Keranda

...KERANDA...

...Penulis : David Khanz...

Kelasih mengelus-elus perut buncitnya. Sesekali meringis kesakitan seraya memejam mata. Perempuan itu tengah hamil tua. Beberapa hari ini rasa mulas seringkali datang mendera, disertai kontraksi jabang bayi dalam rahim meronta-ronta.

"Bang, kapan pulangnya?" tanya Kelasih melalui ponsel saat menghubung Sanad, suaminya. Terdengar jawaban dari seberang sana, "Iya, sebentar lagi Abang pulang, Dek. Tunggu, ya. Sabar."

"Tapi perutku sudah mulas-mulas lagi, Bang. Haduuuhh ... ssshhh!" Kelasih kembali meringis.

"I-iya, A-abang izin d-dulu s-sekarang."

Telepon terputus.

Kelasih memperhatikan layar ponsel. Sisa daya baterai sudah berubah warna merah berkelap-kelip. Tinggal beberapa persen lagi. Lalu menaruh gawainya di atas meja, bersebelahan dengan gelas minum.

KRAK! KROTAK!

Suara itu datang dari arah samping kamar tidur, tempat Kelasih saat ini berada. Berasal dari sebuah keranda yang teronggok di samping musala.

Kelasih mengelus dada. Dia sibak tirai jendela kamar. Mengintip sejenak keberadaan keranda tersebut. Diam dan hening. Tak bersuara seperti tadi.

"Ya, Tuhan! Siapa lagi yang akan meninggal dunia kali ini, ya?" gumam Kelasih berpikir-pikir sesaat. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang. "Lindungilah kami dari segala godaan makhluk-Mu yang terkutuk, Tuhan."

Keranda tua, begitu menurut cerita warga sekitar. Sudah berada di sana sewaktu pertama kali Sanad dan Kelasih mendiami rumah kontrakan tersebut. Kediaman sementara sampai Sanad mendapatkan pekerjaan baru, begitu alasan suami perempuan itu dulu. Di samping harga sewa yang relatif murah, juga karena tak begitu jauh dari pabrik tempat lelaki itu mendulang nafkah. Rencana sementara, tapi nyatanya sudah hampir dua tahun mereka bermukim di sana.

Bukan hal aneh dan pertama kali, hampir setiap suara keranda itu terdengar, sering kali diiringi berita kematian salah seorang warga. Kebetulan atau tidak, seakan benda menyeramkan itu sudah tahu, bahwa ia akan segera digunakan dalam waktu dekat.

'Ah, kepercayaan macam apa itu?' kata Kelasih berusaha menghibur diri.

KRETAK! TRAK!

Suara itu terdengar lagi.

Kelasih mengusap tengkuk yang mendadak terasa dingin. Disusul desiran darah yang mengalir dengan cepat ke arah kepala.

"Astaghfirullahal'adziim," ucap Kelasih dalam pejam.

Kalau saja bukan karena alasan ekonomi, rasanya perempuan itu enggan mengontrak rumah ini. Setidaknya tak harus bertetangga dengan benda yang memiliki aura menakutkan itu. Namun tak ada pilihan lain, maupun meminta pengurus kampung untuk tidak menempatkan keranda itu di sana. Kelasih hanya bisa pasrah. Toh, lama kelamaan, rasa takut yang sering menjalarinya dulu, perlahan mulai berkurang dan terbiasa.

Tak ada tetangga terdekat, hanya musala dan keranda itu yang ada. Karena dulu, rumah kontrakan ini diperuntukkan hanya bagi para pengurus musola di samping. Entah mengapa, setelah ada benda panjang membulat itu, mereka pergi.

Kelasih mengelus perut yang terus bergerak-gerak. Tampaknya si jabang bayi tak sabar untuk segera keluar. Hanya ringis kecil yang bisa perempuan itu lakukan. Tak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong. Termasuk menuangkan air ke dalam gelas di atas meja samping. Artinya, Kelasih harus mengambilnya sendiri ke dapur.

PRAK!

Gelas melayang terjun dan pecah berantakan di lantai. Kelasih terkejut. Maksud hati ingin meraih, tapi malah menjatuhkannya. Ada apa ini? Pertanda apalagi? Lekas perempuan itu menepis pikiran kelam yang mulai menghantui. Kebiasaan menafsirkan suara keranda di samping, jadi terbawa-bawa menyatu dengan otak.

Serta merta dia teringat pada sosok suaminya. Di mana dia sekarang? Masih kerja atau dalam perjalanan pulang? Hati Kelasih tiba-tiba merasa tak nyaman. Ada lesak khawatir menghujam perasaan.

"Bang Sanad .... " bisik Kelasih sambil memperhatikan pecahan gelas. "Semoga Abang selamat dan segera tiba di rumah."

Serpihan beling itu mengingatkan kejadian yang menimpa ayah Kelasih dulu. Secara tak sengaja, ibunya yang memecahkan. Tak berapa lama setelah itu, kabar duka pun tiba. Imam keluarga mereka ditemukan meninggal dunia di perantauan. Jadi bukan tanpa alasan, jika Kelasih pun berpikir yang sama saat ini. Namun tetap berharap, ini bukanlah sebuah firasat.

Dengan langkah terhuyung, Kelasih bermaksud ke dapur mengambil segelas air minum. Dahaga yang dirasa, mengabaikan dera sakit yang melilit di sekujur perut. Gontai mengangkat jejak satu per satu, diiringi ringisan pilu.

KRETAK! KRETAK!

Keranda itu bersuara lagi. Sudah kali ketiga dalam waktu berdekatan. Sepertinya ia ingin mengajak Kelasih bicara. Menyebut sebuah nama yang akan menjadi penghuninya sementara. Entah siapa, kapan, dan di mana.

Kelasih tak peduli. Dia hanya ingin minum, bukan berkelakar mencari makna sebuah suara.

"Aaahhh .... " Kelasih menggelongsor. Ambruk di lantai disertai rasa sakit yang kian menggigit. Ada genangan darah segar berbau amis menyeruak dari balik lilitan kain di pinggang.

"Baaanngg!" jerit Kelasih sambil berusaha bangkit. Namun sia-sia. Hujaman rasa sakit itu menghilangkan separuh dari tenaganya. Dia menggeloso tak berdaya. Bersimbah darah yang membanjir, bercampur cairan kental bening keputihan.

"Hhheeeggg!" erangan Kelasih membahana. Kali ini disertai entakan mengejan sekuat tenaga. Titik peluh pun mulai mengilap di sekujur badan. Menghiasi irama penderitaan seorang perempuan yang berjuang untuk bertahan hidup sendirian.

Beberapa waktu lamanya hanya bisa menyebut nama lelaki terkasih. Namun yang dipanggil belum kunjung tiba. Sampai kemudian, suara itu pun kembali terdengar ....

KRETAK! BRAK! GUBRAK!

Gaduh, beradu padan dengan lengkingan jerit Kelasih di pengujung tarikan napas. Menghadirkan sosok manusia mungil ke dunia, lengkap dengan geliat dan tangisnya.

Keranda itu terjatuh dari sandaran di dinding musala. Berhamburan memisahkan alas dengan penutupnya. Tak ada yang tahu, terkecuali mereka berdua. Kelasih dan sosok mungil tersebut.

"Dek!" panggil Sanad yang baru tiba di rumah. Motornya dibiarkan tergeletak begitu saja di depan pintu. Bergegas membuka pintu, lalu masuk mencari Kelasih.

"Dek!!!" Kali ini bukan panggilan, tapi jeritan bercampur kejut luar biasa. "Dek, apa yang terjadi padamu? Dek!"

Sanad menghambur ke arah geletak Kelasih di lantai. Meraih tubuh perempuan itu dan mendekap dalam balutan peluk.

"Dek, bangunlah! Ini Abang datang! Suamimu, Dek! Ayo, bangunlah ... bangunlah ....." pekik Sanad sambil menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Kelasih tak bergerak. Diam membisu. Sebagaimana nadi perempuan itu membeku.

Mata Sanad beralih pada sosok mungil di bawah kepit kaki Kelasih. Masih meregang-regang dengan suara tangisannya yang parau. Mungkin karena telah lama terabaikan dalam isak.

"Ya, Tuhan .... " bisik pilu Sanad, memperhatikan dua sosok tersebut. Yang satu meronta-ronta, sementara sisanya diam mematung dalam kaku. "Maafkan atas semua kesalahan Abang, Dek! Abang terlambat pulang!"

Tetesan bening mulai menganak sungai di mata lelaki itu. Sebentar kemudian menyusuri pipinya yang kelam. Sebagaimana rasa yang tengah dia pendam. Berkecamuk dengan emosi mengguncang dada. Sampai kemudian, jerit itu pun meledak, "Tidaaakkk!!!"

...SELESAI...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!