Gone

...GONE...

...Penulis : David Khanz ...

Sudah setengah jam lebih Jack berdiam di depan sebuah warung kopi, menunggu kedatangan Dul. Mereka berdua memang sudah berjanji akan bertemu di sana, untuk berangkat bersama menuju acara reuni, pukul delapan malam ini. Karena Dul tak punya kendaraan, maka terpaksa dia ikut nebeng pada satu-satunya teman searah rumah mereka ini.

Jack duduk sendiri di atas jok motor, menyalakan sebatang rokok sambil memperhatikan keadaan sekitar yang sunyi dan hanya diterangi lampu kecil di depan warung. Remang di bawah terpaan bohlam berdaya kecil. Hanya sesekali lewat kendaraan angkutan umum melintas, menerangi sekilas tempat di mana Jack berada saat itu.

Kemudian, sebuah kendaraan angkutan umum berhenti tepat di depan warung kopi tempat Jack berada. "Enggak, Bang. Saya lagi nunggu teman dan bawa motor pula," seru Jack pada sopirnya yang tak pernah melihat sedikit pun ke arah anak muda itu berdiri.

Sopir tersebut hanya menoleh sesaat ke arah belakang kendaraan dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat dan tampak dingin. Tak berapa lama, kendaraan itu pun melaju kembali meninggalkan sosok Jack sendirian.

Jack hanya menggelengkan kepala tanpa sempat berpikir apa pun mengenai sopir angkutan umum barusan.

"Buset, dah, ke mana tuh bocah, yak? Janji ketemu di sini jam delapan, tapi sampe sekarang masih belom keliatan batang idungnya," kata Jack kesal dalam hati. Sebentar-sebentar dia melirik jam kecil digital yang melingkar di tangannya, sudah hampir menunjukan pukul sembilan.

"Jack .... " panggil satu suara tiba-tiba di belakang anak muda tersebut.

"Eh, buset, deh!" seru Jack langsung menoleh dan mengenali sosok yang memanggilnya barusan. "Ngagetin aja lu, Dul!"

"Hehe ... sori, Cuy, gue baru dateng," ujar Dul cengengesan. "Lama lu nunggu?"

"Ampe lumutan gue nungguin elu! Ke mana aja, sih? Gue telpon HP elu kagak aktif!" timpal Jack kesal.

"Sori ... sori ... gue ada perlu dulu. HP gue lowbat." Jack kembali tertawa geli melihat reaksi kawannya yang satu ini. "Ya, udah. Yok, kita cus!"

Mulut anak muda itu bersungut-sungut dengan kalimat tak jelas, sambil mengenakan helm. Sebentar kemudian keduanya melaju di atas motor yang dikendarai oleh Jack, menembus kepekatan malam.

Satu jam kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Dul langsung turun sambil memegangi pangkal pahanya.

"Kenapa lu, Dul? Takut gue bawa ngebut?" ejek Jack cekikikan di balik helm full face-nya, melihat raut wajah Dul tampak memucat.

"Gue pengen boker, Cuy!"

"Ya, udah sono!" ujar Jack tapi heran melihat arah langkah Dul menuju sebuah kebun gelap. "Woy, Bro! Di dalem ada toilet, ngapain elu ke sono?"

Dul tak mendengarkan seruan Jack, anak muda itu tetap berjalan dan menghilang di kegelapan.

"Dasar kampungan! Kebiasaan boker di kali ngkali tuh bocah!" gerutu Jack lalu segera memarkir motornya dan masuk ke dalam gedung tempat acara dilangsungkan.

★ ✩ ★ ✩ ★ ✩ ★ ✩

Dul berdiri mematung seorang diri di depan sebuah warung kopi. Sesekali anak muda itu berdecak kesal sambil melihat-lihat ujung jalanan yang sepi. Raut wajahnya tampak kesal dan gelisah, serta kerap memperhatikan putaran angka jam di tangan. Sudah menunjukan pukul sembilan kurang lima belas menit.

"Gila tuh si Jack! Kebiasaan ngaret!" rutuk Dul kesal mengingat temannya yang satu itu. "Janjian jam delapan, tapi jam segini masih aja belum nongol tuh bocah sialan! Keburu malem dah datang ke acara. Mana HP-nya kagak aktif lagi. Sialan!"

Akhirnya Dul memutuskan untuk menaiki sebuah kendaraan angkutan umum yang kebetulan lewat di depan. Lumayan masih kosong. Hanya berdua antara dia dan sopirnya.

"Gedung Genta Buana, ya, Bang?" tanya Dul yang duduk di bangku belakang, sesaat setelah kendaraan tersebut melaju.

Sopir itu tak menjawab, hanya mengangguk perlahan dengan tatapan tajam melalui cermin tengah di atas dashboard. Wajahnya tampak pucat tak bergairah. Dul sampai bergidik dan pura-pura tak pernah memperhatikan sosok itu dengan memainkan ponsel sedemikian rupa.

Tak ada percakapan sama sekali selama di perjalanan. Kendaraan berhenti tepat di tempat tujuan beberapa waktu kemudian. Dul segera turun dari dalam kendaraan.

"Berapa, Bang?" tanya Dul sambil merogoh kantong celananya mencari lembaran uang recehan.

Sopir itu menggelengkan kepala disertai senyuman dingin menggidikan, kemudian pergi begitu saja tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan Dul tadi.

"Sopir aneh! Narik angkot segitu jauhnya tapi kagak mau dibayar," gumam Dul heran. " ... tapi makasih, deh, Bang. Semoga mendapat rejeki yang melimpah, ya."

Dul bergegas masuk ke dalam gedung tempat acara yang akan diikutinya, khawatir datang telat dan telah melewati momen yang dia tunggu-tunggu.

★ ✩ ★ ✩ ★ ✩ ★ ✩

Baru beberapa saat Dul duduk sambil menikmati hidangan, tiba-tiba muncul Jack mendekati.

"Dul ... kok, elu di sini? Bukannya barusan elu bilang mau boker di depan sana?" seru Jack di antara hingar bingar alunan suara musik di dalam ruangan, seraya menepuk pundak Dul.

"Boker apaan? Gue baru dateng! Elu, gue tunggu dari jam delapan kagak dateng-dateng. Ngapain aja, sih, lu? Kalo gak mau bareng, bilang, dong!" balas Dul masih kesal melihat temannya yang satu itu.

"Kagak dateng gimana? Eh, gila! Gue nunggu sendirian dari jam delapan di depan warung, elu kagak ada. Hampir satu jam gue diem di sono! Mau nelpon elu kagak aktif! Kampret!" timpal Jack tak mau kalah.

"Kagak aktif gimana? HP gue dari tadi nyala terus, Cuy! Elu aja ngkali yang gak niat barengan ama gue!"

"Eh, gila! Elu tadi berangkat jam berapa?" tanya Jack penasaran.

"Jam sembilan kurang, naek angkot lagi. Abisnya elo kagak nongol-nongol juga di warung itu!"

"Apa? Naek angkot? Jam sembilan kurang? Elo nunggu di depan warung kopi tempat biasa kita nongkrong, kan?" Jack semakin penasaran.

"Lah, emangnya di mana lagi? Kan, kita janjiannya di sono!" jawab Dul mulai merasa ada yang tidak beres. "Ada apaan, sih, Cuy?"

Jack menatap mata Dul dalam-dalam. "Gue tadi lihat ada angkot berhenti pas di depan warung kopi itu, tapi gue gak lihat elu naek?"

"Yang bener lu?" Mata Dul mulai membesar.

"Eh, serius elu naek angkot?" tanya Jack sambil berpikir keras.

"Berani sumpah gue, Jack! Gue masih kesel ama elu!" gerutu Dul masih belum paham apa yang telah terjadi.

"Ini ... beneran elu, kan, Dul?" Jack meraba-raba bahu Dul.

"Iyalah, ini gue! Ngapain, sih, lu?" Dul menepis tangan Jack dari bahunya.

Jack melirik sebentar ke arah pintu keluar gedung. "Terus ... yang tadi naek motor ama gue siapa?"

"Dia siapa?" tanya Dul tak mengerti.

"D-dia ... d-d-ia .... " Jack menunjuk-nunjuk arah luar gedung. " ... yang lagi boker."

"Iya, siapa yang boker?"

"Elu .... "

"Gue gak kepicirit! Sialan lu!"

" ... tapi ... "

Percakapan mereka terhenti, karena tiba-tiba ada pengumuman melalui pengeras suara di dalam ruangan tempat acara berlangsung. Alunan musik dihentikan seketika, lalu disusul seseorang maju ke atas pentas dengan raut muka muram. "Selamat malam rekan-rekan semua. Maaf, acara terganggu sejenak karena ada kabar yang harus saya sampaikan. Baru saja saya mendapat informasi dari salah seorang rekan kita yang baru datang, bahwa ... salah seorang teman tercinta kita ... Saudara Abdul Hamid atau biasa kita panggil Dul, beberapa jam yang lalu telah meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Kronologisnya, saat menuju tempat ini, kendaraan angkutan umum yang ditumpangi korban bertabrakan dengan sebuah truk hingga badan kendaraan mengalami rusak berat. Nahasnya, Saudara Dul langsung meninggal dunia di tempat kejadian. Untuk itu, marilah kita sejenak berdoa menurut keyakinannya masing-masing, semoga almarhum Abdul Hamid diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin."

Jack menatap Dul dengan tajam, lalu berteriak keras, "Teman-teman! Dul belum meninggal! Dia ada di sini bersama kita!"

Serentak para tamu undangan menoleh dan beberapa di antara mereka bergegas menghampiri Jack yang histeris.1

"Dia belum meninggal! Itu dia orangnya!" teriak Jack sambil menunjuk-nunjuk sosok Dul yang hanya bisa terdiam membisu dengan wajah pucat pasi.

Salah seorang teman Jack berkata sambil menepuk bahu anak muda itu beberapa kali. "Sabarlah, Jack. Relakanlah kepergian sahabatmu itu. Kita juga di sini sama-sama berduka dan turut kehilangan sosok almarhum .... "

"Tidak! Dia masih hidup dan ada di sana sedang melihat kita semua!" Jack semakin histeris lalu jatuh tak sadarkan diri.

...SELESAI...

Terpopuler

Comments

Ganuwa Gunawan

Ganuwa Gunawan

oh ..jdi ini hny sepenggal cerita..
dari bab satu ke bab lain nya tidak berkaitan..ok deh lanjut thor

2023-01-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!