ingin langsung dengar dari Mamih sendiri, Bu."

"Jangan!" serunya kemudian. Rokok di tangan wanita itu hampir terjatuh karena gemetar hebat. "Cukup saya saja yang kamu temui, Yoga. Jangan kakakku. Saya mohon."

"Mengapa, Bu?" Aku masih belum paham.

Dia menggeleng berulang. "Pokoknya jangan. Saya khawatir, kakakku tidak akan kuat berlama-lama bicara dengan kamu."

Kugigit bibir ini. Rencana menemui orang yang harus kumintakan maaf, sepertinya akan berakhir dengan kekecewaan. Namun tidak mungkin juga adiknya itu berbohong.

"Hhmmm, padahal sehari sebelumnya, saya berjanji akan segera melunasi utang-utang saya itu pada Mamih lho, Bu. Tapi .... " Aku tidak kuasa meneruskan ucapan. Dada ini tiba-tiba terasa menyempit. Sesak.

"Kakak saya langsung membebaskan semua utangmu, begitu mendengar kabar tentang kamu, Yoga," tutur wanita tersebut dengan wajah masih memucat. Mungkin karena pengaruh udara di luar saat ini. Makanya dia sengaja menyendiri di depan warung, sambil menunggu pembeli dan menikmati segelas kopi panas serta kepulan asap rokok. "Kamu ingin minum kopi juga?" tanyanya begitu mata ini lekat memandang kepulan uap kafein di atas meja.

"Saya buatkan sekarang. Tapi setelah itu, kamu segera pergi ya?"

Aku tersenyum kecut. "Tidak, Bu. Terima kasih. Cukuplah masalah utang itu yang memberatkan Mamih. Saya tidak ingin menambahnya."

"Ya, sudah. Sekarang pergilah kamu, Yoga. Jangan pernah datang ke sini lagi. Kami semua akan turut mendoakanmu."

Aku mengangguk perlahan. Paham sekali apa yang dia maksud. Mungkin kedatangan diri ini sudah tidak diharapkan lagi, layaknya dulu. Mau tidak mau, aku harus sadar dan memaklumi. keadaan sekarang telah jauh berbeda. Tepatnya sejak tujuh hari yang lalu.

Usai berpamitan, perlahan kutinggalkan kembali tempat itu. Menyusuri jalanan becek dan menembus dinginnya kegelapan yang menusuk. Menjauh dari tatapan mata wanita baya tadi, kemudian dia segera menghambur ke balik pintu dengan tergopoh-gopoh. Membiarkan gelas kopi dan kepulan batang rokok yang tergeletak masih menyala di lantai warung.

Aku tidak ingin menghiraukannya. Karena masih ada satu lagi tempat yang harus didatangi, Malam ini juga. Teman-teman perkumpulan yang biasa menghabiskan waktu malam dengan bergadang sambil minum-minum. Kebetulan sekali, sosok-sosok yang dimaksud tengah berkumpul di sana.

"Hei, Yoga! Tumben kau datang malam ini? Kemarin kemana saja?" Salah seorang dari mereka menyapa begitu aku tiba mendekat. "Ayo, duduk sini. Malam ini kita pesta lagi seperti biasa. Hahaha." Yang lainnya diam membisu dengan raut memutih. Bahkan tidak ada yang mau beradu pandang denganku.

"Terima kasih, Kawan. Aku pikir, kalian sudah melupakanku. Hehe," timpalku seraya memilih tempat duduk agak menjauh.

"Mana mungkin kami melupakanmu, Yoga. Bah, kau ini." Dia menyodorkan segelas minuman berwarna agak kekuningan dengan aroma menyengat. "Minumlah. Supaya badanmu hangat. Tumben sekali malam ini dingin, sejak diguyur hujan sejak petang tadi."

"Kamu tidak lupa juga kesukaanku ya? Hehe." Aku segera menghabiskan isi gelas tadi dengan sekali tegukan.

"Hei, kau minum macam orang kehausan saja. Tak panaskah lambung kau terbakar nanti? Bah!" Dia kembali mengisi penuh gelas kosongku dengan minuman senada. "Minumlah sedikit-sedikit dan perlahan, Yoga. Sambil kau bercerita, kemana saja tujuh hari ini. Heh?"

Sebelum berucap, kuteguk habis minuman tersebut untuk kali kedua. "Aku datang ingin pamit sama kalian. Mungkin .... "

"Pamit? Bah! Macam mau pergi jauh saja kau, Yoga?"

Seseorang di sampingnya tiba-tiba membisiki temanku itu. Serta merta wajah beringas tersebut berubah pasi. "Kau .... " Dia menunjuk gemetar padaku. "Yoga? Kau .... "

Entahlah, tanpa aba-aba apa pun, serentak semua yang ada di tempat ini berhamburan disertai jerit ketakutan. Terkecuali aku yang masih duduk terpaku sambil memeganggi gelas kosong.

'Sialan! Kini tak ada seorang pun yang sudi berteman denganku. Mereka juga begitu. Padahal sebelum tujuh hari lalu, semuanya selalu mengharapkan kehadiranku .... '

Aku tersenyum kecut. Antara sedih dan kecewa. Perubahan itu begitu cepat terjadi. Sepertinya halnya gelas yang tergenggam ini. Lambat laun semakin sulit melekat, kemudian jatuh begitu saja.

Perlahan, seiring dengan sirnanya wujud tubuhku. Membias dalam titik-titik putih, lalu terbang mengikuti sapuan angin malam menuju alam nirwana.

TAMAT

------- o0o -------

RIRIWA

Penulis : David Khanz

Dentang sebelas kali baru saja terdengar. Bunyi pukulan keras pada tiang telepon oleh petugas ronda yang lewat jalan di depan, menjelang tengah malam. Aku terhenyak dari lelap golek sejak usai waktu petang tadi. Mengerjap sebentar seraya mengitari pandang ke segala penjuru ruangan. Gelap diiringi sepoi dingin angin malam menyapu di hampir setiap pori yang dilalui. "Sudah hampir dini hari rupanya. Pantas saja dingin sekali. Hoaammmzzz ...."

Tak jauh dari kediamanku berada, segerombolan anak muda tengah duduk melingkar beralaskan tikar pandan sambil membacakan lafaz-lafaz tertentu, di bawah terang lampu minyak yang tergantung di tengah-tengah. Semua fokus mengikuti lantunan seseorang di antara mereka dengan wajah tertunduk dan gigil kedinginan. Sampai tak ada yang menyadari kehadiranku perlahan mendekati.

"Wangi melati ...." bisik salah seorang dari mereka seraya mengendus-enduskan hidung.

"Bukan, ah," tandas kawan di sebelahnya turut mempertajam penciuman. "Kayak bau bunga kamboja."

Yang lain ikut menanggapi sambil menyikut sosok terdekat. "Sssttt ... jangan ngomong macem-macem. Kita fokus saja baca-baca."

"Gimana mau konsen? Baunya makin menyengat." Yang terkena sikutan menimpali dengan belalak lebar. Mungkin kesakitan, karena setelah itu dia mengusap-usap lengan. Lobang hidungnya sampai bergerak-gerak kembang-kempis. "Tapi beneran, kok, ini kayak bau ... minyak wangi."

Tiba-tiba sang pimpinan mendeham beberapa kali. Seakan mengingatkan yang tengah berbicara agar segera diam, mengikuti bacaannya. Suasana pun kembali seperti sedia kala. Serempak melafalkan kalimat-kalimat tertentu. Kali ini malah saling beringsut merapatkan posisi duduk.

Aku semakin penasaran. Perlahan melangkah lebih dekat kerumunan tersebut. "Ehem ...."

Semua mata serentak menoleh dengan roman kejut menghiasi wajah mereka. "Eh, Mang Oding!" sahut salah seorang setelah lama mengamati-amatiku.

"Siapa yang meninggal, Dak?" tanyaku sembari mengamati gundukan merah memanjang, diselimuti pelepah pohon kelapa yang ukurannya sama. Belum ada tulisan apa pun ditancapan kayu berukir di sisi kedua ujung batas longgokan.

"Bu Idah, Mang!" jawab mereka berbarengan.

"Bu Idah? Perawan tua yang tinggal dekat rumah Pak Kades itu?" Aku mulai menerka-nerka.

"Iya, Mang!" Kembali mereka menjawab dengan suara nyaring.

'Kapan meninggalnya? Kok, saya baru tahu?' Aku bergumam sejenak. 'Padahal rumah saya tak jauh dari area pekuburan ini. Huh! Pasti karena seharian tadi terlalu banyak tidur. Cuaca akhir-akhir ini memang benar-benar membuat malas kemana-mana.'

"Mang Oding mau ikutan ngaji sama kami?" tanya salah seorang dari mereka kemudian. Aku tersenyum diiring menjawab, "Terima kasih. Kapan-kapan saja, deh. Kalo kalian perlu air panas buat ngopi, datang saja ke rumah."

"O, iya, Mang. Terima kasih ...."

Aku bergegas meninggalkan mereka yang mendadak terdiam beku. Satu dengan lainnya saling lempar pandang dengan mulut terbuka lebar. Ah, biarkan saja. Mungkin karena masih diliputi rasa kejut karena kemunculanku secara tiba-tiba tadi. Apalagi karena di sini daerah kuburan umum. Pikirku hanya satu, tentang sosok Idah tadi. Perempuan tua yang belum pernah menikah, tapi berharta banyak. Pasti saat ini di rumahnya masih ramai. Tak disangka harus pergi selama-lamanya sebelum ada seorang lelaki yang mau mempersunting. Tak terkecuali, Pak Kades sendiri. Kudengar dia pun sudah lama berusaha mendekat.

'Tak ada salahnya saya bertandang ke rumahnya sebentar. Memastikan suasana di sana apakah masih seramai yang saya perkirakan? Bukankah malam ini memang kami ada janji bertemu?' tanyaku akhirnya, seraya berbelok ke arah jalan setapak menuju kediaman perawan tua tersebut. Benar saja. Tak lama setelah tiba di tempat tujuan, keadaan dalam rumah Idah memang masih terang benderang. Sejenak aku berhenti tepat di depan pintu pagar setinggi dada, melongok ke dalam dengan dada berdebar-debar.

"Kang Oding!" seseorang memanggil. Aku terkesiap. Seluruh aliran darah ini terasa langsung tersedot ke arah kepala. Diikuti detak jantung yang kian mengencang.

"Astaga! Siapa itu?" sahutku celingak-celinguk mencari-cari asal suara tadi.

"Ini saya, Kang ...." Satu sosok menghampiri dari arah samping rumah. Aku tersurut dengan mata membelalak besar dan mulut menganga lebar. Gumamku disertai suara bergetar hebat, "Idah? Bukankah kamu--"

"Akang ini kenapa, sih? Kayak lihat hantu saja? Masuklah," ajak perempuan yang ternyata Idah. Aku menggeleng. Bagaimana mungkin, orang yang telah dikabarkan meninggal itu kini masih hidup dan menyapaku malam-malam begini.

"Idah? Ini beneran kamu?" Aku masih tak percaya. Perempuan itu mengerutkan kening. "Memangnya Akang pikir saya ini siapa? Saya Idah."

"Tapi ... saya denger ... kamu sudah meninggal?"

Idah mendengkus kesal diikuti bibir mengeriting bulat. "Sembarangan! Siapa bilang? Nyatanya saya masih hidup, Kang. Ada-ada saja, deh, ah!"

Aku ragu untuk melangkah menuruti ajakannya. Sehingga Idah kembali mengulang ucapan seperti tadi. "Masuklah. Kebetulan di rumah saya sedang ada acara."

Acara? Jangan-jangan benar adanya, Idah sudah meninggal dunia dan saat ini sedang berlangsung aktivitas tertentu. Sekali lagi kuperhatikan sosok perempuan itu, masih tampak segar bugar. Tak ada raut pucat maupun sedih. Ah, mungkin saja gerombolan anak muda tadi telah membohongiku. Bisa saja Idah yang mereka maksud, bukanlah perempuan yang kini ada di hadapan.

"Acara apa, sih, Idah?" Aku menyelidik seraya membuntutinya masuk ke dalam rumah melalui jalan samping. "Syukuran, Kang. Biasalah, ini 'kan sudah rutin saya adain saban sebulan sekali. Masa Akang lupa, sih?" tanya Idah genit. Aku mengekeh. Sikap khas perempuan yang satu ini belum juga hilang. Dari dulu dia kerap menggoda. "Mau ngopi, Kang?" Lanjut Idah sebelum masuk ke rumah. Aku mengangguk pelan. "Di dalam saja, yuk. Kita ngobrol-ngobrol sebentar."

"Tak usahlah. Saya di luar sini saja. Lebih adem," jawabku seraya melongok ke dalam melalui celah daun pintu yang terbuka lebar. "Lagian, gak enak. Malam-malam saya bertamu ke rumah kamu."

"Di dalam cuma ada beberapa orang dari keluarga saya, Kang. Gak apa-apa, kok. Masuk, yuk," ajak Idah setengah memaksa. Aku tetap menolak. Menjawab disertai gelengan berulang kali, "Cukup di sini saja, Idah. Terima kasih. Saya gak mau ada orang lain yang berpikir macam-macam."

Idah cemberut, tapi kemudian senyumnya hadir menyeruak dengan manis. "Baiklah. Akang tunggu di sini sebentar, ya. Saya bikinin kopi dulu. Sekalian bawain rokok juga buat Akang. Hehehe."

"Terima kasih, Idah."

Lama aku menunggu di luar, sampai kemudian perempuan itu kembali menemui.

"Kang ...." panggilnya mendayu-dayu. "Kopi sama rokoknya sudah saya siapkan di kamar. Akang masuk saja dulu, nanti saya menyusul."

"Keluargamu?" Aku bertanya-tanya. Khawatir mereka akan mengetahui kedatangan diri ini malam-malam seperti itu. Idah kembali tersenyum seraya menjawab, "Tenang saja, Kang. Mereka gak akan tahu. Akang masuk, deh, ya?"

"Baiklah," kataku akhirnya.

Perlahan aku menapaki langkah, memasuki ruangan yang ditunjuk Idah tadi melalui jalan belakang. Menjejak penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan suara mencurigakan. Sementara perempuan itu menutup pintu dan mempersilakanku masuk ke dalam kamar khusus. "Tunggu aku di sana, ya, Kang. Aku ganti dulu pakaian."

"Iya, Idah. Jangan lama-lama. Saya kangen sama kamu ...."

"Ih, Akang, mulai nakal!" seru Idah sambil mencubit kulit perutku.

"Aih ... sakiittt."

"Sssttt!"

Aku tertawa kecil. Kemudian beranjak meninggalkan Idah, masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan. Sebuah ruangan kecil temaram, dilengkapi tempat tidur rapi dan taburan bunga berwarna-warni di atasnya. Tak jauh di sudut sana, mengepul sebuah dupa dengan asap putih semerbak mewangi getah styrax dikelilingi beberapa gelas minuman serta sebutir telur ayam kampung. Dua kopi hitam pekat, susu, dan juga teh manis. Tak lupa sebungkus rokok berwarna merah menyala tergeletak siap dinikmati. Idah memang tidak pernah lupa menyediakan semua kegemaranku setiap kali datang berkunjung. Biasanya kami akan melewati semalaman penuh bersama-sama di kamar hingga pagi menjelang tiba.

"Saya ingin membuka usaha baru, Kang," ujar Idah sekali waktu. Aku menoleh ke samping. Menatap tubuh perempuan itu yang masih tersingkap pakaiannya di beberapa bagian, usai kami menuntaskan satu ritual khusus. "Usaha apalagi? Memangnya yang sudah ada selama ini belum cukup?" tanyaku heran.

Idah membalikkan badan seraya balas menatapku dalam-dalam. "Belum, Kang. Saya ingin yang lebih banyak. Bahkan mengalahkan kekayaan orang-orang kampung sini. Akang bisa membantu saya, 'kan?"

Aku tersenyum. "Kenapa tidak? Selama ini saya sering membantumu, bukan?"

"Terima kasih, Kang," ucap Idah dengan wajah berbinar-binar.

"Asalkan dengan syarat---"

"Apa pun yang Akang pinta, akan saya lakukan. Selama ini juga, saya gak pernah lupa, kok."

"Saya tahu itu."

Sudah lama aku dan Idah saling mengenal. Pertama kali dia datang dengan raut pilu. Bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, serta meminta tolong mencarikan jalan keluar dari himpitan ekonomi yang sedang dia derita. Aku menyanggupi. Sejak itulah hubungan kami bertaut. Hanya saja, tidak bisa bertemu setiap waktu. Cuma pada saat-saat tertentu aku bisa menemui perawan tua tersebut. Memadu kasih layaknya sepasang suami-istri, hingga harus kembali berpisah untuk jangka masa yang direncanakan.

"Kang ...." Satu suara mengejutkan lamunan. Sesosok perempuan sudah berdiri di dekatku. Mengenakan pakaian putih memanjang hingga menutupi kedua pijakan kaki, serta rambut panjang terurai menutupi bagian dada.

Aku terkesiap. "Kau? Siapa kamu?" tanyaku dengan suara terpatah-patah.

"Saya ... Idah, Kang," jawab sosok itu diiringi cekikiknya. "Masa Akang lupa, sih?"

"B-bukan! Kamu bukan Idah! Kamu ...."

"Ih, beneran. Saya Idah! Hihihi!" jawab Idah kembali tertawa kecil menyeramkan, seraya mempermainkan ujung rambut dengan jemarinya yang berkuku hitam.

"Tidak! Kamu bukan Idah!" sentakku kasar. "Apa yang terjadi dengan Idah? Kamu apakan dia, hah?!"

"Hihihi!"

"Jawab pertanyaan saya, Makhluk jelek!"

"Idah sudah mati, Kang. Saya cekik dia sampai mampus," jawabnya mengejutkan. "Saya tak tahan harus menahan cemburu, setiap kali Akang bertemu dengan manusia itu dan saling memadu kasih. Sudah lama saya menyimpan rasa suka sama Akang."

"Bedebah! Keterlaluan kamu!" Tiba-tiba aku merasa sedih. Tak menyangka akan berpisah dengan Idah secepat itu. Bahkan dengan cara yang tidak pernah diharapkan sama sekali.

"Maafkan saya, Kang. Saya terpaksa melakukannya karena gak tahan terus-terusan dilanda cemburu."

"Tiada maaf bagimu, Sundal!"

"Saya mencintai Akang ...."

"Tidak!"

"Kang!"

"Tidak! Tidak! Tidaaakk!" Aku segera berlari meninggalkan sosok buruk yang mengaku-ngaku sebagai Idah. Tidak peduli walaupun jeritan tangisnya begitu memilukan memanggil-manggilku.

Berarti benar adanya. Kuburan baru yang tadi kulihat itu adalah makam Idah. Dia telah meninggal dunia, dan kini jasadnya tertanam jauh di bawah sana. Sambil bersusah payah berlari, aku segera memburu area pemakaman. Di sana sudah tak ada lagi kerumunan pemuda yang sempat ditemui. Hanya menyisakan hamparan tikar kosong, gelas bekas kopi berserakan, serta lampu minyak masih menyala tak bertuan. Kemanakah mereka semua? Pergi? Entahlah, mungkin kabur begitu otak-otak manusia itu sudah kembali jernih menjelaskan siapa aku sebenarnya.

Dengan rasa sedih mendalam, aku kembali ke tempat kediaman dimana selama ini menetap. Melangkah dengan tubuh ini hanya berbalut lembaran kain berlapis kumal berhiaskan ikatan-ikatan di beberapa bagian, menahan gerikku dari gerak leluasa serta lompatan tertatih-tatih. Menuju sana, sebuah rumpun bambu yang lebat, gelap, dan sunyi.

...TAMAT...

Terpopuler

Comments

Mami Mara

Mami Mara

lah, kang oding ternyata poci yak? 😱

2022-12-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!