Cp 3
Selagi aku dan Andi berbincang-bincang datanglah bang Adam yang menghampiri kami
“Kemana bang, sudah selesai berkasnya” tanya Andi
“Sudah, ini mau packing baju dulu di rumah, loh dek kok di sini mau kemana?” Tanya bang Adam kepadaku
“Itu bang mau ke Warung bakso, tapi disuruh jumpai anak ini dulu” menunjuk ke arah Andi
“Suruh lapor dulu ya ndan” bang Adan menggodaku
“Itulah bang” aku dan bang Adam menertawain Andi
“Kamu udah siap semua berkasnya Ndi?”
“Sudah juga tinggal packing bang”
“Yaudah abang pulang dulu ya ndi, dek”
“Iya bang”
Bang Adam pergi ke motornya dan pulang ke rumah.
“Wi sudah sampai Lia dan Laras”
“Sudah ini, ini mereka lagi chattingan sama aku” menunjukkan handphonenya
“Oh iya bang kenalin ini sahabat aku namanya Dewi”
“Hai pak” dengan nada bicaranya yang centil
Andi tertawa mendengar Dewi “aku dipanggil pak”
“Ya betul kan bapak tentara”
“Yaya bapak tentara, berdua saja ni kalian perginya”
“Ada dua lagi bang, mereka tunggu di sana”
“Oh ya ini adek titipan mama” memberikan paper bag
“Makasih abang, memangnya mama pergi kemana bang kok ada hadiahnya”
“Itu kemaren mama ke Kuala Simpang”
“Mama so sweet banget, mau ucapin terima kasihlah sama mama, abang save nomer mama bentar” memberikan handphonenya
“Za mereka sudah nungguin kita ni”
“Bang kami pergi dulu ya”
Aku dan Dewi melanjutkan perjalanan
“Za, siapa tadi bapak tentara itu? Tanya Dewi mengintrogasiku
“Teman”
“Teman hidup ya, terus sama yang itu gak aca lagi hubungan?”
“Eum gak tahu, dia gak pernah ngehubungi aku lagi”
“Uuh jangan galau ya” mengelus pundakku
“Gak lah kenapa harus galau kan sudah ada bang Andi”
“Oh jadi bapak tentara tadi nama Andi, seh yang sebentar lagi mau jadi ibi persit” dia lagi-lagi menggodaku
“Ih apa sih, amin doakan saja semoga jodoh”aku tersipu malu
“Iya semoga, kenal sama bapak tentara dimana”
“Dijodohkan sama abg yang tadi, dia suami kakakku”
“Oh dijodohin, tapi tadi aku perhatiin wajah kamu sama bapak tentara hampir mirip deh, kata orang nih ya kalau misalnya sepasang kekasih kalau wajahnya mirip bakalan berjodoh”
“Mirip dari mananya coba”
“Pokoknya aku lihat kalian mirip titik”
“Kamu ini ada-ada saja”
Perjalanan kami menuju ke warung bakso akhirnya sampai
“Wi paper bag ini aku bawa aja ya”
“Iya bawalah sekalian kita lihat isi”
“Apa itu za?” Tanya Laras yang menghampiri kami
“Gak tahu ni Ras tadi di kasih orang” jawabku asal
“Dikasih camer”
“Cie za” ledek Lia
“Apa sih kalian”
Di warung bakso
“Mau pesan apa kak” tanya penjaga warung
“Aku mie bakso pakai ayam”
“Aku juga”
“Aku mie bakso telur”
“Aku bakso beranak”
“Minumnya kak”
“Orange jus”
“Baik, silahkan ditunggu ya”
Selagi pesanan datang kami kembali berbincang-bincang.
“Za coba buka paper bag tadi”
“Oke”
Aku membuka paper bagnya di dalamnya berisi satu kotak jam tangan, gelang emas kecil dan simpel, dan sebuah hijab
“Eh cantik lo jam nya, memang calon mertua kamu pandai milihnya, vibesnya anak muda banget”
“Itu dari mamanya Zeny ya” tanya Lia yang ia pikir dari Zeny mantanku
“Bukan”
“Terus”
“Pacar baru Bapak Tentara” jawab Dewi memecahkan rasa penasaran Lia dan Laras
“Ih dia bukan pacar aku guys” bantahku
“Terus apa juga”
“Calon”
“Memangnya kamu sama Zeny sudah putus za?”
“Iya, soalnya dia gak pernah nemuin aku lagi, bahkan gak pernah sekalipun dia ngehubungi aku”
“Kenapa gitu”
“Aku juga bingung, mungkin dia sudah ada perempuan lain dan melupakan aku begitu saja”
“Ya Allah za, guwe nyangka dia seperti itu, guwe kira kalian bakalan nikah berdua”
“Itulah memang rencananya gitu, tapi apa boleh buat sekarang dia sudah gak perduli sama guwe, masak iya guwe harus bersedih terus-terusan”
“Yang sabar ya beb, mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu, makanya Allah menjauhkan dia dari mu”
“Makasih ya kalian udah nyemangatin guwe”
“Iya sama-sama, kan kita berempat sahabatan”
“Iya sayangku”
“Iya kan lagian lo sudah punya bapak tentara sekarang”
“Lo mah”
“Berarti sekarang lo sudah pacaran sama bapak tentara itu”
“Enggak, kami gak pacaran cuma dekat saja”
“Dekat banget gitu maksudnya ya za” ledek Dewi
“Iya kami dekat saja, gak pacaran tapi mencoba untuk serius gitu dan semoga saja benaran berjodoh”
“Amin”
“Doa yang terbaik untukmu beb”
“Oh iya guwe mau chat mamanya dulu”
Via whatsapp
Aku
Assalamualaikum tante, ini Kanza, tan terimakasih ya giftnya, kanza suka
Sepuluh menit kemudian mamanya Andi membalas pesan dari ku
Mama Andi
Waalaikumsalam iya sayang sama-sama, semoga pas ya sama kamu
Pesanan kami akhirnya datang
“Selamat makan”
Malam harinya tanteku mengajak aku bersama mamaku ke rumah om Iwan yang sedang sakit. Tidak terasa perjalanan yang kami tempuh akhirnya sampai
“Assalamualaikum” mamaku mengetuk pintu
Dari dalam terdengar suara langkah kaki
“Waalaikumsalam” membukakan pintu “silahkan masuk semuanya”
Aku dan yang lainnya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu
“Om Iwan mana tan” tanya Ria sepupuku
“Ada di kamar”
“Hai kak” sapa anggi yang merupakan anak dari om Iwan ia duduk bersama kami di ruang tamu
“Hai juga, gimana sudah libur ya kuliahnya”
“Iya kak, kuliahnya daring”
“Oh enak dong bisa selalu di rumah gak harus merantau”
“Iya dong kak”
Handphoneku berdering, aku melihatnya dan menjawab panggilannya
Aku
Assalamualaikum
Andi
Waalaikumsalam, lagi dimana sayang
Aku
Lagi di tempatnya om abang
Andi
Abang cuma mau bilang sama adek, abang berangkat ya
Aku
Iya abang hati-hati ya nyetirnya jangan ngebut-ngebut dan cepat kembali
Andi
Iya sayang
Panggilan itu berakhir. Andi berangkat ke medan untuk mengurus keperluannya naik pangkat.
Seminggu setelah kepergian Andi. Andi menghubungiku kembali
Via whatsapp
Andi
Sayang
Aku
Iya sayang
Andi
Maaf ya sudah seminggu abang gak kasih kabar
Aku
Iya abang tidak apa, gimana sudah selesai dengan urusan abang di sana?
Andi
Sudah insyallah besok abang baru pulang ke sana
Aku
Syukurlah kalau gitu
Andi
Makasih ya sudah mengerti, oh iya adek mau dibawakan oleh-oleh apa
Aku
Gak usah, yang penting abang cepat pulang saja
Andi
Siah ada yang kangen ini
Aku
Engak tuh, sayang kantor abang gak ada yang jagain
Andi
Awas kamu ya, tunggu pembalasanku
Aku
Iya
Andi
Nantang ya rupanya
Chattingan itu berakhir. Aku kembali tidur. Dua hari kemudian setelah kepulangan Andi. Andi mengajakku untuk menemui mama dan papanya untuk pertama kalinya.
Via whatsapp
Andi
Sayang, dimana?
Aku
Di sekolah
Andi
Pulang jam berapa hari ini?
Aku
Biasa abang jam 13.30
Andi
Nanti sore kita keluar ya, abang jemput di rumah
Aku
Mau kemana bang
Andi
Ke rumah, mama nanya kamu terus ini, abang bilang nanti sore kamu ke sini
Aku
Aduh gimana ya bang kanza belum berani ke sana
Andi
Kenapa gak berani, sama mama pun, mama orangnya asik tahu
Aku
Iya deh bang, kanza nurut saja
Andi
Nah gitu dong nurut, yasudah abang lanjut kerja dulu
Chattingan itu berakhir.
Duh gimana ya nanti, malu banget, masa iya sih secepat ini tapi, aku senang banget bisa dikenalin sama mamanya gak kayak hubungan aku sebelumnya aku cuman dibiarkan mengenal dia tapi aku disembunyikan dari keluarganya bahkan untuk resepsi abangnya sendiri bukannya diundang justru aku malah dibohongi seakan acara itu tidak terjadi, batinku.
Sore harinya, Andi datang ke rumah untuk menjemputku. Aku telah bersiap-siap untuk pergi ke sana. Handphoneku berdering
Via telepon
Aku
Assalamualaikum
Andi
Waalaikumsalam, Abang sudah sampai di rumah ni adek keluar terus ya
Aku
Ha, gimana bang di luar ada ayah, Kanza takut dimarahin kalau harus dijemput sama cowok
Andi
Ayah, ini abang lagi ngobrol sama ayah
Aku terkejut mendengar pengakuan Andi yang sudah akrab dengan ayahku
“Mah, ayah Kanza pergi sama bang Andi sebentar ya”
“Iya jangan pulang kemalaman ya”
“Pergi ya pak buk” Andi bersalaman dengan orang tua ku
Aku dan Andi menaiki mobil. Andi menyetirnya perlahan
“Bang”
“Iya kenapa”
“Abang kok bisa akrab sama Ayah”
Andi tertawa mendengar pertanyaanku “sama Ayah, abang sudah pernah ketemu sama ayah di rumahnya bang Adam. Kebetulan pas abang ke sana ayah juga ke sana, terus”
Aku memasang muka serius mendengar penjelasan Andi
“Dengerinnya serius amat” menepuk jidatku
“Ih sakit tahu” meringngis lebay
“Iya terus abang dikenalin sama Ayah sama bang Adam, dan Alhamdulillahnya Ayah setuju sama hubungan kita, gitu ceritanya”
“Oh pantesan tadi abang berani ke rumah”
“Abang boleh tanyak sesuatu”
Suasana di dalam mobil mendadak serius dengan pertanyaan yang akan dilempar Andi
“Tanya apa bang” hatiku menjadi deg degan aku penasaran dengan hal apa yang bakalan ditanyakan Andi
“Kamu gak dekat sama cowok lain selain abang kan?” Menatapku serius dan kembali menatap jalanan
“Enggak bang, kan abang tahu adek selalu bersama abang”
“Baguslah kalau seperti itu, oh iya abang minta maaf abang gak bisa jadiin adek sebagai pacarnya abang”
Kenapa, apa dia gak suka sama aku, terus apa tujuan dia mendekatiku, apa hanya untuk main-main saja, apa aku sebegitu gak pantasnya untuk dia, batinku
“Iya bang gak apa-apa” jawabku pasrah hatiku seakan hancur mendengarnya aku merasa dia hanya mendekati ku, baik kepadaku hanya untuk bermain-main bukan untuk menjalin sebuah hubungan.
Andi tersenyum melihatku “abang gak jadiin adek sebagai pacar abang karena abang anggap adek sebagai calon istri abang”
Perasaanku berubah seketika. Aku terkejut mendengar pengakuan dia. Aku kembali tersenyum menatapnya.
“Iya maka dari itu abang berusaha untuk tidak mengajak adek pacaran bukan berarti abang gak sayang sama adek, jangan nanti adek berpikir abang gak ajak adek pacaran abang cuma mau bermain-main sama perasaan adek, adek tahu gak kenapa abang ajak adek ketemu sama mama dan papa?” Andi memberiku penjelasan dengan tujuan dan rencana dia
“Kenapa bang”
“Abang mau mama sama papa mengenal kamu biar bisa akrab”
“Iya bang, terima kasih ya buat semuanya buat kasih sayangnya abang selama ini, perhatian abang pokoknya semuanya deh”
“Iya sayang sama-sama, jadi adek sudah tahu kan alasannya kenapa sampai sekarang abang gak ajak adek pacaran, oh iya abang Alhamdulillah sudah lulus naik pangkatnya”
“Oh iya abang selamat ya sayang, semoga semuanya berkah”
“Terima kasih ya sayang, tapi kayaknya bulan depan abang sudah dipanggil latihannya”
“Yah ditinggal lagi dong”
“Kan demi masa depan kita sayang, nanti setelah abang selesai latihan kita lanjutkan hubungan kita ya”
“Maksud abang”
“Eum nanti di rumah mama akan jelasin”
“Iya deh bang”
Aku kembali penasaran dibuatnya. Apa sebenarnya maksud dia.
Di rumahnya Andi
“Assalamualaikum” Andi mengetuk pintu rumahnya
“Waalaikumsalam” bibinya membukakan kami pintu
“Mama mana mbak”
“Ada di kamarnya bang”
Mama Andi keluar menemui kami
“Hai abang, oh ini Kanza ya” melirik ke arahku
“Iya tante” jawabku malu-malu, memberikan tanganku untuk bersalaman dengannya
“Ayo masuk sayang”
Aku, Andi dan mamanya masuk berbarengan menuju ruang tamu sedangkan mbaknya sudah duluan ke dapur.
“Sebentar ya sayang mama ke dapur dulu”
Aku hanya mengangguknya “bang malu” bisikku ke Andi yang duduk di sebelahku.
“Malu terus sana” Andi meledekku habis-habisan
“Idih abang ini” aku mencubit pinggang Andi karena kesal dengan ledekan dia
Mama Andi datang dengan membawa minuman
“Sini tante biar Kanza saja” aku bangun dari kursi untuk mengambil minuman yang dibawakan mamanya
“Iya sayang” memberiku nampan minuman, berjalan duduk di depanku “silahkan minum ya anggap saja rumah sendiri jangan malu-malu”
“Jangan ma, nanti dijual rumahnya sama kanza” ejek Andi sambil tertawa
“Abang ya ampun” pengen rasanya aku mencubitnya lagi
“Aduh kalian ini”
“Ambil sayang minumannya” mamanya menyuruhku lagi
“Iya tante”
“Duh masih saja dipanggil tante padahal sudah jadi calon mertua, panggil mama juga dong sayang”
Aku tersenyum mendengarnya “iya tante maksudnya ma”
“Gitu dong kan enak didengarnya, jadi gak canggung lagi. Ini dipanggilnya tante memangnya mama tante-tante”
Jawaban mamanya membuat aku dan Andi tertawa. Anak sama mama sama - sama suka bercanda.
“Iya kan sama calon mertua sendiri masa panggilnya tante mama dong”
“Ayah mana ma?“
“Masih di toko, sebentar lagi juga pulang”
Di luar rumah ada seseorang yang mengetuk pintu.
“Itu kayanya ayah sudah pulang”
“Assalamualaikum” ayahnya masuk menemui kami di ruang tamu
“Yah, ini calon menantu kita sudah datang” menunjuk ke arah ku
Aku bangun dan bersalaman dengan ayahnya.
“Cantik ya gak salah pilih ini si Andi, padahal kan dia jelek gantengan juga ayah ya kan ma”
Dia memujiku dan menjelekkan Andi
Memang keluarga ini sangat menyenangkan menurutku ayah dan ibunya begitu senang akan kedatanganku aku gak dianggap orang asing di sana, aku diperlakukan sebagai tamu spesial yang sangat diharapkan mereka. Betapa beruntungnya aku bisa menemukan kekasih yang sangat baik kepadaku dan juga kedua orang tuanya yang begitu baik juga kepadaku. Serasa hidupku benar-benar seberuntung itu.
“Ayah gitu, anaknya sendiri dibilang jelek” rengek Andi seperti anak kecil berumur 5 tahun padahal umurnya sudah sangat tua.
“Ayah benar kali Ndi ngomongnya”
“Mama juga ikut-ikutan”
Aku tersenyum melihat keakraban Andi dengan orang tuanya, ayah ibunya sangat suka bercanda. Mereka bukan tipe orang tua yang kejam kepada anaknya
“Kan mama jujur, itu lihat Kanza saja senyum-senyum”
“Iya mah, dia senyum-senyum karena lihat mama sama ayah aneh” ledek Andi
“Aneh dari mana, orang bener kamu itu jelek dan ayah yang paling ganteng serumah ini”
“Ayah mah kepedean padahal hoaks semuanya”
“Sudah - sudah, berantem saja. Kanza gimana sudah boleh kan sama Andi” tanyanya kepadaku
“Boleh apa maksudnya ma?”
“Maksud mama sudah cocok kan sama hubungannya”
“Kalau Kanza alhamdulillah cocok ma, tapi gak tahu sama bang Andi”
“Kalau siabang gak usah ditanya lagi, dia selalu ceritain kamu sama mama”
“Nah jadi nak” ayahnya mengalihkan pembicaraan, mukanya nampak sangat serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Safa Cantika humaira
Auto pengen camer seperti itu🤭
2022-12-14
0
Re Studio
camer yang gokil ini
2022-12-13
1